SAPPHIRE From Coelus

SAPPHIRE From Coelus
Bagian IV



Kukelilingi lagi rumahku yang indah, nyaman, dan rapi ini. Tak sanggup jika harus meninggalkan Coelus, terlebih lagi rumahku. Namun aku pergi demi keberlangsungan hidup Garnett yang telah diculik makhluk bumi yang serakah. Aku harus menemukannya.


Setelah puas mengucap salam perpisahan kepada rumahku, aku langsung menemui Proedrus untuk segera melakukan perjalanan ke bumi. Aku juga harus menemui para Elm yang sudah berkumpul, menungguku disana. Mereka menyiapkan apa saja yang harus aku bawa, termasuk bekal untukku. Kemudian, dengan langkah kaki yang gemetar, aku tetap harus berjalan dengan lantang menuju tempat kepergian. Disana sudah tampak Proedrus yang menungguku, juga para Elm yang menyaksikan kepergianku. Kemudian Proedrus langsung menghampiriku dan memberiku sesuatu, yaitu cairan bunga Acanthus yang berguna untuk melindungiku dari sinar matahari.


“Nak, berhati-hatilah selama pencarianmu di bumi. Dan juga berhati-hati dengan matahari. Selalu semprotkan cairan bunga Acanthus ke seluruh badanmu. Dan usahakan keluar pada malam hari saja, untuk berjaga-jaga”


“Baik Proedrus” Aku menjawab dengan nada yang sedikit gemetar. Entah kenapa aku sangat tak ingin menginggalkan Coelus.


Langsung saja aku menapakkan kaki ke dataran sepetak, tanpa rumput. Itulah tempat kedatangan dan kepergian jika ingin ke bumi. Langkah yang kuambil dengan ragu, menjadi pasti demi Coelus dan semua Elm, terutama Garnett. Aku harus menyelamatkannya.


Ketika aku sudah berada di tempat itu, aku menatap semua wajah para Elm, dan juga Proedrus yang menatapku juga seolah mengatakan “jangan pergi”. Ketika aku memejamkan mata, aku mendengar suara para Elm yang berteriak “Putri, cepatlah kembali!”. Mendengar itu, tak sengaja setetes air jatuh dari kedua mataku dan dengan cepat cahaya sekelebat menyinari mataku yang tertutup dan kemudian kembali gelap. Perlahan aku membuka mataku dan mencoba menelusuri sekitar. “Tempat apa ini? Apakah aku sudah sampai di bumi?” Tanyaku dalam hati. Kulangkahkan kakiku dengan pasti, perlahan-lahan di sebuah ruangan kosong ini. Ku coba untuk mencari pintu keluar, namun sangat sulit karena banyaknya barang di dalam ruangan ini. Tak lama terdengan suara seperti orang yang mencoba membuka pintu. Betapa terkejutnya aku, itu ternyata manusia. Langsung saja aku meringkuk, berusaha bersembunyi dari mereka. Ternyata mereka ingin mengambil sesuatu dari ruangan ini. Sambil bercerita-cerita dan tertawa, mereka menyalakan lampu kemudian meraih kertas dari rak yang penuh debu. “Semoga aku tak ketahuan” Batinku. Tak lama, mereka langsung keluar setelah mematikan lampu. “Haaahhhh” Ku hela napasku dengan lega dan langsung saja aku mencoba keluar dari tempat ini.


Aku berlari meninggalkan tempat itu walaupun aku menyadari ada beberapa manusia yang melihat keberadaanku. Mungkin mereka mengira aku adalah seorang pencuri yang tergesa-gesa kabur membawa hasil curiannya. Untungnya mereka hanya melihatku dengan sinis dan tak mencoba menghentikanku.


Aku mencoba menelusuri kota ini dengan terburu-buru. Dalam pikiranku hanyalah Garnett. Aku harus menemukan dia sesegera mungkin. Tapi bagaimana? Aku bahkan tak punya petunjuk apapun untuk menemukannya. Yang bisa aku lakukan hanyalah merasakan keberadaannya dalam jarak dekat. Sejenak aku berpikir aku tak akan menemukan Garnett hanya dalam satu hari. Aku butuh tempat tinggal. Kutelusuri lagi jalanan yang ramai ini sambil menerima semua tatapan aneh dari manusia. Kenapa mereka menatapku seperti itu? Tak tahan dengan tatapan mereka, ku percepat langkahku dan berlari hingga sampai lah aku di depan gedung bertingkat yang sangat tinggi. Ketika aku masuk, pemandangan yang kudapati adalah manusia yang sangat ramai, kebanyakan berpasang-pasangan. Kuberanikan diri untuk masuk dan bertanya apakah ada ruangan yang bisa aku tinggali.


“P-permisi, apakah aku bisa menempati satu ruangan di gedung ini?” Tanyaku kepada salah satu gadis yang berjaga di meja depan.


“Anda mau pilih tipe kamar yang mana?” Tanya gadis itu.


“Ma-maksudnya apa ya?” Tanyaku dengan gagap.


“Apakah anda bersama seorang teman atau keluarga? Atau hanya sendiri saja?” Tanya gadis itu lagi.


“Aku hanya sendiri” Jawabku cepat.


“A-aku tidak tahu. Disini aku ingin menemukan temanku yang entah kemana. Jadi aku tidak bisa memastikan akan menetap berapa lama” Jawabku apa adanya.


“Baiklah. Kalau begitu nanti ketika anda keluar dari hotel ini, tagihannya akan keluar dan anda bisa langsung membayarnya” Ucap gadis itu.


“A-pa? Membayar? Dengan apa aku bisa membayar?” Tanyaku lagi.


“Hah yang benar saja! Kau tinggal di planet mana selama ini? Kau harus membayar dengan uang agar bisa menyewa kamar disini!” Jawab gadis itu dengan nada kesal.


“T-tapi bagaimana cara agar aku bisa mendapatkan uang?” Lagi-lagi pertanyaanku membuat gadis itu kesal.


“Jika kau hanya ingin main-main aku tak punya waktu. Silahkan kau keluar dari sini karna aku sedang bekerja untuk mendapatkan uang!” Ucap gadis itu dengan nada yang agak tinggi.


Melihat wajah gadis itu yang sangat kesal dengan pertanyaanku, aku pun langsung meninggalkan meja tempat ia berjaga.


Kutelusuri lagi tempat ini dengan harapan yang tinggi untuk menemukan Garnett. Berjalan aku tanpa henti dan mengabaikan tatapan orang-orang yang terus menghunjamku. Tak peduli aku akan semua itu. Tujuanku disini untuk menemukan Garnett. Dengan penuh semangat tanpa henti aku terus berjalan dan berjalan, mencoba merasakan kedekatan Garnett. Karena aku terlalu bersemangat, aku sampai lupa kalau sebentar lagi matahari akan terbit.


“Gawat! Aku harus segera mencari tempat untuk bersembunyi. Tapi dimana?” Tanyaku dalam hati. Proedrus berpesan kepadaku, walau aku sudah memakai semprotan bunga Acanthus, aku masih tidak bisa bertahan lama dibawah sinar matahari. Jadi, aku harus berhati-hati. Sekarang, aku harus mencari tempat untuk berlindung terlebih dahulu.


Kulanjutkan perjalananku sambil mencari-cari apakah ada tempat yang bisa aku tinggali. Setelah lumayan lama aku berjalan, aku melihat sebuah rumah tua yang sudah tak terurus lagi. Langsung saja aku berlari menuju rumah tua itu. Namun sayang, rumah itu memiliki pagar yang sangat tinggi. Aku tak bisa memanjatnya. Maka dari itu, langsung kutelusuri rumah ini dengan mengelilinginya. Kutemukan ada suatu celah kecil yang terletak di belakang rumah. Langsung saja aku mencoba memasukinya, dan kini aku berada di dalam. Rumah ini sangat besar, namun tak terurus.


Mataku tertuju pada jendela yang terdapat pada rumah ini. Ada sinar yang datang dari sana. Itu berarti rumah ini ada yang menempati. Langsung saja kuketatkan penjagaanku. “Aku tidak boleh tidur” Ucapku perlahan. Di sebelah depan rumah ini ada sebuah ruangan kecil seperti kamar. Aku mencoba untuk membuka pintu ruangan tersebut. Dengan sangat hati-hati, aku meraih gagang pintu yang tidak dikunci itu lalu membukanya. Ketika aku membukanya, aku sangat terkejut dengan apa yang mengisi ruangan tersebut. Terdapat banyak makhluk kecil yang memiliki bulu dan sayap. Ada yang berwarna putih, cokelat muda, juga cokelat tua. Ada sesuatu yang aneh di kepala dan leher mereka. Benda itu berwarna merah dan menggantung. Mulut mereka runcing ke depan dan memiliki dua kaki, namun sangat aneh. Ketika aku masuk, aku takut mereka akan menyerangku, namun kejadian yang terjadi malah kebalikannya. Mereka menghindariku. Karena hal itulah aku menjadi tidak takut pada mereka. Benar saja, sekali aku melangkah mendekati, mereka menjauh. Namun karena hal itu, mulut mereka mengeluarkan suara yang berisik. “Baiklah, sepertinya aku bisa berlindung disini” Ucapku. Tak lama aku mencoba berbaring, mataku tertutup dengan sendirinya karena sudah terlalu lelah. “Garnett, dimana kau?” Ucapku seraya tertidur.