S T A Y

S T A Y
Part 22. Burger dan Kasih Sayang.



Adara tidak ingin hidupnya seperti ini. Dipandang sebagai sumber masalah oleh keluarganya dan teman-temannya sendiri. Dia ingin kembali ke tiga bulan yang lalu. Dimana saat itu semuanya nyaris sempurna, Daddy dan Mommy nya selalu ada untuk menyemangatinya dan melimpahkan kasih sayang kepadanya, juga seorang kakak yang sangat peduli dan over protektif atau pacar yang sebelas-dua belas seperti kakaknya.


Azlan.


Mario.


Sosok yang penting untuk Adara.


Semuanya sempurna dahulu. Sebelum kesalahpahaman menghancurkan semuanya. Adara ingat saat itu, saat dia menyuruh kedua orang tuanya untuk menjemput nya saat Study tour. Dia tidak nyaman mengikuti Study tour saat itu karena dia dan Mario bertengkar.


Mario tidak mengizinkan nya pergi. Padahal Study tour itu adalah hal yang paling ditunggu Adara saat itu.


"*Dad pasti capek kan? Baru pulang kerja Adara minta jemput." Adara saat itu duduk di kursi belakang sedangkan kedua orang tuanya duduk di depan. "Adara minta maaf, Dad, Mom. Tapi Adara nggak nyaman di sana. Nggak ada Kak Azlan juga. Kalau ada apa-apa siapa yang jagain Adara?"


"Daddy nggak capek, sayang. Untuk anak Daddy apapun akan daddy lakukan untukmu." Ucap laki-laki dewasa yang sangat mirip Azlan itu.


"Ya Sayang. Mommy dan Daddy akan lakukan apapun untuk kesenangan Azlan dan Adara. Adara bilang tidak nyaman kan berada di sana? Daddy bersikeras untuk menjemput mu padahal Mommy sudah suruh sopir pribadi untuk jemput. Tapi Daddy mu ini yang sangat sayang sama anaknya bersikeras." Wanita dewasa dengan rambut cokelat bergelombang itu tertawa. Terlihat jelas di matanya terpancar kebahagiaan*.


***


Adara melepas pelukan nya dengan canggung. Cewek itu menundukkan wajahnya, tidak ingin ditatap Mario dalam keadaan seperti ini. Tapi Mario malah menangkup pipi cewek itu dengan kedua tangannya, mengangkat wajah Adara dan memandang nya lekat.


"Lo nggak apa-apa?" Tanya ya.


Adara mengangguk. Sedikit risih dengan kedekatan mereka. "Lo nggak usah bersikap seperti ini. Gue nggak nyaman banget." Adara dengan cepat memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain demi menghindar dari tatapan dalam Mario.


Beberapa saat mereka terdiam seperti itu, hingga suara langkah yang mendekat membuat mereka berbalik bersamaan. Alvin dan Bimas berada di belakang mereka dengan tangan mereka masing-masing membawa kotak makanan dan kotak minuman.


Alvin mendekat. "Nih bos pesanan lo." Sambil mengulurkan tangannya kepada Mario yang langsung menerimanya. "Gue rela nggak makan di kantin demi Bos dan nunggu di gerbang sekolah untuk menunggu bang ojol nya."


"Nih makan." Mario meletakkan kotak makanan di antara dia dan Adara. Cowok itu membuka kotak makanan, dua burger dengan ukuran jumbo terlihat. Adara meremas tangannya kuat saat melihat Burger yang menggugah selera itu.


"Kenapa diam?" Adara mengangkat pandangannya. "Makan aja. Lo nggak makan kan? Ini gue beliin makanan kesukaan lo dari restoran kesukaan lo juga." Mario mengambil satu Burger dan memberikannya ke Adara.


Adara ingin mengambil Burger di tangan Mario tapi Mario menggeleng. "Buka mulut lo. Biar gue suapin."


Adara menatap tak percaya. "Nggak usah. Gue punya tangan sendiri."


"Tapi gue mau suapin lo."


"Gue bisa sendiri, Rioooo..." Adara berdecak.


Mario terkekeh. Wajah cowok itu terlihat cerah saat sinar dari matahari menerpanya. "Udah lama banget gue nggak dengar lo panggil gue kayak gitu. Jadi kangen kan kita yang dulu."


Adara terdiam. Dia menatap Mario lambat.


Mario tersenyum, mengerti tatapan Adara. "Gue becanda kok."


Mario mendekatkan Burger ke mulut Adara. Cewek itu menggigit kecil Burger dan mengunyahnya perlahan. Adara mengembuskan nafas lega. Rasa Burger di mulut Adara sangat enak hingga perlahan memperbaiki ekspresi wajah Adara yang mulanya sedih berangsur-angsur cerah kembali.


Adara kembali menggigit Burger dengan gigitan yang lebih besar. Enak sekali.


"Gue tau lo. Dengan Burger lo bisa lupain masalah lo kah?" Mario terkekeh, tangannya yang bebas terangkat mencubit pelan pipi Adara yang sekarang sedang bersemu. "Jadi ingat pas pacaran. Gue cemburu sama Burger karena bisa buat perasaan lo baik. Sedangkan gue waktu itu dua hari ngebujuk lo dan lo nggak mau ketemu gue. Eh pas gue bawain Burger lo langsung baikan sama gue."


Adara tersenyum mengingat itu. Ya. Dia pernah marah sama Mario hingga tidak mengajak cowok itu berbicara selama dua hari. Tapi saat cowok itu mengirimkan nya pesan bahwa dia berapa di depan rumahnya dengan tiga kotak burger berukuran jumbo dan Adara langsung melupakan masalahnya saat itu juga. Adara tertawa mengingat kebodohan nya.


"Apalah daya gue yang jadi obat nyamuk." Celetuk Bimas yang ternyata masih ada di sana.


Alvin mengangguk dramatis. "Derita jomblo, sob. Sabar. Makanya cari cewek sana."


"Lanjutin aja makan. Nggak usah peduliin mereka." Kata Mario. Cowok itu membiarkan Adara mengambil Burger yang sisa setengah di tangannya. Mario dengan telaten mengambil Minuman dingin yang juga dibeli nya tadi, mengambil sedotan dan meletakkan nya di depan Adara.


Mario lalu menatap Bimas dan Alven. "Ngapain lo masih di sini?"


"Duit gue bos. Gantiin. Kami lapar juga lah. Mau ke kantin." Sahut Alvin dengan perasaan tidak bersalah sama sekali.


Mario merogoh saku celana nya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratusan.


"Dua kali lipat!" Alvin kembali menyahut dengan telapak tangan terurur.


"Siap Bos! Pasukan akan kembali ke Markas!"


Adara terkekeh melihat Alvin yang berbalik dan berjalan layaknya prajurit yang sedang bertugas. Adara kangen dengan situasi seperti ini. Melihat tingkah konyol Alvin, Bimas dan Farrel.


"Manis." Celetuk Mario sambil terus menatap Adara.


Adara mengangguk. "Ya minuman nya sangat enak." Katanya tersenyum sambil menyeruput minuman nya.


"Bukan minuman itu yang manis. Tapi senyum lo. Manis banget."


Adara tersedak mendengar penuturan Mario barusan. Cewek itu bahkan sampai terbatuk-batuk dengan wajah yang memerah. Mario tertawa melihat itu, cowok itu mendekat kepada Adara dan mengelus-ngelus punggungnya.


"Makanya kalau minum itu pelan-pelan." Sahut Cowok itu tanpa rasa bersalah. Dia malah memandang geli Adara yang menghindari tatapannya. Adara menegakkan punggungnya dan mencoba menjauhkan punggungnya dari Mario.


"Omongan lo tuh yang dijaga!" Ucap Adara berusaha menyembunyikan salah tingkahnya. "Jangan ngomong yang nggak-nggak deh. Gue nggak suka."


Mario tertawa kecil. Tangan bergerak menyentil dahi Adara membuat cewek itu memekik kaget. "Lo emang manis, kan? Mantan gue yang paling manis."


Ada menghela nafas gugup. Cepat-cepat dia berdiri. "G...gue turun. Udah mau bel."


Mario meraih tangan mungil Adara saat cewek itu mau melangkah. Adara berbalik menatapnya. "Apa lagi?"


"Habiskan dulu makanan lo." Ucap Mario sambil melirik makanan Adara yang masih tersisa setengah.


Adara menelan ludahnya. Tergius kembali setelah mematap burger nya yang masih sisa setengah. Adara kembali duduk di samping cowok itu sambil merutuki dirinya yang lemah hanya karena sebuah burger.


Mario mengelus puncak kepala Adara saat cewek itu mulai memakan kembali burgernya. "Anak pintar."


***


Mario berjalan ke X IPS 1 untuk menjemput Vira karena cewek itu meminta untuk diantar pulang. Seperti biasa jika dia akan menjemput Vira, di sampingnya ada Alvin yang juga akan menjemput pacarnya, Wilona.


Mario menyandarkan punggungnya di dinding kelas saat melihat kelas Vira belum bubar. Sedangkan Alvin sudah mengintip di jendela kelas.


"Gadis ku emang nggak ada duanya. Cantik luar dan dalam." Decak Alvin saat melihat Wilona duduk dengan tangan menopang dagunya. "Pacar idaman banget."


Mario yang mendengar itu menatap sekilas ke Alvin dan mendengus. "Kayak lo pernah liat dalamnya aja sok-sok bilang kayak gitu." Celetuk cowok itu malas.


Alvin membalikkan badannya untuk menatap Mario. "Waddaw.. Aku ini anak baik. Aku belum melihatnya. Cuma ngintip dikit." Kata cowok itu tertawa.


Mario menatap tajam Alvin. "Jijik gue dengernya. Jauh-jauh lo!" didorongnya wajah Alvin membuat cowok itu berdecak dan mengalah memilih kembali melihat ke dalam kelas.


Mario memfokuskan pandangannya ke kelas XI IPA 1 yang berada di seberang sana yang baru saja bubar. Dia menyipitkan mata saat melihat seorang gadis berambut merah keluar dengan cowok di sampingnya. Mario tersenyum tipis saat melihat Adara berjalan di koridor menuju parkiran.


"Hei.." Mario mengedipkan matanya melihat Vira yang sudah berdiri di depannya dengan senyuman lebar. Cewek itu berdiri dengan tubuh yang digoyang-goyangkan kecil karena rasa senang nya mendapatkan Mario di depan kelasnya.


"Udah pulang?" Tanya Mario pelan.


Vira mengangguk kemudian meraih lengan Mario dan mengajaknya pergi. "Aku lapar. Makan dulu ya sebelum pulang?"


Mario hanya mengangguk membiarkan cewek itu bergelayut manja di lengannya.


"Yayang Wilona lapar juga, nggak? Mau makan juga?" Tanya Alvin yang berjalan di belakang mereka dengan tangan yang memegang sebelah tangan Wilona.


"Gue nggak laper, Beb! Mau nonton boleh?" Tanyanya dengan mata yang dikedip-kedipkan.


"Nonton lagi?" Tanya cowok itu heran. "Kan kemarin udah."


Wilona menatap tajam Alvin. "Kalau nggak mau, ya, udah. Gue ke club malam ini sama Aldo aja." kata cewek itu sambil menghempaskan tangan Alvin dari genggamannya.


Alvin dengan panik kembali meraih tangan Wilona. "Jangan gitu dong, yang. Oke kita nonton. Tapi jangan sama Aldo. Gue nggak suka."


Wilona langsung tersenyum senang. "Hmm.. Nggak akan. Kita ke apartemen dulu. Gue mau ganti baju."


Mario yang mendengar percakapan mereka berdecak. "Jangan lupa minta jatah lo, Vin." Sahutnya sambil dengan cepat-cepat membawa Vira ke parkiran.