Sacrifice

Sacrifice
terbongkar 2



**jangan lupa dukung aku , like vote comen and share ya guys, di tunggu pokoknya, klik tombol favorit nya juga ya biar nggak ada yang ketinggalan..


lope lope you


makasihh


emuachh


happy reading guys**....


terbelenggu dalam benci


takut akan bahagia


kadang hati salah memilih


tapi tuhan tau apa yang akan terjadi.


*******************


ketika edward membaca pesan devan , ia menyerngitkan dahinya, tak biasanya putranya itu tiba tiba menyuruhnya untuk cepat pulang, dan kenapa dia bilang kalau ada hal penting yang harus di bicarakan, padahal baginya tak ada yang lebih penting kecuali tentang putrinya, biasanya devan akan memberinya pesan seperti itu jika hampir mendekati ulangtahun putrinya maupun ulang tahun airin, tapi ulang tahun kyara sudah lewat sedangkan ulang tahun airin masih jauh di depan sana. ada apa ini..


hal itu pun yang terjadi pada rafa, dia sempat bingung kalau saudaranya menyuruhnya pulang, apa mungkin devan akan mengenalkan pacarnya, tapi siapa, selama ini tak ada satu pun gadis yang mampu mendongkrak hatinya


(hahaha dongkrak, emang mobil).


baiklah dari pada mereka berdua di rundung rasa penasaran, akhirnya mereka berusaha dengan sangat keras untuk menyelesaikan beberapa berkas kantor mereka masing masing.


devan dan adiva di dalam rumah sudah benar benar tidak sabar, ingin sekali mereka memutar waktu yang berjalan terasa begitu lamban agar lebih cepat.( emang Doraemon).


satu jam, dua jam, akhirnya tepat pukul 5 sore sebuah mobil berhenti di halaman depan , dan keluarlah seorang pria yang masih tampak gagah dan tampan meski usianya tak lagi muda, di saat yang bersamaan sebuah mobil sport keluaran terbaru pun muncul memasuki gerbang mansion milik edward.


"akhirnya mereka datang juga" ucap adiva dan devan bersamaan saat melihat rafa turun dari mobilnya..


edward dan rafa masuk kedalam mansion dengan tampang yang tak bisa di artikan, namun bisa di lihat kalau mereka berdua mood nya sedang tidak begitu baik.


"ada apa?" tanya edward langsung tanpa basa basi saat sudah berdiri di hadapan si kembar.


"tenang dulu dad, lebih baik kau bersihkan dulu badan mu, lalu kita bicara". ucap adiva yang sedikit nyleneh, itulah adiva sifat tengil dan juga humoris..


"kau jangan main main ya, aku berusaha keras menyelesaikan pekerjaan ku, kalau hal yang kau sampaikan bukan hal yang penting , maka habislah kau" ancam arafa, tipe cowok yang tegas dan tidak suka main main, namun tidak sedingin dan sekasar devan..


"dinginkan dulu kepala mu sana". ucap devan "dan kita tunggu di ruang kerja dady, ". tambah devan lagi..


"what, kenapa ruang kerja dady". protes edward dia tak terima kalau ruang kerjanya di masuki sembarangan orang..


"privasi dad". ucap adiva lalu pergi dan di ikuti oleh devan, sedangkan rafa dan edward tengah saling pandang, apa maksudnya ini..


setelah menunggu beberapa saat akhirnya edward dan rafa sudah duduk di sofa ruang kerja edward , dan pintu nya sudah terkunci dengan baik, mereka yakin kalau hal ini tak akan bocor pada siapa pun, melihat tingkah si kembar itu membuat edward dan rafa semakin bingung..


devan dan adiva saling pandang lalu menganggukkan kepala secara bersamaan. lalu adiva mengeluarkan ponselnya dan memutar hasil rekaman yang mereka dapat tadi siang . edward dan rafa mendengarkan rekaman itu dengan seksama, hingga saat kata kata kalau airin dan putrinya masih hidup matanya terbelalak seperti mau keluar dari tempatnya. namun mereka mengurungkan niatnya untuk bertanya, mereka lebih tertarik dengan kelanjutan rekaman itu..


hingga setelah rekaman itu berhenti, edward dan rafa langsung menatap dua saudara kembar itu dengan seksama..


"apa maksud semua ini". tanya edward lemah, antara tak percaya tapi juga senang.


"begini dad, tadi siang kita ke rumah wanita itu dan kami mendengar semua ini dari mulut mereka sendiri, adiva juga tak menyia nyiakan kesempatan , dia langsung merekam nya, tapi wanita dan pria itu tak tau kalau kita merekam".. devan memberikan penjelasannya namun masih enggan untuk menyebutnya dengan sebutan momy


"jadi putri ku masih hidup, tapi, siapa pria itu?".


"hans, orang yang sering berhubungan dengan wanita itu, dady , kita harus menyerahkan bukti ini pada kantor polisi sebelum laura maupun hans ".jawab devan


"baiklah, kalian benar, kita ke kantor polisi sekarang ,kalau perlu kita bayar mahal supaya mereka di hukum mati". ucap edward dengan geram..


saat edward hendak beranjak dari kursinya , tiba tiba langkahnya terhenti mendengar panggilan dari salah satu anak kembarnya itu..


"dad,".


"why?". tanya edward saat menoleh ke arah dua si kembar itu..


"kau tak marah mengetahui kami bukan putra mu?" tanya adiva dengan ragu. sedangkan edward hanya tersenyum tipis..


lalu rafa menepuk bahu ke dua saudara nya itu dan berkata "kalian tetap saudaraku, sampai kapan pun itu, kalian tetap adik ku".


"meski kami lahir dari orang yang berusaha menghancurkan keluargamu, lahir dari orang yang berusaha membunuh istri dan juga putrimu?". tanya adiva lagi, yang masih ragu akan keputusan rafa..


"kalian meragukan ku?". tanya edward..


"sekalipun tidak". jawab devan dan adiva serempak..


"kalau begitu kalian tetap putra ku, aku yang membesarkan kalian, dan tanpa kalian, aku tak akan tau kebenaran ini,".


"jadi... jangan pernah meragukan kami". ucap rafa kembali menepuk bahu adiva.


senyum di bibir adiva dan devan pun mengembang, mereka berjanji pada diri mereka sendiri bahwa mereka akan mencari momy airin dan adik mereka, bahkan mereka akan menjaga dan menyayangi adik mereka dengan dengan segenap jiwa dan raga mereka demi menebus rasa bersalah yang di ciptakan oleh wanita yang melahirkan mereka..


dengan segera mereka berempat menuju ke kantor polisi untuk menyerahkan bukti rekaman dan juga nantinya adiva maupun devan akan memberikan kesaksian atas tindakan kriminal.


tanpa menunggu lama , setelah pihak kepolisian menerima barang bukti sekaligus keterangan adiva dan devan, mereka langsung bergerak, sasaran utama mereka adalah laura, yang sudah mereka pastikan berada di rumah nya sendiri, kalau hans akan sedikit sulit untuk menangkapnya , pasalnya orang itu selalu berpindah pindah tempat tinggal, tak ada tempat pasti yang sering dia kunjungi juga kecuali rumah laura ..


namun entah itu suatu kebetulan atau memang takdir dari tuhan hans masih berada di dalam rumah laura dari tadi siang,


saat rumah laura di ketuk pintunya, orang yabg pertama kali membukakan pintu adalah hans, seketika wajahnya terlihat pias karna kedatangan dua orang polisi di depan rumah kekasihnya itu..


"maaf tuan hans, anda kami tahan". ucap salah satu polisi itu