Sacrifice

Sacrifice
perdebatan



jangan lupa like vote comen and share ya guys klik tombol favorit nya juga ya biar nggak ketinggalan episode nya...


lope lope you..


makasihhhhh...


emuachhhhhh...


happy reading guys....


Edward yang kini dia tengah marah marah, kenapa sampai bisa semua tertidur dan melupakan tujuan kepulangan mereka. bahkan saat mengetahui bahwa Devan telah bangun 2 jam yang lalu dan pergi begitu saja membuat Edward semakin marah.


tepat pukul 6 sore Seorang gadis berjalan bersama tuan muda mereka memasuki rumah mewah nan megah mereka. di sana sedang terjadi perdebatan satu sama lain.


"kau lihat dad, bahkan Devan pergi tak membangunkan kita, memang benar benar kurang ajar itu dad,". ucap Adiva penuh kemarahan


"harusnya dia membangunkan ku untuk menjemput putri ku, malah dia pergi sendiri".


"dad, sudah lah, daripada kita berdebat lebih baik kita jemput adik kita. lagi pula tak ada yang tau kan kemana perginya si bocah tengik itu". ucap Rafa yang masih bisa berfikir jernih meski dalam keadaan marah.


"baiklah, ayo kita pergi, sebelum hari gelap, ". ucap Edward.


"pergi ke mana dad?". tanya Devan yang sudah ada sedari tadi di depan pintu tanpa di sadari siapapun bersama seorang gadis yang sekarang tak terlihat karna bersembunyi di belakang tubuh Devan yang jauh lebih besar dari gadis itu..


"nah ini dia nih, dari mana saja kau, bisa-bisa nya kau pergi tanpa membangunkan kami, hah". bentak Adiva yang sudah sangat ingin memukul Devan.


"hey, itu salah kalian sendiri,kenapa tidur seperti kerbau, dari pagi hingga petang baru bangun, kau pikir aku kurang kerjaan harus membangunkan kalian satu persatu, kenapa tak suruh saja pelayan untuk membangunkan. menjengkelkan". bantah Devan yang tak mau kalah dari saudara kembarnya itu.


"sudahlah, jangan ribut, lebih baik kita pergi sekarang, jemput adik kalian, aku sudah tidak sabar bertemu putri ku".


"dad, kau tak perlu repot repot pergi kemana pun, sudah ku bawakan seperti yang kau inginkan". ucap Devan lagi.


"apa maksudmu". tanya Rafa yang bingung tak bisa membaca situasi , kenapa Devan yang emosinya selalu menggebu gebu, dia terlihat santai bahkan ada senyum di bibirnya meski sangat tipis hampir tidak terlihat.


"keluarlah, jangan bersembunyi terus". ucap Devan lirih sambil sedikit menengokkan kepalanya ke belakang namun suara itu masih bisa di dengar oleh orang orang di sekitarnya.


perlahan seseorang muncul dari belakang tubuh Devan dengan tetap menundukkan kepalanya, seorang gadis yang masih ada dalam ingatan Rafa meski hanya sekali bertemu.


"Kyara". ucap semua orang tanpa sadar secara bersamaan. kyara pun mendongakkan kepalanya karna merasa namanya di panggil secara serempak.


pandangan matanya menatap satu per satu pria pria yang ada di depan nya itu. pertama pada seseorang yang wajahnya begitu sama dengan Devan (Adiva). lalu beralih pada seorang laki laki yang pernah bertemu dengan nya, senyum teduh yang menenangkan (Rafa). dan terakhir pada pria paruh baya yang menatapnya dengan berkaca kaca, bisa dia tebak , itulah Edward Brown, ayahnya, alias suami dari momynya tercinta.


tanpa sadar langkah Edward lebih dulu sampai tepat di depan tubuh kyara, dia langsung memeluknya dengan erat, tak menghiraukan peringatan putra putranya kalau dia terus memeluk seperti itu akan bisa membunuh adik mereka, hingga Kyara sendiri yang mengatakan tak bisa bernafas barulah Edward melepaskan pelukannya.


"maafkan dady sayang, harusnya dady lebih cepat dalam mencarimu, tidak seperti ini".


"dad , ini kah kau, dady ku, dady Edward?". ucap Kyara dengan haru karna air matanya tanpa ijin langsung menetes begitu saja.


"iya ini dad, maafkan dady ya sayang, baru bisa menemukan mu sekarang".


"dad, aku yang mencarinya dan membawanya ke mari, jadi jangan bicara kalau kau baru menemukan nya". bantah Devan.


"diam kau, beraninya menjemput putriku tanpa sepengetahuan ku". omel Edward pada Devan , tapi di balas dengan senyum mengejek oleh nya.


"memang benar kan dad, aku yang menyusuri jakarta sampai jogja bahkan sakit saat tiba di Bali, itu faktanya, dan yah, jika aku menunggu kalian bangun , bisa bisa Kyara sudah pergi dari apartemennya, karna dia akan mempercepat kepulangan nya". ucap Devan tapi dengan cepat dan tanpa di sadari dia mengedipkan satu matanya pada Kyara agar mengikuti permainannya. dan Kyara pun mengerti akan maksud hal itu.


"apakah benar itu sayang, kau akan kembali ke Indonesia tadi?". tanya Edward memastikan.


"yes dad, aku ingin menyerah saja tadi, karna selama ini aku tak pernah bertemu dengan kalian meski sudah mendatangi rumah lama kalian setiap hari ". senyum licik mengarah ke arah Devan lalu dia menaikkan alisnya, Devan pun tertawa kecil sambil mengacungkan jempolnya ke arah Kyara.


"jelas kan dad, jadi berhenti menyalahkan pahlawan yang sebenarnya". sindir Devan pada semua orang.


"oh adikku tersayang, apa saudara kembarku itu tadi menyakitimu saat membawamu ke sini? ". tanya Adiva yang masih berusaha mencari celah untuk menyalahkan Devan.


"tidak kak, kak Devan baik dan menjagaku dengan sangat baik, ". sangkal Kyara yang tau maksud dari pertanyaan Adiva mencari kelemahan Devan.


"wah, sepertinya kau benar benar mengambil hati adik ku ya Devan, ". ucap Rafa.


"sekarang coba katakan , bagaimana si bocah tengik itu bisa membawamu ke mari ". ucap Edward yang masih belom terima, yang di anggap pahlawan malah sang anak bukan lah dirinya.


"kau masih saja iri dad pada ku, kenapa? ". tanya Devan yang bermaksud menggoda dady nya itu..


"entah ramuan apa yang kau beri pada wanita di rumah ini, dari dulu bahkan yang paling di perhatikan oleh Airin itu dirimu, sekarang putri ku pun lebih dekat dengan mu, padahal kau hanya punya wajah datar tanpa ekspresi". gerutu Edward yang mengundang tawa pada putra putranya yang lain, bukan karna kata kasih sayangnya, tapi karna kata wajah datar yang memang sangat cocok melekat pada Devan selama ini.


"karna memang momy Airin lah yang bisa memahami jalan pikiran ku yang cerdas ini". ucap Devan tak mau kalah.


"hey ,sejak kapan kau jadi banyak bicara Devan, bukankah selama ini kau selalu irit bicara, bahkan sekalinya bicara kau selalu menyakiti kami dengan kata kata mu itu". ejek Adiva yang mendapat respon baik dari dady Edward. mereka satu haluan untuk menjatuhkan Devan.


"ayolah, kalian berhenti saja, percumah kalian mengatakan apapun, Kyara tak akan percaya, bukan begitu sayang?". Kyara yang mendapat pertanyaan itu pun hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"berhentilah berdebat. sekarang Kyara, jawab jujur bagaimana cara Devan membawamu kemari". ucap Rafa yang sudah tidak sabar dengan keadaan seperti itu.