Sacrifice

Sacrifice
mengingat



**jangan lupa like vote comen and share ya guys klik tombol favorit nya juga ya biar nggak ketinggalan episode nya...


lope lope you.


makasihhhhh


emuachhhhhh..


happy reading guys**...


sekarang katakan pada kami, dimana Airin dan putri ku?". tanya Edward yang sudha tidak sabar.


dengan begitu gugup dan sedikit tegang Tio mengatakan "sebenarnya Airin sudah meninggal sejak 16 tahun yang lalu,tepatnya sejak Rara berumur 4 tahun".


"nggk ini nggk mungkin, kamu pasti bercanda Tio, Liana, kamu sahabat baiknya Airin, jawab jujur di mana Airin sekarang, aku ingin bertemu". ucap Edward spontan dengan menitikkan air mata. ketiga putranya pun tak kalah terkejut mendengar hal itu.


"itu kenyataan nya Edward, kami tak berbohong, sejak 16 tahun yang lalu kami merawat Rara , setelah kepergian Airin,dia mengidap kanker hati stadium 2, bukan kami tak mampu membiayai pengobatannya dulu, tapi memang berbagai cara kami sudah melakukan nya , alhasil nyawa Airin tak bisa bertahan,". Liana mencoba menjelaskan..


"dan putri ku, bagaimana keadaan nya sekarang, bagaimana dia tumbuh tanpa momy dan dady nya". tanya Edward yang sudah benar benar menangis.


"dad tenangkan diri mu, semua akan baik baik saja, kendalikan emosimu". ucap Rafa sambil mengelus punggung dady nya.


"Rafa benar dad, jangan sampai dady lemah karna hal ini, kita masih punya Kyara, dia tanggung jawab kita, nyawa yang sudah hilang tak bisa lagi di kembalikan" ini pertama kalinya Devan berbicara dengan bijak tanpa nada ketus dan tajamnya.


"oke. jika momy Airin sudah tiada, lalu dimana adik kami berada". tanya Adiva dengan sangat serius.


"kalian lihat foto itu?". ucap Very sambil menunjuk foto yang sempat di perhatikan oleh Rafa "dia yang kalian maksud, kami biasa memanggilnya Rara, dia sedang tidak ada di rumah ini, ". seketika pandangan ke 4 pria yang tengah berkabung itu beralih menatap foto yang di dalam nya terdapat 4 orang, tiga diantaranya ada di depan mata mereka kali ini namun tidak dengan satu gadis yang tersenyum berada di tengah itu,.


"tidak ada di sini? maksud kalian?". tanya Devan.


"dia ada di New York, baru berangkat satu Minggu yang lalu, untuk mencari kalian". jawab Very.


"New York? sendirian?" tanya ke empat pria itu serempak.


"iya, dia di sana sendirian, dia tak ingin di temani, percayalah, dia tengah berusaha keras untuk bertemu kalian". jawab Liana.


"oh astaga, aku ingat sekarang pernah melihatnya tepat sebelum aku berangkat ke sini,". Rafa langsung teringat dengan gadis di tengah hujan itu.


"Rafa?". tanya Edward memastikan.


"iya dad, sedari tadi aku mengamati foto itu, seperti pernah melihatnya, dan sekarang aku ingat, waktu hujan deras, seorang gadis duduk sambil menangis di halte dekat rumah lama kita dad, aku memberinya sapu tangan dan dia bilang namanya Rara. mungkin dia datang mencari kita ke rumah lama kita dad, bodohnya aku, saat melihat wajahnya, dia sangat mirip dengan momy dad dan aku baru menyadari itu". jelas Rafa panjang lebar.


"kau yakin itu dia Rafa?". tanya Devan..


"sungguh aku benar benar yakin, aku tak mungkin lupa wajah gadis itu".


"kita mencarinya ke sini,dan dia mencarinya di sana,benar benar permainan takdir yang sangat rumit dad". ucap Adiva sambil tertawa.


"berhentilah bicara bodoh, ucapan mu tak pernah berarti apapun, kau hanya bisa bercanda". ucap devan sedikit kesal.


"bisa kalian berhenti berdebat.? kepalaku makin pusing melihat tingkah kalian bertiga, dan lihatlah kalian mempermalukan ku di depan keluarga yang sudah merawat putri ku".


"oke dad". jawab mereka bertiga serempak.


keluarga Orlando pun hanya tersenyum kecil melihat perdebatan di depan mereka. meski terlihat sedikit keributan tapi terpancar aura kasih sayang satu sama lain di mata mereka..


"sekarang katakan pada ku , dimana sekarang Kyara tinggal, tak mungkin kalau kalian tak tau, aku tau kalian pasti sangat menyayangi putri ku".


"di apartemen Hornets , lantai 20 nomor 314, kami menyewakan nya di sana" . jawab Very.


"hahahaha. lihat lah dad, padahal dia tinggal di apartemen milik dady, tapi kita tak tau sama sekali". ucap Adiva yang langsung mendapat tonyoran di kepalanya dari Devan.


"berhenti tertawa di situasi genting bodoh". ucap Devan..


"hey, kau ini, kau yang bodoh Devan, aku hanya heran, padahal dia begitu dekat dengan kita tapi kota tak menyadarinya".


"terserah kau saja lah". ucap Devan dan Rafa bersamaan, tak ada yang pernah bisa menang berbicara dengan Adiva yang mulutnya licin kaya pelumas.


"baiklah, terimakasih informasinya, kami harus kembali saat ini juga, sudah tidak sabar aku ingin bertemu dengan putri ku". pamit Edward lalu meninggalkan rumah keluarga Orlando bersama ke tiga putranya..


di dalam rumah itu , 3 orang tengah berperang dengan hatinya masing masing,


"pa, gimana kalau Rara bakal tinggal sama mereka, mama sayang sama Kyara, mama belom siap buat kehilangan dia pa". rengek Liana.


"ma,kita nggk boleh egois, biar bagaimana pun Rara berhak bersama keluarganya, cukuplah kita sampai di sini, Rara tau yang terbaik untuk dirinya". ucap Tio yang berusaha menenangkan istrinya itu.


namun sedari tadi semenjak kepergian Edward dan putra putranya ke rumah Mereka Very hanya termenung, di satu sisi dia senang akhirnya adiknya bisa bertemu dengan keluarga kandungnya, tapi di sisi lain dia juga sedih jika harus kehilangan adik satu satunya yang sudah bersamanya selama 20 tahun,.


sedangkan berbeda halnya dengan keluarga Orlando yang tengah sedih dan takut akan kehilangan putri kecil mereka. Edward dan ke 3 putranya tengah bersiap siap untuk kembali ke negara asal mereka, karna tadi mereka langsung memberi tahukan pada orang kepercayaan mereka untuk mendatangkan pesawat jet pribadi ke pulau Bali, agar lebih efesien dan tak terlalu lama menunggu.


kira kira masih setengah jam lagi pesawat itu akan tiba di pulau Dewata , tapi ke empat pria itu sudah bersiap sedari tadi. hingga akhirnya mereka memutuskan untuk keluar kamar mereka masing masing untuk mencari udara segar . namun tiada di duga , mereka keluar kamar secara bersama hingga membuat mereka tertawa.


"oh my, lihat lah dad, kita hanya kompak jika itu persoalan Kyara". ucap Adiva dengan nada nyeleneh nya..


"mungkin Kyara memang malaikat yang di kirim ke tengah tengah keluarga kita" . ucap Edward yang di angguki oleh ke tiga putranya..


"oh my god, dad, bagaimana kita bisa lupa". Devan yang menyadari suatu hal.


"apa yang kita lupakan ?". tanya Rafa.


"kalian benar benar keterlaluan, bahkan sekarang pun kalian masih belom menyadarinya, ternyata hanya aku yang mencintai momy airin dengan tulus". ucap Devan lagi..


"hey , apa maksudmu, jangan berbelit belit". ucap Adiva dia merasa di permainkan oleh saudaranya sendiri.


"apa tak ada yang menyadari kalau kita lupa menanyakan di mana momy airin di makamkan?". jelas Devan.


"oh , tidakkk". teriak mereka bersamaan