S T A Y

S T A Y
Part 15. Bukan siapa-siapa



"Cepat banget move nya. Gue aja yang pacaran sebulan sama Indah nggak bisa Move-on. Rasanya nggak enak liat mantan jalan sama gebetannya."


🌸 S T A Y 🌸


Mario tidak beranjak dari atas motornya saat dia berada di parkiran sekolah dengan teman-temannya, dan tentu saja Vira duduk di belakang cowok itu merangkulnya. Cowok itu menatap datar motor hitam yang baru saja melewati gerbang sekolah. Mario terus memperhatikan sampai motor itu parkir tidak jauh darinya.


Adara turun dari motor Aksa. Menunggu sebentar Aksa yang tampak sibuk melepas helm.


"Maaf ya, Ra. Kayaknya hari ini gue nggak bisa antar lo sampai kelas. Gue harus ke Osis. Anak-anak udah nunggu. Gue juga nggak mau kena omel dengan kakak lo." sahut Aksa menatap Adara dengan pandangan bersalah dengan tangan kanannya sibuk memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan.


"Eh nggak apa-apa kok. Gue bisa sendiri ke kelas. Kak Aksa nggak usah khawatir."


Adara juga balik menatap Aksa. Cukup bersyukur masih ada yang memperhatikan nya saat semua orang menjauh. Dia merasa cukup dengan adanya Aksa dan Galang.


Btw Galang tidak biasanya tidak menunggu Adara. Cowok itu tidak terlihat di parkiran sekolah pagi ini. Adara mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Galang tapi tatapan nya malah bertemu dengan tatapan datar Mario beserta teman-temannya.


"Oke. Lo pake headset aja biar selama jalan lo nggak usah dengar yang macam-macam. Lo bawa headset, kan?" tanya Aksa membuat pandangan cewek itu kembali ke cowok itu. "Kalau nggak, ini ada punya gue."


"Kak Aksa nggak usah khawatir. Gue punya. Udah sana. Nanti Kak Azlan bisa marah kalau Kak Aksa telat."


Adara mendorong sedikit tubuh Aksa untuk menyuruh nya pergi. Azlan tidak suka ada yang main-main dengan peraturan nya sebagai ketua Osis.


"Oke, Bye. Nanti gue jemput saat istirahat." ujar Aksa sambil mengangkat tangan kepada Adara.


"Iya."


Adara berbalik dengan cepat saat melihat Aksa juga berbalik dan melangkah pergi. Adara berjalan menuju kelasnya berusaha untuk mengabaikan tatapan yang masih saja mengikutinya. Adara tidak memakai headset seperti yang dikatakan Aksa kepadanya. Dia pikir gosip tentang dirinya di sekolah sudah padam walaupun asap kadang masih terlihat. Seperti tatapan-tatapan beberapa siswa masih menuju padanya.


"Elahh.. Selow, Pak bos. Liatin mantan sampai segitunya." celetuk Alvin. Tapi tidak membuat Mario goyah menatap tajam Adara yang berjalan di koridor kelas sepuluh.


"Mantan tambah cantik, ya, Pak Bos." sahut Bimas menggoda Mario sambil terkekeh membuat Alvin dan Wilona yang saling merangkul ikut menggoda Mario.


"Makanya kalau cinta dipertahanin bukannya dilepas. Lihat aja, langsung ada orang yang nyosor. Emang penyesalan di belakang. Gue tau kok rasanya Pak Bos." Alvin terkekeh melihat wajah emosi Mario yang juga menatapnya tajam.


"Udah. Nggak usah dipikirin. Aku bisa kok buat Kak Mario lupain Adara." kata Vira di belakang Mario dengan sebelah tangan terangkat untuk mengelus rahang cowok itu. Farrel yang mendengar itu mendengus dan kembali fokus dengan ponselnya.


Mario memindahkan tatapan kepada Vira yang menatap nya dengan senyuman. Cowok itu kemudian menyunggingkan senyum tipis. Walaupun tatapan nya masih datar.


"Gercap juga lo, Vir." sahut Farrel melirik Vira sebentar sebelum kembali dengan ponselnya.


"Bucin lo tau rasa." Wilona menatap sahabatnya.


"Biar. Sekarang kan aku sama Kak Mario pacaran." kata Vira tersenyum, menatap lembut Mario. "Aku siap kok melakukan apa pun untuk Kak Mario."


Rasanya masih seperti mimpi Vira pacaran dengan Mario. Sudah setahun dia suka kepada cowok itu tapi baru kali ini Mario meliriknya. Dari lama dia memperhatikan Mario dan Adara yang sudah berpacaran selama dua tahun tapi baru belakangan ini dia berani untuk mendekat kepada Mario saat melihat hubungan keduanya meregang. Vira melihat kesempatan untuk dirinya.


"Ya udah. Kita ke kelas. Bel udah mau bunyi." sahut Wilona dan bergerak turun dari motor Alvin. "Ayo, Vir."


Vira mengangguk. Setelah mencium pipi Mario dengan senyum malu-malunya, Vira dan Wilona meninggalkan mereka bertiga untuk ke kelas.


"Kok gue nggak suka sama Vira, ya?" kata Farrel yang sudah memasukkan ponselnya ke saku celana sekolah dan menatap serius ke Mario. "Emang Pak Bos udah move-on sama Adara?"


Mario diam.


"Cepat banget move nya. Gue aja yang pacaran sebulan sama Indah nggak bisa Move-on. Rasanya nggak enak liat mantan jalan dengan gebetan." kata Bimas baper. Suara cowok itu bahkan berujar pelan karena mengingat masa lalunya sendiri.


"Iya, ya. Mulut aja yang ngebet banget bilang move. Padahal hati nggak bisa." lanjut Alvin.


"Udah ada Wilona, Vin. Lo nggak bisa ingat masa lalu saat Lo udah sama cewek." Ujar Farrel. "Mending kita ke kelas. Lo pade baperan, ****. Makanya kayak gue dong yang nggak ada mantannya."


"Lo nggak ada mantan karena nggak laku. Jangan samain sama kita-kita." sahut Alvin. "Makanya jangan main games mulu."


Farrel mendengus, cowok itu beranjak turun dari motor. "Gue banyak yang suka. Tapi gue cuma suka satu cewek." katanya kemudian menatap intens Mario yang sedari tadi memperhatikan percakapan mereka dalam diam. "Lo udah Move-on dari Adara, kan?"


Mario masih saja diam. Duduk kaku di atas motornya.


"Kalau gue suka sama Adara Lo nggak marah, kan?"


Galang hari ini tidak masuk. Adara  duduk sendiri sepanjang pelajaran pertama sampai Bel istirahat pertama berbunyi. Satu hari tidak ada Galang sungguh terasa berbeda untuk Adara. Tidak ada lagi seseorang yang melindungi nya jika teman sekelas Adara mem Bully nya. Sandra bahkan hanya diam saja menatap dirinya saat Kinan Cs melabraknya, lagi.


"Heh! Anak sial lo nggak ada teman untuk ke kantin? Kite-kite mau ke kantin, lo nggak mau ikut?" Sahut Kinan berkacak pinggang di samping meja Adara.


"Kami baik loh mau ngajak lo ke kantin." Ucap cewek berambut pirang model Bob. Namanya Astrid. Dia juga blasteran. Tapi tidak seterkenal seperti Adara.


"Gue lagi nunggu Kak Aksa. Kalian duluan saja" ucap Adara ramah. Lain dengan Kinan yang sudah menatap jijik padanya. Bunyi notifikasi pesan membuat Adara melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja.


Kak Aksa.


Sorry banget, Ra. Gue nggak bisa ke kantin bareng lo. Gue dipanggil Pak Abraham buat bahas olimpiade bulan depan. Lo bisa sendiri, kan? Nanti gue nyusul.


Adara menghembuskan nafas membaca pesan Aksa. Baru aja dia mau membalas tapi ponselnya langsung dirampas oleh Astrid.


"Lo berani ngacangin kami?" ucap Kinan dengan suara yang berubah dingin.


"Oh pesan dari Kak Aksa. Katanya nggak bisa ngantin." sahut Astrid yang membaca pesan Aksa.


"Nah.. Sekarang nggak ada lagi alasan lo nolak gue ngajak lo ke kantin bareng." Kinan menyunggingkan senyum miring. Cewek itu melirik Astrid sebentar sebelum berbalik dan melangkah keluar kelas.


"Oke Anak pembawa sial. Ayo." kata Astrid sambil menarik Adara dan merangkul cewek itu untuk keluar kelas. "Eh Gita! Lo nggak ikut?" Panggil cewek itu kepada temannya yang lagi mojok dengan Nino.


"Gue ikutlah. Nggak mau lewati yang ini. Ayo, sayang." Ujar Gita kepada Nino di sampingnya. Adara hanya bisa menatap tidak nyaman Gita dan Nino yang berbisik sambil melirik ke arah nya. Cowok itu tersenyum miring menatap Adara.


Perasaan Adara tidak enak saat Kinan dan Astrid terkekeh tidak jelas. Adara tahu bahwa Kinan cs adalah tukang bully di angkatan nya. Cewek itu tidak segan melabrak siapa saja yang mengganggu dirinya. Walaupun mereka yang di bully tidak salah sama sekali. Begitupun Adara.


Mereka masuk ke kantin. Adara mengikuti langkah Kinan yang berjalan ke salah satu meja kosong yang cukup untuk menampung mereka. Mereka kemudian duduk.


"Lo mau pesan apa guys." seru Kintan.


"Seperti biasa." ujar Astrid yang diangguki oleh Gita.


"Gue mau makan bakso. Minumnya Es Teh jeruk." celetuk Nino yang berada di samping Gita.


"Oke."


Kinan mengangguk, cewek berambut hitam bergelombang itu kemudian menatap Adara.


"Pesanin gih.. Mie ayam dua, batagor satu, sama bakso juga satu. Minuman nya samain aja dengan Farel, ya?" ucapnya kepada temannya.


"Oke."


"Sip."


"Es Teh jeruk tiga. Lo yang traktir ya." Kinan menatap Adara yang terlihat bingung.


"G.. Gue?" Ucap Adara tidak yakin.


"Hai, Guys."


Kinan baru saja ingin mengeluarkan kata saat Adira datang dengan wajah songong cewek itu. Adira kemudian melirik Adara.


"Ih.. Ngapain nih anak sial gabung di sini? Pake acara tempati kursi gue lagi. Minggir Lo! Kursi kue jadi tercemar kesialan Lo nanti. Gue nggak mau ikut sial karena Lo."


Adara langsung berdiri. Dia hampir lupa kalau Adira termasuk dalam kelompok Kinan cs.


"Fer, bersihin gih tuh kursi. Gue takut ada kuman yang tertinggal." ujar Adira jijik memandang kursi nya.


"Ngapain Lo masih berdiri di situ? Lo nggak pergi mesan?" delik Kinan yang melihat Adara masih berdiri diam di sampingnya. "Oh iya, Dir. Lo mau pesan apa gih? Gue punya babu sehari ini." tunjukkan kepada Adara yang membuat mereka semua tertawa termasuk Adira. "Oh Iya, tumben lo disini. Biasanya juga di kafe sekolah."


"Gue pesan Mie ayam aja deh. Kakak gue lagi sibuk ngurus Osis nya. Gue malas makan sendiri." kata Adira menekankan kata Kakak. "Ya udah. Sana lo pergi."


Adara mengangguk diam. Dia kemudian berbalik untuk memesan makanan. Hatinya tercubit saat mendengar perkataan Adira. Sikap mereka semua yang merendahkan Adara membuat cewek itu merasa terbebani. Dia merasa dirinya tidak bisa ngapa-ngapain tanpa Aksa dan Galang.