
Cukup lama Adara menikmati keheningan dengan sekali-kali isak tangis terdengar hingga cewek itu merasakan pergerakan di sampingnya dan elusan lembut di kepalanya.
"Kenapa nangis? Ada yang ganggu?"
Adara menggeleng masih dengan wajah yang ditenggelamkan di kedua tangannya.
"Udah makan?" Tanya Galang lembut, usapannya tidak berhenti.
Adara tidak menyahut.
Galang memperhatikan cewek itu, tangannya bergerak mengumpulkan rambut kemerahan Adara kemudian meletakkannya di satu bahu cewek itu. "Ke kantin, yuk ?" Ajak Galang lembut.
Adara tetap tidak menyahut, cewek itu malah mengangkat kepala dan memposisikan wajahnya menghadap Galang dengan mata yang masih menutup. Dirasanya tangan kasar yang bergerak pelan di atas pipinya, mengusap air mata di sana.
"Lo jelek kalau lagi nangis, bintik-bintik di wajah lo jadi kelihatan."
Adara membuka matanya perlahan, cewek itu menatap Galang dalam diam. Wajah teduh itu membuat Adara menatapnya lama, wajah asli ketimuran dengan mata sipit dan bulu mata lentik, hidung mancung walaupun tidak semancung hidungnya, bibir penuh berwarna merah serta kulit sawo matang.
Adara menutup mata saat merasakan usapan di kelopak matanya. "Udah, jangan nangis lagi. Ayo ke kantin, gue yakin lo belum makan."
Adara menggeleng.
"Jangan keras kepala, Lo bisa sakit nanti."
"Gue nggak laper."
"Jangan bohong. Tunggu sini, gue mau beliin lo makanan. Jangan kemana-mana! Awas lo kalau gue balik lo nggak ada." Ancam Galang bersiap untuk pergi.
"Gue baru saja putus sama Mario," sahut Adara membuat pergerakan Galang yang akan pergi terhenti. "Dia mutusin gue tanpa ada sebab. Katanya cuma ingin saja." Cewek itu tersenyum sedih.
Adara menghirup nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. "Cowok memang gitu, ya? Semau-mau mereka. Nggak mikirin perasaan pasangannya."
Galang menghela nafas, cowok itu kembali duduk. "Nggak semuanya cowok seperti begitu. Kalau kami udah sayang beneran, kami nggak bakalan lepasin."
"Gitu, ya? Jadi selama ini Mario nggak sayang sama gue? Perasaan cowok itu palsu?"
Galang menarik bahu Adara hingga cewek itu bangun dan duduk tegak di kursinya, dibaliknya tubuh cewek itu menghadapnya. "Gue nggak tahu pastinya. Gue bukan cenayang yang bisa tau isi hati orang. Tapi kalau memang Mario mengatakan itu,mungkin cowok itu ada alasan tersendiri, terlepas bagaimana perasaan cowok itu ke lo."
"Ya itu alasannya. Dia cuma mau."
Galang menarik Adara untuk berdiri. "Ayo makan, jangan ambil pusing. Kalau dia mau pisah, ya udah. Biarin, kalau memang dia sayang, dia pasti menyesal sekarang. Tugas lo sekarang sebagai mantan, ya, harus bersikap biasa aja. Jangan perlihatkan diri lo lemah di depan Mario."
Adara mengangguk, memilih mengikuti Galang yang menariknya keluar.
***
Mario dan teman-temannya sedang duduk di warung persimpangan depan lorong sepulang sekolah. Cowok itu sedang memperhatikan siswa-siswi yang keluar lorong. Matanya dengan teliti memperhatikan hingga dia melihat motor sport hitam keluar lorong sedang membonceng seorang cewek yang tidak asing di matanya.
Saat motor itu melintas di depannya, Mario mengepalkan kedua tangannya dan menahan diri untuk tidak mengejar motor tersebut. Melihat wajah Adara yang dihias senyum tipis walaupun masih ada gurat sedih membuat perasaannya kembali tidak nyaman, dia gelisah.
"Kak Mario," panggil seseorang.
Mario berbalik, memaksakan senyum saat melihat Vira berjalan ke arahnya. "Kak Mario, temenin aku pergi belanja, ya? Aku nggak ada orang untuk diajak."
"Mario nggak bisa, Vir! Lagi galau, lo jangan dekat-dekat nanti disemprot." Teriak Farrel dan menyengir pada Mario yang menatapnya datar.
"Vir! Wilona mana? Kok nggak bareng lo?" Sahut Alvin yang duduk di sebelah Farrel di bangku depan warung. Wilona adalah pacar Alvin, teman sekelas sekaligus sahabat Vira.
"Udah pulang, dijemput bokapnya," Kata Vira malas, cewek itu kemudian menatap Mario balik dan bergerak duduk di samping cowok itu. "Mau,ya?"
Mario diam tidak menatap Vira sama sekali.
"Dibilang jangan ganggu. Pak Bos lagi galau, baru putus dia." Celetuk Bimas, "Yaaa, salah sendiri ngapain mutusin Adara kalau masih cinta? Tuh kan langsung dapat gandengan tuh cewek lo."
Mario berbalik menatap Bimas dengan tatapan membunuh.
"Eh. Bukan cewek lo lagi. Sudah Mantan!" Kata Bimas lagi.
"Parah, baru aja diputusin. Udah dapat gandengan tuh cewek. Siapa juga nggak mau sama mantan Pak Bos, Body Gols gitu, muka kayak artis Hollywood. Gue mah juga mau sama yang kayak Adara." Mario menatap tajam Alvin, perkataan cowok itu yang menyebut Adara sebagai mantan mengganggunya, ya walaupun itu kenyataan.
"Santaiiii, gue hanya bercanda Pak Bos. Mana berani gue ngambil milik bos," sahut Alvin mengangkat kedua tangannya saat melihat tangan Mario mengepal.
"Emang kenapa Pak Bos mutusin Adara?" Tanya Farrel penasaran. Karena dari penglihatan cowok itu selama ini, Mario sangat memperhatikan Adara, tatapan cowok itu juga memancarkan cinta setiap kali melihat Adara.
Mario menghela nafas, memilih mengacuhkan pertanyaan Farrel dan mengajak Vira untuk beranjak pergi dari sana.
"Kak Mario beneran udah putus sama Adara?" Tanya Vira sesaat dia naik di motor besar Mario.
Mario berguman membenarkan.
Vira tersenyum kecil. "Bagus dong. Aku jadi bebas jalan sama kakak."
***
Malamnya Adara hanya berbaring di tempat tidurnya, memandang ke arah atas kamarnya yang dilapisi palfon abu-abu dengan bola lampu di tengah-tengahnya. Setelah kejadian kemarin di restoran, bukan hanya di sekolah Adara mendapatkan pengaruhnya, ia juga kehilangan pekerjaan. Dan Adara harus memikirkan lagi bagaimana dia bisa mencari pekerjaan.
Adara menghela nafas, kenapa hidupnya seperti ini?
Adara menutup mata bersiap untuk tidur tapi bayangan wajah Mario tadi langsung muncul di benaknya. Wajah tanpa ekspresi cowok itu saat meminta putus.
Mungkin selama ini hanya Adara yang mencintai, cowok itu tidak. Padahal jika dilihat saat pertama hubungan mereka, Mario lah yang paling terlihat senang, raut wajah cowok itu tidak bisa menyembunyikan sesuatu, mata Mario sering memancarkan binar kebahagiaan saat bersamanya dahulu. Bahkan aura posesif cowok itu dulu membuat Adara pernah jengah jika Mario sudah melarangnya ini itu, bahkan cowok itu pernah mengajak Galang berkelahi hanya karena cowok itu bersikap peduli padanya, padahal Galang hanya sahabatnya.
Tapi semenjak insiden itu, cowok itu berubah drastis, tidak memperdulikannya, menganggapnya tak ada, menjauh darinya dan bahkan acuh tak acuh padanya. Kecuali jika dia sedang dekat sama cowok, tanpa pikir panjang Mario akan menariknya menjauh dari radius cowok itu dan melemparkannya dengan perkataan pedas yang Adara maklumi karena kecemburuan cowok itu. Seakan Mario memiliki rasa seperti perasaan yang dia miliki untuk cowok itu.
Adara menghela nafas, berusaha mengenyahkan kenangan antara dirinya dan Mario yang bergelantungan dipikirannya hingga dia tidak menyadari ketukan-ketukan tidak sabar di pintu rumahnya.
Adara berjalan keluar kamar, penasaran oleh siapa yang di balik pintu itu. Cewek itu menyergit saat melihat Aksa berdiri di depan rumahnya.
"Hai..." sahutnya dengan lambaian tangan.
Adara mengangguk. "Kak Aksa ngapain di sini?"
Aksa tersenyum canggung, tangannya bergerak menggaruk tengkuknya tidak gatal.
"Masuk dulu, kak." Kata Adara membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan Aksa untuk masuk.
"Mau aku ambilin air,kak? Maaf hanya air yang aku punya," sahut Adara lagi sambil tersenyum malu.
"Nggak. Gue ke sini hanya mau tawarin lo kerja di kafe nyokap gue." Aksa berkata dengan canggung. "Maaf, gue denger apa yang terjadi kemarin malam."
Adara menghela nafas. "Insiden memalukan," kemudian terkekeh untuk menyembunyikan perasaannya yang mulai tidak enak.
Aksa hanya tersenyum. "Gimana? Lo mau nggak kerja di kafe nyokap gue? Tempatnya cantik dan gajinya juga lumayan lah. Lo bakalan nggak nyesel deh."
"Boleh?" Tanya Adara, cewek itu bersyukur karena telah mengenal Aksa, keuangannya sedang menipis dan dia butuh pekerjaan.
"Pastinya, buat apa gue datang kemari coba?" Aksa terkekeh. "Mending lo siap-siap deh, gue antar ke sana."
Adara berdiri, setelah mengucapkan terimakasih dia berlari kecil masuk ke dalam kamarnya, berganti dengan sangat cepat dan langsung keluar saat penampilannya sudah cukup baik.
"Ayo," ajaknya dan keluar rumah.