S T A Y

S T A Y
Part 9. Kurang mengerti dengan sikapmu



"Kak Azlan!"


"Nggak usah dikejar." Adara menatap Mario kemudian membalikkan tubuhnya untuk mengejar Azlan tapi lagi-lagi Mario menghentikannya, cowok itu mencengkram erat tangannya.


"Mending lo sama gue, bersihin nih luka gue. Tuh kakak lo nggak segan-segan mukul muka orang, kan kasihan muka ganteng gini jadi hancur."


"Lepasin." sentak Adara tapi Mario tidak melepaskannya malah menarik cewek itu untuk ikut bersama dengannya.


"Lo nggak tau balas budi, ya. Gue tadi udah ngobatin jidat lo. Sekarang lo yang ngobatin muka gue."


Adara menghela nafas pasrah, cewek itu tidak ingin membuat keributan di koridor dan mengganggu kelas lain. Dengan berat hari Adara mengikuti langkah Mario.


Mario melepaskan tangan Adara saat berada di ruang UKS, cowok itu memperhatikan Adara sebentar yang hanya berdiri diam tidak ingin melihat ke arahnya.


Mario menghela nafas, didorongnya tubuh Adara hingga terduduk di kursi, "Diam di situ, jangan kemana-mana."


Adara memperhatikan Mario yang berjalan menjauh untuk mengambil kotak P3K dan kembali mendekat. Cowok itu duduk di atas ranjang dengan kedua tangan meletakkan kotak P3K di atas pangkuan Adara.


"Sekarang obatin gue." kata cowok itu memaksa.


Adara membuka kotak P3K dan mengeluarkan botol Alkohol dan kapas untuk membersihkan luka cowok itu kemudian meraih salep untuk mengobati.


Adara memajukan kursinya hingga lutut cewek itu bersentuhan dengan kaki Mario, Adara berdehem untuk menenangkan jantungnya yang mulai berdetak tidak normal.


Setelah menuangkan Alkohol di kapas, Adara mendongak untuk melihat wajah Mario yang penuh dengan lebam-lebam keunguan dan sedikit lecet di bagian sudut bibir dan mata.


Adara mulai mengobati, tangannya membersihkan luka di sudut bibir Mario membuat cowok itu meringis. "Perih, ya? Tahan sebentar. Aku akan pelan-pelan, kok."


Mario yang tadinya fokus dengan luka di wajahnya sedikit tersentak saat mendengar panggil 'aku' dari Adara, cewek itu tidak sadar sudah memanggilnya seperti itu. Mario menatap dalam kedua mata biru Adara yang fokus dengan lukanya. "Kalau sakit bilang, ya. Aku akan berusaha pelan-pelan."


"Aku suka mendengar kamu memanggilku seperti itu." ujar Mario yang kini telah memegang tangan Adara.


"Hah?" Adara mengerutkan dahi kemudian membulatkan mata. "G.. gue tidak bermaksud panggil lo kayak gitu." Cewek itu sudah mengganti kembali panggilannya.


Mario tersenyum. "Gue tau kok, tapi gue kangen lo panggil gue kayak gitu."


Adara terdiam. Kerutan jelas di dahi cewek itu.


Mario berdehem. "Obatin gue lagi, nih udah sakit banget." ujar cowok itu berpura-pura meringis.


Adara menatap Mario kemudian menghela nafas. "Jangan ngomong yang aneh-aneh kalau mau gue obatin." Adara kembali membersihkan luka Mario, bukan di sudut bibir lagi tapi berpindah di sudut mata.


Mario memperhatikan Adara lama, bibirnya berkedut saat melihat cewek itu yang serius mengobatinya.


"Udah, Rio." kata Adara akhirnya kemudian memasukkan kembali salep dan alkohol yang dipakainya tadi. "Gue balik ke kelas, takutnya Pak Amir udah masuk." Cewek itu bergerak dengan cepatĀ  meletakkan kembali kotak P3K di tempatnya.


"Lo pulang sama gue." sahut Mario saat Adara sudah di ambang pintu. " Gue tunggu lo di parkiran."


"Nggak usah, gue udah ada janji pulang sama Kak Aksa."


Setelah mengatakan itu, Adara melangkah keluar meninggalkan Mario yang menahan emosinya.


***


Adara masuk ke dalam kelas dan langsung duduk di sebelah Galang yang lagi-lagi sibuk dengan games nya.


"Dari mana lo?" tanya Galang tapi tidak melihat ke arah Adara.


"UKS." jawab Adara malas, cewek itu kemudian menenggelamkan kepalanya di kedua tangannya yang terlipat di atas meja.


Adara mengangkat kepalanya hingga menghadap Galang.


"Lang." panggil Adara.


"Hm?"


"Kak Azlan kenapa berubah sih?"


Galang yang mendengar kalimat Adara sontak langsung menghentikan acara games online nya, cowok itu meletakkan ponselnya di atas meja lalu menatap Adara yang juga menatapnya.


"Gue emang salah, ya? Tapi kok gue nggak tau apa salah gue. Kak Azlan kayaknya benci banget sama gue."


"Shttt.." tangan Galang bergerak untuk mengelus kepala Adara. "Jangan ngomong gitu. Itu hanya akan menambah kesakitan lo."


Adara memejamkan mata. "Lo nggak takut temanan sama gue, Lang? Lo nggak takut kebawa sial juga?"


"Lo nggak sial kok, Ra. Mereka yang mengatakan itu tidak mengenal lo sama sekali."


Adara menegakkan punggungnya kemudian dengan perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Galang. Jika saja ada orang lain yang melihat mereka seperti itu pasti terjadi kesalahpahaman lagi karena kedekatan mereka. Tapi teman sekelas mereka tidak ambil pusing, karena siapa saja yang dekat dengan Galang akan mengerti, cowok itu sangat menyayangi siapa saja yang berada dekat dengannya. Biasa bahu sebelahnya lagi tidak kosong seperti sekarang, selalu ada Sandra di sisi itu, tapi cewek itu menjauh juga setelah mendengar tentang Adara, hanya Galang yang setia di samping cewek itu.


"Kak Azlan padahal nggak gitu dulu. Gue sebagai adeknya aja bangga punya kakak seperti dia." Adara menahan matanya yang sudah berkaca-kaca. "Tadi.. Gue cuma pengen kasi air minum ke Kak Azlan, tapi Kak Azlan menolaknya lagi."


"Udah nggak usah dipikirin." Galang menghadap Adara membuat cewek itu bersandar di sandaran kursi. "Masih banyak yang sayang lo kok selain kakak lo itu."


"Ada gue, gue nggak akan bisa lihat lo sedih seperti sekarang, Ra. Gue udah sayang banget sama lo seperti adek gue sendiri." Galang meraih Adara dan memeluknya. "Jadi nggak usah takut, ada gue kok yang sedia menggantikan Kakak lo itu."


Galang mengelus punggung Adara saat mendengar isak tangis.


"Jangan pergi juga, Lang. Gue nggak tahu harus bagaimana jika lo juga menjauh dari gue." isak Adara.


***


Bel pulang berbunyi, Adara keluar kelas dan tersenyum kepada Aksa yang berdiri di depan kelasnya.


"Hai, kak."


Aksa tersenyum lebar. "Ayo pulang."


Adara mengangguk.


"Gue duluan, Lang!" teriak Adara kepada Galang yang sedang berbicara dengan Cica di koridor pinggir kelasnya.


Galang melambai padanya. Aksa dan Adaea kemudian berbalik, mereka berjalan bersisian untuk ke area parkiran.


"Sebelum pulang, temani gue ke tokoh perabotan, yah. Nanti gue teraktir es krim deh." sahut Aksa saat cowok itu sudah berada di atas motor dan menyodorkan helm kepada Adara.


"Oke deh." Adara menerima helm dan memakainya kemudian naik ke motor Aksa.


Sebelum meninggalkan area sekolah, Adara bisa melihat Mario dan teman-temannya yang baru saja sampai di parkiran, cewek itu meremas jaket kulit Aksa saat melihat Mario yang merangkul Vira dan berjalan ke motor besar cowok itu.


Pandangan Adara bertemu dengan mata tajam Mario, cewek itu mengalihkan pandangannya menatap punggung Aksa dengan cepat saat merasakan hatinya berdentum sakit.


Tidak lagi. Ujar Cewek itu dalam hati sambil menggeleng.


Mario hanya mempermainkannya, cowok itu juga sedang dekat sama Vira.


Dia tidak ingin membiarkan lagi jantungnya berdetak tidak normal di dekat cowok itu, dia tidak ingin lagi pikirannya memikirkan cowok seperti Mario yang hanya bisa menyakitinya.