
**jangan lupa like vote comen and share ya guys klik tombol favorit nya juga ya biar nggak ketinggalan episode nya..
lope lope you..
makasihhhhhh..
emuachhhh.......
happy reading guys**...
kali ini Devan telah sampai di hotel yang di tunjukkan oleh Devan kepadanya. hotel yang sama dengan hotel yang di gunakan Devan, begitupun dengan Adiva dan juga dady edward..
Rafa menanyakan di mana kamar yang telah di pesan atas namanya kepada resepsionis. dan ternyata bukan tanpa kebetulan belaka. kamar mereka berjejeran masing masing, 6 kamar yang sangat mewah bagai apartemen itu sudah di pesan oleh Devan semua agar mempermudah komunikasi diantara mereka. lagi pula jika sampai hotel yang Devan pesan untuk keluarganya itu tidak sesuai dengan selera mereka, maka jangan di tanya lagi, sudah pasti kena damprat.
Rafa yang sampai sana pada malam hari. langsung terlelap tidur karna kecapean di perjalanan.
di tempat lain seorang gadis yang selalu datang memperhatikan rumah lama orang tuanya itu pun datang lagi, mengamati siapa tau ada orang di sana, lagi pula dia ingin mengembalikan sapu tangan pria kemaren, "semoga aku bisa bertemu dengan nya lagi". ujarnya pada dirinya sendiri..
hari sudah siang, sepertinya untuk hari ini cukup sampai di sini, dia bisa datang lagi besok. masih banyak waktu, jangan terlalu terburu buru.
dia pun memutuskan untuk jalan jalan keliling kota. seperti nya cuaca memang sedang mendukung, hari ini sangat cerah, bahkan tak terlihat sama sekali kalau akan hujan. berarti pas untuk jalan jalan berburu oleh oleh dan cuci mata.
setelah merasa lelah dengan aktivitas nya hari ini, berkeliling, belanja , kulineran, bahkan menonton para pengamen jalanan yang memiliki suara merdu dan khas. ia pun memutuskan untuk kembali ke apartemen. setidaknya ini cukup puas. besok dia akan ke taman bermain yang paling terkenal di kota new York , akan dia gunakan waktu dua minggu dengan baik .
kembali lagi ke Indonesia.
kali ini semua orang tengah berkumpul di private room yang Devan pesan dari hotel tempatnya menginap. ada 6 orang di sana. lengkap sudah, Rafa si putra sulung, Edward sang dady yang paling tampan, dan si kembar yang sifatnya jauh berbeda serta tidak lupa dengan 2 orang bayaran yang di sewa Devan kali ini.
"kenapa tidak langsung datangi saja. kau ada bukan alamatnya?". tanya Edward yang sempat bingung kenapa malah di kumpulkan bukanya mendatangi tempat anak dan istrinya tinggal.
"siapa yang bilang kalau aku udah punya alamatnya". bantah Devan..
"lalu untuk apa kau menyuruh ku datang kemari huh". terdengar nada kesal dari mulut Edward.
"dad, aku nggk nyuruh dady, aku cuman nyuruh Adiva dan Rafa buat bantuin aku, jadi jangan salahin aku donk". itu lah pembelaan yang keluar dari mulut Devan. sedangkan dua orang bayaran itu hanya tersenyum kecil melihat bos mereka lagi di marahi.
"huh. dasar menyebalkan. kau tak menganggapku ayah mu hah?".
"no dad, masalahnya belom ada kepastian lagi pula semenjak aku tiba di sini, belom sekali pun aku keluar kan dari kamar , kau ini ".
"lalu kenapa kau malah mau meminta bantuan kita berdua?". Rafa mewakili Adiva untuk bertanya..
"you now? ini hotel milik Tio Orlando. sahabat momy Airin dan suami dari Liana Angle. mungkin kita bisa dapat info dari sini. dan aku dapet alamat perusahaan milik mereka. tapi kemungkinan nih dad. kalo kita dateng sebagai keluarga momy Airin bisa jadi malah mereka nyembunyiin momy dan Kyara dari kita. apalagi pasti mereka tau kejadian yang menimpa mereka. pasti mereka akan waspada dan kesalahan kita juga kenapa baru sekarang kita nyari mereka. hal itu pasti akan jadi bumerang buat kita ".jelas Devan panjang lebar.
"kamu bener Devan, terus menurut mu apa yang bakal kita lakuin?" tanya Adiva. Devan hanya menggeleng kepala, dia belom sempat memikirkan apa selanjutnya. dady Edward pun ikut menggeleng dan masih berusaha berfikir cara apa yang terbaik ..
"gimana kalau kita datang sebagai partner bisnis, sekarang aku tanya sama kamu , perusahaan Tio Orlando bergerak di bidang apa?".
"properti". jawab Devan singkat..
"berarti ini tugasmu dady". ucap ke tiga putranya bersamaan menunjuk sang dady.
"oke oke. serahkan semua sama dady, ". ucap Edward lalu beranjak dari duduknya lalu berkutat dengan ponselnya untuk menghubungi asisten nya yang berada di cabang perusahaan di Indonesia.
"halo, buat janji dengan perusahaan Tio Orlando di Bali, ".
"(untuk apa pak?)". tanya orang di sebrang telepon..
"jangan banyak tanya. lakukan saja, bilang ingin membahas kerjasama dengan mereka, dan ingat harus ketemu langsung sama pemiliknya. mengerti". tanpa menunggu lama Edward langsung menutup telepon nya begitu saja.
"beres, tinggal tunggu kabar dari asisten dady yang di cabang Jakarta". ucap Edward sambil menatap ke tiga putranya itu.
"dad, tapi apa nggk terlalu mencolok tiba tiba perusahaan kita menawarkan kerja sama dengan mereka?". tanya Rafa yang memang otak nya sangat jeli dan perfeksionis dalam segala hal bahkan sekecil apapun tak luput dari pengamatan nya.
"siapa yang akan menyadari, lagi pula tak akan ada yang menolak penawaran kita, siapa sih yang tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan kita, meski perusahaan kita tergolong perusahaan asing yang bahkan pusatnya ada di New York, tapi keuntungan yang selalu di dapat klien kita jauh lebih besar dari perusahaan manapun kan, jadi kenapa ragu". ucap Edward dengan begitu percaya diri..
"kau memang yang terbaik dad". ucap ke tiga putranya bersamaan..
"baiklah, Devan apa kau masih sakit,? ". tanya Edward
"tidak, aku sudah baik baik saja" jawab Devan dengan cepat.
"baguslah, sudah lama kita nggk liburan bareng, kadang dady kangen masa masa kecil kalian di saat libur sekolah pasti kita akan liburan bersama, entah keluar negri maupun hanya sebatas ke taman bermain".
"sory dad, kita terlalu sibuk sama kerjaan kita sampai lupa kalau dady kini kesepian". ucap Rafa tulus.
"harusnya dady yang minta maaf, semenjak momy Airin pergi, dady bener bener melupakan kalian, maaf ya".
"no dad, you good father, kau yang terbaik, bahkan kita tumbuh tanpa kekurangan apapun". kali ini Adiva bicara serius tanpa kata kata nyelenehnya yang kadang tak terduga.
"Adiva bener dad, di saat mama kita berdua malah lebih mentingin dirinya sendiri, dady selalu ada di samping kita tanpa lelah".ucap Devan dengan lembut. bahkan nada ketus yang selalu dia gunakan pun hilang seketika bagai di telan bumi
"ih, kok jadi melow gini sih, perasaan nggk ada bawang deh, jadi nggk nih kita seneng seneng?"..ucap Adiva berusaha mencairkan suasana.
"jadi donk, surfing atau kuliner?." jawab Edward.
"surfing". jawaban kompak dari ke tiga putranya langsung membuat Edward benar benar tersenyum bahagia. "sebentar lagi kebahagiaan kita akan lengkap, momy dan Kyara akan kembali di tengah tengah kita". ucap edward dalam hati..