SAPPHIRE From Coelus

SAPPHIRE From Coelus
Bagian III



Pagi hari tiba. Cahaya redup dari matahari perlahan menyinari. Setiap pagi kami bangun dan bekerja. Setiap pekerjaan adalah perintah dari Proedrus yang masing-masing telah diberikan untuk para Elm. Pekerjaan itu bukan sembarang saja diberikan, namun menurut keahlian masing-masing Elm.


Ada sebagian Elm yang melakukan cocok tanam agar dapat memproduksi makanan. Kami tidak perlu sinar matahari yang cukup agar tanaman kami hidup. Mungkin tanaman disini juga sudah bermutasi juga, seperti kami. Makanan kesukaan kami adalah jagung dan gandum. Kami dapat mengolah bahan tersebut menjadi apapun yang kami mau. Sayur dan buah adalah sumber kehidupan kami. Itu yang diajarkan oleh leluhur kami.


Ada pula sebagian Elm yang menjaga bunga Acanthus. Menyiraminya dari jauh, karena bunga Acanthus hidup di suatu tempat yang terkena sinar matahari. Pernah kami mencoba untuk menanam bunga Acanthus di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung, tetapi sekitar satu minggu saja bunga Acanthus mati. Jadi disimpulkan bunga Acanthus tidak bisa hidup tanpa matahari dan tidak bermutasi, namun ia bisa melindungi Coelus dan sinar matahari. Sungguh ajaib. Kami membuat fungsi utama bunga Acanthus sebagai tameng untuk tempat tinggal kami. Jadi para Elm harus menanam lebih banyak bunga Acanthus secara ekstra hati-hati. Pekerjaan mereka termasuk menebar bunga Acanthus ke seluruh Coelus untuk melindunginya dari sinar matahari langsung.


Cara bunga Acanthus bekerja melindungi Coelus adalah dengan mengambil kelopaknya kemudian dihancurkan dengan cara meremasnya sampai benar-benar hancur kemudian sari-sari dari bunga Acanthus tersebut akan langsung menguap ke udara sampai ke ujung langit Coelus dan otomatis menutupi dan melindungi Coelus dari pancaran sinar matahari langung. Bunga Acanthus ini bersifat seperti tameng pelindung bagi planet Coelus.


Semua Elm bekerja sama dalam urusan pangan, mengurus anak-anak kecil, melindungi Coelus, serta memastikan satu sama lain tidak kekurangan apapun itu yang dibutuhkan. Kami selalu mendukung dan saling melindungi. Tugasku sebagai seorang putri adalah memastikan para Elm tidak kekurangan apapun, sedikitpun. Aku selalu mengontrol mereka setiap saat, satu per satu. Saat ini populasi di planet Coelus baru mencapai kurang lebih 238 orang saja. Orang dewasa berjumlah 103 orang termasuk Proedrus, remaja 57 orang termasuk aku dan teman-temanku, dan anak-anak berjumlah 78 orang. Aku hapal semua wajah dan nama mereka.


Pertama-tama, aku melakukan pengecekan suhu tubuh kepada setiap Elm. Kemudian aku akan menanyakan tentang apa saja keluhan mereka ataukah ada merasakan sakit, atau memenuhi apa saja yang mereka butuhkan. Jika suhu tubuh seorang Elm di atas 20 derajat, berarti ia sedang terkena demam. Jika seorang Elm terserang demam atau apapun penyakitnya, aku tinggal menyuruh beberapa orang untuk mengambil bunga Acanthus sebagai obat. Cara menggunakannya yaitu dengan mengoleskan beberapa kelopak bunga ke seluruh badan dan esoknya Elm yang terserang demam itu pasti akan segera membaik. Bunga ini dapat mengobati penyakit terparah sekalipun. Bisa digunakan untuk mengobati luka lebar yang menganga sekalipun dengan sekejap saja.


...~0o0~...


Suatu pagi, aku terbangun dengan dikejutkan oleh suara teriakan dari seorang perempuan yang memanggil Proedrus.


“Proedrus!!! Tolong cepatlah kemari!!!” Teriak perempuan itu.


Aku yang juga mendengar teriakan perempuan itu langsung membuka mataku, terbangun dari tidurku, keluar dari tempatku beristirahat kemudian langsung kudapati Proedrus dengan ekspresi kebingungan dan wajah pucat perempuan itu.


“Ada apa pagi-pagi anda sampai berteriak-teriak memanggilku?”


“Proedrus, kemarilah! Gawat!!! Lihat apa yang telah terjadi disini”


Proedrus langsung menuruti perkataan perempuan tersebut dan betapa terkejutnya Ia begitu pula aku dengan pemandangan yang berada di depan mata kami sekarang.


Setengah dari ladang bunga Acanthus lenyap. Bersih tak bersisa. Entah kemana perginya. Aku yang melihat itu dari jauh langsung bergegas mendekati.


“Sepertinya bunga Acanthus telah dicuri” Pungkasku.


“Benar” Jawab Proedrus yang langsung setuju dengan pendapatku. “Sangat jelas bahwa tangkai dari bunga ini sengaja dipotong, dengan rapi pula” Ucap Proedrus.


“Lizzy, apakah kamu ada melihat seseorang saat datang ke ladang ini?” Tanya Proedrus pada perempuan yang tadi berteriak.


“Tidak ada Proedrus. Aku sengaja pagi-pagi datang ke sini karena aku ingin mengambil sedikit dari kelopak bunga Acanthus karena anakku tiba-tiba saja sakit” Ucap wanita itu dengan nada rendah.


“Kau tahu kan peraturan dalam menggunakan bunga Acanthus? Setidaknya kamu mengatakan hal itu dulu kepada Putri dan minta Ia untuk menemanimu” Ucap Proedrus.


“Lizzy, kenapa kau tidak memberitahuku terlebih dahulu? Kamu tau kalau itu sudah menjadi peraturan disini? Kamu tahu kan itu sangat berbahaya jika dilakukan sendiri, terlebih lagi kau ingin mengambilnya pada saat matahari akan terbit. Namun mengapa kamu melanggarnya?”


“Tolong maafkan aku Putri. Aku terpaksa karena aku melihat anakku sangat menderita. Badannya sangat panas Putri, jadi aku tak punya pilihan” Ucap wanita itu lirih.


Akupun segera mengambil beberapa kelopak dari bunga Acanthus yang tersisa dan kuberikan kepada Lizzy.


“Terima kasih Putri” Ucapnya seraya langsung berlari pulang.


Hanya aku dan Proedrus yang tinggal di ladang ini. Proedrus menelusuri ladang ini dengan wajah yang kebingungan, kecewa, sekaligus sedih atas apa yang terjadi.


“Proedrus, bagaimana ini?” Tanyaku dengan nada lirih.


“Aku tak habis pikir nak, siapa yang tega berbuat seperti ini”


Jawab Proedrus sambil menghela napas. “Nak, ketika waktunya bangun kita harus segera mengumpulkan para Elm untuk diperiksa. Tidak mungkin tidak ada saksi mata diantara kita, ataupun jejak yang tertinggal. Kita harus segera menemukan pelakunya”


“Baik Proedrus. Aku akan memberitahu kabar ini segera ketika mereka sudah bangun” Jawabku.


Sinar matahari menyapa dengan lembut. Sangat lembut. Barulah para Elm bangun dan bersiap untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Namun pagi ini akan sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya. Aku segera mengumpulkan semua Elm tanpa terkecuali.


“Maaf putri, apakah anakku bisa tinggal saja di rumah? Dia masih sakit” Pungkas Lizzy.


“Tidak Lizzy. Segera bawa anakmu kesini. Rangkul dia dalam pelukanmu. Ini adalah situasi yang sangat genting. Tolong mengerti”


“B-baik putri”


Dengan cepat Lizzy langsung berlari menuju rumahnya dan langsung membawa anaknya.


“Lizzy, apakah kamu sudah memberikan bunga Acanthus kepada anakmu?”


“Sudah putri. Kelihatannya anakku sudah berangsur pulih”


“Baguslah kalau begitu” Jawabku.


Ketika para Elm sudah berkumpul semua, akupun langsung menceritakan apa yang baru saja terjadi. Ku perhatikan satu-satu raut wajah para Elm. Sedih. Itu ekspresi yang ku tangkap pertama kali saat melihat wajah mereka.


“Nak, sebaiknya kau langsung menghitung berapa Elm yang hadir sekarang. Hanya untuk memastikan” Ucap Proedrus kepadaku.


“Baik Proedrus. Akan segera kulaksanakan” Pungkasku.


Langsung saja aku menghitung dari masing-masing golongan, satu-persatu. Aku berjalan melalui mereka nyang berbaris rapi. Saat ini jumlah dewasa 103 orang, Remaja 56, dan anak-anak 78 orang. Dari jumlah populasi sebelumnya, dewasa berjumlah 103 orang, remaja 57, dan anak-anak 78. Jumlah remaja berkurang satu.


“Para Elm, apakah ada dari kalian yang melihat Garnett? Karena aku tidak melihatnya di tempat para remaja”


Para Elm semua terdiam. Tak ada yang tahu keberadaan Garnett. Perempuan ini adalah seorang Elm yang pendiam, kurang bersosialisasi dan cenderung menutup diri. Jadi para Elm pun tak ada yang dekat dengan Garnett. Salahku tak memberikan perhatian yang lebih kepada Garnett. Sekarang dimana dia? Apakah sesuatu yang buruk telah terjadi kepadanya? Apa semua ini ada hubunganya dengan mimpi Meetha? Tanyaku dalam hati.


Aku berjalan langsung menuju Proedrus dan melaporkan jika salah satu dari Elm menghilang dan bertanya apa yang terjadi sebenarnya.


“Proedrus, salah satu Elm menghilang entah kemana dan tidak ada satupun yang melihatnya. Dia Garnett. Salah satu Elm yang suka menyendiri” Ucapku kepada Proedrus.


“Apakah tidak ada jejak lain yang ditinggalkan anak itu?”


“Tidak ada sama sekali. Aku sudah mengecek tempat tinggalnya dan semuanya normal. Namun ada satu hal yang mengganjal, yaitu dia tidak mengunci pintu rumahnya”


“Itu berarti dia diculik Nak”


“Bagaimana bisa Proedrus? Bukankan kau bisa melacak keberadaan manusia?”


“Benar. Maka dari itu manusia tersebut memerlukan seorang Elm untuk berhasil mendapatkan bunga Acanthus. Aura dari seorang Elm dapat meredam bau manusia”


Aku langsung terdiam dengan kata-kata Proedrus dan langsung teringat kepada mimpi Meetha. Apakah benar mimpi Meetha adalah pertanda bahwa kejadian seperti ini pasti akan terjadi dalam waktu dekat? Tanyaku dalam hati.


“Nak, perintahkan semua Elm untuk selalu merasa waspada dan berjaga-jaga. Hal ini tidak boleh kita anggap remeh, sekaligus suruh mereka agar melakukan aktivitas seperti biasanya. Setelah kau beritahu mereka, langsung datangi aku” Ucap Proedrus.


“Baik Proedrus” Aku langsung mengiyakan.


Tak lama setelah aku memberitahu para Elm, aku langsung bergegas menemui Proedrus di rumahnya dan langsung berbicara kepadanya.


“Proedrus, aku sudah memberitahu para Elm tentang apa yang kau suruh tadi. Apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan kepadaku?”


“Nak, sepertinya kita harus mengambil tindakan. Kau harus segera pergi ke bumi”


“Apa??!! Aku harus pergi ke bumi??!!”