Sacrifice

Sacrifice
wajah yang di rindukan



**jangan lupa like vote comen and share ya guys klik tombol favorit nya juga ya biar nggak ketinggalan episode nya..


Lope lope you..


makasihh ...


emuachhhh...


happy reading guys**..


selama dua hari ini Kyara selalu mengunjungi rumah yang katanya alamat dady nya dulu , namun tetap saja kosong, tak ada orang di sana.


"apa mereka sudah menjualnya ya, benar benar tidak ada orang, huh. baiklah, lebih baik aku berlibur saja, toh mereka seperti tidak mencari ku, momy , maaf ya, aku nyerah nyari mereka. nggk ada kenalan nggk tau harus kemana lagi.".ucap Kyara pada dirinya sendiri.


seakan lupa bahwa dia punya nomor telepon seseorang yang bernama Edward. dia melangkahkan kakinya dengan berat hati, sesekali ia mengeluarkan hembusan nafas dengan begitu kasar..


"sesulit ini kah bertahan, mom, aku tak tau seperti apa rasa sakitmu dulu, tapi aku merasa tak di rindukan, bahkan mereka tak mencari ku mom, kadang aku bertanya pada diri ku sendiri, apa dady benar benar mencintai momy? kenapa dari dulu mereka nggk menyadari kalo kita pergi, apa kita nggk berharga mom di mata dady?". kini isak tangis lebih mendominasi ketimbang suara Pelan Kyara. dia benar benar seperti orang yang rapuh di tengah orang asing.


2 hari dengan harapan bisa bertemu salah satu saja dari ke 4 orang yang dia cari, tapi sepertinya nasib tak berpihak pada nya. seolah langit mengerti akan kesedihan nya. kini pun awan mulai menangis membasahi permukaan bumi sama seperti gerai air mata Kyara yang kini telah terduduk di halte bis yang tidak terlalu jauh dari rumah dadynya dulu.


halte yang atapnya kecil itu tak bisa menghalangi air hujan untuk membasahi tubuh Kyara. hingga sebuah sapu tangan terulur tepat di depan wajahnya.


Kyara mendongakkan kepalanya, menatap siapa orang yang berdiri di depan nya. lalu orang itu berkata "pakailah, hapus air mata mu, jangan biarkan kesedihan terus berada di dekatmu, kau hanya perlu bersahabat dengan keadaan, jangan melawan atau pun menentangnya. maka kau tak akan terluka". Kyara pun menerima sapu tangan itu dengan seulas senyuman manis meneduhkan hati.


"terimakasih". ucap Kyara. pria itu hanya tersenyum lalu menganggukkan kepala. saat Kyara hendak mengembalikan sapu tangan itu, pria itu menolak. "untukmu saja, sepertinya kau lebih membutuhkan nya".


"baiklah, sepertinya hujan sudah mulai reda, cepatlah pulang kalau tidak kau akan masuk angin, dan maaf aku pergi dulu, bye". ucap pria itu dan hendak meninggalkan nya..


"tunggu, siapa namamu uncle ?".


"what uncle?. no no aku tidak setua itu, panggil saja aku rafa". Arafa tidak terima ketika di panggil demikian..


"itu tidak sopan, kau sangat terlihat lebih tua dari ku, kalau begitu aku memanggilmu kak Rafa".


"baiklah, terserah kau saja, lalu siapa namamu?.".


"Rara,".


"baiklah Rara yang manis, kakak pergi dulu , ada urusan, dan wajahmu mengingatkanku pada seseorang".


"entahlah, aku pun tak tau, sampai jumpa, ingat cepat pulang".


"sampai jumpa". tangan nya melambai mengikuti kepergian pria yang tadi memberinya sapu tangan.


entah suatu kebetulan atau apa, hari itu Rafa yang seharusnya mengikuti adik dan dadynya untuk pergi ke Bali atas permintaan Devan, dia malah menunda keberangkatan nya, kakinya melangkah ke rumah lama mereka, kenangan indah dan manis bersama momy Sandra dan momy Airin yang sigap menggantikan nya dulu, tangisan bayi yang terdengar hanya beberapa hari di rumah itu hingga kejadian kebakaran terlintas di pikiran nya.


namun tiba tiba saat itu hujan turun, dia bergegas menghampiri mobilnya lalu menyuruh sang sopir menjalankan nya. kebetulan nya lagi, ban mobil mereka menginjak paku di tengah jalan, hingga dia melihat seorang gadis tengah menangis di halte yang tidak cukup untuk berteduh karna atapnya terlalu kecil. badan nya basah di terpa air hujan. rasa iba pun hadir begitu saja di hatinya. melihat dari tirai hujan yang menetes dari atas masih cukup jelas untuk dapat melihat wajah gadis itu. dia seperti cukup mengenal wajah itu. wajah yang mengingatkan nya pada seseorang, tapi siapa. dia pun tak tau.


karna rasa yang menggelitik di hatinya. membuat ia keluar dan menghampiri gadis itu meski harus membelah hujan yang cukup lebat. dan begitulah dia bisa sampai meminjamkan saputangan nya pada Kyara.


******


setelah kepergian pria yang bernama Rafa itu, seketika hujan pun berhenti, dari kejauhan tampak sebuah taksi akan melintas di depan nya. dia pun langsung melambai lambaikan tangan nya guna menghentikan taksi dan sangat kebetulan ternyata taksi itu kosong. dengan segera Kyara masuk ke dalam taksi , dia sudah kedinginan karna hujan, dia harus sampai apartemennya dan jangan sampai sakit, jika Very, Tio, atau Liana tau keadaan nya sakit, bisa bisa satu keluarga itu akan menyusulnya ke sini, bahkan mungkin akan menyeretnya pulang ke Bali dengan segera.


hingga malam saat dia berusaha memejamkan matanya , bayangan kejadian tadi siang pun terlintas kembali seperti sebuah film yang berputar secara otomatis di ingatan nya..


saputangan yang tadi di berikan pria itu pun sudah bersih tercuci dan kering. hingga kini saat dia menggenggamnya dia merasa benar benar nyaman, duku sering kali ketika dia menangis Very lah yang menghibur nya. hah mungkin Kyara merindukan kakaknya itu.


beberapa kali Rafa mengerjapkan matanya , seolah dia ingin menghilangkan bayangan sesuatu . wajah yang kini selaku mengganggunya, yang baru bertemu tadi siang, sorot mata yang dia rindukan, tapi siapa. bahkan dia tak mampu mengingatnya. setelah ban mobilnya di perbaiki Rafa langsung bergegas menuju bandar, dia sudah tidak punya banyak waktu lagi, dia hanya mampir ke butik sebentar untuk membeli baju , untuk mengganti baju yang ia kenakan ini. tak perlu membawa banyak keperluan, hanya butuh satu buah dompet yang isinya berbagai kartu serba guna juga paspor nya.


Adiva dan dady Edward sudah berada di Bali Indonesia terlebih dahulu, melalui penerbangan sebelumnya. selain pekerjaan entah hal apa yang membuat Arafa mengundur keberangkatan nya.


kini Rafa seorang diri berada di dalam pesawat yang tengah melayang di udara. tanpa pengawalan dan tanpa asistennya..


maap ya kak, ini dikit dulu, waktunya soalnya mepet sih, tapi tenang aja ya kakak kakak sekalian nanti kayaknya aku bakalan up lagi deh pas malem. tungguin aja ya, inget loh sama aku, author yang masih amatiran ini, maap ya typo masih bertebaran di mana mana.😘😘😘😍


*********


tak perlu jadikan aku mentari harapan yang mulai muncul di kegelapan.


cukup jadikan aku hujan di bulan juni


menyimpan rapat setiap rintiknya dengan indah.


penuh kesabaran akan jamuan rindu.


lalu turun membasahi harapan