SAFIA

SAFIA
part 23



Setelah tadi pagi pagi sekali Safia melakukan tes kehamilan dengan menggunakan tespack dan hasilnya positif, sekarang disinilah dia di rumah sakit ibu dan anak yang ada di dekat rumahnya untuk memastikan lebih jelas bagaimana kondisi janin yang ada di perutnya tentu saja Arkha tidak tau itu karena masih Safia rahasiakan karena ingin menjadi kejutan untuk Arkha nanti ulang tahun pernikahan mereka yang pertama.


saat sampai terlihat sudah ada beberapa ibu hamil yang jugaingin memeriksakan kandungan mereka di dampingi oleh para suami, disini hanya Safia yang hanya seorang diri. Safia mengambil duduk di kursi paling ujung setelah sebelum sudah mendaftar dan mendapatkan no antrian yang ke 4.


" sayang pertama liat kamu cuma bunda dulu yah, Jangan sedih ini demi kejutan buat ayah..." gumam Safia seraya mengelus lembut perutnya yang sedikit menonjol mengajak bayinya bicara.


setelah menunggu sekitar setengah jam akhirnya tiba gilirannya untuk masuk ruang dokter.


" ibu Safia Ayu..." panggil suster memanggil namanya


" saya sus.." jawab Safia bergegas berdiri dan mendekat pintu dimana suster tersebut menunggunya.


" silahkan Bu masuk..."


" terimakasih "


saat dirinya telah sepenuhnya masuk terlihat seorang paruh baya sedang duduk yang Safia yakini itu dokternya menyambutnya dengan senyum ramah dan langsung berdiri


" selamat pagi ibu, silahkan duduk ada yang bisa saya bantu.." kata dokter tersebut dengan ramah.


" begini dok.. tadi pagi saya tes dengan tespack dan hasilnya positif dok dan sekarang saya ingin memastikan kondisinya.."


" terakhir ibu datang bulan kapan.." tanya sang dokter


" sekitar 2 bulanan kalau ngga salah dok.."


" oh baiklah silahkan ibu berbaring kita lihat bagaimana kondisinya Bu.." sang dokter langsung memberi perut Safia dengan jel dan menempelkan sebuah alat yang tersambung dengan layar, Safia melihat layar monitor tersebut dengan mata yang berkaca kaca serta jantung yang berdegup kencang gugup karena sebentar lagi dia akan melihat calon anaknya dan Arkha yang sangat di nanti selama ini.


" nah coba ibu lihat monitor, ini ada kantong yang sudah terlihat anak ibu sudah lumayan besar yah, selamat ya ibu jika dilihat dari hasil USG perkiraan kehamilan ibu sudah memasuki Minggu ke 12.." jelas sang dokter yang menunjukan kondisi janin yang berada di rahim Safia.


" terimakasih dok, tapi kondisinya anak saya gimana dok?"


" Alhamdulillah semua sehat, tapi tetap saja ibu jangan terlalu lelah jangan lupa minum vitamin dan makan makanan yang bergizi, yang paling penting ibu harus cukup istirahat, karena kehamilan ibu masih di trimester pertama masih sangat rawan keguguran.." sambil menuliskan resep sang dokter memberikan penjelasan untuk ibu hamil yang menjadi pasiennya.


" ini resep vitamin dan ada juga obat untuk meredakan mual jika sewaktu waktu ibu merasakan mual karena memang itu wajar untuk ibu hamil di trimester pertama.."


"sama sama ibu, jangan lupa bulan depan ibu kontrol lagi yah.." pesan sang dokter untuk yang terakhir.


" baik dok..sekali lagi terimakasih dok saya permisi.."


setelah selesai memeriksakan kandungannya Safia berjalan dengan santai dan tangan yang tak lepas mengelus perutnya Safia ingin merasakan kehadiran calon anaknya yang ada diperutnya.


sayang bunda seneng kamu ada di perut bunda, sehat selalu sayang di dalem sana bunda dan ayah bakal jaga kamu sebisa kami..


ya Allah terimakasih atas anugrah terindah dan berharga ini untuk kami..semoga selalu sehat dan lancar hingga melahirkan amiin. doanya dalam hati.


Di tempat lain Arkha sedang berada di rumah mewah orang tuanya, setelah tadi pagi dia mendapat kabar jika Dadynya sudah pulang dan menempati rumah tersebut dengan istri dan anaknya. dia ingin menyelesaikan semuanya dengan seorang yang paling dia benci dan sialnya darah orang tersebut mengalir di dalam tubuhnya itu.


disinilah Arkha berada di ruang kerja orang tersebut duduk berhadapan dengan aura yang begitu mencekam, saling menekan dan mengintimidasi satu sama lain.


" apa mau mu..?" tanya tanpa basa basi laki laki paruh baya itu kepada Arkha yang baru saja duduk tanpa di persilahkan. masih dengan tatapannya yang tajam seolah bisa mencincang tubuh pemuda yang mengaliri darahnya di dalam tubuhnya itu. dia melihat anaknya sendiri darah dagingnya seperti melihat musuh terbesarnya.


" hahaha...apa kah kedatangan ku begitu menakutkan pak tua..?" seolah tak terpengaruh dengan sambutan Sang ayah Arkha semakin manantang dan mempermainkan emosi lawan bicaranya.


" dasar kau anak sialan..." emosinya semakin meluap saat melihat wajah Arkha yang ketara sekali sedang mengejeknya.


" apa kau ingin melawanku, kau hanya pemuda ingusan yang tak punya kekuatan, jangan kau pancing emosiku jika tidak ingin hidupmu hancur.." ancamnya dengan emosinya yang begitu memuncak.


" cobalah kau hancurkan diriku ini pak tua itupun jika kau bisa, tapi yang pasti sebelum saya hancur dirimulah yang sudah lebur tak tersisa..." masih dengan santai Arkha menanggapi ancaman dari lelaki paru baya yang memang sedarah darinya itu, jadi kelicikanya lah yang menurun dalam diri Arkha dan sungguh sial bagi lelaki paruh baya itu kelicikan itulah yang akan menghancurkan hidup dan keluarganya hingga dalam posisi paling rendah.


" dasar kau..." teriakan lelaki paruh baya itu terpotong oleh Arkha


" sudah cukup basa basinya pak tua, saya kesini hanya mengantarkan ini sebagai sambutan untukmu dan keluargamu pak tua, jadi semoga kau senang dengan ini.." ucap Arkha seraya memberikan map warna biru ke atas meja, tanpa menunggu respon Arkha langsung beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan lelaki paruh baya dengan segala emosi dan amarah untuk anaknya sendiri.


sebelum sampai depan pintu Arkha sekali lagi menengok kearah lelaki yang dulu selalu di panggil Dady olehnya itu


" oh ia jangan lupa harus secepatnya pak tua..saya tidak suka buang waktu..." dengan senyuman culas terukir di bibirnya.


" permainanku sudah di mulai pak tua, siaplah menyambut kehancuranmu dadyku tersayang..." gumam Arkha saat telah sampai parkiran dimana mobilnya dan sekali lagi melihat rumah mommynya yang lelaki itu rebut darinya setelahnya Arkha pergi meninggalkan rumah mewah tersebut.