
Mario menjalankan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata membuat Adara dengan refleks memeluk erat pinggang cowok itu. Saat melewati teman-teman Mario, mereka meneriakinya dan Adara sempat melihat wajah Vira yang terlihat menahan kesal.
Adara menikmati angin yang menerpa wajahnya, membuat cewek itu melupakan ketakutannya. Dia menyandarkan dagunya di bahu Mario dan menutup matanya. Cewek itu mengeratkan pelukannya, sudah sangat lama dia dan Mario tidak sedekat ini. Cewek itu berusaha untuk melupakan masalahnya, biarpun hanya untuk sekejap dan berpura-pura menganggap semuanya baik-baik saja.
Baru saja ketenangan dia rasakan, Mario sudah menghentikan motornya di depan gerbang rumah mewah. Adara membuka matanya dan tersenyum sedih melihat gerbang itu, ini adalah rumah yang dulu dia tempati bersama kedua orang tuanya dan Azlan.
Kenangan mereka bersama langsung memenuhi pikiran cewek itu, menghempaskan ketenangannya dengan kesedihan yang tidak bisa Adara hindari. Dahulu dia adalah anak terbahagia memiliki keluarga sempurna seperti mereka, apalagi Azlan, bibirnya berkedut mengingat kakak laki-lakinya itu.
"Lo ngapain masih di situ?"
Adara tersadar kembali saat mendengar nada ketus Mario.
"Turun gih. Gue masih punya urusan sama Vira," desak Mario saat dirasanya Adara tidak merespon.
Adara melepaskan pelukannya dan turun dari motor. Cewek itu tersenyum menatap Mario yang memperhatikannya dengan tatapan tajam.
"Terimakasih, Rio."
Mario membuang pandangannya, menatap ke depan. "Gue pulang dulu, Vira pasti udah nunggu lama. Lo ngerepotin banget sih, jadi pacar nggak usah kecentilan sama cowok lain." Kata Mario dengan ketus sembari menutup helm dan menyalakan motor.
Adara meremas rok memperhatikam motor Mario yang sudah menjauh tanpa mau meliriknya kembali.
Cewek itu menghela nafas, merasa dirinya tidak penting lagi bagi Mario. Adara kangen Mario yang dulu, Mario yang lembut dengan segala canda tawa cowok itu.
Adara mengerjap saat merasa matanya memanas, cewek itu menggeleng. Tidak lagi, dia harus lebih berusaha untuk menghadapinya. Dia tidak ingin merasa lemah sekarang, bukan saatnya.
Adara kemudian berbalik menatap gerbang megah yang menjulang di depannya, ada kesedihan di mata redup gadis itu. Kenangan bersama keluarganya berputar di pikiran Adara, membuatnya memikirkan lagi bagaimana sempurnanya memiliki keluarga.
Adara menatap ke dalam lewat celah gerbang, di taman depan teras rumah itu dulu dia sering bermain di sana bersama Azlan, merendam dirinya di kolam ikan koi kecil dan membiarkan percikan air mancur yang berada di tengah kolam membasahi rambut merahnya. Azlan melihatnya saat kakaknya baru saja pulang sekolah, Azlan menariknya dengan paksa keluar kolam dengan mulut cowok itu yang mengerocotinya karena khawatir dengan keadaannya, Azlan membawa Adara kedalam rumah dan langsung ke kamar cewek itu.
"Kakak kan sudah bilang jangan main air lagi, Daraaa.. kamu bisa saja sakit," kata cowok itu saat itu sambil mengambil handuk sebelum menarik Adara masuk ke dalam kamar mandi.
Adara tersenyum mengingat perlakuan Azlan dulu, dia kangen dengan Azlan yang dahulu, yang selalu siap melindunginya dari bahaya apapun.
Cewek itu terkejut saat melihat pintu rumah terbuka memperlihatkan Azlan yang berjalan keluar terburu-buru dengan jaket kulit dan celana jins panjang. Adara dengan cepat berlari ke samping rumah, bersembunyi di balik tembok rumah saat mendengar deru motor berbunyi bersamaan dengan gerbang bergeser terbuka, Adara memperhatikan motor Azlan yang melaju dengan kecepatan tinggi melewatinya. Dia sempat melihat wajah kakaknya yang mengeras seperti menahan emosi dibalik helm yang dia gunakan.
**
Adara sampai di rumahnya saat dunia berubah menjadi gelap, cewek itu memutar kunci pintu dan mendorong pintu terbuka. Ditekannya saklar lampu di samping pintu hingga ruangan terang benderang.
Adara berjalan ke sofa usang yang berada di ruang tamu berukuran 4×5, melempar tasnya sebelum mendudukkan diri. Cewek itu menghela nafas, berusaha menghilangkan penat yang dia rasakan.
Perut gadis itu berbunyi memecahkan kesunyian, dia menyergit merasakan perutnya yang memprotes meminta diisi. Sebelum melangkah ke dapur, Adara melepaskan terlebih dahulu sepatu dan kaos kakinya.
Hanya ada telur dan beras sebagai bahan untuk makan malamnya, Adara sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini, tidak ada lagi pelayan yang akan mengurusnya. Dia akui untuk pertama kali baginya hidup sendiri sangat susah, cewek itu hampir menangis hanya karena tidak memiliki makanan.
Adara makan dalam diam, matanya menjelajahi dapur kecil yang cat nya sudah kusam, lemari dan peralatan di dapur juga sudah tidak layak pakai, begitupun dengan piring plastik yang dia gunakan sekarang.
Setelah selesai, Adara kembali ke ruang tamu untuk mengambil tasnya dan berjalan masuk ke kamar. Cewek itu bergerak dengan cepat, menggantung tas, membuka seragamnya kemudian menarik handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sudah hampir jam tujuh, itu artinya Adara hanya memiliki waktu sebentar untuk bersiap-siap pergi bekerja, dia tidak ingin lagi kehilangan pekerjaannya hanya karena keterlambatan lagi. Sangat sulit baginya untuk mencari pekerjaan dengan shif yang sesuai dengan waktunya yang berstatus sebagai siswa dan tidak banyak pekerjaan yang ingin menerima siswa sebagai pegawai maka dari itu Adara tidak ingin lagi melakukan kesalahan hingga dia bisa saja kehilangan pekerjaannya. Adara juga sudah sangat menyukai pekerjaannya saat ini.
Dia bekerja sebagai pelayan di restoran keluarga yang cukup ramai yang berada di alun-alun kota. Cewek itu menyapa sesaat dia memasuki restoran dan langsung berjalan ke belakang untuk mengganti pakaiannya dengan seragam pelayan.
"Apa yang aku kerjakan?" Tanya Adara saat melihat kesibukan di dapur. Alif yang merupakan chef melirik sebentar ke arahnya sebelum kembali fokus ke makanan yang sedang dia buat.
Adara mengangguk, berjalan ke pintu besi yang merupakan ruang pendinginan daging, dia mengambil semangkuk besar daging kemudian keluar meletakkannya di atas meja dan kembali mengambil brokoli juga wortel.
"Oh Adara! Aku kira kamu nggak datang."
Adara berbalik, tersenyum ke arah wanita yang berseragam seperti dirinya. "Aku datang kok, mbak. Cuma lambat sedikit."
Sindi mengangguk. "Kamu nggak ada yang diurus, kan? Ayo ke depan, restoran ramai karena kedatangan siswa sma yang ingin merayakan ulang tahunnya."
Sindi menarik Adara mendekat. "Kamu ambil kue di sana, aku mau panggil manajer dulu. Yang adakan acara adalah keluar pak manajer. Bawa aja kuenya ke depan soalnya udah mau mulai acaranya."
Adara mengangguk, berjalan ke arah troli yang sudah menampung kue tar tiga tingkat dengan inisial AFE. Didorongnya keluar ruangan ke arah keramaian di tengah restoran.
Langkahnya terhenti seketika, matanya membulat dan wajahnya memucat saat melihat keluarganya berada di sana, sedang tertawa, rona bahagia jelas di wajah semuanya. Adara juga baru menyadari sebagian besar pelanggan di sekitarnya adalah siswa-siswi satu sekolahnya.
AFE adalah inisial dari Adira Fredelia Evano. Sosok gadis cantik yang sudah merebut segala kepunyaan dan kebahagiaannya.
"Eh, kuenya sudah datang," pekik seorang wanita dewasa di samping Adira yang Adara kenal sebagai saudara Mommy nya, raut kebahagian langsung sirna saat wanita itu melihatnya. Begitupun semua orang yang berada di dekat sana.
Adara sempat melihat wajah terkejut Azlan yang perlahan berubah menjadi pandangan tajam dan dingin. Kaki cewek itu bergetar, tidak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan keluarganya lagi. Adara mencengkram pegangan troli dengan kuat saat dirasanya tubuhnya mulai mendingin.
Semua menatapnya dengan diam, dengan perlahan Adara kembali mendorong trolinya hingga sampai pada meja keluarganya, "S..selamat malam, kuenya sudah siap."
Adira mendengus tidak suka, dirangkulnya lengan Azlan yang berada di sampingnya. "Kenapa harus cewek sial yang bawakan kue gue, Ma? Gue nggak mau kalau gue ketularan sialnya."
Wanita itu masih memperhatikan Adara, "Mama nggak tahu sayang kalau di restoran ini ada dia, kalau Mama tau, Mama pasti tidak memilih tempat ini. Mama juga nggak mau ketemu dia, takut Mama dibunuh."
Adara mengangkat kue itu dengan tangan gemetar ingin memindahkannya di atas meja, matanya memanas mendengar perkataan pedas dari Adira dan Nina-Mama Adira.
"Kita pergi aja ya, Ma? Kita pindah restoran. Gue nggak mau acara gue rusak karena dia, Ma," Adira merengek, cewek itu mengangkat tangan mendorong kue itu hingga mengenai rok seragam Adara.
"ADIRA!" Teriak keluarganya tidak percaya.
"Gue nggak mau kue itu, lo bawa lagi gih sana, gue nggak sudi memakan kue itu. Kita pergi aja, ya?"
Adara memandang bagian tubuh depannya yang kotor oleh krim kue, dia kemudian menatap Adira.
"Apa lo liat-liat?" Sahut Adira sewot. "Lo mending pergi deh, nggak usah muncul di depan gue. Mood gue langsung jatoh liat wajah jelek lo."
"Ada apa ini?"
Adara berbalik, melihat manajernya berjalan dengan kerutan di dahi pria itu.
"Om Imran," Panggil Adira, cewek itu berdiri dan menghampiri Imran yang masih kebingungan, tatapannya ke arah pakaian Adara. "Kenapa kamu bisa kotor seperti itu? Sana ganti baju dan kembali bekerja."
"Om! Gue mau Om pecat dia, Adira nggak mau liat restoran om bangkrut karena cewek sial kayak dia." Kata Adira di depan Imran, menatap nya dengan tatapan memohon. "Adira tahu kok, Om kenal dengan cewek sial ini, kenapa cewek sial itu kerja di restoran Om? Pecat ya, Om? Adira nggak mau jadi keponakan Om lagi kalau Om nggak mau pecat cewek itu."
Adara mengepalkan tangannya, berusaha menguatkan dirinya sendiri, walaupun mata gadis itu sudah memerah dengan wajah yang pucat. Dia tidak ingin menangis, tidak ketika teman sekolahnya berada di sekitarnya, tatapan penasaran yang Adara abaikan. Dia menunduk dan memaksa lidahnya agar tetap kaku walaupun kalimat cercaan dan makian sudah dia siapkan.
"Iyya, Adira tenang dulu, ya?" Bujuk Imran, pria paru baya itu kemudian menatap ke arah Adara. "Mending kamu kebelakang, temui saya nanti saat kamu mau pulang."
"Baik, Pak." Adara menyahut, dia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah dapur. Jantungnya terasa berhenti berdetak sebentar saat matanya melihat Mario yang duduk di salah satu meja, menatapnya dengan sorotan tajam, ada Vira di samping cowok itu.
Adara membuang nafas, dia melangkah dengan cepat masuk ke dapur dan terus ke ruangan ganti. Kesunyian dari ruang itu membuat tangis gadis itu pecah, Adara duduk di lantai dengan punggung yang bersandar di loker pakaian, kepala cewek itu tenggelam di antara kakinya yang tertekuk, menumpahkan segalanya dengan tangis.