SAFIA

SAFIA
part 31



Kehidupan manusia memang sudah di takdirkan dan di gariskan dimulai dari mereka di lahirkan, namun ada takdir yang memang bisa di rubah dengan caranya sendiri ya itu nasib tapi itupun tetap dengan kehendak yang kuasa, seperti kehidupan yang selalu berputar layaknya roda kadang kita berada di bawah kadang pula kita berada di atas karena itu terkadang saat kita berada di atas kesombongan dan keangkuhan yang biasa mendominasi setiap hati, sebaliknya jika kita berada di posisi terbawah hanya ada rasa iri dan dengki di hati,manusia terkadang melupakan semua nikmat yang tuhan berikan bukan hanya sekedar diukur dari seberapa banyak harta dan kesenangan duniawi yang di miliki lebih dari itu kenikmatan yang sesungguhnya adalah jiwa dan raga yang sehat itulah anugrah terbesar manusia yang di berikan oleh tuhan.


terkadang Safia berfikir hidupnya begitu berat dia jalani sebelum dia bertemu dengan Arkha, dia harus bekerja keras demi hidupnya sendiri, berusaha menghemat uang yang dia punya hanya agar bisa tetap bertahan di dunia yang begitu kejam, namun setelah dia mengenal Arkha seluruh hidupnya berubah total seakan akan ada sihir yang mengubahnya, semua menjadi mudah tak perlu memikirkan bagaimana cara menghemat dan bagaimana dia harus menahan lelah saat bekerja, dia merasa sangat beruntung memiliki suami seorang Arkha yang begitu mencintainya bahkan rela melakukan apapun demi melindungi dan membahagiakanya.


" drrtt drttt...." getaran telepon menyadarkan Safia dari lamunannya, segera melihat siapa yang menelpon ternyata suaminya.


" hallo by..." Safia menjawab dengan senyuman yang merekah seolah suaminya ada di depannya entahlah dia merasa selalu senang jika Arkha menelpon dirinya, karena Safia merasa begitu berati untuk Arkha.


" ya tidak apa apa ko by..."


" kan ada bibi kalau udah merasakan kontraksi nanti langsung bilang bibi deh kamu jangan khawatir ya...."


" lagian juga dokter bilang masih dua Minggu lagi perkiraan lahirnya baby.."


" iya by bawel deh...kamu juga jagan terlalu cape, jangan telat makan loh by..."


" I love you too " Safia tersenyum saat telpon terputus suami bawelnya selalu menelpon satu jam sekali memang sekarang Arkh sedang ada di luar kota Karena ada urusan yang harus di selesaikan dan karena kehamilannya yang sudah mendekati hari perkiraan dokter jadi dia putuskan tidak ikut padahal Arkha sudah membujuknya untuk tetap ikut suaminya itu begitu khawatir saat dia di luar kota Safia melahirkan, namun Safia bisa meyakinkan jika dia akan baik baik saja.


sebenernya sudah sejak tadi malam Safia sudah mulai merasakan kontraksi tapi masih sesekali dia pikir hanya kontraksi palsu, tapi siang ini dia merasakan semakin intens dia masih bisa menahannya.


Safia tak mau bilang dulu karena mungkin hanya kelelahan lagi pula dokter bilang masih 2 Minggu lagi anaknya lahir. Arkha besok sudah akan pulang karena urusanya sudah selesai jadi Safia tidak terlalu khawatir jika melahirkan di dampingi suaminya tercinta.


Safia melihat jam baru pukul 01.15 siang dia bosan menonton tv akhirnya dia putuskan untuk istirahat agar kontraksinya mereda.


setelah sampai kamar dia langsung merebahkan tubuhnya keatas kasur setelah mencari posisi nyaman dia mengusap lembut perutnya saat kontraksinya datang.


" sayangnya bunda cape yah jadi gerak gerak terus cari posisi enak ya nak di dalam..." sambil mengelus perutnya Safia mengajak calon anaknya bicara kontraksinya pun sudah mereda.


" kita tidur ya sayang Bunda ngantuk..." Safia mulai memejamkan matanya dengan tangan masih mengelus perutnya agar bayinya didalam tenang dan ikut tidur..