Sacrifice

Sacrifice
kesempatan Devan



**jangan lupa like vote comen and share ya guys klik tombol favorit nya juga ya biar nggak ketinggalan episode nya...


lope lope you..


makasihh yang udah setia sama novel aku..


emuachhhhhhhh..


happy reading guys**.


oke. setelah kejadian melupakan tentang makan Airin itu membuat mereka menjadi sedikit ribut dan bertengkar. terutama Devan dan Adiva, Devan yang tak mau di salahkan karna baru saja mengingatkan. dan Adiva yang selalu memojokkan Devan, tapi mau bagaimana lagi, semua terlupakan.


"kalian bisa berhenti tidak,kepalaku pusing tau!". bentak Rafa yang sudah tidak tahan .


"Raf , dari tadi Adiva menyalahkan ku terus atas semuanya. dia pikir dia tidak bersalah apa". elak Devan.


"kau memang bersalah, kenapa baru sekarang kau bilang , hah". bantah Adiva tak kalah garang. sedangkan Edward lebih memilih diam sambil memijit pelipisnya. dua bersaudara yang bahkan tubuh bersama dalam rahim yang sama itu selalu tak pernah akur. ada saja yang mereka perdebatkan.


"sebentar lagi pesawat kita akan terbang, dady kasih kalian pilihan, jika kalian masih ingin bertengkar silahkan saja, tapi dady dan Rafa akan berangkat sekarang menemui adik kalian, ". akhirnya Edward angkat bicara, karna jika terus di biarkan seperti itu, bisa bisa mereka ketinggalan pesawat.


"aku ikut dad, tak penting meladeni orang seperti dia". ucap Devan sambil melirik Adiva.


"hey, kau pikir aku mau meladenimu ? tak akan pernah, dan ingat ya, seharusnya kau ini mengalah, karna aku lebih tua dibandingkan dengan mu meski hanya 10 menit, paham kau". kata kata Adiva tak di hiraukan sama sekali oleh Devan,dia hanya memutar bola mata jengah lalu melangkah masuk kamar untuk mengambil barang barangnya yang sudah di kemas oleh dirinya sendiri .


setelah sesi pertengkaran selesai. mereka ber 4 pun berangkat ke bandara yang letaknya tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap. (ada yang tanya ke mana 2 orang bayaran Devan? mereka masih ingin di Bali untuk liburan, yah uang yang Devan berikan lebih dari sekedar cukup untuk berlibur, bahkan mereka berdua masih mendapatkan tip dari Edward karna dia puas dengan kerja mereka).


ketika pesawat yang Edward family itu gunakan mendarat dengan selamat di bandara internasional kota New York di pagi hari sekitar pukul 5 pagi, tidak memungkinkan bagi mereka jika datang ke apartemen yang di beritahukan kepada mereka kemarin siang, jadi mereka memutuskan untuk kembali ke rumah mereka, setidaknya untuk mengistirahatkan tubuh mereka. namun tanpa di sadari, waktu berjalan begitu cepat. mereka seperti kerbau yang tertidur tidak tau waktu. bahkan ketika waktu menunjukkan pukul 4 sore barulah Devan bangun dari mimpi indah di atas pulau kapuk yang empuk itu.


"oh astaga, ini jam berapa, kenapa aku bisa sampai ketiduran, jangan jangan Adiva masih dendam pada ku makanya tak membangunkan ku, awas saja itu bocah. ku balas kau nanti, dan apa Kyara sudah di bawa pulang, oh lebih baik aku tanyakan pada dady". ucap nya pada diri sendiri lalu beranjak dari tempat tidurnya . mandi dengan cekatan tanpa ritual yang ribet lalu keluar kamar sudah menggunakan pakaian lengkap dan rapi plus dengan parfum yang sangat harum ,niatnya hanya ingin memberikan kesan pada adiknya itu.


kosong, itulah keadaan ruang tengah, tiba tiba seorang pelayan lewat seperti menuju halaman depan.


"hey tunggu, kemana semua orang, apa mereka sudah menjemput Kyara?". tanya Devan pada pelayan itu..


"maaf tuan muda, tuan besar dan tuan muda lainnya masih di kamar , semenjak tadi pagi mereka tiba belum ada yang keluar, dan baru tuan muda Devan yang keluar dari kamar anda, dan lagi maaf tadi anda menyebut siapa?". itulah penjelasan dari sang pelayan .


lalu pelayan itu pun pamit mengundurkan diri. Devan yang tadi sempat terkejut mendengar penjelasan kalau sang dady dan kakak kakak nya belom keluar jadi tertawa girang, ini kesempatan emas untuk pergi ketempat Kyara secepatnya tanpa gangguan siapapun.


dan di sini lah devan berada seorang diri di apartemen Hornets , lantai 20 tepat di depan pintu nomor 314, bukan hal sulit bagi Devan untuk berkeliaran seenaknya di apartemen itu. jelas itu salah satu aset milik dady Edward.


berulang kali devan memencet tombol di depan pintu itu. namun tak ada jawaban sama sekali dari dalam sana. hingga tak terasa sudah lebih dari setengah jam Devan berdiri di depan pintu. sejak pukul 5 sore sampai lebih dari jam setengah 6 sore.


namun pengorbanan berdiri itu tak sia sia hingga ada seorang yang menepuk bahu nya dari belakang. saat berbalik, seorang gadis cantik dengan mata indah seperti momy Airin tepat berada di depan nya.


"maaf, apa anda salah kamar tuan? anda berdiri tepat di depan pintu apartemen saya". ucap gadis itu.


senyuman lembut muncul di bibir Devan begitu saja tanpa di suruh(ini hal langka).


"ini apartemen mu?". tanya Devan mencoba tetap santai tapi dengan nada lembut padahal dalam hati dia sudah ingin memeluk gadis di depan nya itu..


"iya tuan , jadi saya mohon menyingkirlah". sejujurnya Kyara sudah sangat lelah karna setelah melakukan rutinitasnya untuk datang ke rumah lama keluarganya, dia langsung pergi jalan jalan tanpa mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu, niatnya ingin langsung tidur setelah tiba di apartemen nya malah jadi gagal karna terhalang orang asing..


"baiklah, aku menyingkir, nona Aina Kyara Brown". Devan berbisik tepat di telinga Kyara saat Kyara hendak melangkah memasuki apartemen nya.


mendengar hal itu langkahnya langsung terhenti. "dari mana kau tau nama lengkap ku?". tanya kyara.


dengan senyum yang semakin lebar Devan mengatakan "kemarin aku pergi ke Bali bersama dady dan ke dua saudara ku yang lain nya untuk mencari mu, tapi kau malah ada di sini".


"apa maksudmu? jangan berbelit belit, apa kau pembunuh bayaran wanita yang bernama Laura hah, jawab aku?". Kyara bertanya dengan nada ketakutan dan kepanikan..


"hey, aku bukan ingin membunuh mu, aku Devanka Brown, putra ke tiga Edward Brown". ucapnya sambil merengkuh tubuh mungil Kyara kedalam pelukan nya. tanpa di sadari air mata gadis itu sudah keluar tanpa permisi


"ini sungguhan? aku tak mimpi? kau benar kakakku?".


"iya aku kakakmu, kami bahkan menemui keluarga sahabat momy Airin untuk mengetahui keberadaan mu".


begitu mengharukan suasana di depan apartemen Kyara. namun berbeda dengan kondisi rumah Edward yang kini dia tengah marah marah, kenapa sampai bisa semua tertidur dan melupakan tujuan kepulangan mereka. bahkan saat mengetahui bahwa Devan telah bangun 2 jam yang lalu dan pergi begitu saja membuat Edward semakin marah.