
jangan lupa like vote comen and share ya guys. klik juga tombol favorit nya juga ya biar nggak ketinggalan episode nya...
lope lope you
makasihhh
emuachhh..
happy reading guys..
sudah sekitar 2 jam mereka menempuh perjalanan , dengan medan jalan yang tidak terlaku curah, serta cuaca juga sangat mendukung membuat mereka semakin di mudahkan.
cuaca sejuk khas pegunungan membuat hati benar benar terasa nyaman, apalagi bagi seorang Kyara yang hatinya sedang di rundung kepiluan akan kenyataan .
di tambah keramaian yang di buat oleh teman teman satu kompleknya hingga suasana tak pernah sepi , ada saja yang bisa menghidupkan suasana lelah dan letih. canda tawa mereka juga banyak di selingkan di setiap perjalanan..
hingga akhirnya mereka benar benar berhasil sampai di puncak, mereka di suguhkan pemandangan alami yang menenangkan.
"Rara, ayo dirikan tenda". teriak Shela karna melihat kyara tak kunjung beranjak dari tempatnya karena terlalu menikmati pemandangan..
"maaf. tunggu aku". Kyara langsung beranjak dari tempatnya..
"nanti malam kan kau tidur satu tenda dengan ku, em tapi sepertinya aku melupakan selimut ku". ucap Shela sambil tersenyum..
"kau ini selalu saja, pasti ada yang terlupakan".
"maaf".
"tak masalah, kita bisa berbagi selimut".
"yey, kau memang baik kawan".
Kyara hanya geleng geleng kepala karna tingkah aneh teman nya itu. sudah hal biasa kalau Shela melupakan satu hal ketika mereka tengah mengadakan acara, dan ya , yang pasti kena imbasnya adalah Kyara sendiri..
saat malam. semua remaja itu menghabiskan waktu dengan berkumpul di depan api unggun yang mereka buat, ada yang hanya sekedar bercerita , mengobrol , bernyanyi, sampai ada yang sedang bermain kartu dengan hukuman kecil bagi yang kalah, yaitu mencoret mereka dengan arang bekas yang sudah dingin .
London Inggris.
di mansion milik edward , kini semenjak laura dan partnernya itu di penjara, tak ada henti hentinya edward mengumpat dan sesekali melampiaskan kemarahan nya pada beberapa orang bodyguard nya yabg gagal mencari informasi barang sedikit saja..seperti sekarang ini.
"kenapa kalian lama sekali sih, mencari dua orang wanita saja tak bisa, bodoh" . teriak edward pada anak buahnya yang lagi lagi melaporkan kalau mereka belum bisa menyelesaikan tugas mereka..
"maaf" . ucap salah satu bodyguard nya itu namun tetap dalam keadaan tertunduk.
mereka tau kalau bos mereka sedang marah, apapun bisa terjadi..
"kalian..." ucapnya terhenti karna 3 orang laki laki masuk ke dalam rumahnya..
"dad?. apa lagi ini?". tanya Rafa yang baru masuk bersama dua saudaranya..
"mereka tak bisa bekerja dengan benar, mencari Airin dan putri ku saja tak bisa".
Devan mengisyaratkan pada para bodyguard untuk pergi, agar mereka bisa leluasa berbicara dengan dady mereka.
"tenanglah dulu dad, ". ucap Adiva sambil menyodorkan segelas air putih yang sedari tadi tergeletak di atas meja.
edward menerima gelas itu lalu meminumnya sampai tandas, bukan lain karna ia cukup kehabisan tenaga sedari tadi memarahi anak buahnya sampai tenggorokan nya pun terasa kering..
setelah mereka bertiga melihat dady nya tenang, mereka pun mulai angkat bicara.
"dad, wajar jika mereka sulit menemukan momy dan adik kecil, kejadian itu sudah 20 tahun yang lalu, tapi dad , apa kau lupa di dalam rekaman itu wanita itu bilang kalau momy pulang ke indonesia?". ucap Devan .
"ya , kita akan mencari mereka di Indonesia". ucap Edward begitu bersemangat.
"aku tak menyangka, kalau orang jatuh cinta bisa jadi bodoh seperti itu". sindir Devan yang memang bermulut tajam..
"diam kau , makanya jatuh cinta, kau akan tau bagaimana rasanya". ucap Edward tak mau kalah dari putranya itu..
"itu lah dad, aku tak mau jatuh cinta seperti Adiva maupun Rafa, bisa di lihat, kalau Adiva sering gonta-ganti pacar, sedangkan Rafa semenjak sakit hati, pernah nggk tuh dia pacaran lagi". ucap Devan yang langsung mendapatkan pelototan mata dari dua saudaranya itu..
"sudahlah, kenapa malah bahas itu sih, balik lagi , kita bakal cari ke mana dad, Indonesia itu luas". ucap Rafa menengahi..
seketika wajah Edward kembali murung
"why dad?". tanya mereka bertiga bersamaan saat melihat perubahan wajah dady nya..
"momy Airin yatim piatu, dia tak punya keluarga , besar di panti asuhan, tapi dady tak tau di mana?".
"what?!. dad kau gila ya, kau menikahi seorang tanpa tau latar belakangnya?". Adiva heran dengan dady nya itu..
"itulah kebodohan ku, sebentar..." Edward mencoba berfikir keras mengingat sesuatu
"momy kalian punya sahabat di jakarta, namanya Liana Angle, iya itu namanya, ".
"kau yakin dad?". tanya devan..
"sangat yakin".
"baiklah dad, aku akan kerahkan semua anak buah kita untuk mencarinya di sana, dan aku akan turun tangan sendiri". ucap Devan dengan mantap. dia ingin menebus semua kesalahan yang di perbuat oleh ibu kandungnya pada adik dan momy nya itu..
"aku ikut, ".ucap Rafa. "aku juga". timpal Adiva.
"no, kalian tak bisa ikut, ini belom pasti, kalian urus saja pekerjaan kalian, dan kau dad, aku akan pulang membawa putrimu, kau tinggal jaga kesehatan saja, jangan sampai putrimu datang kau sudah menutup mata".
"anak kurang ajar, kau doakan aku cepat mati ya". timpal Edward dengan nada yang tak senang karna perkataan Devan..
"no dad, tapi, ayolah, jika kita semua mencari , lalu bagaimana dengan perusahaan kita, kalian berdua juga bisa membantu mengurus perusahaan yang tak begitu besar milik ku itu kan, so.. biar aku yang terjun langsung, jika sudah ada titik terang aku akan kabari kalian dan kita bawa pulang adik kita sama sama". Devan memberi pengertian pada semua orang, dan yah, mereka menyetujuinya.
"ingat segera kabari aku". kali ini Edward berbicara dengan nada mengintimidasi.
"kalau tidak".ucap edward , Adiva, dan rafa secara bersamaan lalu memperagakan gerakan menyayat leher dengan tangan mereka pula.
"oke oke, aku tak ingin mati muda, kalian tenang saja". jawab Devan sambil tersenyum.
mendengar hal itu pun semua orang langsung tenang, setidaknya sudah ada sedikit titik terang akan hal ini.
"dad". panggil Devan.
"yes?!".
"kenapa dulu kau tak melakukan otopsi pada tubuh yang kita kira momy dan Kyara?". tanya devan lagi..
"itulah bodohnya diri ku".ucap Edward begitu menyesal..
"aku tak heran si dad, kau memang bodoh, apa benar kau pemilik perusahaan terbesar di kota ini?". sindir Rafa sambil tertawa.
"kurang ajar, kalian meragukan ku, bahkan kemampuan berbisnis ku jauh lebih di bandingkan dengan kalian, mengerti".
ke tiga anak nya pun tertawa. hingga sejenak melupakan keresahan hati mereka..