
Adara dan Aksa masuk ke Mall besar di kota. Cowok itu mengajak Adara untuk makan terlebih dahulu mengingat Film yang akan mereka nonton masih satu jam lagi waktu pemutaran nya. Aksa menarik Adara masuk ke Restoran yang ada di Mall itu.
"Mau pesan apa?" tanya Aksa setelah mempersilahkan Adara duduk.
"Samain aja kayak punya kakak." kata Adara. Aksa mengangguk kemudian berlalu untuk memesan.
Adara memperhatikan kafe. Kafe ini bernuansa Eropa dengan hiasan antik dan pencahayaan yang redup di beberapa bagian. Meja Bar berada di pinggir ruangan dengan Rak-Rak yang penuh minuman juga lampu hias yang tergantung di atas meja Bar.
Aksa kembali setelah memesan.
"Kak, gue mau mampir di tokoh buku juga nanti." ujar Adara saat Aksa duduk di depannya.
"Oke. Gue temenin." kata cowok itu sambil bergerak duduk di kursi depan Adara
Adara menatap ke arah pintu saat mendengar lonceng kecil di atas pintu kafe berbunyi. Seorang cowok masuk dengan menggandeng seorang cewek. Adara yang melihat itu menahan nafas.
Itu Azlan. Kakaknya.
Dengan pacarnya Rahel.
Azlan belum menyadari keberadaan Adara dan Aksa. Cowok itu memilih meja yang agak jauh dari meja yang Adara dan Aksa tempati, sebelum meninggalkan Rahel untuk memesan.
Adara membuang muka. Meremas rok sekolahnya. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Azlan di sini. Wajah dingin cowok itu menghilang saat bersama Rahel digantikan dengan sesosok cowok hangat dengan senyum di wajah tampannya.
Rahel dan Adara cukup dekat. Sangat dekat malah. Adara bingung mengapa gadis itu ada di Indonesia.
Bukankah Rahel berada di Amerika?
Gadis itu bersekolah di sana. Dan hanya akan pulang saat libur sekolah atau libur akhir tahun. Dan ini masih pertengahan semester, jadi kenapa Rahel berada di sini?
"Lo kenapa?" Adara tersentak saat Aksa menepuk tangannya. Adara tidak menyadari kapan pelayan membawakan mereka makanan. Didepan nya sekarang sudah ada dua Burger jumbo dan Pizza dengan minuman Jus. "Ayo makan. Jangan ngelamun mulu."
Adara terdiam sebentar. Menatap makanan di depannya. Adara meneguk ludah, sudah lama dia tidak makan seperti ini. Ini adalah salah satu makanan kesukaan nya. Dulu. Sebelum kejadian itu terjadi.
"Eh, iya, kak." Adara tersenyum tipis. Meminum sedikit jus nya sebelum meraih Burger untuk dimakan.
Aksa menatap Adara saat cewek itu menggigit burgernya. Adara tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya saat bagian kecil burger masuk ke dalam mulutnya. Aksa tertawa kecil saat melihat sebagian wajah Adara tertutupi roti berisikan daging dan sayur-sayuran itu. Adara menyergit, hanya gigitan kecil yang bisa dia ambil tapi rasanya sungguh luar biasa hingga membuat Adara mendesah.
"Lo lucu dengan Burger itu." ujar Aksa, cowok itu menggigit Pizza nya hingga setengah. "Mulut lo terlalu kecil untuk Burger itu."
Adara menatap Aksa, menelan burgernya. "Burger ini aja yang terlalu besar. Eh, Makasih, ya buat makanannya. Gue udah lama nggak makan semewah ini." kata cewek itu sambil tersenyum lebar sebelum kembalk menggigit Burgernya.
Aksa sekali lagi tertawa. Tangannya terulur untuk mengajak rambut Adara karena gemas. "Sellow aja. Gue siap traktir lo kok."
Adara mengangguk. Dia meletakkan setengah Burgernya yang sudah digigitnya di nampan sebelum mengambil sepotong Pizza.
"Pelan-pelan makannya. Gue nggak ambil kok." Aksa berujar geli.
Adara tertunduk malu. Dia rakus makan dan cenderung melupakan sekitarannya saat dia sudah berhadapan dengan burger.
"Ma.. Maaf, kak." kata Adara malu.
Adara mengangguk antusias. Selama makan, tidak ada yang dipikirkan nya. Dia bahkan lupa dengan keberadaan Azlan dan Rahel. Adara sudah menghabiskan Pizza nya kemudian berlanjut ke burgernya.
"Gue nggak nyangka makanan itu muat di perut kecil lo." ujar Aksa kagum menatap perut Adara sebelum kembali menatap wajah cewek itu.
"Hehehe.. Gue lapar, kak. Dan udah lama banget nggak makan seenak ini." Adara tersenyum. Dia menggeser Jus di depannya menggantikan piring kotor.
"Adara?"
Adara mendongak. Senyum cewek itu langsung hilang saat melihat Rahel berdiri di samping meja nya.
"Gue nggak salah lihat, kan. ADARA!" pekik gadis itu kemudian langsung memeluk Adara dengan erat.
"Gue kangen banget sama lo." sahut Rahel saat dia memeluk erat Adara.
Adara hanya diam membeku. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Apalagi saat melihat tatapan Aksa di meja sana yang menusuk. Adara dengan cepat mengurai pelukan. Dia sangat paham jika Azlan tidak suka melihatnya bersama Rahel.
"Kak Rahel." Adara tersenyum menatap cewek cantik di depannya.
Rahel tersenyum lebar. Binar di mata cewek dengan rambut cokelat bergelombang itu tidak bisa disembunyikan. "Gue kangen banget sama lo. Kemarin gue ke rumah tapi lo nya nggak ada. Malah sepupu lo yang menyebalkan itu yang ada." ujar Rahel cemberut. "Lo dimana sih?"
Adara bergerak tidak nyaman. Dia tersenyum kaku kemudian melirik Aksa. "Gue tinggal di rumah teman."
Rahel mengangguk. Cewek itu kemudian menatap Aksa. "Siapa nih? Pacar lo? Lo nggak sama Mario lagi?"
"Eh. Bukan, ini teman aku kok kak." kata Adara salah tingkah.
Rahel menatap lekat Aksa. Cewek itu mengangguk saat sesuatu dari Aksa menyenangkannya. Apa lagi kalau bukan wajah. "Ganteng. Tapi lebih ganteng Mario."
Aksa langsung menatap Rahel dengan dahi mengerut. Dia hanya diam saat Rahel menarik tangan Adara. "Ayo kita ke meja sana. Ada Azlan. Gue kangen sama lo berdua. Sekalian juga.." Rahel menatap Aksa. "Siapa nama lo?"
"Aksa." jawab cowok itu. Aksa menatap Adara yang terlihat gelisah tapi Rahel tidak menyadari kegelisahan itu.
"Oke. Aksa. Ayo gabung di meja gue. Gue mau cerita-cerita." Rahel menarik paksa Adara tapi Aksa langsung menahan tangan cewek itu.
"Nggak bisa. Kami mau nonton." tolak Aksa kemudian berdiri dan menarik Adara. Rahel menatap memprotes Aksa tapi tatapannya berubah berbinar kembali saat mendengar Aksa.
"Oke. Kami juga ikut. Tunggu dulu. Gue mau panggil Azlan."
Rahel berjalan menghampiri Azlan. Terlihat mereka berbicara. Sempat ekspresi Azlan tampak protes. Tapi Rahel memaksa cowok itu dengan menarik tangannya.
Aksa menarik Adara mendekat. Rahel nyegir sambil menggandeng lengan Azlan. "Ayo."
Adara menatap sebentar Azlan tapi cowok itu langsung membuang wajah. "Gue mau bayar makanan dulu." jawab Azlan.
"Gue juga." Aksa yang menyahut. Mereka berdua berjalan meninggalkan Adara dengan Rahel yang terkekeh.
"Mereka berdua lucu." celetuk Rahel.
Adara diam. Setelah mereka selesai dengan membayar pesanan. Mereka keluar kafe berjalan ke lantai atas di mana bioskop berada.