
Suara gerendel pintu terdengar lagi. “Kali ini siapa lagi yang masuk?” ucapku menggerutu. Scarlett cepat-cepat mengambil posisi lagi untuk berpura-pura. Tak perlu waktu lama dua orang laki-laki bertubuh kekar masuk ke dalam ruangan ini dan membuka pintu di ruangan kaca ini. Tiba-tiba mereka menyeretku begitu saja, tenaga mereka sangat kuat. Mereka juga tidak peduli kepadaku yang berteriak-teriak di menusuk telinga mereka. Tapi aneh, mereka tidak berekspresi sama sekali. Wajah mereka datar dan dingin. “Lepaskan aku!!! Kemana kalian akan membawaku hah?!!” aku sudah berusaha sekuat tenaga mencoba untuk melepaskan diri namun sia-sia. Mereka juga sama sekali tidak menjawabku. Tak lupa mereka menutup mataku agar aku tidak bisa melihat kemana aku akan dibawa.
Kami berjalan melewati hutan dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi ini. Aku dapat merasakannya walau mataku tertutup. Aku mendengar suara gesekan dari dedaunannya yang cukup kencang tertiup angin. Melewati redupnya Coelus, menelusuri kabut yang cukup tebal dan dingin. Setidaknya itu yang bisa kurasakan dari indra penciumanku. Aku tak lagi meronta, hanya mengikuti mereka karena aku rasa itu percuma, akan membuang tenagaku saja. Cukup jauh kami berjalan melewati tanah basah dan berlumpur itu hingga tibalah kami di satu ruangan. Aku dipaksa duduk dikursi lalu diikat. Awalnya aku mencoba untuk meronta lagi, namun kedua lelaki ini terlalu kuat. Aku dapat merasakan mereka pergi setelah mengikatku disini, dan menginggalkanku. Aku mencoba melepaskan diri dengan menggerakkan kedua tanganku yang terikat kuat ini. “Arrghh, lepaskan aku!!!” tali yang mengikat tanganku ini sangat tebal serta kuat.
Tak lama ada seseorang yang masuk ke ruangan ini. Dia langsung saja membuka penutup mataku dengan kasar. Aku masih mencoba membuka mataku dan membiarkan cahaya lampu itu menusuk. Perlahan mataku menyesuaikan diri dengan cahaya itu dan tampaklah siapa yang membuka penutup mataku. Itu Proedrus.
“Halo putri, kita bertemu lagi” dia menyeringai sangat lebar dan terlihat sangat senang. Aku sungguh jijik melihat wajahnya.
“Apa yang kau inginkan?”
“Apa kau sudah mempertimbangkan tawaranku? Ini tentang hidup dan matimu. Jadi jangan sampai kau salah mengambil langkah.” Dia seraya tertawa sangat kencang sambil menyeringai.
“Aku tak akan bekerja sama denganmu, sekeras apa pun usahamu!” jawabku tanpa berpikir. Dia tersenyum kemudian dia menepuk tanganya dua kali seolah memberi kode kepada seseorang yang berada di luar. Kemudian masuklah dua orang pria bertubuh kekar yang membawaku tadi.
“Ini adalah sebagian kecil dari rencana ku yang berhasil. Kau lihat? Aku telah mengambil alih pikiran mereka sepenuhnya. Saat ini aku yang memegang kesadaran mereka, aku bisa mengendalikan mereka. Apa pun yang aku perintahkan, mereka akan melaksanakannya. Jika kau mau bekerja sama, kita bisa menguasai planet ini dengan mudah. Dan bahkan, kita bisa menguasai bumi dan planet-planet lainnya. Bagaimana?” dia kembali menyeringai.
“Aku tidak akan bekerja sama dengan orang yang tidak waras sepertimu!!!” aku berteriak kencang di hadapannya. “Kau sudah gila!!!”
“Wah, ternyata kau tak mengubah pikiranmu juga ya. Pendirianmu kuat juga. Tapi sayangnya itu adalah pilihan yang salah. Jika aku tidak bisa mengambil kekuatanmu dan mencampakkanmu ke bumi membuatmu kembali, maka tidak ada pilihan lain. Aku harus membunuhmu.” Ucapnya tanpa ekspresi apa pun kali ini. “Oh tunggu sebentar……., aku pikir menyiksamu terlebih dahulu akan jauh lebih menyenangkan” kali ini dia menampakkan seringainya yang menyeramkan dan licik itu lagi. Dasar orang tua tidak tahu diri!
Dia langsung memerintahkan kedua suruhannya itu untuk segera bergerak melakukan tugasnya. Entah apa yang akan mereka lakukan terhadapku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Berharap aku tidak langsung mati pada penyiksaan ini. Aku masih ingin hidup. Aku bertanggung jawab penuh atas kehidupan para Elm di Coelus ini. Aku sangat berharap keajaiban datang dari langit dan menyelamatkanku.
Proedrus datang lagi kesini tepat setelah balok es ini mencair. “Wah, kau kuat juga ya. Aku tidak menyangka kau bisa melewati tantangan pertama.”
“Kau….. kau….” Aku tak bisa mengeluarkan kata-kata karena gigiku saling menyapa dengan cepat atas dan bawah, bibirku sepertinya biru dan masih bergetar.
“Kenapa? Apa kau tak sabar untuk tantangan yang kedua? Baiklah aku akan segera mengabulkannya. Tapi sebelum itu kau harus bangkit dulu.” Proedrus kemudian menyiramiku dengan air es lagi. Seember penuh langsung dituangkannya di wajahku. Sontak aku langsung terduduk mencoba mengambil napas.
“Nah, kalau begini kan kau cepat bangunnya” Proedrus tertawa kemudian aku ditarik lagi oleh kedua pesuruhnya itu. Mereka mendudukkan aku di kursi tadi juga mengikatku lagi.
“Apa kau masih tidak mengubah pikiranmu, putri?” dia berkata sambil mengelus-elus pipiku. Aku yang tak tahan dengan tingkahnya langsung membagikan air liurku ke wajahnya. Tepat mengenai wajahnya. Aku tertawa puas karena setidaknya aku dapat memberinya perlawanan sebelum aku mati.
“Sepertinya kau ingin wajahmu yang cantik ini menghilang ya?” dia berkata seraya mengusap air liurku dari wajahnya. Dia kemudian memukul wajahku sampai aku terjatuh, dengan posisiku masih terikat di kursi. Namun aku tertawa karena bersedih pun percuma.
Kedua pesuruhnya memperbaiki posisiku seperti semula. Aku menghadap wajahnya lagi, namun kali ini dia terlihat jengkel. “Baiklah, langsung saja kita ke tantangan yang kedua. Apa kau siap?”
Kedua pesuruhnya itu memberikan sebuah alat, berwarna hitam berbentuk persegi panjang kecil yang muat dalam genggamannya. Ketika alat itu ditekannya, muncullah sebuah kilatan yang menyambung. Itu alat kejut listrik.
“Apa kau sudah siap bertemu dengan teman kecilku ini?” katanya sambil tersenyum licik. Aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun ketika melihat kejut listrik yang berada di genggamannya itu. Sungguh aku benar-benar takut sekarang. “Aku rasa kau sudah siap ya? Katakaan saja jika kau takut, atau tidak mau bertemu dengan teman kecilku ini. Kita bisa berhenti sampai disini. Bagaimana?” tawarnya sekali lagi kepadaku, namun aku tetap bungkam.
“Yah, sayang sekali, sepertinya kau sudah tak sabar ya? Baiklah maaf membuatmu menunggu, aku akan segera mempertemukan kalian.” Dia menyeringai lagi. Kemudian dia mendekatkan dirinya kepadaku, menekan alat itu sehingga menunjukkan kilatan mematikan itu. Dia langsung mengarahkan alat itu ke kakiku. Terasa tubuhku bergetar dahsyat. Karena tubuhku tak sanggup menahan sengatan itu, seketika aku pingsan.