
Sebentar lagi matahari naik, aku harus segera pulang. Aku berjalan dengan mempercepat langkah kakiku agar segera sampai ke rumah. Setelah sampai ke rumah aku langsung masuk ke kamarku dan seperti biasa, sunyi yang kudapati. Sudah jelas wanita paruh baya itu masih terlelap di kamarnya. Karena cukup lelah mencari Garnett, terlebih lagi atas apa yang telah terjadi kepadaku kemarin malam, aku langsung tertidur.
Aku terlelap cukup lama. Aku pikir ini sudah sore, namun masih siang hari. Tak bisa ku bedakan karena hari ini awan tebal dan gelap menutupi matahari. Bergegas aku keluar dari kamarku dan kudapati wanita paruh baya itu memanggilku dengan gerakan tangannya dari meja makan. Aku langsung menghampirinya.
“Nak, kau pasti lapar kan? Kau suka makan roti? Ini roti yang diberikan oleh Ibu Vidya kemarin. Aku hanya punya ini, Nak. Tapi lain kali aku akan membelikan makanan apa saja yang kau inginkan” ucap wanita itu seraya menyuguhkanku roti ini.
“Ahh, Nyonya terima kasih banyak” ucapku gembira. Aku langsung membuka bungkusnya lalu memakannya karena memang aku sangat lapar dan persediaan bekal ku sudah habis kemarin. “Wahh ini enak Nyonya. Apakah ini terbuat dari gandum?” tanyaku.
“Waahh kau memiliki lidah yang sangat peka yah” puji wanita itu.
“Itu karena aku sangat suka makanan apa saja yang terbuat dari gandum” jawabku sambil tersenyum.
“Apalagi makanan yang kau suka, Nak?”
“Mmmmm, aku suka jagung, kentang, wortel” jawabku.
“Apa kau seorang vegan?” Tanya wanita itu.
“Vegan? Apa itu vegan?”
“Owh, kamu tidak tahu ya. Vegan itu adalah seseorang yang hanya mengkonsumsi sayur-sayuran dan tidak mengkonsumsi daging ataupun turunannya seperti telur dan susu” wanita itu menjelaskan dengan singkat.
“Ahh, aku tidak mengerti Nyonya. Karena yang ada di duniaku hanyalah jagung, gandung, kentang. Hanya tanaman seperti itu yang kami konsumsi” jelasku.
“Baiklah, aku mengerti. Sesekali kita perlu membeli daging atau nanti setelah ayam-ayam memiliki banyak telur kita akan mengolahnya atau jika aku sudah memiliki cukup uang kita potong saja ayam yang ada di kandang itu” pungkas wanita itu seraya tertawa.
Aku akan mengingat sekali lagi bahwa yang di kandang itu adalah ayam dan ayam memiliki telur yang keluar dari tubuhnya entah bagaimana. Aku tak ingin bertanya lagi karena itu seperti sihir. Tidak masuk akal dan membuatku pusing. Manusia juga mengkonsumsi daging dan telur.
“Nyonya, aku sudah beberapa hari disini namun aku masih belum tahu namamu. Aku lupa bertanya karena yang ada di pikiranku hanya ada temanku. Aku tahu ini tidak sopan jika aku bertanya seka— ” lagi-lagi wanita itu memotong pembicaraanku dengan menaruh telunjuknya ke depan bibirku.
“Namaku Joy. Sekarang panggil saja aku Joy. Aku juga lupa memperkenalkan namaku karena aku sangat tertegun mendegarkan ceritamu tempo hari. Mungkin jika kau tak bertanya, selamanya aku tak akan memberitahu namaku. Hahahahaha” wanita itu tertawa.
“Baiklah Joy. Namamu sangat indah”
“Namun tak seindah namamu, Nak” goda wanita itu.
Kami pun melanjutkan makan siang sambil bercerita, mengenal lebih dalam satu sama lain. Entah mengapa kami seperti sudah memiliki koneksi sejak lama. Aku tak merasa canggung, begitu pula Joy. Kami tak sadar jika kami berbincang sudah hampir tiga jam. Ini sudah jam empat sore dan Joy tiba-tiba saja mendapat telepon masuk.
“Nak, tiba-tiba saja Ibu Vidya meneleponku dan meminta membawakan sepapan telur untuknya. Karena persediaan telurnya hampir habis. Dia berkata pelangan semakin bertambah” pungkas Joy. “Aku akan mengantar telur ke sana dan akan kembali sebelum makan malam” ucap Joy.
“Eemm Joy, apa boleh aku ikut denganmu untuk mengantarkan telur-telur itu?” tanyaku sedikit ragu.
Wajah Joy langsung sumringah. Dia mengedip-ngedipkan matanya menatap mataku. “Apa kau benar-benar ingin pergi? Bagaimana dengan matahari?” dia bertanya.
“Hari ini sedikit gelap, jadi tidak apa-apa. Aku pikir aku harus beradaptasi” jawabku.
“Baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi”
“Sebentar Joy” aku berlari dengan cepat masuk ke dalam kamarku dan mengambil semprotan bunga Acanthusku. Dengan cepat pula aku kembali dan menyeprotkan cairan itu ke seluruh tubuhku. “Ayo Joy kita pergi. Aku akan membawa cairan ini untuk berjaga-jaga” ucapku.
“Baiklah Nak, ayo kita pergi sekarang” ucap Joy seraya memegang tanganku berjalan keluar. Namun ketika sampai di depan pintu, rasa ragu itu muncul lagi. “Ayo lawan rasa takutmu Sapphire. Semua akan baik-baik saja” ucapku menyemangati diri. Joy hanya tertawa kecil melihat tingkahku di depan pintu, sedang ia sudah berada di luar untuk mengambil sepedanya.
“Nak, jika kau masih ragu tak apa aku pergi sendiri” ucap Joy sedikit khawatir.
“Tidak Joy, aku ingin ikut. Harus.” Akupun segera berlari menuju Joy sambil mengeluarkan suara jeritan yang tak aku sadari. Joy tertawa melihatku. Kemudian aku langsung duduk di belakang sementara Joy yang mengendarai sepedanya. “Ayooo Jooyy kita pergi sekarang!! Aku bisa melewati matahari iniii!!” kataku sedikit berteriak gembira.
“Hahahaha, okee pegangan yang erat Nak!”
Kami pun pergi mengendarai sepeda tua milik Joy menuju rumah Ibu Vidya untuk mengantarkan telur-telur ini. Telur itu digantungkan dengan tali di pegangan sepeda. Aku yang melihat Joy seperti kesusahan membawanya, menawarkan bantuan agar aku saja yang memegang telur-telur itu. Namun Joy menolak. Dia berkata akan berbahaya jika aku yang memegang telur ini, karena aku harus berpegangan kepada Joy. Jika aku tidak berpegangan aku bisa jatuh. Untuk saat ini Joy tak mengizinkan, namun lain kali aku akan mencoba menawarkan bantuanku untuk Joy. Terlebih lagi ini pertama kalinya aku menaiki sepeda ini. Aku sangat senang.
Rumah Bu Vidya cukup jauh dari rumah. Mungkin sekitar 30-35 menit ditempuh dengan bersepeda. Kami sudah beberapa kali berhenti karena kepanikanku terhadap matahari. Padahal aku sudah mengatakan kepada Joy kalau aku bisa menyemprotkan cairan ini tanpa berhenti. Namun Joy yang penuh rasa khawatir terhadapku tak mengizinkanku. Aku merasa bersalah kepada Joy karena sudah menyusahkannya.
Ketika Joy masuk ke toko roti itu, aku malah berdiri saja di depan. Terlalu berat kakiku untuk melangkah ke dalam. Namun Joy memanggilku supaya aku ikut masuk ke dalam. Terpaksa aku memenuhi panggilan Joy. Begitu aku masuk ke dalam langsung kudapati Bu Vidya yang tersenyum kepadaku.
“Bu Vidya, perkenalkan ini Sapphire. Keluarga jauhku, namun dia kesini untuk menjengukku” Joy agak berbohong tentang ini, namun aku hanya membiarkanya.
“Ahh sebentar. Sepertinya aku pernah melihatmu. Kalau tidak salah kamu yang mengantarkan Alex pulang kemarin malam kan?”
“Ehmm, i-iya benar, Bu.”
“Ahh, jadi namamu Sapphire. Aku lupa untuk bertanya kemarin malam. Dan aku juga baru tahu kalau kamu adalah keluarga jauh Joy”
“I-iya Bu, aku kesini untuk bertemu dengan Joy dan tinggal dengannya sementara waktu”
“Ohh, begitu rupanya. Iya kadang aku juga kasihan melihat Joy, dia tinggal sendirian. Aku sudah mencoba menawarkan kepadanya agar tinggal bersama denganku namun dia terus menolak. Tetapi sekarang sudah ada kau yang menemaninya, perasaanku agak lega” pungkas Bu Vidya. Dia juga begitu ramah dan cantik. Ternyata orang-orang di bumi juga banyak yang memiliki hati yang sangat baik.
“Baiklah Bu Vidya, sepertinya kami harus kembali pulang” ucap Joy
“Iya, baiklah. Kau harus selalu mengajak Sapphire ke sini ya Joy. Lain kali aku akan mentraktirmu makan dengan Joy” tawar Bu Vidya dengan ramah.
“Haha, tenang saja Bu Vidya. Jika tidak ada halangan aku akan selalu mengajak Sapphire kemari”
Setelah mengantarkan telur-telur itu, kami langsung pulang ke rumah. Untuk saja aku tidak bertemu dengan pria menjengkelkan itu. Joy mengendarai sepedanya dengan cepat kali ini. Hahaha aku sangat senang karena rambut dan wajahku tertiup angin yang cukup kencang, itu menggelitikku. Aku tertawa sepanjang jalan. Sesampainya di rumah, aku penasaran dengan lukisan yang ada di runag tengah, aku ingin sekali bertanya kepada Joy tentang lukisan itu. Tetapi aku sangat takut akan membuat kenangan yang buruk bagi Joy. “Hmm, lain kali aku akan menemukan waktu yang tepat untuk bertanya tentang lukisan ini. Karena aku merasakan sesuatu yang tidak biasa dari lukisan itu” gumamku.
...~0o0~...
“Aku pulang, Bu!” teriakku ketika ku buka pintu dan masuk ke toko roti ini. Ibu langsung menyambutku. “Alex, segera ganti bajumu ya”
“Iya aku tahu Bu, aku akan menjaga toko mengantikan Ibu”
“Bukan itu Alex. Cepat ganti dulu bajumu, setelah itu langsung kesini”
“Baiklah, Bu.” Aku langsung menuruti kata Ibu. Aku langsung mengganti bajuku dan menahan rasa laparku ini. Sepertinya ini mendesak. Setelah selesai mengganti baju, aku langsugn menemui Ibu dan bertanya ada apa sebenarnya. Ibu berkata bahwa Joy tadi kesini dan ada barangnya yang tertinggal. Ibu memintaku untuk mengantarkan barang milik Joy ini karena Ibu berpikir itu adalah barang yang penting.
“Alex, tolong antarkan ini ke rumah Joy. Segera yah!”
“Apa ini Bu?”
“Ibu juga tidak tahu, yang jelas ini terlihat penting”
“Bu, ayolah. Ini hanya parfum. Aku bisa mengantarnya nanti setelah makan. Aku lapar, Bu” aku merengek.
“Antar ini sekarang, Alex. Tidakkah itu terlihat seperti sesuatu yang berharga? Botolnya saja dari kaca dan cairannya berwarna seperti emas. Ayo antarkan itu ke rumah Joy sekarang. Kamu bisa makan setelah pulang”
Aku sedikit kesal karena aku sangat lapar. Jarak dari sini ke rumah Joy juga cukup lama. Aku tidak bisa membantah Ibuku yang cerewet ini. Agar tidak berlama-lama, aku langsung menyalakan motorku, namun ketika aku hendak pergi, terdengar suara Ibu yang memanggilku dari dalam.
“Ada apa, Bu? Bukankah aku harus segera mengantarkan ini?” tanyaku dengan nada sedikit kesal.
“Alex, Ibu lupa memberitahumu. Perempuan yang mengantarkanmu pulang kemarin malam saat kau mabuk berat itu adalah saudara jauh Joy. Namanya Sapphire. Tadi Joy kesini mengantarkan telur bersama dengannya”
“Apa? Joy memiliki saudara jauh?” tanyaku dengan mengernyitkan dahi.
“Iyaa Alex. Joy berkata bahwa saudara jauhnya itu datang kesini untuk menjenguknya dan tinggal bersamanya. Cepat kau antarkan itu dan sekalian kau minta maaf dan bilang terima kasih kepada perempuan itu. Kau sangat tidak sopan kemarin”
Aku masih tidak ingat apa yang terjadi kemarin malam dan hampir melupakannya. Baiklah, sekarang aku harus melakukan apa yang Ibu suruh. Sebenarnya aku sangat malu. Entah wanita itu menerima permintaan maafku atau tidak, setidaknya aku harus mencoba. Aku akan menebus kelakuanku kemarin.
“Bu, aku pergi dulu”
“Iya hati-hati dan segera pulang!”