
Adara menatap kearah langit malam yang tampak cerah karena cahaya bulan dan bintang-bintang yang berhamburan. Adara sedang duduk di teras depan rumahnya. "Mom, Adara rindu!" Ucapnya pada bintang yang lebih terang dari bintang-bintang yang ada di sekelilingnya. Gadis itu tersenyum sedih, "Daddy, apa kabar di sana? Baik, kah?"
"Daddy sama Mommy yang tenang di sana. Adara baik-baik kok di sini." Suara gadis itu sangat lirih hingga mungkin tidak ada yang bisa mendengarnya selain dirinya sendiri. "Kak Azlan juga baik. Cakep nya kakak kebangetan, Mom!" Adara tertawa. Tawa Adara mereda bersamaan dengan matanya yang menatap senduh. "Adara kangen Mommy sama Daddy." Ucapnya pelan. "Kangen Kak Azlan juga."
Bunyi dentingan ponselnya membuat Adara mengalihkan pandangannya dari langit malam. Diambilnya ponselnya yang tergeletak di atas meja plastik di sampingnya.
Satu pesan masuk. Dari nomor yang paling Adara kenal.
My Babe 💋 : Malam, Ra!
Adara menatap tidak percaya layar ponselnya. Dan cewek itu baru saja menyadari dia belum mengganti nama kontak Mario di ponselnya.
My Babe 💋 : Di Read doang?
Adara cepat-cepat menulis balasan.
Ada apa?
Tidak menunggu lama, Mario membalas pesan nya.
Lagi di mana?
Lo di rumah kan?
Gue di rumah kok. Kenapa?
Mario masih mengetik. Adara tidak sabar menunggu balasan dari cowok itu. Rasa berdebar-debar saat chatan dengan Mario masih Adara rasakan.
Jalan, yuk! Malam ini malam minggu, kan? Dari pada lo bulukan tinggal di rumah mending ikut sama gue. Kita pergi nongki sama anak-anak.
Adara mengerutkan dahi. Bingung sekaligus heran. Tumben sekali Mario mengajak nya keluar. Padahal setelah dia putus, Mario jarang sekali mengirim nya pesan. Dan apa ini? Cowok itu tidak hanya mengirim nya pesan tapi mengajak nya jalan!
Lo siap-siap. Gue di jalan ke rumah lo sekarang.
Adara panik bukan main membaca pesan terakhir yang dikirimkan Mario. Dengan cepat dia mengirimkan balik pesan.
Lo serius?
Gue serius! Sana lo dandan yang cantik!
Adara tidak nyakin dengan pesan yang diliat nya. "Ini benar Mario, kan? Dia dibajakkah?" Ucapnya sendiri. Sekali lagi dia membaca pesan Mario, dan saat itu juga Adara berdiri dengan cepat dan berlari masuk ke kamarnya untuk siap-siap. Kalau memang Mario serius dengan perkataannya, itu adalah masalah untuk Adara! Mario tidak tahu rumah yang sekarang dia tempati, cowok itu pasti akan ke rumah lamanya! Dan itu akan menambah masalahnya jika cowok itu tiba lebih dulu dari dirinya di sana! Mario bisa saja curiga. Dan bagaimana jika Mario bertemu salah satu keluarganya di sana? Bagaimana jika Mario bertemu Azlan? Adira? Atau yang lebih buruknya akan bertemu Mama Adira!
"Sial!"
Adara dengan cepat berganti pakaian dan langsung keluar rumah, berlari di gang kecil hingga ke jalan besar di depan kemudian menghentikan angkot yang lewat.
Adara berdoa di dalam hati semoga Mario belum sampai di rumahnya sebelum dirinya.
Tapi harapannya itu langsung digantikan dengan ketakutan saat melihat Mario sudah berada di depan rumahnya, duduk di atas motor besarnya dengan helm sebagai sandaran cowok itu. Adara menghela nafas berkali-kali, menghirup dan menghembuskannya secara perlahan. "Tenang kan dirimu. Tenang kan dirimu."
Adara berjalan pelan menghampiri cowok itu. Dia menahan nafasnya saat tiba-tiba saja Mario berbalik ke arah nya dengan wajah kaget. "Adara? Gue kira siapa!"
"Lo kok ada diluar?" Tanya Mario curiga. "Kenapa nggak keluar dari gerbang rumah lo?" Cowok itu menunjuk gerbang rumahnya yang tertutup rapat.
Adara melirik sekilas gerbang rumahnya dan berjalan ke arah Mario. "Oh gue lewat pintu belakang! Gue nggak mau ganggu Kak Azlan yang belajar di ruang depan." Kata Adara dengan cepat. Entah kenapa perkataan itu muncul di kepala Adara.
Mario hanya bergumam sambil mengangguk, cowok itu menatap Adara dari bawah sampai atas. "Cantik." Mario tersenyum. "Seperti biasa. Adara si polos." Mario tertawa kecil sambil memakai helmnya. "Ayo naik!"
Adara menatap bingung tangan Mario yang terulur ke arah nya. Tumben cowok ini bersikap manis padanya setelah sekian lama.
"Kenapa?" Tanya Mario.
Adara mengedipkan matanya. "Nggak ada. Gue merasa aneh aja sama sikap lo yang tiba-tiba manis gini."
Mario terdiam sebentar. Tampak berpikir. Cowok itu menyunggingkan senyumnya. "Gue cuma kangen sama kita yang dulu." ujar Mario yang sukses membuat Adara terdiam.
Adara ingat betul. Tiga hari yang lalu cowok ini masih bersikap dingin padanya. Bahkan setelah Mario memberitakunya tentang Tauran di persimpangan itu, cowok itu tampak hilang dari penglihatan Adara. Tiga hari dia tidak melihat Mario dan tiba-tiba saja cowok itu mengiriminya pesan dan mengajak nya keluar. Apa sebenarnya rencana Mario kali ini?
Apa Mario sudah sadar sekarang dari kesalahpahaman yang dulu?
"Lo nggak mau?"
Adara mengabaikan uluran tangan Mario, mengambil helm satunya lagi yang ada di tangan Mario dan naik ke motor cowok itu.
***
Mario mengajak nya ke salah satu kafe tempat biasanya cowok-cowok SMA Evano nongkrong. Mario jalan di samping Adara yang menatap tidak nyaman ke orang-orang yang menatapnya aneh.
Mario melangkahkan kaki ke meja panjang yang ada di tengah kafe. Ada Alvin, Bimas dan Farrel juga beberapa teman se geng Mario yang Adara cukup kenal.
"Hai, Ra!" Sapa Alvin ke cewek itu.
Adara hanya tersenyum. Mario menarikkannya kursi di samping Bimas kemudian cowok itu sendiri duduk di kursi sisi lain. "Mau pesan apa?" bisik Mario di telinga Adara karena musik yang lumayan keras terdengar.
"Seperti biasa, kak." Ujarnya.
Mario mengangguk, memanggil pelayan dan memesan minuman untuk Adara dan juga dirinya. Cowok itu lalu kembali menatap Adara, "Nggak usah canggung, Ra! Biasa aja. Lo sering ke sini sama gue dulu, kan. Santai."
Adara mengangguk. Dia tersenyum tipis ke arah Farrel yang sedari tadi memperhatikan nya. Mario langsung larut dalam pembahasan dengan teman-temannya, lain dengan Adara yang diam saja. Merasa asing. Karena dia sadar dirinya yang dulu dengan sekarang berbeda saat berkumpul bersama Geng Mario.
"Diam aja lo. Nggak nyaman, ya?" Mario tiba-tiba saja menggenggam tangannya.
Adara kaget, mencoba menarik tangannya yang ditahan Mario. "Mario.." rengeknya saat Mario tidak ingin melepas genggaman tangannya.
Mario menatap Adara intens membuat perasaan Adara tambah tidak nyaman. "Lo cantik banget malam ini, Ra."
Adara merasakan wajahnya panas saat Mario tidak melepaskan tatapan darinya. "Lo sakit, ya?"
Mario berdehem, menatap teman-temannya yang sedari menyimak percakapan mereka. "Nggak. Lo belum sadar, Ra? Gue mau pedekate sama lo lagi. Gue masih sayang sama lo."
Adara diam. Sedikit tidak percaya dengan perkataan Mario. Tapi tatapan hangat cowok itu membuat hati Adara meleleh kembali. Adara cuma menaikkan bahunya, melepas pandangannya dan dengan canggung meminum minumannya. Mencoba untuk terlihat tidak terpengaruh dengan kata-kata Mario di depan teman cowok itu.