
Di sebuah rumah sederhana yang terlihat asri karena tanaman hijau yang ada di pot berbagai ukuran berjajar rapih di seluruh halaman depan rumah.
tidak seperti biasanya sepi kini terlihat lebih ramai ada beberapa orang yang hilir mudik mempersiapkan acara yang memang akan di adakan beberapa jam lagi. ya setelah seminggu yang lalu Safia menghadapi drama lamaran yang di buat oleh Arkha hampir membuatnya mati karena kaget dan shock dengan kenyataan yang membuatnya tak berdaya dan hanya bisa pasrah akan nasibnya yang harus menikah di umurnya yang ke 24 tahun dan yang lebih menakjubkan lagi dia menikah dengan Arkha yang memang lebih muda enam tahun darinya.
oh tuhan bukan kah itu luar biasa padahal dia fikir Arkha memaksanya untuk menjadi pacar hanya keinginan sesaat remaja labil tapi apa ini dia harus terjebak pernikahan dengan Arkha. tapi dia juga sedikit senang karena akhirnya ada juga yang mau menikah denganya.
ya walaupun dia tau Arkha laki laki yang luar biasa dan tentunya fisikpun jauh luar biasa lagi dia definisi laki laki sempurna idaman wanita. tapi ada sedikit keraguan atas keputusan untuk menikah dengan laki laki yang jauh lebih muda darinya, ntah lah Safia bingung dia sudah pasrah akan nasibnya kedepannya ,Safia hanya akan menguatkan diri menghadapi apapun masalah kedepannya dan hanya akan mengikuti alur hidup yang sudah digariskan oleh sang pencipta anggap saja Arkha adalah jodohnya itu yang Safia fikir.
tak terhitung sudah berapa kali Safia menghela nafas gugup di dalam kamarnya setelah selesai dirias dengan riasan simpel tapi terlihat menawan dengan rambut hanya di sanggul dan sedikit hiasan untuk mempercantik serta kebaya simpel warna putih yang pas di tubuh mungilnya membuat penampilan Safia terlihat sederhana tapi begitu cantik.
perasaanya campur aduk ada takut, gugup, terharu, sedih dan masih banyak lagi semua rasa itu terasa bercampur jadi satu membuat Safia gelisah menunggu rombongan pengantin laki laki yang akan mengubah statusnya. dia ingat jelas bagaimana seminggu yang lalu dengan mudahnya Arkha membuat dia tidak bisa menolak permintaan Arkha untuk menikah secepatnya.
flasback
" Safia tepati janjimu.." kata Arkha lembut lalu tanpa izin menyatukan bibirnya denga bibir Safia menyesap rasa manisnya ******* lembut penuh dengan perasaan membuat Safia terbuai dengan cumbuan bibir Arkha yang memabukkan itu. setelah Arkha melihat Safia mulai kehabisan nafas akhirnya dengan berat dia lepaskan tautan bibirnya dan Safia walaupun dalam hati tak rela.
Arkha mengusap bibir basah Safia yang sedikit bengkak karena ciuman panas mereka barusan. menatap Safia dengan pandangan lembut seraya mengusap lembut pipi halus tanpa noda itu. Safia masih diam dengan pikiran yang entahlah kemana perginya mungkin karena terlalu shock akan kenyataan yang sunggu diluar pikirannya.
" tapi Arkha bagaimana keluargamu apakah mereka menerimaku..?" tanya Safia setelah sadar dari diamnya.
" ga ada keluarga hanya ada kamu dan aku itu udah cukup..." jawab Arkha datar entahlah dia tidak suka jika ada yang menanyakan soal keluarganya.
" tapiii.."
" tidak ada tapi tapian kamu sudah janji Safia jadi tepati itu..." kata Arkha tajam
" Minggu besok kita menikah..." putus Arkha cepat
apaaa Minggu besok berati 2 hari lagi donk, ga bisa itu terlalu cepat...protes Safia dalam hati.
" itu terlalu cepat Arkha, kita kan juga belum ngurus surat suratnya, belum persiapannya..dua Minggu lagi yah " mohonya kepada Arkha
" ga..."
" plisss Arkha dua Minggu lagi ya..." Safia masih berusaha meminta tambahan waktu
" ga " kata Arkha datar
" kalau ga satu Minggu aja deh aku mohon..." dengan jurus terakhir Safia menampilkan wajah memelas berharap Arkha akan luluh dan mengabulkan permintaanya dan sepertinya usaha Safia membuahkan hasil.
Arkha menghela nafas pasrah karena dia tidak tega melihat wajah Safia yang memohon seperti itu.
" baiklah seminggu lagi kita menikah semua aku yang urus..." putus Arkha final.
" terimakasih..." ucap Safia senang
saat mengingat itu Safia merasa sedikit kesal dengan Arkha tapi hanya sedikit loh yah karena dihati kecilnya dia juga bahagia entah sejak kapan perasaan untuk Arkha mulai hadir di hatinya.
melihat jam sudah menunjukan pukul 10.15 menit pagi ini sudah lewat lima belas menit dari jam yang sudah di sepakati tapi Arkha belum datang dan ga ada kabar juga Safia mulai cemas. apalagi penghulu sudah datang dari dua puluh menit yang lalu.
baru Safia akan menghubungi Arkha tapi Reana lebih dulu masuk ke dalam kamar tempatnya menunggu memberi tahu kalau Arkha baru saja tiba. memang dia tidak mengundang banyak orang hanya orang terdekat saja salah satunya Reana selain itu hanya pak RT dan tetangga terdekat yang memang membantunya mempersiapkan semuanya.itu karena Safia ingin pernikahannya berjalan dengan sederhana dan khidmat.
" Safia tuh rombongan suamimu sudah dateng, ayo siap siap keluar bentar lagi akad di mulai.." Reana dengan heboh memberi tau Safia
" gimana Re riasan aku ada yang rusak ga bagus ga...ya ampun Reana aku gugup gimana nih deg degan banget jantung aku..." Safia sedikit panik saking gugupnya padahal tadi tidak merasakan panik seperti sekarang.karena dia mencemaskan Arkha takut dia tidak datang.giliran sekarng Arkha sudah datang Safia panik kaya orang mau kabur.
" udah kamu tenang yah tarik nafas keluarkan...kamu cantik banget Safia ga berlebihan semua sempurna ko..." Reana berusaha menengkan temanya itu.
akhirnya Safia dengan di gandeng Reana keluar kamar berjalan menuju teras yang sudah disulap menjadi tempat akad memang halaman rumah Safia di pasangi tenda tidak terlalu besar hanya untuk akad dan tempat hidangan yang disediakan untuk tamu yang memang tidak banyak jadi ga perlu tempat yang luas.
saat baru saja keluar Safia melihat Arkha sudah duduk di kursi depan pak penghulu dia terlihat lebih dewasa dengan kemaja putih dan jas hitam yang pas di tubuhnya penampilan Arkha hari ini berkali kali lipat lebih sempurna di mata Safia bahkan semua wanita yang ada disitu memandang terpesona.
" suamimu sempurna Safia..." bisik Reana saat berjalan menghampiri kursi yang disediakan untuknya mendengar itu Safia hanya tersenyum malu.
Arkha melihat Safia keluar dan berjalan mendekat terpana akan kecantikanya bahkan kebaya sesimpel itu pun tidak bisa menutupi kecantikan dan pesona seorang Safia.
" kamu cantik..." bisik Arkha saat Safia telah duduk disampingnya.
" Saudara Arkhandana Ardhinaf Maxwel saya nikah dan kawinkan engkau dengan saudari Safia Ayu binti Ardan Rahman dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai"
" Saya terima nikah dan kawinya Safia Ayu binti Ardan Rahman dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
" bagaimana saksi sah.."
" sah "
dengan Lancar dan lantang Arkha melewati akad yang membawa Safia resmi menjadi miliknya. setelah menerima buku nikah yang sudah mereka tanda tangani sebelumnya pak penghulu pun langsung pamit karena masih ada tugas ditempat lain.
" Selamat ya Safia semoga bahagia selalu dan semoga cepet dapet momongan aku tunggu kabarnya loh yah.." Reana mengucapkan selamat sambil memeluk teman kerjanya sebelum berhenti memang Safia sudah berhenti dari semua pekerjaannya dua hari setelah lamaran dadakan Arkha itupun permintaan Arkha akhirnya Safia menurut.
" makasih ya Re...kamu kapan nyusul? " tanya Safia
" kapan kapanlah fi tunggu aja undangannya..." jawab Reana sambil tertawa kecil
" selamat ya Arkha kamu harus bahagiain Safia jaga Safia loh ya jangan sampai kamu nyakiti dia" ancam Reana yang hanya diangguki oleh Arkha.
setelah Reana pergi karena setelah mengucapakan selamat kepadanya dia langsung pamit karena Riko pacarnya sedang di rawat di rumah sakit jadi dia tak bisa lama.
akhirnya acara semua sudah selesai dan tetangga yang hadir pun sudah pada pulang setelah membantu membereskan sisa acara hanya tinggal rombongan Arkha itupun hanya ada tiga orang yaitu Clara Kaka sepupu Arkha dan kedua orang kepercayaan Arkha Rey dan Erik.
" Safia selamat ya semoga kalian selalu bahagia..aku titip Arkha ya tolong rawat dia jangan biarin dia kesepian lagi bila perlu kalian bikin anak yang banyak biar Rame..." canda Clara sekarang hanya ada Safia dan Clara di dalam kamar karena memang Safia sedang berganti pakaian di bantu Clara.
" makasih ka doanya.." jawab Safia masih segan untuk mengobrol panjang dengan Clara yang memang ini pertemuan pertama mereka.
Saat semua telah selesai dibereskan semua tamu juga sudah pulang rumah juga sudah sedikit rapih rasanya badan juga sudah terasa lelah padahal hanya akad apalagi kalau acaranya besar tidak kebayang lelahnya seperti apa.
Safia dan Arkha memang memutuskan tinggal di rumah Safia untuk sementara waktu sampai rumah yang Arkha siapkan untuk mereka selesai direnovasi, karena itu permintaan Safia dan Arkha setuju saja toh rumah Safia nyaman buat Arkha .
sekarang Safia sedang menunggu Arkha yang sedang mandi Safia sudah menyiapkan baju ganti untuk Arkha dengan baju yang memang tadi di bawa Arkha kaos polos warna putih dan celana pendek. sedangkan Safia sudah mandi terlebih dahulu saat Arkha masih mengobrol dengan dua orang kepercayaanya.
sekarang jam menujukan pukul 10.00 malam Safia masih merasa canggung dengan statusnya sekarang seperti masih belum percaya waktu sepertinya terlalu cepat untuk dia.
sekarang aku udah jadi istri berondong ko aku jadi deg degan yah inikan malam pertama aduhhh semoga aja Arkha ga minta haknya deh dan langsung tidur...harap Safia dalam hati.
" clekkk..."
Safia melihat Arkha keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya, melihat itu Safia begitu terpesona akan pemandangan didepanya tubuh Arkha yang begitu sempurna tidak ada lemak sedikitpun ditubuhnya dan otot perut yang membentuk kotak dengan sempurna membuat Safia merona karena malu dengan pikiran kotor yang mulai menjalar di otaknya.
ya ampun Safia otakmua begitu mesum...
tapi ini pemandangan yang begitu menggoda...
Tuhan kuatkan imanku agar aku tak berbuat hal yang memalukan...
Safia memalingkan pandangannya ke handphone yang dia pegang saat melihat Arkha melihat kearahnya.
Arkha tau sejak dia keluar dari kamar mandi Safia selalu melihatnya namun Arkha pura pura tak melihat apalagi saat melihat rona wajah Safia yang terlihat jelas membuatnya terhibur.
setelah selesai memakai celana tanpa memakai bajunya Arkha duduk di sebelah Safia yang sedang sibuk dengan handphone nya.
" sayang sudah malam .." Arkha mengingatkan yang dijawab anggukan oleh Safia dan langsung meletakan handphone nya di meja sebelah tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya dan langsung memejamkan matanya bukan untuk tidur tapi menghindari tatapan Arkha membuatnya gugup setengah mati. Arkha pun berbaring di samping Safia mereka saling berhadapan menatap wajah wanita didepanya yang sudah menjadi istrinya itu dengan tatapan lembut. bersyukur akhirnya Safia resmi menjadi miliknya.
" sayang kamu tidak lupakan ini malam pertama kita..." Arkha mengingatkan dia tau Safia hanya pura pura tidur.
Arkha mencimi bibir Safia yang masih bertahan dengan mata terpejam terkadang menggit kecil ******* tangannya pun tak tinggal diam mulai menelusup kedalam baju yang Safia kenakan membuat Safia membuka matanya berusaha menghentikan aksi Arkha.
" Arkha aku cukup lelah dan ngantuk malam pertamanya ditunda yah.." tanya Safia berharap Arkha akan melepaskannya malam ini
" aku tidak akan melewatkan malam pertama kita hanya untuk tidur.." tolak Arkha langsung menyergap bibir yang dari tadi menggodanya untuk dia nikmati bahkan ciuman Arkha kali ini begitu inten dan rakus tanganya sudah bermain dengan benda kenyal yang membuat dia gemas. Safia pun akhirnya pasrah dan mulai membalas apa yang dilakukan oleh Arkha tak butuh waktu lama seluruh pakaian mereka telah lepas tak tersisa.
" kamu siap tahan ini akan sedikit sakit.." Arkha mulai memposisikan miliknya untuk menyatu kedalam inti Safia.
Sudah sampai part 12 donk...dan terima kasih yang udah mau baca cerita receh ku ini ya, semoga ga pada bosen dengan cerita ini yah...sampai jumpa di part 13 bye bye..!!