S T A Y

S T A Y
Part 1. Adara Fredelia Ulani



🌸 S T A Y 🌸


Kicauan burung pagi ini seperti biasa, dengan suara merdunya mereka menyambut pagi setelah malam yang pekat menyelimuti dunia. Harum dari tanah basah berkat hujan kemarin malam membuat para penduduk yang melakukan aktifitas sepagi ini merasa rileks, tersenyum menyambut mentari yang akan menghangatkan dunia.


Helaan nafas terdengar, mata sayu yang baru saja terbuka itu mengerjap menyesuaikan cahaya matahari yang masuk lewat celah gorden yang terbuka. Bunyi alarm berasal dari atas meja samping tempat tidur membuat seorang gadis yang berada dalam selimut berdecak, tangannya kemudian bergerak dengan gusar mematikan alarm yang mengganggunya. Mata berwarna biru cerah menatap jendela yang terlihat lembab dengan tetesan air hujan. Kicauan burung sepertinya gagal membuat gadis itu rileks, terbukti dari kedua matanya yang menyiratkan kesedihan yang hanya dia seorang mengerti.


Tangannya bergerak mengambil bingkai foto yang berada di samping Alarm. "Good morning, Dad, Mom." Senyum terukir diwajah ovalnya, kemudian mencium potret dua orang kekasih yang sedang tersenyum. "Dara sayang kalian." Setelah puas melepas rindu, gadis itu kembali meletakkannya di atas meja dan bergerak keluar dari selimut untuk ke kamar mandi dan bersiap-siap beraktifitas layaknya penduduk kota ini.


Adara Fredelia Ulani, gadis yang bulan depan berumur 16 tahun, memiliki wajah oval dengan mata bulat berwarna biru cerah, rambut merah kecoklatan bergelombang hingga ke bahu, darah Amerika yang dominan di tubuhnya membuat tampilannya mencolok dan berbeda dari penduduk lainnya.


Adara yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk menutupi tubuhnya berjalan menuju lemari, mengambil kaos putih tipis dengan celana jins pendek beberapa centi di atas lutut kemudian memakainya. Tangan gadis itu membuka ikatan rambutnya yang tadi dia ikat asal sesaat dia akan mandi dan membiarkannya tergerai hingga ke punggung. Dia kemudian mengambil seragam sekolah yang tergantung di dalam lemari dan meletakkannya di atas tempat tidur yang sedikit berantakkan.


Adara melangkah ke meja rias, alat kecantikan yang tidak terlalu banyak dan sederhana berada di meja itu. Ia mengambil pelembab kulit, memakainya pada kedua lengan dan betis hingga paha, meraih bedak bubuk dan memakainya pada wajah. Ia juga meraih pelembab bibir agar wajahnya terlihat lebih fresh lagi.


Merasa puas dengan penampilannya, Adara berjalan mendekat ke tempat tidur, meraih seragam dan memakainya. Kemeja putih berlengan pendek dengan lambang mawar merah di saku sebelah kanan kemejanya dan rok kotak-kotak berwarna merah maroon di atas lutut adalah ciri khas SMA EVANO, salah satu sekolah terfavorit di kota metrapolitan ini.


Adara keluar dari rumah sepuluh menit berikutnya dan langsung mengunci pintu. Ditatapnya rumah sederhana di depannya, rumah peninggalan nenek dari Mommy nya yang sudah dia tempati selama sebulan ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan tragis bulan lalu, Adara menjalani kehidupannya sendiri. Keluarga yang dahulunya memperlakukannya dengan hangat, setelah kecelakaan itu, sikap mereka berubah drastis. Keluarga dari kedua orang tuanya membuang dan tidak menganggapnya setelah semua aset yang ditinggalkan Daddy dan Mommy untuknya habis direbut mereka. Keluarganya hanya menganggap kakak kandungnya. Kakak laki-lakinya yang bernama Azlan Aditya Evano itu juga memperlakukannya seperti keluarganya setelah kecelakaan. Bahkan dengan teganya mereka semua membuang Adara ke rumah sederhana di kawasan sederhana juga, jauh dari rumah yang mereka tempati dulu.


Adara menghela nafas, tidak ingin lagi mengingat kesakitan itu. Gadis itu kemudian berjalan menjauh, melewati pagar kecil yang terbuat dari kayu dan berjalan di lorong kecil menuju jalan besar di ujung sana yang dilalui kendaraan yang bisa membawanya ke sekolah.


***


Adara melangkah turun dari bus setelah membayar, gerbang megah dengan papan pengenal terbuat dari keramik bertuliskan "SMA EVANO" tergantung di atas gerbang yang sedang dilalui siswa-siswi. Adara melangkah pelan melewati gerbang, memperhatikan keadaan sekolahnya yang mulai ramai pada jam ini, padahal masih terlalu pagi untuk berada di sekolah.


Semua siswa yang ada di sekitar gadis itu memandangnya kagum, tapi tidak pelak ada juga memandangnya tidak suka dengan terang-terangan, juga siswa yang acuh tak acuh dengan pemandangan wajah rupawan karena merasa sudah tidak asing lagi di kawasan Sma Evano. Sma suasta yang sudah berdiri dari tahun 2009 dengan fasilitas lengkap, walaupun masih terbilang sekolah baru, tapi Sma Evano sudah banyak melahirkan siswa-siswa yang tidak hanya berpotensi di bidang akademik tetapi juga bidang olahraga. Semua siswa yang bersekolah di Sma Evano adalah siswa yang memang memiliki potensi di atas rata rata, mereka harus melalui test jika ingin dikatakan sebagai siswa Sma Evano yang tidak bisa dikatakan mudah, mereka harus melewati test tulis tiga kali, test kebugaran dan keahlian di bidang olahrasa, dan terakhir test wawancara.


Adara memasuki kelasnya yang sudah ramai dengan beberapa siswa, ia tersenyum ke arah gadis yang terlihat sedang sibuk menyalin sesuatu ke bukunya.


"Selamat pagi, Ra!" sapa seorang siswa yang duduk di belakang, menyengir ke arah Adara yang baru saja tia di bangkunya.


"Pagi, Lang," kata Adara tersenyum kemudian menghampiri gadis yang sedang menyalin itu.


"Sandra, lagi apa?" katanya, mencondongkan tubuh untuk melihat buku tulis sahabatnya itu yang penuh dengan angka-angka dan rumus-rumus atom.


"Jangan ganggu gue dulu, lagi sibuk ini," kata gadis yang bernama Sandra tanpa melepaskan pandangannya dari buku di depannya.


Adara menegakkan tubuhnya, berbalik ke siswa yang menyapanya tadi. "Galang, ke kantin, yuk? gue lapar."


Galang yang tadinya sibuk dengan ponselnya, mengangguk dan menghampiri Adara. "Ayo, kebetulan gue tidak sarapan tadi."


"Ish.. dibilang jangan ganggu," sahut Sandra dengan kesal, menutup bukunya dan menyimpannya di laci meja kemudian menatap kesal bergantian Adara dan Galang, yang ditatap hanya menatap balik heran Sandra.


"Siapa yang gangguin lo? Perasaan gue manggilnya Galang, deh." Kata Adara bingung.


Sandra memutar matanya, menghampiri Adara dan Galang kemudian merangkul kedua bahu sahabatnya itu. "kalian kayak tidak kenal gue aja."


Adara dan Galang terkekeh. Mereka sangat tahu sahabatnya satu itu, kalau soal makanan Sandra lah yang paling pertama, berbanding terbalik dengan tubuhnya yang hanya tulang terbalut kulit, layaknya seseorang yang tidak diberi makan setahun.


"Makanan terus aja yang ada di otak lo. Dasar tikus, tinggi kurus." celetuk Galang yang mendapatkan pelototan dari Sandra.


"Yeeee... lo ngeledekin gue? Tidak sadar, Lang? Dasar tiang listrik." Balas Sandra tidak mau kalah kemudian melepaskan rangkulannya pada Galang.


Mereka kemudian berjalan keluar kelas untuk ke kantin yang terletak di antara gedung kelas XI dan XII. Berjalan di koridor kelas IPA yang sedang ramai-ramainya dengan murid yang baru saja datang. Bel pelajaran pertama masih tiga puluh menit lagi berbunyi dan kantin sekolah sedang ramai-ramainya.


"Kalian mau makan apa?" sahut galang sesaat mereka mendapatkan meja kosong yang berada di sudut pinggir kantin.


"Gue yang ringan-ringan aja dulu, yang beratnya nanti deh jam istirahat,"kata Sandra yang sudah duduk di kursi.


"Gue juga deh. Pesenin rujak, ya, Lang. Minumnya air mineral," sahut Adara yang juga mengambil tempat duduk di samping Sandra.


"Jangan rujak. Perut lo nanti sakit, Ra. Mending gue beliin roti aja." Setelah mengatakan itu, Galang berjalan pergi tanpa mendengarkan protesan Adara dibelakangnya.


"Galang. Issss.. tapi kan gue mau makan rujak." Kata Adara kesal.


"Udah, Ra. Lo nangis seloyoran di lantai pun Galang nggak bakalan dengar lo, tuh cowok protektif banget sama kita." Kata Sandra yang sudah hapal prilaku Galang. Cowok itu memang memiliki sikap protektif kepada siapapun yang dekat dengannya, termasuk Adara dan Sandra.


"Isss... tapi nyebelin bangett. Gue nggak bisa mikir jadi Cica. Bisa-bisanya yah, tuh sepupu lo tahan sama cowok model Galang. Kita aja yang temannya, protektifnya minta ampun, bagaimana dengan Cica pacarnya?" Adara menggeleng memikirkan jika dia jadi Cica yang punya pacar seperti Galang.


"udah, nggak usah mikirin hubungan mereka. Mending mikirin tuh, hubungan lo sama kak Mario. Tuh cowok lo, gue liat tadi pagi bonceng cewek lagi."


Adara terdiam, dia juga tahu itu, setiap pagi Mario memboncengi cewek yang berbeda, dia yang berstatus pacarnya saja tidak pernah diboncengi lagi atau sekedar meliriknya sejak kejadian itu.


"Gue nggak mau bahas itu," sahut Adara. Mood nya langsung jatuh mendengar nama Mario.


"Tapi sepertinya lo harus," kata Sandra mengangkat dagunya kearah pintu masuk kantin.


Adara berbalik, tepat di pintu kantin seorang cowok jangkung masuk dengan kelompoknya yang sedang merangkul seorang cewek yang Adara tahu adalah adik kelasnya, cowok itu terlihat beda dengan yang lainnya, seperti Adara yang juga berbeda dengan kebanyakan temannya. Mario memiliki kulit putih dengan wajah tampan dengan mata sipit yang dikelilingi bulu mata lentik, hidung mancung, lebih mancung dari milik Adara, bibir tebal yang merah dan rambut cokelatnya.


Mario Farrel Gunandhya, siapa yang tidak kenal dengan cowok itu? Salah satu most wanted yang paling diincar di Sma Evano ini. Cowok yang menjabat sebagai ketua basket. Pacar Adara yang juga menduduki posisi cewek diincar oleh cowok-cowok, Bad boy, cowok perusuh di Sma ini, ditakuti oleh sebagian besar cowok di sekolah. Kecuali satu cowok yang selalu nantangin, Azlan Aditya Evano, kakak kandung Adara.


Tapi karena suatu kejadian, mereka berdua, Mario dan Adara yang dahulu dijuluki pasangan teromantis. Sekarang, jangankan romantis, mereka jarang terlihat berdua. Mario yang sering mengacuhkan Adara, menganggap cewek itu tidak ada saat mereka berpapasan di koridor.


Mario menatap ke arah Adara yang juga menatapnya. Hanya pandangan tajam dan datar yang dilihat Adara, tidak ada lagi tatapan memuja dan cinta seperti dahulu. Cowok itu memalingkan wajahnya, meletakkan sebelah tangannya di bahu cewek yang duduk di sampingnya.


"Nih makan, gue baik kan jadi teman lo berdua." Adara menatap roti yang diletakkan Galang di depannya dengan segelas air mineral. Nafsu makannya sudah tidak ada, sekarang dia hanya ingin kembali ke kelas dan menenggelamkan kepalanya di kedua lengannya.


"Lo kenapa?" tanya Galang yang sudah duduk di depan Adara dan Sandra yang memberi kode ke arah keributan di sudut kantin membuat Galang berbalik dan langsung mengerti dengan apa yang dia lihat.


"Gue ke kalas duluan." Sahut Adara malas kemudian berdiri.


"Lo nggak makan?" tanya Galang yang sudah membuka bungkus roti untuk Adara.


"Enggak, Lang. Gue nggak nafsu. Gue duluan, yah."


Sandra memegang bahu Galang yang ingin menghentikan Adara. "Biarin, Lang. Dia tuh butuh sendiri."


Galang menghembuskan nafas keras, menatap Adara yang menjauh dan menghilang di balik pintu kantin.


Mario terus memperhatikan Adara yang berjalan menuju pintu kantin. Cewek itu melewati meja yang dia tempati dan teman-temannya, Mario mengeratkan rangkulannya pada cewek di sampingnya. "Nanti malam lo ada di rumah kan, Ra?"


Mario sempat melihat wajah terkejut Adara, diperhatikannya wajah cewek itu yang terlihat pucat. "Gue ke rumah lo nanti malam, Vira? Bolehkan?" Mario sengaja menaikkan volume suaranya.


"Eh? Kak Mario mau ke rumah Vira? Aku nggak kemana-mana kok nanti malam. Clarisa juga ingin ketemu lagi sama Kakak, katanya kangen." Kata cewek berambut bob itu sambil tertawa.


Mario diam melihat wajah pias Adara yang sudah berjalan menjauh. punggung cewek itu terlihat rapuh di mata Mario. Cowok itu menghela nafas dan kembali larut oleh percakapan unfaidah teman-teman segengnya sekaligus sahabatnya.


"Lo mau ngapain di rumah Vira, Rio?" sahut Arvin penasaran yang duduk di depan Mario.


"Lo berdua jangan-jangan mau berbuat yang enggak-nggak," celetuk Bimas duduk di samping Arvin. Cowok itu kemudian mengaduh saat Mario memukulnya dengan botol air yang masih terisi penuh.


"Sembarangan lo kalau ngomong," kata Mario, melepaskan rangkulannya pada Vira. "Gue becanda. Gue mau lihat reaksi Adara."


"Hah Adara?" Farrel yang dari tadi sibuk dengan games di ponselnya mendongak menatap Mario penasaran.


Mario mengangguk. "Dia tadi lewat."


Arvin, Bimas dan Farrel ber-oh bersama.


"Lo mau tau kalau Adara masih sayang? " tanya Arvin lagi.


Mario hanya mengedipkan bahunya kemudian membuka botol air mineral yang tadi dipakainya untuk memukul kepala Bimas dan meminumnya hingga tersisa setengah botol.


"Gue kok kasihan sama Adara, ya? Cantik-cantik gitu malah dicuekin lo," Ujar Bimas. "Kalau lo udah bosan, mending kasih sama gue Adara nya. Mayanlah buat tangan gue nggak lumutan lagi."


"Apaan sih lo, sekira Adara barang lo minta-minta kayak gitu, " Sahut Farrel yang sudah berhenti dengan games online. Cowok itu kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celana maroonnya. "Mending sama gue ajalah. Gue ajakin main games kayaknya seru deh."


"Yeee... Rel kereta ****," Alvin menoyor kepala Farrel membuat cowok itu mendelik ke arahnya. "Mending sama gue aja. Gue kan goodboy. Langsung gue bawa ke KUA tuh Adara. Cewek cantik nggak boleh dianggurin terlalu lama, nanti lumutan kayak gigi lo, Mas."


"Sembarangan lo kalau ngomong." Bimas mendengus tidak suka.


Mario berdiri membuat teman-temannya menatap cowok itu bingung, begitupun Vira. "Gue nggak bakalan lepasin Adara."


Singkat, padat, dan jelas membuat ketiga cowok itu bungkam. Mario kemudian berjalan meninggalkan kantin.


***


"Adara!" panggil seseorang dibelakang cewek itu membuatnya berhenti dan menoleh kebelakang. Adara terkejut melihat Mario yang berjalan ke arahnya dengan pandangan intens hingga cowok itu tepat berada di depannya.


"A..ada apa, Rio?" tanyanya gugup.


Mario hanya menatapnya dalam kemudian membuang muka. "Dari mana lo kemarin?" tanyanya ketus.


"Kemarin?" Adara menyahut sambil berpikir kemana dia kemarin. "kemarin itu.... Aku pergi ke mall untuk beli persiapan pensi."


"Sama siapa?"


"Sama Kak Aksa." Jawab Adara.


Mario memandangnya dingin membuat Adara sedikit menciut. "Kalau mau ganjen nggak usah sama cowok lain. Jadi cewek kok gatel banget."


Adara terkejut, tidak habis pikir dengan kalimat yang Mario lontarkan. "M..maksud kamu? Aku nggak ganjen kok sama Kak Aksa."


"Emang gue pikirin? Minggir lo gue mau ke kelas Vira," Kata Mario kasar.


Adara terdiam, menggeser tubuhnya ke samping dan membiarkan Mario lewat. Cewek itu kemudian terdiam. Vira? Cewek yang dirangkul kak Mario tadi?


"Hubungan kamu dengan Vira apa? Kok romantis gitu?" tanya Adara pelan tapi masih bisa didengar oleh Mario yang baru beberapa langkah di belakangnya. "Pacar kamu kan aku. Kenapa mesranya sama cewek lain sih?" Adara menahan rasa sakit di hatinya menunggu jawaban dari Mario sambil berusaha membendung air matanya.


"Kamu nggak nganggep aku pacar, ya? Terus ngapain kita pertahanin hubungan kita?" tanyanya lagi.


"Udah nggak usah ngomel. Tenang aja, lo masih pacar gue, kok."


Setelah mengatakan itu, Mario melanjutkan langkahnya meninggalkan Adara yang memperhatikannya dengan mata terluka.