S T A Y

S T A Y
Part 27. Putri dan Kesatrianya



Adara langsung mendorong Mario menjauh. Ditatapnya cowok itu dengan kedua mata birunya yang cerah. Rona merah samar-samar terlihat di kedua pipi cewek itu.


"Apaan sih...."


Mario terkekeh, tangan cowok itu mengacak gemas rambut Adara. "Gue serius. Lo nggak perlu jawab sekarang sih."


Mario menggerakkan tangannya menyelipkan rambut merah Adara ke telinga. "Gue cabut. Pulang nanti bareng gue. Mau nagih janji yang kemarin di lapangan basket."


Mario memajukan wajahnya mengecup pipi Adara saat cewek itu akan protes. "Nggak boleh protes kali ini. Lo udah nolak gue kemarin malam. Nanti pulang sekolah gue jemput di kelas lo! Bye.... Calon pacar!"


Setelah mengatakan itu, Mario beranjak pergi meninggalkan Adara yang berdiri terpaku karena perlakuan Mario. Dengan pelan tangannya bergerak naik menyentuh pipinya yang tadi sempat dikecup Mario.


Wajah Adara memerah.


Jantungnya terdengar berdetak kencang.


Dengan perlahan senyum terlukis di bibirnya.


Rasanya Adara ingin memekik merasakan perasaan euforia mendapatkan perlakuan seperti itu dari Mario. Adara menepuk-menepuk pipinya beberapa kali mencoba menyadarkan dirinya sendiri.


Pertanyaan mengapa sikap Mario belakangan ini sangat berbeda? Mario kembali ke Mario yang dulu sebelum kejadian itu.


Adara memejamkan matanya sejenak. Saat dirasanya dirinya lumayan tenang, cewek itu memutuskan untuk keluar perpustakaan dan kembali ke kelasnya.


Di perjalanan kembali ke kelas, Adara menghentikan langkahnya saat melihat Kinan Cs berjalan di ujung koridor ke arahnya. Di sana ada Adira yang berjalan paling depan dengan Kinan di sampingnya. Tatapan mereka bertemu yang membuat Adara meneguk ludah. Adira yang melihat Adara terdiri terpaku dengan wajah piasnya menyunggingkan senyum sinis.


Adara menundukkan kepalanya kemudian mengambil langkah pelan. Cewek itu meremas roknya kuat bersamaan dengan jarak di antara mereka menipis.


"Hai... Anak sial?" Adira menghadang langkah Adara. "Mau ke mana lo?"


"Ke kelas," ucap Adara pelan.


"Tumben lo sendirian. Mana kesatria kuda lumping lo?" sahut Kinan yang menghadirkan kekehan teman-temannya. "Anak sial kayak lo sebenarnya nggak cocok di antara pangeran sekolah. Udah pembunuh ehh sok mau jadi cinderella dia."


Adira tersenyum kemenangan saat melihat Adara yang terus menundukkan kepalanya, takut menatap ke arahnya. Inilah yang diinginkan Adira sejak dulu, dia sudah muak melihat Adara yang selalu dipuji dan disayangi oleh orang-orang sekitarnya, sekarang waktunya menghancurkan hidup cewek itu.


Dia akan membuat Adara sengsara selama dia tinggal di rumahnya. Selama Adara masih ada dalam jarak radiusnya. Dia akan membuat hidup gadis itu tidak akan baik-baik saja.


Dan dia hampir berhasil sekarang...


Hanya menunggu beberapa saat untuk Adara menjadi buih di laut dan setelahnya menghilang dalam hitungan detik.


Adira maju selangkah, tangannya terangkat untuk menyentuh rambut kemerahan Adara, memainkannya dengan memutar-mutar jari telunjuknya. "Lo nggak pantas di sini. Tempat lo bukan di sini. Lo seharusnya menjauh dari hidup gue dan Kakak gue! Gue muak liat muka polos lo ini, ******!"


Adira tersenyum miring, saling melirik dengan Kinan, Gita dan Astrid yang juga tersenyum miring. "Ikut gue!"


Adira tidak memgindahkan. Cewek itu tetap menyeret Adara diikuti dengan Kinan cs di belakangnya.


Bahkan ada diantara mereka yang meringis melihat Adara yang ditarik paksa mengikuti kelompok itu. Simpati di hati mereka bahkan tidak membuatnya menghentikan aksi tersebut. Pembully-an di Sma Evano memang sudah tidak asing lagi, setiap hari ada saja penindasan yang terjadi di sana. Mereka menindas yang lemah untuk dijadikan bahan lolucon dan kesenangan semata tanpa peduli akibat nya. Bukan hanya Kinan Cs saja yang berulah, beberapa dari mereka yang merasa levelnya berada di atas.


Itulah mengapa mereka bersikap acuh tak acuh, cenderung mengabaikan. Karena mereka tidak memiliki kekuasaan sebesar itu untuk menghentikan hal tersebut.


Adira membawa Adara ke tempat yang lebih sepi. "Ah.. Sakit, Adira. Lepas!" Cewek itu menarik Adara dan menyeretnya dengan paksa hingga mereka sampai ke koridor gedung utara yang dalam tahap renovasi. Tidak ada satu orang pun yang berlalu lalang di koridor ini.


Adira mendorong Adara hingga terjerembab di lantai. Adara meringis merasakan tubuhnya jatuh di lantai yang berdebu. Suasana yang gelap membuat cewek itu merasakan takut.


"Guyss... Mana guntingnya?" Adira mengangkat tangannya di samping tubuhnya. Astrid yang berdiri di belakang cewek itu mengeluarkan gunting dari balik saku rok nya dan memberikannya kepada Adira.


Adara yang melihat itu beringsut ke belakang dengan kepala menggeleng keras. Dia jelas sangat tahu apa yang akan dilakukam Adira padanya. "Adira! Lo mau ngapain?" Tanyanya dengan suara bergetar.


Adira terkekeh. Cewek itu menatap ujung gunting dengan tatapan tertarik kemudian memain-mainkan guntingnya. "Coba tebak apa yang mau gue lakuin ke lo?" Tanyanya mengintimigasi.


Adira dengan perlahan melangkahkan kakinya mendekat saat Adara terus saja beringsut mundur. Cewek itu menikmati ekspresi takut di wajah Adara. "Hmmm... Tenang aja. Gue nggak mau bunuh lo kok. Santai... Gue cukup baik hari ini. Tapi tidak tahu besok..." Adira mengedipkan bahunya. "Eh.. Tapi gue nggak mau di cap pembunuh juga kayak lo."


Tiba-tiba saja wajah Adira berubah datar. Cewek itu menggerakkan tangannya memberi kode ke teman-temannya di belakang. "Pegangin dia."


Gita dan Astrid sontak mendekat dan memegangi Adara di masing-masing sisi. Adira merendahkan tubuhnya hingga berjongkok di depan Adara, kemudian tanpa aba-aba menjambak rambut Adara keras.


Saat itu juga, air mata yang sedari tadi ditahan Adara keluar dengan derasnya. Rontaan cewek itu sia-sia. Pekikan kesakitanan menggema di lorong itu. Seutas demi seutas rambut merah jatuh ke lantai bersamaan dengan kancing baju yang menggelinding menjauh. Suara robekan kain terdengar setelahnya.


Suara tangis memilukan terdengar diantara tawa kesenangan yang menggema di loring itu.


Suara langkah kaki menghentikan tangan Adira yang baru saja akan menggunting rok Adara. Gadis itu berbalik dan langsung menyembunyikan tangannya yang memegang gunting saat melihat seorang cowok berdiri dengan wajah emosinya menatap pada tubuh mengenaskan Adara.


Adira kemudian berdiri dengan tenangnya diikuti oleh Kinan, Gita dan Astri yang juga melepas Adara.


Adara langsung mundur dengan tergesa-gesa berusaha menutupi tubuhnya yang terekspos dengan jelas yang mana hanya sia-sia.


"Apa yang lo lakuin di sini?" sahut Adira.


Cowok itu, Aksa kembali memfokuskan dirinya ke Adira. Tatapan cowok itu mengeras. Wajah yang selama ini terlihat ramah kini datar dengan gurat-gurat emosi terlintas di sana. "Seharusnya gue yang tanya sama lo. Apa yang lo lakuin di sini?" Desisnya.


"Bukan urusan lo, berengsek!"


Aksa menyunggingkan senyum miring. "Oh, ya?"


Adira yang melihat tatapan mengintimidasi Aksa sedikit goyah. Perasaan takut itu muncul. Adira mengerjapkan matanya kemudian mengibaskan tangannya. "Bubar, Guys! Urusan kita juga udah selesai. Biar saja kesatria kuda lumping itu menolong tuan Putrinya."