S T A Y

S T A Y
Part 11. Ada aku di sini



🌸 S T A Y 🌸


Adara sedang di kantin saat Aksa datang menghampirinya dan duduk di samping cewek itu. Adara hanya melirik sebentar sebelum kembali menikmati nasi goreng yang dipesankan Galang tadi.


Galang sendiri sedang berada di meja lain bersama pacarnya, duduk berdua dengan Cica yang berceloteh sendiri sedangkan Galang hanya mengangguk mengiyakan dengan pandangan yang tidak berpindah dari Ponselnya.


Bisa dipastikan kalau bukan karena paksaan Adara lagi, cowok itu tidak akan sudi menemani Cica makan.


"Nggak makan, Kak?" Tanya Adara saat menyadari Aksa hanya menatapnya tanpa makanan di depan cowok itu.


"Nggak," jawabnya singkat.


"Kenapa? Nggak lapar?" Adara mendongak menatap Aksa yang memperhatikan cara makan Adara.


"Tadinya sih lapar, sekarang nggak lagi. Udah kenyang lihat lo makan."


Adara terkekeh. "Gombalan lo receh."


Aksa tersenyum, tangan cowok itu bergerak mengusap kepala Adara yang tidak keberatan dengan perlakuan cowok itu sama sekali. "Pulang nanti ikut gue, ya? Ada film bagus di bioskop, gue mau nonton tapi nggak ada yang nemenin."


"Alasan klasik. Bilang aja lo mau ngajak gue ngedate." ujar Adara, meminum Green tea yang juga Galang pesankan.


"Yeee.. lo ke gr an." Adara tertawa saat Aksa menekan pipinya.


"Lo sih nggak punya pacar, kasihan banget sih teman gue yang satu ini, ganteng tapi nggak laku."


"Gue pilih-pilih soal pacaran. Gue nggak mau asal terima. Banyak tuh cewek yang ngantri pengen jadi pacar gue, gue nya aja yang nggak mau." ujar Aksa sombong . "Masa seorang Aksara nggak ada yang suka, sih? Mustahil!"


Adara mengangkat alisnya, tersenyum geli melihat wajah Aksa. "Kalau gitu kenapa nggak pacaran aja?"


"Gue udah bilang, gue tuh pilih-pilih. Sebelumnya juga gue nggak pernah pacaran." Aksa melirik Adara. "Soal yang tadi malam gue katakan, itu beneran ya, Ra. Gue suka sama lo, tapi belum masuk tahap mencintai sih. Gue cuma nyaman dan suka berada di samping lo."


Adara hanya manggut-manggut aja, membiarkan Aksa melanjutkan ucapan tentang perasaannya sendiri. Seorang Aksara Delvinarion sedang bingung oleh perasaan nya sendiri. Dan dia adalah tipe laki-laki yang tidak bisa memendam perasaan nya.


"Udah, pokoknya itu. Lo nanti ikut gue, gue jemput di kelas lo."


***


Aksa melangkah memasuki kelas XII IPA 2 setelah mengantarkan Adara ke kelas cewek itu sendiri dengan selamat. Aksa duduk di bangkunya yang berada di depan paling pinggir dekat jendela tepat di depan meja guru. XII IPA 2 memang selalunya seperti ini, ribut tanpa kenal waktu, sekarang saja saat kelas-kelas di samping kiri-kanannya sedang melangsungkan proses belajar mengajar, dengan kurang ajarnya teman-teman Aksa mengambil gitar dan duduk di meja guru sambil memainkan gitar dengan suara keras.


"CICAK CICAK DI DINDING, DIAM DIAM MERAYAP, DATANG SEEKOR NYAMUK. HAPPP LALU DI TANGKAP."


Poppy sang juara kelas menatap tajam Devan, merasa terganggu. "Lo kalau nggak ada kerjaan mending keluar sana, ganggu aja di kelas. Sekalian bawa geng ****** lo itu." Soalnya cewek itu sedang mengerjakan tugas dan tanpa rasa bersalah teman sekelasnya malah membuat keributan.


Bian-sahabat Devan yang memegang gitar datang menghampiri Poppy. "Unyu..Unyu... Jangan marah dong Poppy sayang. Gue dan teman gue cuma mau menghibur kok, kami lagi butuh duit, dompet kami kosong." ujarnya drama.


"Apaan sih, sayang-sayang pala lo peang. Sana deh lo, jangan ganggu gue." Poppy mengibaskan rambut panjangnya hingga Bian yang berada disampingnya terkena rambut Poppy.


"Anjing." umpat cowok itu sambil menutup hidung. " Lo udah berapa tahun nggak keramas, Pop? Rambut lo bau."


Poppy mengebrak meja tidak terima. "Lo jangan asal ngomong, gue kemarin keramas yah." Cewek itu menatap Bian dengan sinis.


Bian terkekeh, tangan cowok itu terulur mengelus puncak kepala Poppy dengan sayang. "Becanda, sayang. Harum kok, mana ada pacarnya Bian bau."


Poppy melototi Bian dan mendorong cowok itu menjauh. "Nggak usah ngelawak deh. Sejak kapan lo jadi pacar gue."


"Nggak usah malu lah, Pop. Kami semua udah tau kok kalau lo terima Bian kemarin malam." celetuk Devan, mengundang teman-teman sekelasnya untuk menyoraki Poppy.


Wajah Poppy memerah, dia menatap kesal kepada Bian yang terus saja tersenyum jail sedari tadi. "Apaan sih lo."


Aksa hanya menggelengkan kepalanya, menyambungkan headset ke ponsel kemudian memasangnya di kedua telinganya, alunan lagu without me dari Halsey meredam teriakkan yang menggema di kelas XII IPA 2. Sudah kebiasaan bagi cowok-cowok kelasnya untuk menggoda Poppy, cewek berparas cantik dengan sikap sinis dan cueknya.


Aksa memejamkan mata, menikmati lagu itu dengan bibir yang bersenandung pelan. Kepalanya juga bergerak naik-turun mengikuti irama lagu.


Suara gedebuk keras membuat Aksa menoleh ke teman sekelasnya. Dia menatap bingung ke Bian yang meringis menahan sakit. Mulut cowok itu bergerak berbicara. Aksa mencabut Headset nya karena penasaran dengan apa yang terjadi.


"Poppy!" Bian berdecak. Berjalan menghampiri cewek itu yang tidak mengubrisnya sama sekali. "Dorongnya jangan kuat-kuat atuh sayeng. Aku kan nggak kuat terima dorongan cinta dari pacar. Nih bokong aku kan jadi sakit, ih." Bian berbicara dengan suara yang dibuat-buat seperti suara cewek.


Poppy mendelik. "Lo ngomong kayak gitu lagi kita putus," ancam Poppy yang menghadirkan gelak tawa.


"Cuit.. Cuit.. Iya, Seyeng. Bian nggak akan lakuin itu. Nggak mau putus!" Devan tertawa, merasa geli sendiri dengan perkataannya.


Aksa menggeleng. Tidak habis pikir dengan sikap temannya yang gila. Karena merasa terganggu, Aksa memilih keluar kelas untuk mencari tempat yang lebih nyaman. Langkah kaki cowok itu bergerak ke gedung olahraga yang cukup sunyi karena jam untuk pelajaran olahraga sudah lewat. Sekolahnya menyediakan ruangan olahraga Indoor, masing-masing cabang olahraga memiliki gedung tersendiri. Seperti gedung yang dituju Aksa. Gedung lapangan Basket dan Futsal. Aksa mendorong terbuka pintu ganda dan melangkah masuk, langkah kakinya menggema di ruangan itu. Aksa berhenti di tengah-tengah ruangan, di antara lapangan basket dan Fulsal, berdiri menatap ke semua sudut ruangan. Aksa melanjutkan lagi langkahnya, kali ini menuju ke tribun sebelah kiri lapangan untuk tempat tongkrongannya sementara.


Aksa duduk di kursi barisan ke tiga. Sejenak menyandarkan diri kemudian membuka ponselnya dan memilih satu lagu dari list lagu yang ada di ponselnya. Girls like You dari Maroon 5.


Aksa kemudian memiringkan tubuhnya, menaikkan kedua kakinya di kursi sebelah kemudian membaringkan tubuhnya. Cowok itu masih sibuk dengan list musik nya, mengatur lagu untuk dia dengar. Setelahnya Aksa meletakkan Ponselnya di kursi dan menutup mata. Memilih tidur untuk menunggu waktu istirahat satu jam mendatang.


Rasanya baru saja Aksa menutup mata saat dia mendengar seseorang bernyanyi. Musik di ponselnya juga sudah mati. Aksa bangkit duduk, menatap ruangan dengan bingung. Tatapan cowok itu berhenti pada sosok yang tertidur di tengah-tengah lapangan Basket. Menatap langit-langit gedung yang tinggi. Aksa bisa melihat kabel headset di samping tubuh cewek itu.