
"Nyatanya kehadiran sosoknya tidak menyembuhkan luka. Malah menampah luka. Persepsi ku salah selama ini. Ku kira dia obat. Tapi nyatanya dia adalah garam. Yang hanya menambah rasa perih. Bukan mengobati."
🌸 S T A Y 🌸
Mario baru saja masuk ke kantin saat telinganya mendengar keributan di tengah-tengah kantin. Cowok itu mengerutkan dahinya bingung. Mario berjalan ke meja yang berada di sudut kantin di mana temannya berada.
"Ada apaan ribut-ribut?" sahutnya duduk di samping Farrel yang teriak-teriak tidak jelas pada ponselnya. "Lo tuh kurang-kurangi main gamesnya. Nggak baik setiap hari main games. Sekitar lo bisa terabaikan."
Farrel memutar mata tapi mendengarkan kata Mario, cowok itu menghentikan acara main gamesnya dan meletakkan Ponselnya di atas meja.
"Kinan Cs berulah. Entah siapa yang jadi korbannya." kata Alvin melirik ke kerumunan itu kemudian menatap Mario.
Mario tidak peduli lagi. Kinan cs berulah sudah menjadi hal biasa di sekolah. Apalagi sepupu Azlan, Adira. Cewek itu tidak akan segan-segan berbuat yang tidak-tidak kepada seseorang yang dia anggap pengganggu. Tidak ada yang dia takutkan. Apalagi sekolah ini adalah punya keluarganya jadi dia bisa bersikap semena-mena. Juga mengingat Kakaknya--- Azlan adalah ketua Osis.
Tapi suara benda jatuh dan pekikkan keras dari suara yang sangat dia kenal membuat Mario menoleh ke kerumunan itu dan menajamkan mata memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Rambut merah yang sangat kontras dengan rambut hitam yang mengelilinya. Mario langsung berjalan ke arah kerumunan saat merasa ada yang janggal.
"Minggir." ujarnya datar dengan suara berat. Siswa-siswi menepi untuk memberinya jalan. Cowok itu menatap datar Adara yang berdiri memunggunginya. Dari jarak dekat dia bisa melihat kepulan asap dari kuah Mie ayam yang tumpah di sekitaran kaki Adara. Mario menggertakkan rahangnya melihat itu, dia menarik Adara untuk berdiri di belakangnya.
Mario menatap seragam Adara yang basah terkena kuah Mie. "Rel, bawa Adara ke UKS. Nanti gue nyusul."
Farrel mengangguk. "Ayo, Ra."
Adara masih diam. Dia menatap Adira yang berdiri dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Menantang Mario yang kembali menatapnya tajam. Dia mengerjap berkali-kali untuk mencegah air matanya terjatuh. Cewek itu mengangguk dan membiarkan Farrel membawanya keluar kantin yang tiba-tiba saja berubah menegangkan.
Mario maju selangkah mendekat kepada Adira dan Kinan. Adira menatapnya tanpa rasa takut, lain dengan Kinan yang ditatap Mario langsung kicep. Mengingat cowok di depannya ini adalah orang yang dia suka.
"Gue sudah ngomong sebelumnya lo bisa ngebully siapapun yang lo mau. Tapi jangan pernah sentuh Adara, kan?" desis Mario kepada Kinan. "Lo nggak dengar gue? Mau cari masalah sama gue?"
Kinan hanya diam. Begitupun Astrid, Gita dan Farel yang berdiri di belakang cewek itu. Tatapan Mario sungguh menusuk membuat ke empatnya mengalihkan tatapan. Tidak berkutit sama sekali. Mereka masih waras untuk tidak mencari masalah dengan sosok yang berdiri menjulang di depannya. Mereka menundukkan kepala, takut menatap Mario yang terlihat sedang emosi itu.
"Emang elo siapa?" ujar Adira membuat Mario memindahkan tatapan matanya ke cewek itu.
Mario tersenyum miring. "Lo nggak kenal gue?"
"Gue kenal Lo! Cowok yang suka cari gara-gara sama Kakak gue," kata Adira mendelik.
Mario mengangguk. "Kakak lo?" Mario tersenyum miring.
" Bukannya lo yang ngaku-ngaku jadi adeknya Azlan cupu itu?" ucap Mario telak membuat Adira diam dengan wajah terkejut. Mario tahu bahwa Adira berasal dari luar negeri yang datang ke Indonesia saat ke dua orang tua Adara meninggal dalam kecelakaan tragis di jalan tol. Dan tanpa tahu malu, cewek itu menggeser posisi Adara. "Yang gue tau adek Azlan cuma satu. Itu Adara. Bukan lo."
Adira diam. Cewek itu mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Matanya menyorot permusuhan kepada Mario yang sudah mempermalukannya di depan Umum.
Mario tersenyum miring sebelum beranjak dari sana keluar kantin untuk ke UKS. Di belakang cowok itu, Alvin dan Bimas hanya mengikuti dengan diam dan saling pandang penuh arti.
"Kenapa lo diluar?" sahut Mario kepada Farrel yang bersandar di dinding ruang UKS. Cowok itu mematikan ponselnya dan memasukkannya di saku celana maroonnya.
"Adara lagi diobati sama Bu Indah." Mario mengangguk dan juga bersandar di samping Farrel. Ibu indah adalah salah satu dari tiga dokter yang bertugas di UKS.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya nya pelan.
"Lengan nya melepuh. Mungkin bagian perutnya juga. Kuah yang ditumpahkan Adira lumayan panas." kata Farrel membuat rahang Mario mengetat.
Dia bersumpah untuk memberi Adira peringatan jika sesuatu yang parah menimpa Adara. Alvin dan Bimas yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya diam mendengar, sekali-kali mengangguk untuk merespon perkataan Mario dan Farrel.
Pintu UKS terbuka membuat Mario menegakkan tubuh dan menghampiri Ibu Indah. "Bagaimana keadaan Adara, bu?" tanya Mario cepat.
Ibu Indah menatap satu persatu murid di depannya. "Ibu mau minta tolong sama kalian, bisa?" tanya nya agak ragu menatap Mario. Mengingat Mario adalah murid nakal dan kepala batu di sekolah, Ibu Indah jadi ragu kalau Mario ingin membantunya. "Tolong beliin salep di apotik depan. Persediaan salep di UKS udah habis untuk mengobati bagian perut Adara. Lengan dan kakinya belum diobati."
"Siap, Bos."
"Tenang, Bos."
Ibu Indah memberi uang kepada Alvin dan Bimas yang setelah menerimanya langsung beranjak pergi. Mario menghela nafas lega. Untung dia memiliki sahabat yang bisa diandalkan.
"Bu bisa masuk?" tanya Mario.
"Oh boleh-boleh." Ibu Indah mempersilahkan Mario dan Farrel untuk masuk ke UKS.
"Makasih, Bu!"
Mario bisa melihat Adara yang sedang memegang sebelah lengan nya yang tampak memerah. Seragam putih nya sudah dilepas dan Adara hanya memakai baju kaos polos berwarna putih berlengan pendek. Mario menyorot kulit Adara yang terlihat memerah.
"Lo nggak apa-apa?" Adara yang sedari tadi meniup-niup lengan nya untuk meredakan perih tersentak dengan kehadiran dua cowok di ambang pintu. Mario berjalan masuk dan duduk di depan Adara.
Adara menahan nafas merasakan Mario menatapnya intens. "G--Gue nggak apa-apa."
Pandangan Mario pindah ke lengan Adara. Dia bisa melihat seperdua lengan Zahra memerah, kontras dengan kulitnya yang berwarna putih susu. Tanpa bisa dicegah, Mario meraih lengan Adara dan mengusapnya pelan. Seolah dengan perlakuannya itu lengan Adara bisa cepat sembuh. "Ini yang lo bilang nggak apa-apa?" gertak Mario sambil menatap tajam Adara. "Ini pasti perih!"
Farrel yang berdiri di samping Mario juga memperhatikan luka Adara yang tampak serius.
"Mending kita ke rumah sakit. Ini kalau nggak diobati bisa infeksi." Mario menatap ke bawah ke kaki Adara yang terlipat. "Kaki lo?"
"Kaki gue baik-baik sa---"
"Apanya yang baik! Ini lebih parah!" bentak Mario saat melihat betis Adara lebih memerah dari luka di lengannya, bahkan lukanya itu ada yang mengelupas. Mario mengatur nafas nya yang memburu. Mencoba meredakan emosi yang dia rasakan. "Gue beneran akan bikin perhitungan sama Adira." desis cowok itu.
"Jangan! Lo nggak usah seperti itu. Masalah ini nggak usah diperpanjang. Udah, ini juga biasa kok bagi gue." Adara menahan lengan Mario yang sudah beranjak.
"Jangan gegabah, Bos. Adira adik Azlan. Lo jangan dulu cari masalah sama tuh cowok." kata Farrel mencegah Mario kali ini. "Azlan bisa dengan mudah ngeluarin lo dari sekolah."
"Gue nggak takut sama Azlan. Gue harus bikin perhitungan sama tuh cewek. Biar dia nggak ganggu apa yang gue punya." kata Mario tidak sadar dengan perkataannya. Mungkin karena emosi yang dia rasakan hingga cowok itu tidak berpikir dengan kalimat yang baru saja dia keluarkan.
"Punya lo?" sahut Adara pelan. "Kita udah nggak punya hubungan apa-apa, Mario. Lo ingat itu."
Mario membalikkan kepala untuk melihat Adara. Kedua mata cowok itu berubah senduh. Perkataan Adara barusan berhasil menghantam hatinya. Mario mendengus dan dengan pasrah kembali duduk di depan Adara. "Lo benar-benar nggak apa-apa, kan?" tanya nya sekali lagi untuk memastikan.
Adara mengangguk.
Mario kemudian mendesah. "Belakangan ini lo sering masuk UKS."
Adara hanya diam. Dia merasa bahwa dia tidak harus berinteraksi dengan Mario lagi. Mengingat cowok ini sudah ada yang punya. Adara merasa heran kenapa Mario ada di sini dan mengkhawatirkannya. Sedangkan diluar sana ada pacarnya. Vira.
"Lo nggak seharusnya ngekhawatirin gue." kata Adara.
"Gue nggak bisa lihat lo terluka."
Merasa obrolan kedua orang di depannya ini serius, Farrel memilih keluar ruangan untuk memberi mereka waktu. Tidak enak juga berada di tengah-tengah mereka. Walaupun dia akui, dia merasa tertarik dengan Adara.
Adara menatap dalam Mario. Nggak bisa liat terluka tapi lo yang ngebuat hati gue hancur. Gumannya dalam hati.
"Yah. Lo bisa kan pura-pura tidak peduli? Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi, Rio."
"Gue tau." Mario sangat tahu bahwa hubungan mereka sekarang hanya sebatas mantan. Dia sangat sadar bahwa cewek yang menatapnya ini bukan lagi miliknya. Tapi apa boleh buat? Status mantan tidak bisa membuat mencegah Mario untuk tidak merasa khawatir.