S T A Y

S T A Y
Part 19. Sang Penguasa SMA Evano



"Lo mau pesan apa?" Tanya Galang kepada Adara yang duduk di kursi kantin. Cowok itu masih saja dengan ekspresi datar nya saat menatap Adara.


"Seperti biasa aja." Sahut Adara. Cewek itu dengan hati-hati meletakkan kedua tangannya di atas meja, takut luka nya tersentuh kerasnya meja tersebut. Sudah tiga hari semenjak kejadian Adara dan Adira, tangan Adara sudah mendingan sekarang, tapi masih terasa perih jika bersentuhan dengan sesuatu.


Galang mengangguk kemudian berlalu. Adara melihat cowok itu mengantri di gerobak Mie Ayam yang antriannya lumayan panjang. Keributan dari arah pintu kantin membuat Adara berbalik, memperhatikan Mario dan teman-temannya yang baru saja berjalan masuk dengan hebohnya. Vira juga ada di sana, berjalan di samping cowok itu. Dengan cepat, Adara memalingkan tatapannya saat disadari Mario sedang mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kantin. Cowok itu menatap ke arahnya. Adara merasakan itu, walau matanya tidak berani menatap ke bagian paling sudut kantin ini. Tidak lama terdengar langkah kaki seseorang yang mendekat membuat jantung Adara berdetak lebih cepat. Apalagi menyadari bahwa langkah kaki itu berasal dari sudut kantin.


Adara membulatkan mata melihat Mario yang duduk di kursi depannya, wajahnya jelas terkejut. Tidak menyangkah bahwa Mario rela duduk bersamanya lagi. "Bagaimana keadaan lo?" sahut cowok itu sambil menatap datar Adara.


"Udah mendingan, kok." Jawab Adara kemudian tersenyum kaku.


Mario mengangguk, cowok itu menatap wajah Adara intens membuat cewek itu gelagapan sendiri. Matanya mengedar ke segala arah, berusaha tidak menatap balik tatapan Mario yang tidak berpindah dari wajahnya.


" Kenapa?" Akhirnya Adara mengeluarkan suara untuk memecah kegugupannya sendiri.


"Kenapa apanya?" Jawab Mario.


"Kenapa lo di sini? Nggak gabung sama teman lo? Um... Pacar lo juga?" Adara membasahi bibirnya yang terasa kering saat mengucapkan kata terakhir. Adara menatap sekilas Mario yang masih saja memperhatikan dirinya.


"Lo pulang sama siapa nanti?" Tanya cowok itu membuat Adara menatapnya.


Adara mengerjap, tidak menyangkah Mario akan bertanya seperti itu. "Umm... Sama Kak Aksa?" Adara memperhatikan ekpresi Mario yang terlihat datar. Tidak ada ekspresi tidak suka di wajah cowok itu.


"Baguslah. Pulang nanti, lo langsung pulang. Jangan lama-lama di sekolah. Di persimpangan depan nanti ada tauran. Anak Bakti nantangin gue dan teman gue sepulang sekolah nanti, jadi lo langsung pulang, oke? " Kata Mario panjang lebar.


Tanpa Adara sadari tangannya sudah bergerak mencengkram tangan kanan Mario yang berada di atas meja. "Lo nggak boleh berantem sama Purnama!" sahut Adara intonasi suara yang lumayan keras hingga siswa di sekitaran berbalik menatap mereka.


Mario jelas terkejut dengan pergerakan spontan Adara, cowok itu mati-matian menahan senyum saat melihat wajah Adara yang terlihat sangat khawatir.   "Kenapa? Lo takut mantan lo mati di tangan gue?"


Adara cemberut mendengar perkataan Mario. "Lo juga mantan gue, kan." cewek itu belum sadar akan perbuatannya tadi.


Mario terdiam. Cowok itu mengerjapkan mata. "Eh, iya." sejenak, Mario merasakan perasaannya tidak nyaman mendengar Adara berkata seperti itu. "Pokoknya lo langsung pulang nanti. Karena kalau lo nggak langsung pulang, lo mungkin bisa melihat mantan-mantan lo saling hantam." Mario mengangkat sebelah alisnya kepada Adara, kemudian tatapannya berpindah ke tangan kanannya yang masih digenggam oleh Adara dengan kuat. Adara yang menyadari hal itu langsung menarik tangannya.


"Maaf." cicit cewek itu sambil menahan malu.


Mario hanya mengedipkan bahu, berusaha memperlihatkan bahwa sentuhan itu tidak ada pengaruhnya pada dirinya, padahal jantung mereka berdua berdetak dengan kencang. Cowok itu dengan cepat mengubah ekspresi nya menjadi datar kembali. "Eh gue hampir lupa. Lo udah pernah lihat gue sama Purnama berantem. Saat lo keperjok sama dia." Ucap cowok itu sambil berdiri saat dilihatnya Galang yang berjalan ke arahnya.


"Lo salah paham waktu itu." Kata Adara dengan suara berbisik. Menatap penuh harap Mario yang berdiri di depannya. Jauh di dalam hatinya Adara masih ingin bersama Mario.


"Gue nggak butuh penjelasan lo." kata cowok itu. "Hanya itu yang mau gue kasih tau. Gue mau samperin pacar gue dulu. Bye Mantan." Mario menatap datar Galang yang hampir tiba, sebelum berbalik dan kembali ke kelompok cowok itu.


"Lo diapain sama Mario?" Sahut Galang sambil meletakkan nampan di depan Adara.


Adara menggeleng, matanya masih menatap Mario yang baru saja tiba di ujung sana. Cowok itu menggeser Bimas yang tadi duduk di samping Vira, Mario dengan sengaja merangkul Vira yang cemberut menatapnya. Cowok itu mengacak rambut cewek itu membuat Adara menghembuskan nafas dengan keras. Mata Adara memanas saat melihat Mario mencium kepala cewek itu membuat Vira tersenyum lebar. Pandangan mereka bertemu, dengan cepat Adara mengalihkan mata ke arah Galang yang sudah duduk di depannya. Dada nya panas. Nafsu makannya hilang seketika. Entah sejak kapan nafas ya berubah memburu.


"Lo kenapa? Lo sakit?"


"Tidak, Lang. Emosi gue kurang baik sekarang." Jawab cewek itu.


"Makan!" Galang menatap tajam Adara. Galang tahu walau Adara belum memberitahunya. Bahwa cewek itu kehilangan nafsu makannya. Dan penyebabnya sangat dia ketahui.


***


Seperti yang dikatakan Mario tadi, sepuluh menit setelah bel pulang berbunyi, deru motor yang berisik terdengar bersahut-sahutan di jalan sebelum perempatan Sma Evano. Terlihat sekelompok siswa menghadang tepat di perempatan, Mario berdiri di depan kelompok itu dengan Alvin, Bimas dan Farrel yang berada di sebelah kanan kirinya. Wajah cowok itu tetap datar saat sekelompok motor itu berhenti sepuluh meter di depan mereka. Seorang siswa berseragam putih abu-abu turun dari motor kebesaran nya diikuti satu persatu siswa dibelakang ya.


" Well, Well, Well." Purnama bertepuk tangan, menatap remeh Mario yang berdiri gagah di depannya. Aura cowok itu langsung menguar tapi tidak cukup membuat Purnama berbalik pergi.


"Lo cari mati datang ke sini!" Teriak Alvin.


Purnama hanya tertawa. "Tenang, Bro! Gue datang kali ini nggak ngajak lo semua untuk ribut." cowok itu mengedipkan bahu.


"Bilang aja lo takut! Dasar banci! Mending lo pade kembali ke emak kalian! Minta susu sana!" Bimas tertawa, diikuti teman mereka. Mario tetap diam menatap Purnama yang wajahnya mulai memerah.


Purnama menggertakkan gigi, mencoba menahan emosi nya. Tidak sekarang, atau rencana yang sudah dia pikirkan jauh-jauh akan gagal begitu saja jika dia terpancing emosi. "Well. Gue ke sini cuma mau nantangin Bos lo doang. Bukan lo, kurcaci."


Bimas hampir saja maju menerjang Purnama jika saja Mario tidak menahan bahu cowok itu.


"Katakan apa mau lo." Ujar Mario dingin.


Purnama menyeringai. "Gue dengar lo sama Adara udah nggak ada apa-apa lagi, kan?"


Mario menyipitkan matanya, kedua tangan cowok itu mengepal saat mendengar Purnama mengucapkan nama Adara apalagi saat melihat Seringai cowok itu yang mengusik ketenangan Mario yang dia bangun sedari tadi.


"Kalau lo bisa melewati tantangan gue kali ini. Sebagai imbalan nya gedung kosong dibelakang Sma Evano jadi milik lo."


"Bos." Ujar Farrel kepada Mario. Mario mengangguk tanda mengerti maksud Farrel. Mario satu pemikiran dengan Farrel, mungkin semua cowok yang berada di belakangnya. Dia tahu betapa pentingnya gedung itu untuk mereka. Setelah dua tahun yang lalu saat Mario masih belum menjadi ketua kelompok ini, saat kelompok masih dipegang oleh ketua sebelumnya, Alber. Mereka kehilangan gedung yang juga sebagai markas mereka karena Alber yang kalah dari tantangan yang juga diberikan ketua Bakti sebelumnya hingga gedung tua itu jatuh di tangan kelompok Bakti.


"Tapi sebaliknya, kalau lo kalah gue mau lo berlutut sambil cium kaki gue!" Ucap Purnama sambil menatap Mario remeh.


"Lo ternyata masih punya nyali lawan gue." Mario maju satu langkah. "Katakan tantangannya."


Purnama menyeringai. Mario menatap tajam cowok itu saat Purnama mengatakan tantangannya. Tangan cowok itu mengepal saat mendengar satu persatu kata yang keluar dari mulut arogan di depannya dan senyum kemenangan Purnama saat menyelesaikan perkataannya. Wajah Mario memerah menahan emosi nya.


"Bagaimana?" Ujar Purnama sambil tersenyum miring, tidak gentar dengan tatapan tajam Mario yang sudah diliputi emosi.


"B... Bos.." Farrel memperingati.


"Gue tahu kali ini gue pasti menang. Tampang lo aja yang sangar tapi hati lo hello kitty." Purnama tertawa kencang. "Sini cium kaki gue!"


Mario maju dengan perlahan, kepalan tangan cowok itu mengeras. Purnama tertawa, melihat kemenangan berada di pihaknya kali ini. Tidak sia-sia rencana yang dia buat dengan kelompoknya. Untuk pertama kalinya mereka menaklukkan Mario dan kali ini sangat gampang. Hanya dengan mengusik perasaan cowok itu, dengan mudahnya dia menyerah.


Purnama terkejut saat mendapatkan pukulan keras di rahangnya. Cowok itu bahkan sampai tersungkur di aspal.


"Lo emang brengsek!" Desis Mario sambil meremas kerah baju Purnama. Sekali lagi hantaman Purnama dapatkan. "Dasar Sampah! Anjing lo!" Umpat Mario kasar. Dia masih saja memukuli Purnama, memukul nya dengan luapan emosi. Dia sangat marah sekarang. Marah pada Purnama. Pada Kelompok Bakti. Tapi dia lebih marah kepada dirinya sendiri saat menyadari dia tidak bisa menolak tantangan cowok yang sudah babak belur di bawahnya ini, ego nya sangat tinggi untuk menolak dan mencium kaki Purnama, tanggung jawabnya pada kelompok membuat dia mengambil langkah yang salah.


"Gue terima tantangan lo, brengsek. Lo belum kenal gue. Dan saat gue menangkan tantangan ini seperti tantangan basi lo yang lain," Mario menarik nafas nya kasar. "Tunggu sampai saat itu tiba, lo mati di tangan gue."


Mario berbalik, bermaksud meninggalkan kekacauan itu saat terdengar Purnama berbatuk dan meludahkan darah. "Tiga bulan! Gue kasih lo waktu tiga bulan untuk tantangan ini."


Mario menghentikan langkahnya.


"Gue pastikan saat itu lo akan berlutut di kaki gue." Seringai Purnama kemudian meringis menahan sakit di wajahnya. Mario melanjutkan jalannya kemudian menghilang di kerumunan kelompoknya sendiri.


"Sial! Gue kira gue akan mati hari ini." Desis Purnama sambil mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah.