S T A Y

S T A Y
Part 25. Damn Kid



Adara menutup pintu dengan pelan kemudian berjalan dengan langkah bergetar mendekati keluarga itu yang sedang memandang remeh ke padanya, selain Azlan yang tidak memandang nya sama sekali.


"Selamat datang nyonya." Ucap salah satu pelayan yang sedang membawakan kopernya.


Adara hanya mengangguk.


"Rumah akan sial kalau anak itu tinggal." Sahutan Adira membuat Adara kembali menatap keluarga itu.


Adara melihat Uncle Manuel yang memperhatikannya dengan tatapan intens, sedang aunty Nina dan Adira yang menatapnya tidak suka.


"Daddy kenapa sih manggil anak ini lagi. Adira nggak suka! Anak sial itu cuma menyusahkan saja. Adira nggak mau karena dia lagi orang-orang yang Adira sayang menghilang." Rengek Adira sambil menggerak-gerakkan tangan Azlan yang dia genggam. "Kak Azlan pasti nggak mau juga kalau anak sial itu di sini."


Adara menundukkan kepalanya setelah mendengar penuturan Adira. Gadis itu mencengkram tangan kanannya dengan keras. Dia juga tidak ingij berada di sini. Jika saja Azlan tidak menjemputnya, Adira tidak akan berada di sini. Di rumah ini, bukan tempat gadis itu lagi.


"Gue muak liat muka lo!" Desis Adira tidak suka kemudian menarik Azlan untuk masuk ke dalam rumah meninggalkan Aunty Nin dan Uncle Manuel yang sama sekali tidak mengalihkan tatapan pada gadis malang itu.


"Masuklah."


Adara mengangkat wajahnya, melihat kedua paman dan bibi membalikkan badan dan masuk ke dalam rumah. Mereka seakan tidak menganggapnya ada. Gadis itu hanya bisa menghela nafas dengan tangan yang ia turunkan kembali.


Adara tidak tahu nasib apa yang menunggunya di rumah ini.


"Mari saya tunjukkan kamar nyonya."


Adara berbalik dan menatap Atta, Pelayan yang dahulu setia melayaninya. "Nggak usah, Atta. Aku masih ingat di mana kamar aku." Ujarnya dengan senyum tipis saat mereka mulai memijak tangga teras.


Atta menatap nya dengan sedih. "Maaf, Nyonya. Kamar Nyonya yang lama dipakai sama Nyonya Adira."


Adara menghentikan langkahnya di ambang pintu mendengar hal itu. Ah.. Kamar dia yang dulu sudah tidak ada. Salah satu kamar dari 4 kamar utama di rumah ini. Gadis itu memaksakan senyum saat Atta menatapnya dengan raut kasian. "Nggak apa-apa, Atta. Saya bisa memakai kamar yang lain. Di rumah ini kamarnya kan banyak." Ucapnya sambil tertawa kecil walau perasaannya berbanding terbalik.


"Saya antar, ya?" Kata Atta.


Adara tidak bisa melakukan hal lain selain mengangguk. Cewek itu mengikuti Atta yang berjalan di depannya sambil menarik koper. Adara mengedarkan pandangan, rumah terlihat sunyi, beberapa perabotan telah terganti dengan barang-barang yang terlihat baru.


Atta membuka sebuah pintu berwarna putih yang Adara ingat sebagai salah satu kamar tamu dari 10 kamar tamu yang ada di rumah ini. Adara melangkahkan kaki masuk, memperhatikan kamar yang tampak feminim. Adara tersenyum, walau kamar itu terlihat legang dengan satu tempat tidur di tengah kamar, lemari dan meja belajar. Di atas kepala ranjang, terjejer boneka-boneka panda kesayangannya dahulu.


"Nyonya Adara mau dibantu beres-beres?" Tanya Atta.


Adara menggeleng. "Tidak usah. Saya bisa membereskannya sendiri. Kamu bisa keluar."


Atta mengangguk dan undur diri. Adara berjalan untuk duduk dipinggir tempat tidur. Gadis itu menghela nafas panjang, tidak menyangkah dia akan kembali menapakkan kaki di rumah ini. Masih teringat jelas diingatannya pengusiran yang dilakukan Manuel, Nina dan Adira. Juga dengan perkataan Azlan yang memutuskan tali persaudaraan mereka.


Dengan air mata yang mengalir deras di pipi gadis yang terlihat sangat berantakan itu, Adara menyeret langkahnya menuruni tangga dengan koper kecil di tangannya. Dia bisa melihat Adira dan kedua orang tuanya yang menatap gadis itu dengan pandangan kemenangan. Seolah mengatakan tempat dia bukan di sini.


Adara sekali lagi menatap ke seorang cowok yang berdiri bergeming di samping tangga menatapnya datar. "Pergi cepat gih. Gue nggak mau rumah gue kelamaan nampung orang sial kayak lo." Ucap Adira saat Adara sampai di depan mereka.


"Kak Azlan." Panggil Adara dengan suara serak.


Azlan hanya menatapnya sekilas. "Pergi."


Adara menghapus air mata yang jatuh di pipinya, gadis itu menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kamar untuk menghentikan tangisnya. Dia tidak ingin menangis. Azlan sudah memperingatinya tadi di mobil. Dia tidak boleh membiarkan Uncly Rafael mengetahui dirinya yang sekarang. Dan jika Adara menangis malam ini, dia takut esok pagi Uncle Rafael melihatnya dalam kondisi seperti itu.


Di sana Azlan sedang bersandar sambil mendongak menatap ke atas. Dari sini Adara bisa melihat siluet tubuh itu yang tampak banyak pikiran. Gadis itu menyergit melihat Azlan menyesap sesuatu dari jarinya kemudian kepulan asap keluar dari mulut dan hidungnya. Sejak kapan Azlan merokok? Setau dia Azlan adalah seorang cowok yang sangat anti dengan benda nikotin itu.


.


.


.


.


.


Keesokan paginya, Atta mengetuk pintu kamar Adara. Gadis itu sudah bangun pagi-pagi buta untuk membereskan barangnya yang sedikit. Di tidak sempat membereskan barangnya kemarin malam.


"Nyonya harus siap-siap untuk menjemput tuan Rafael di bandara. Tiga puluh menit lagi, Nyonya harus berangkat dengan Tuan Azlan." Tutur Atta.


Adara mengangguk dan kembali menutup pintunya saat Atta pamit keluar. Gadis itu kemudian bersiap untuk pergi ke bandara bersama Azlan. Dengan kaos lengan pendek berwarna biru yang padukan dengan jins hitam semata kaki, Adara siap untuk pergi.


Gadis itu keluar kamar setelahnya. Adara menatap ke penjuru ruangan yang sunyi dengan sekali-kali pelayan melintas. Adara bingung mau kemana.


Langkah kaki dari atas membuat gadis itu mendongak. Di tangga Azlan sedang berjalan turun, seperti biasa di samping cowok itu ada Adira yang juga sudah rapi.


"Iyuh... Miskin banget pakain lo!" sela Adira dengan tatapan jijik menilai Adara. Gadis itu sedang memakai dres selutut berwarna Pink halus dengan high heels dengan warna yang senada. Adira sangat cantik dan cocok di samping Azlan yang terlihat selalu tampan.


Adara menundukkan wajahnya dan memilin tangannya. Padahal pakaian yang dia gunakan sekarang adalah pakaian terbagus yang dia miliki. Dan juga, Pakaian yang dipakai Adira sangat familiar untuk Adara. Dress itu tampak seperti dress hadiah dari Mario yang dia tinggalkan di rumah ini.


Tapi sepertinya hanya kebetulan saja. Dress itu pasti banyak kembarnya.


Adira memutar matanya dan mengikuti langkah Azlan yang sudah berjalan keluar rumah. Adara memperhatikan itu, mereka seperti Kakak beradik yang sangat bahagia.


"Lo mau gue tinggal? Gue nggak punya waktu nungguin lo yang kayak orang ****** berdiri di sana." cetus Azlan di ambang pintu.


Adara tersentak mendengar itu, dengan kaki yang bergetar, dia mengikuti Azlan dan Adira yang sudah masuk ke dalam mobil.


Dalam perjalanan, Adara hanya diam mendengar celetukan-celetukan Adira di duduk di samping Azlan, sedang cowok itu hanya diam mendengarkan.


Tiba-tiba saja Adira berbalik menatap enggan Adara. "Lo jaga sikap di depan Uncle Rafael! Jangan jadi pengecut! Lo kalau gadu sama Uncle Rafael lo akan tau sendiri konsekuensinya. Mengerti lo, ******?"


Adara mengangguk.


Adira tersenyum puas. "Gitu dong. Lo seharusnya jadi anak sial terus aja agar semua yang ada di sekitar lo ngejauh. Lo lebih cocok terbuang dan dikucilkan. Sampah akan tetap jadi sampah."


Bunyi klakson yang nyaring membuat Adira tersentak dan kembali memposisikan tubuhnya duduk dengan benar. Gadis itu menatap ke Azlan yang rahangnya tampak mengeras.


" Benar kan, kak?"


Adara menatap Azlan. Cowok itu mengangguk kecil.