SAFIA

SAFIA
part 32



Matahari mulai meredupkan sinarnya menandakan sang malam akan segerah hadir dan haripun akan berganti, Safia yang siang berniat untuk istirahat tidur namun apa daya dia tak bisa begitu saja menidurkan dirinya karena kontraksi yang semakin intens dan semakin cepat membuat Safia sering mengernyitkan dahinya guna untuk menahan sakitnya kontraksi, karena merasa kalau kontraksinya kali ini adalah tanda anaknya akan segera lahir akhirnya Safia meminta supirnya untuk mengantar ke rumah sakit dan saat di perjalanan Safia pun sudah mengabari Arkha dan Bunda jika dia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.


Diruangan bersalin Safia sedang terbaring karena kontraksinya sudah dirasakan tanpa jeda membuatnya sudah tidak kuat untuk berjalan lagi. selain merasakan sakit yang sungguh luar biasa Safia juga merasakan bahagia dan sedih bercampur menjadi satu, bahagia bahwa anak yang selalu dia nantikan kelahirannya sebentar lagi akan segera melihat bagaimana indahnya dunia, sedang dia pun merasa sedih karena saat dia berjuang suaminya tidak berada di sampingnya dia harus berjuang sendiri untuk anaknya, dia tak menyalahkan Arkha karena memang dia pun mengabari jika dia mau melahirkan disaat memang sudah tidak bisa menahan kontraksi yang terus menerus dia rasakan.


Disaat kontraksi hebat dirasakan oleh Safia dokter datang untuk memeriksa pembukaan


" nona saya periksa pembukaanya dulu usahakan jangan mengejan dulu.."


" uuhhh tapi rasanya saya pengen mengejan dokter..."


" jangan mengejan dulu ya nona karena baru pembukaan 8 karena kalau nona mengejan sebelum pembukaan lengkap itu akan membuat robekan dan nona juga akan kehabisan tenaga jadi usahakan tarik napas hembuskan untuk mengurangi sakitnya, tinggal sebentar lagi baby akan keluar nona jadi bersabarlah ..."


" terrrimakasih dokk.." Safia menjawab dengan terbata karena sedang merasakan sakitnya kontraksi yang begitu luar biasa.


setelah selesai memeriksa pembukaan Safia dokter pamit untuk menyiapkan peralatan untuk membantu Safia.


" non mau minum dulu biar tidak dehidrasi..." tawar pembantu yang menemani dirumah sakit langsung menyodorkan gelas berisi air mineral dan menggunakan sedotan agar Safia dengan mudah meminumnya.


" terimakasih bi...auuuhh bi sakit banget perut saya " ucap Safia saat sudah cukup minum dan langsung memekik pelan saat kontraksinya semakin hebat membuatnya tanpa sadar mencengkram tangan pembantu untuk menyalurkan rasa sakit yang luar biasa.


" sabar ya non nanti kalau baby sudah keluar sakitnya pasti ilang lega banget rasanya non..." ucap pembantunya berusaha menghibur nonanya agar sedikit mengalihkan rasa sakitnya.


satu jam kemudia dokter mengatakan bahwa pembukaan Safia sudah lengkap saat ini Safia sudah siap untuk berjuang mengeluarkan anaknya dan Arkha. tadi sebelum dokter datang untuk memeriksanya Arkha sudah menelpon jika dia sebentar lagi sampai rumah sakit tempat Safia kini berada untuk berjuang demi anaknya.


"tarik nafas hembuskan satu...dua....tiga ayo nona mengejan sekuat tenaga anda..." dokter terus memberikan intruksi


" uuuhhh ekhhhhmm aahhhh..." Safia sekuat tenaga mengejan agar dapat mengeluarkan buah hatinya.


" terus nona kepalanya sudah mulai terlihat..."


" dokter sakittt uuhhhh, aku ngga kuat engghhhh aahhh uuuhhhh...." Safia masih berusaha mengejan sekuat tenaga yang dia bisa, dia sudah lemas karena merasakan kontraksi tangan mencengkram besi pinggir tempat tidur rumah sakit.


" ayo nona sedikit lagi mengejan yang kuat kepalanya sudah keluar tinggal badanya..." seru sang dokter saat melihat kepala bayinya sudah keluar dengan sigap membantu menariknya saat Safia mengejan.


mendengar perkataan dokter Safia merasa bahagia dan entah darimana datangnya tenaganya seolah begitu besar, Safia berusaha mengejan Kemabali sekuat tenaga.


" ekhhhhh akhhhhh..." teriakan Safia terdengar disusul dengan tangisan bayi yang baru lahir, membuat Safia merasa lega.


" oek oek oekkk" suara tangisan yang begitu melengking terdengar begitu kencang dalam ruangan itu.


" selamat nona bayi anda laki laki lahir dengan keadaan sehat dan sempurna..." ucap dokter seraya menaruh bayinya ke atas dada Safia.


" brakkk..." suara pintu di dobrak paksa terdengar disusul sosok laki laki yang Safia tunggu dari tadi akhirnya muncul tepat saat anak mereka lahir kedunia, dengan nafas yang memburu Arkha mendekat ranjang sang istri yang sedang menatapnya dengan senyum yang meneduhkan.


" terimakasih kamu hebat, dan maaf aku tidak bisa menemanimu berjuang..." ucap Arkha seraya menciumi seluruh waja sang istri, setelah puas dengan sang istri Arkha alihkan pandanganya kepada bayi yang ada di gendongan perawat setelah selesai di bersihkan.