
Ketika ku injakkan kaki di bumi, langsung ku hirup udara segar disini. Damai sekali. Rasanya ingin sekali aku cepat-cepat bertemu dengan Joy. Seperti biasa, kami bertiga berjalan terlebih dahulu menuju rumah Avila.
Sepanjang jalan aku menceritakan keberadaan Garnett kepada Scarlett. Apa yang membawanya kemari, serta masalah apa yang dibuat Proedrus. Scarlett tidak tahan untuk tidak mengumpat. Scarlett memang lebih dewasa dariku, namun terkadang sifatnya yang menggemaskan seperti anak kecil muncul. Dia mengumpat dengan mengepalkan tangan kanannya sambil menepuknya dengan tangan kirinya. Aku yang melihat itu tertawa kecil.
Sesampainya kami di rumah Avila, dia sangat terkejut melihat kami. Dia langsung cepat-cepat berteriak memanggil Garnett. Seketika Garnett melihatku, dia langsung berlari dan memelukku. “Putriiiiiiiii…….” Ucapnya seraya berlari ke arahku. Kami berpelukan sangat erat, dia menangis berpikir jika aku tak kembali kesini. Kemudian aku memperkenalkan Scarlett kepadanya. Kami dipersilahkan duduk di ruang tamu milik Avila ini. Disitu, kami menceritakan semuanya kepada Garnett. Apa yang telah dilakukan Proedrus kepadaku, serta rencana-rencana Proedrus. Setelah menceritakan semuanya, tak lupa Scarlett memeriksa tubuh Garnett untuk mencari pelacak itu. namun pelacak itu tidak berhasil ditemukan.
“Tidak mungkin kau tidak dipasangi pelacak. Proedrus sudah lama merencanakan ini. Salah satu rencananya adalah memasang pelacak ini pada semua Elm. Aku yakin semua Elm memilikinya.” Ucap Scarlett begitu yakin.
“Tapi kita tidak menemukannya. Mungkin saja aku salah satu yang tidak dipasangi pelacak.”
“Kita belum memeriksa bagian dalam. Kita bisa meminjam kamar Avila sebentar untuk memeriksanya.”
Aku melihat wajah Garnett yang agak aneh. Seperti tidak ingin melakukannya dan sedikit menunjukkan rasa takut. Aku jadi sedikit curiga kepadanya. “Benar, Garnett. Ini semua demi kebaikan kita.”
“Baiklah.” Katanya sambil menghela napas.
Cukup lama mereka di dalam kamar Avila. Sekitar lima belas menit baru mereka keluar. Dan Scarlett juga tidak menemukan pelacak itu di tubuh Garnett. Di tempat yang tertutup sekalipun. Scarlett juga merasa agak aneh dengan ini. Karena dia sangat yakin bahwa semua Elm dipasang pelacak oleh Proedrus. Karena kami tidak menemukannya dan tidak ingin membuat perkiraan yang belum jelas tentang ini, kami hanya membiarkannya saja.
Ketika kami sudah selesai berbincang, kami langsung izin untuk pulang. Motor Alex masih terparkir dengan rapi di rumah Avila. Alex menawarkan tumpangan kepada kami namun kami menolak. Kami ingin berjalan kami saja berdua menuju rumah Joy. Alex pun mengiyakannya dan berlalu pergi.
Sepanjang jalan, Scarlett bercerita kepadaku tentang hidupnya. Dia tinggal bersama kedua orangtuanya di Coelus juga, namun aku heran mengapa kau tak pernah mengenal Scarlett, begitu sebaliknya. Dia tidak tahu jika aku seorang putri di Coelus. Dia menceritakan pertemuan pertamanya dengan Proedrus. Saat itu Scarlett sudah mengetahui jika dia memiliki darah yang istimewa karena orangtuanya selalu mengatakan itu, dan berusaha untuk melindunginya. Tiba-tiba entah darimana Proedrus mendatangi rumahnya yang kebetulan Scarlett sedang sendirian di rumah.
“Waktu itu Ayah dan Ibuku sedang pergi bertugas. Mereka menginggalkan aku sendiri di rumah. Merkea sudah berpesan kepadaku, jika ada orang yang mengetuk pintu jangan dibuka, namun aku melanggar perintah mereka.” Scarlett tersenyum getir. “Proedrus datang mengetuk pintu rumahku. Awalnya aku tidak membuka pintu, namun dari depan pintu dia mengatakan bahwa orangtuaku baru saja mengalami kecelakaan. Dia mengaku sebagai teman Ayahku. Aku yang mendengar itu langung saja percaya kemudian mengikutinya. Ternyata dia membawaku ke rumahnya. Aku tertipu.”
Aku yang melihat Scarlett meneteskan air mata segera menepuk-nepuk pundaknya. “Itu berarti orangtuamu sedang mencarimu. Kau harus segera menemui mereka.”
“Iya namun aku tidak tahu bagaimana. Aku tidak tahu rumahku ada dimana karena aku sudah pernah untuk mencobanya namun gagal. Aku tidak menemukan rumahku padahal seluruh Coelus sudah aku telusuri. Seperti jalan buntu.”
“Mungkin masih banyak hal yang disembunyikan oleh Proedrus, dan kita harus mencari tahu.”
“Aku benar-benar ingin memusnahkannya.” Ucap Scarlett dengan wajah yang sinis.
Kami terus bercerita hingga tak sadar jika kami sudah sampi di depan rumah Joy. Scarlett mengatakan bahwa rumah Joy tidak memiliki perubahan sama sekali. Rumah itu persis seperti ketika dia tiba pertama kali disini. Dia langsung mengajakku masuk tak sabar untuk menemui Joy.
Kami pun langsung masuk ke rumah Joy dan entah bagaimana aku masih mengantungi kunci rumahnya. Ketika pintu rumahnya sudah terbuka, kami berdua langsung berhambur masuk mencari Joy. Namun dia tidak ada di rumah. Kami sudah menelusuri semua ruangan namun tetap tidak menemukan Joy dimanapun. Kami kebingungan.
“Ini kan sudah larut. Biasanya Joy sudah ada di rumah”
“Aku juga tidak tahu, Scarlett. Memang benar. Biasanya jika selarut ini pasti Joy di rumah. Apa kita harus mencarinya?”
Aku mengiyakan perkataan Scarlett. Kami berdua menuju ruang utama dan duduk disana. Pandangan Scarlett langsung tertuju pada lukisan dirinya bersaya Joy yang dipajang di ruang tengah ini.
“Ternyata Joy tidak menyingkirkan lukisan ini” ucapnya sambil meneteskan air mata, lagi.
“Mana mungkin Joy menyingkirkan lukisan itu. Kau tahu? Joy itu sangat menyayangimu. Dia sudah menganggapmu sebagai anaknya sendiri.”
“Ya aku tahu itu” ucap Scarlett sambil tersenyum dan mengusir air mata yang menetes ke pipinya.
“Waktu pertama kali aku melihat lukisan ini, aku menangis. Aku seperti merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Aku tak tahu mengapa, padahal saat itu aku tidak tahu dengan siapa Joy di lukisan ini.”
“Benarkah itu? Aku seperti pernah dengar kisah seperti itu. Aahhh ya, kau kan memiliki darah yang istimewa. Aku pernah membaca buku milik Ibuku, sebenarnya buku itu sangat dijaganya namun suatu ketika aku diam-diam membaca buku itu karena rasa penasaranku yang amat tinggi. Aku mengetahui bahwa seseorang yang memiliki darah istimewa itu bisa membaca pikiran seseorang bahkan dari benda mati. Itu terjadi secara alami. Seperti tidak terencana, namun sebenarnya sudah terencana. Darah istimewa itu menuntun kita. Dan masih banyak lagi keitimewaannya yang tak sempat aku baca di buku itu.”
“Ah aku ingat Martin juga pernah mengatakan bahwa dia selalu membaca buku, namun aku tak bertanya buku apa itu. Sepertinya banyak rahasia yang terkandung dalam buku-buku itu, dan kita harus menemukannya.”
“Benar. Dan satu hal lagi yang kuketahui tentang buku itu. Hanya orang-orang yang memiliki darah seperti kita yang bisa membaca isi buku itu.”
Tak lama terdengar suara pintu yang terbuka. Aku dan Scarlett langsung menatap satu sama lain, tersenyum, kemudian langsung berhambur ke arah suara tersebut. Itu Joy. Dia sudah pulang. Berdiri di depan pintu, dengan wajah yang lusuh. Menatap kami berdua. Ekspresinya berubah seketika. Air mata menetes dengan cepat. Kami berdua langsung lari ke arah Joy dan berpelukan dengan erat.
“Ahhh anak-anakku. Terima kasih ya Tuhan, kau masih memberikan kesempatan untuk kami bertemu lagi” ucap Joy sambil menangis.
“Joy, aku sangat merindukanmu. Aku pikir kita tidak akan pernah bertemu lagi” Scarlett mengatakan ini sambil menatap Joy dan mengeluarkan air mata.
“Joy, apa kau makan dengan teratur? Kau terlihat kurus” aku sangat khawatir dengan Joy karena memang dia sangat kurus dan lusuh.
“Aku baik-baik saja sekarang, setelah melihat kalian berdua disini.”
“Aku tidak yakin Joy. Kau harus makan sekarang. Akun yakin kau pasti belum makan.”
“Benarkan itu Joy? Mengapa kau tidak menjaga kesehatanmu” ucap Scarlett sedikit kesal.
“Baiklah baik, aku akan makan sekarang. Dan aku juga yakin pasti kalian belum makan juga kan?” ucap Joy kemudian tertawa melihat ekspresi kami yang saling tatap. “Kita harus makan apa ya malam ini? Bagaimana dengan daging bakar?”
“Daging bakar???? Itu makanan kesukaanku!!!” Scarlett berteriak kegirangan.
“Daging? Apa itu??” tanyaku.
“Ah iya, kau belum pernah makan daging ya sebelumnya? Aku ingat kalau aku punya janji kepadamu. Sekarang aku akan menepatinya.” Ucap Joy tersenyum. Aku juga ingat janji itu.