SAFIA

SAFIA
part 11



melihat Safia malu malu saat dilihat olehnya membuat terlihat begitu menggemaskan bagi Arkha, beberapa saat dia menunggu Safia tak kunjung mendekat akhirnya Arkha mulai berjalan mendekat Safia yang masih berdiri didepan pintu kamar.


" sempurna..." katanya dan tanpa aba aba langsung menyergap bibir mungil yang sudah sejak lama membuatnya selalu gagal fokus.


membuat Safia terkejut setelah beberapa saat dia sudah bisa mengendalikan dirinya tanpa sadar Safia pun mulai terbuai dengan cumbuan Arkha semakin lama semakin dalam dan panas tangan Arkha tak tinggal diam mulai menyelusuri perut rata Safia semakin lama semakin keatas meremas kedua bukit kembar Safia dengan penuh nafsu yang mulai tak terkendali Safia tidak kalah melingkarkan tangannya ke leher Arkha untuk mengimbangi Arkha.


"aaahhh..." desah Safia saat dadanya diremas membuatnya tanpa sadar mendesah.


Arkha mendengar ******* Safia semakin tak terkendali bibirnya dengan cepat dan kasar menyecap manisnya bibir wanitanya mengaitkan lidahnya dengan lidah Safia membuatnya hilang akal.


astaga sejak kapan dia berada di kasur...sunggu mesum kau Safia teriaknya dalam hati.


" stop Arkha..." seru Safia memalingkan mukanya menghindar saat Arkha ingin menciumnya lagi setelah beberapa saat melepaskan tautan bibir mereka untuk menghirup udara.


" Arkha ini ga boleh...belum saatnya kita lakukan lebih dari ini.." kata Safia berusaha meredam Arkha yang masih di liputi nafsu terlihat dari pandanganya yang sayu.


"huff kau membuat ku gila Safia..." desah Arkha saat dirinya bisa mengendalikan diri nafsunya yang berada dipuncak.


sekali lagi Arkha mencium singkat bibir yang membuatnya gila menyalurkan perasaan cintanya yang begitu membuncah di hatinya untuk wanita yang ada di dekapanya.


" sayang kau tau sebesar apa aku mencintaimu...? " masih memeluk Safia dia bertanya dengan tatapan lembut Arkha tak melepaskan pandangan dari wajah imut Safia.


kenapa wajah ini begitu menggemaskan bahkan tak terlihat jika dia jauh lebih tua dariku batin Arkha gemas.


apa maksud Arkha bertanya seperti itu...dan kenapa malam ini Arkha sedikit lebih banyak bicara batinya Safia bertanya karena tidak biasanya seperti ini.


" apakah kau bisa merasakannya debaran jantungku saat ada di dekatmu itu membuatku gila ...?" tanya Arkha lagi saat melihat wajah bingung dan penasaran dari wanitanya.


" apa maksud kamu Arkha..? " tanya Safia masih tidak mengerti apa yang sedang di katakan Arkha ntah lah kali ini otak Safia seperti tumpul.


menghela nafas Arkha tersenyum kecil dengan kelolaan otak Safia kali ini.


" Safia ayo kita menikah..." ucap Arkha menatap intens langsung tepat di mata Safia.


terkejut itu yang pertama dirasakan oleh Safia saat mendengar kalimat Kramat yang diucapkan Arkha barusan.


ya Allah jantungku...kenapa anak ini begitu gampang mengatakan hal sakral itu seperti sedang ngajak liburan saja rutuk Safia dalam hati


" mm Arkha apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan barusan..?" kata Safia meyakinkan.


" mmm.." Arkha menjawab singkat.


ya ampun anak ini habis terbentur dimana sih bisa berfikir soal pernikahan...Safia kau harus menyadarkanya dari ketidak warasan otaknya..batin Safia


" Arkha kau tau pernikahan itu bukan perkara gampang loh, ga segampang seperti kita ingin liburan berencana, berangkat, bersenang senang habis itu pulang dan semua selesai..." jelasnya agar Arkha tau pernikahan bukanlah main main yang jika bosen bisa pisah gitu aja.


gini nih pacaran sama brondong harus sabar Safia membatin


" aku tau.. " Arkha menjawab yakin


" nah berati kamu sudah Taukan jika kamu menikah berarti tanggung jawabmu juga akan lebih banyak lagi, kamu harus menafkahi istrimu lahir dan batinya belum lagi jika kamu punya anak lebih besar lagi tanggung jawab yang harus kamu tanggung.."Safia menjeda sebentar untuk melihat reaksi Arkha namun hanya wajah datarnya lah dia perlihatkan membuat Safia gemas.


" bukanya aku tidak percaya kamu bisa menafkahi ku dengan harta yang kamu punya saat ini, bahkan mungkin kamu bisa memenuhi apapun keinginanku dengan mudah tapi itu uang orang tuamu kan bukan hasil kerjamu,,bukan itu yang aku inginkan, aku ingin hasil kerjamu lah yang kamu kasih untuk nafkahku walaupun sedikit tapi itu membuat aku bahagia dan aku bangga dengan itu berarti kamu bisa berdiri sendiri kuat dan bisa menjadi sandaran buatku kelak..." kata Safia panjang.


Safia sunggu bijaknya dirimu bangga Safia tersenyum dalam hati.


Arkha hanya diam memandang inten wajah cantik menggemaskan wanita didepanya saat menceramahi dirinya panjang lebar. apakah bibir manisnya tidak lelah bicara banyak seperti itu pikirnya sedikit heran dan apakah dia tidak tau bahwa dirinya sudah bekerja bahkan saat umurnya sepuluh tahun pikirnya lagi.


apa dia serius yah ko aku jadi ngerasa kaya cewe matre yah yang mau Arkha kalau ada uangnya doang keluh Safia sedikit tak terima mendengar pertanyaan Arkha barusan.


" Arkha kamu tuh masih kuliah juga kan kenapa ga nunggu lulus dulu baru mikirin nikah sih.." kesal Safia mulai kehabisan akal.


Arkha mendengar itu hanya tersenyum lebih tepatnya menyeringai karena dia tau bahwa wanitanya mencoba mencari alasan untuk menolaknya.


kau tidak bisa menolaku sayang, karena Arkha tidak terima dengan yang namany penolakan batin Arkha yakin.


" kau mau berjanji padaku...?" tuntut Arkha kepada Safia


" janji soal pa..?" tanya Safia bingung


" janji jika aku sudah menyelesaikan kuliahku dan aku sudah bekerja dan mendapatkan uang sendiri kau akan menikah denganku kapanpun aku mau..?" tuntut Arkha pada Safia


" mm aku...." Safia bingung harus berjanji atau tidak memang selama kedekatanya dengan Arkha membuatnya nyaman dan merasakan cinta itu mulai ada dihatinya namun ada beberapa hal yang membuatnya belum sepenuhnya yakin pada Arkha selain umur Arkha yang terlalu muda juga dia belum tau apapun soal kehidupannya, keluarganya dia takut kecewa jika keluarga Arkha tidak bisa menerimanya karena status sosialnya yang orang miskin. pikirnya melamun tidak bisa melanjutkan ucapannya.


dengan otak cerdasnya Arkha bisa tau apa yang membuat wanitanya begitu ragu untuk menerimanya namun dia pastikan jika Safia tidak bisa menolaknya apapun caranya.


" aku tidak terima alasan apapun ,kau harus berjanji dan akan menepati janjimu jika aku sudah memenuhi syarat jika ingin menikahimu" Arkha masih berusaha membuat Safia mengatakan apa yang dia harapkan.


" baik aku janji jika kamu sudah lulus dan bekerja aku akan menerimamu jadi suamiku kapanpun kau mau.." kata Safia yakin karena dia fikir Arkha masih lama lulus kuliahnya mungkin beberapa tahun lagi itu waktu yang cukup lama untuk menilai sejauh mana Arkha berusaha untuknya dan dia pun mungkin bisa lebih bisa mengenal keluarga Arkha pikirny sedikit ragu.


" kau sudah janji Safia dan itu tak bisa kau tarik lagi.." Arkha menyeringai merasa menang atas Safia.


kau tidak pernah aku lepaskan Safia tidak akan pernah...janji Arkha dalam hati


Safia hanya bisa mengangguk pasrah dengan apa yang tadi ia putuskan sepertinya dia akan menyesal karena terpancing oleh kelicikan Arkha..huff semoga ini menjadi pilihan yang terbaik untuku doa Safia dalam hati.


" baiklah ayo ikut aku akan kutunjukan sesuatu yang kamu inginkan.." kata Arkha seraya menggandeng Safia ke sebuah ruangan samping kamar tidur. Safia hanya bisa pasrah mengikuti langkah Arkha.


setelah pintu ruangan itu terbuka dan Saat Safia masuk dia melihat ada rak buku yang lumayan besar dirak itu banyak map berbagai warna ada meja dan kursi di dekat jendela besar diatas meja ada laptop merk terkenal yang harganya sangat mahal menurutnya dan juga ada tumpukan map di samping kiri laptop.


ruangan apa ini..seperti ruangan kerja tapi apa mungkin Arkha sudah bekerja oh astaga semoga ga seperti yang aku pikirkan doanya dalam hati.


saat sedang fokus melihat ruangan yang baru dia masuki Arkha datang entah dari mana setelah tadi meninggalkanya sebentar dan menyodorkan tiga map biru dongker kepadanya membuat Safia diam dan hanya melihat map itu bingung.


" ini lihatlah kau akan tau.." kata Arkha membuat Safia penasaran


" ini ga mungkin..." dia melihat tak percaya dengan mulut terbuka ketiga map yang sudah dia buka disitu menjelaskan bahwa Arkha sudah menyelesaikan kuliahnya di tiga jurusan berbeda dalam waktu bersamaan dan yang lebih mengejutkannya dia mendapatkan gelar itu disaat umurnya enam belas tahun itu membuat Safia tidak bisa berkata lagi.


dia menatap Arkha ngeri


itu membuat Safia terlihat begitu menggemaskan bagi Arkha.


ya Tuhan seberapa geniusnya laki laki yang jadi kekasihnya ini...dia sudah memiliki gelar dan berati dia sudah lulus kan yah..jangan jangan dia juga udah kerja lagi...habislah kau Safia jeritnya dalam hati tak berani mengucapkan apapun lagi dia terlalu kaget.


" itu bukti jika aku sudah memliki gelar sarjana yang artinya aku sudah lulus kuliah, dan untuk kerja tenang saja semua uang dan aset yang aku punya adala miliku dari hasil kerjaku bukan dari orang tuaku apalagi keluargaku untuk itu kau bisa lihat map yang ada di rak kaca itu karena itu surat kepemilikan aset dan perusahaan yang aku punya dan mulai saat ini semua juga akan menjadi milikmu.." jelas Arkha dengan senyum yang masih terpatri di bibirnya.


mendengar penjelasan Arkha membuat Safia semakin tak percaya dibuatnya dia benar benar mati kutu di depan Arkha saat ini.


saat melihat Safia masih diam dengan pandangan kosong karena masih begitu terkejut dengan fakta yang baru saja di ketahui tentang Arkha tidak sadar jika Arkha berjalan mendekat dan langsung memeluknya dengan erat


" Safia tepati janjimu.." kata Arkha lembut lalu tanpa izin menyatukan bibirnya denga bibir Safia menyesap rasa manisnya ******* lembut penuh dengan perasaan membuat Safia terbuai dengan cumbuan bibir Arkha yang memabukkan itu.


hai semua salam jumpa untuk semua yang masih mau baca cerita receh ku ini...akhirnya aku bisa up lebih cepat yang aku prediksikan bakal lama upnya karena waktuku yang terbatas. jadi selamat membaca dan sampai jumpa part selanjutnya...bye bye!!