S T A Y

S T A Y
Part 28. Kemarahan Azlan



Aksa langsung melepaskan kemeja putihnya memperlikatkan kaos putih polos yang mencetak jelas tubuh nya. Cowok itu mendekat pada Adara yang terlihat sangat berantakan.


"Sssstt... Udah nggak apa-apa. Mereka sudah pergi." kata cowok itu menenangkan. Aksa langsung membantu Adara mengenakan kemeja kebesarannya, cowok itu dalam diamnya menahan emosi yang hampir meluap melihat keadaan Adara. Rahang cowok itu mengetat, tubuhnya sangat kaku dan matanya masih menyorot tajam.


Adara sangat berantakan dengan kemeja yang robek dan tidak layak pakai, bahkan pakaian dalam cewek itu terlihat jela oleh Aksa tadi. Rambut Adara awut-awutan dengan potongan acak sebahu. Tidak ada lagi rambut merah sepunggung, rambut itu sudah tergeletak di lantai.


" K... Kak... Ka... Kak Aksa." Adara yang sedari tadi menunduk dengan memeluk erat lututnya mendongak dengan wajah pias. Setelah mengkancingkan kemejanya, Aksa mendekat dan menghapus jejak air mata di kedua pipi Adara.


"Udah.. Lo tenang sekarang. Lo aman sama gue."


Adara mengangguk. Kepalanya terasa sakit. Dia pasrah saat Aksa menarik tubuhnya untuk berdiri, kemeja kebesaran cowok itu membungkus Adara hingga sebatas paha, hanya memperlihatkan ujung rok cewek itu. Kedua kaki Adara seperti jeli, Aksa dengan sigap menahan tubuh cewek itu.


"Bisa jalan?" Tanya Aksa menatap pada kedua mata Adara yang terlihat linglung.


Adara memgangguk singkat. Dia mencoba kembali berjalan tapi hampir terjatuh. Aksa berdecak dan tanpa keberatan langsung mengangkat Adara ke dalam gendongannya. "Udah... Gue bawa lo ke uks aja. Atau lo mau langsung pulang?" tanya cowok itu.


Adara mengangguk. Kedua tangannya melingkar di leher Aksa. Mereka berjalan dengan diam. Adara memilih menutup matanya dan membiarkan air matanya kembali terjatuh. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Aksa dan meringkuk dalam gendongan cowok itu saat mereka sudah keluar dari gedung itu dan berjalan di koridor untuk ke uks.


Adara mendengar jelas bisik-bisik penasaran dari sekitarnya. Perasaan cewek itu semakin berantakan saja selama perjalanan.


"Kenapa dia?" Seseorang bertanya saat Aksa dan Adara hampir sampai di uks.


"Bukan urusan lo." Jawab Aksa dingin. Ditatapannya pemuda di depannya yang juga menatap nya lebih dingin.


Adara mengintip untuk melihat siapa itu, Azlan berdiri tidak jauh di depannya sambil memperhatikan Aksa dengan tatapan khasnya yang selalu menajam. Cowok itu kemudian memindahkan tatapan pada Adara yang langsung membuang muka.


"Gue tanya sekali lagi. Kenapa dia?" Tanya Azlan dengan suara mendesis. Terdengar jelas emosi di suaranya. Wajah cowok itu memerah dengan kepalan tangannya yang menguat.


Aksa mendengus dan mengencangkan pelukannya pada tubuh Adara sebelum meraih gagang pintu uks dan membukanya. "Tanya aja sama adek kesayangan lo."


Setelah mengatakan itu, Aksa masuk meninggalkan Azlan yang terdiam lama. Gurat emosi terlihat sangat jelas di wajah tampan cowok itu, tubuh nya berubah kaku, rasanya dia ingin meninju sesuatu.


Adira.


Dia harus mencari Adira dan memberi perhitungan sama cewek sialan itu.


Azlan berbalik meninggalkan koridor uks dengan langkah yang menggema.


***


Di kantin, Mario dan teman-temannya sedang berkumpul. Vira dan Wilona juga di sana, berada di rangkulan pacar mereka. Vira memainkan tangan besar Mario yang berada di pangkuannya. Sedang Wilona sudah bersandar di bahu Alvin. Farrel sendiri duduk di kursi depan mereka dengan ponsel di tangannya. Seperti biasa cowok itu memainkan games online.


"Kak..." Panggil Vira manja sambil mendongak menatap Mario.


Mario berguman kemudian memindahkan tatapan ke cewek itu. "Kenapa?"


"Nanti malam jemput, ya? Temani aku ke mall untuk membeli perlengkapan ulang tahun aku minggu ini."


Mario mengangguk. "Nanti aku jemput."


Vira bersorak riang, cewek itu mencium pipi Mario sekilas kemudian kembali menyandarkan tubuhnya pada lengan cowok itu. "Aku senang banget!"


Tiba-tiba dari pintu kantin, Bimas masuk dengan krasak-krusuk. Menabrak orang-orang yang menghalangi jalannya. Mario menaikkan alis melihat Bimas berdiri di depannya dengan nafas ngos-ngosan.


Bimas menggeleng. Cowok itu masih mengatur nafasnya. "Kagak... Ini tuh lebih penting dari gue yang dikejar setan."


"Apaan sih?" Ujar Farrel juga. Cowok itu penasaran dengan Bimas yang datang dengan hebo.


Bimas menelan ludah. "Adara-"


"Adara kenapa?" Mendengar nama Adara disebut membuat tubuh Mario beraksi berlebihan. Cowok itu menegakkan tubuhnya. Langsung mengabaikan Vira yang protes karena kehilangan rangkulan cowok itu. "Bilang! Kenapa dia?"


"Masuk Uks lagi, Pak Bos!"


Mendengar itu Mario langsung berdiri dan tanpa menunggu lama, cowok itu keluar dari meja makan dan langsung berjalan meninggalkan kantin diikuti teman cowok itu. Mario berjalan dengan langkah lebar, memandang dingin orang-orang yang menghalangi jalannya.


Dibukanya pintu Uks dengan kasar. Cowok itu melangkah masuk dan menyibak gorden-gorden ranjang hingga dia mendapatkan tubuh Adara yang terbaring lemah dengan selimut menutupi tubuhnya. Cewek itu sendirian.


Mario membeku melihat penampilan cewek itu. Hanya melihatnya saja dia tahu apa yang terjadi dengan Adara.


"Apa yang lo lakuin di sini? Lo mau liat Adara lebih menderita lagi?" Aksa yang baru saja masuk sambil membawa sebotol air mineral menatap tidak suka pada Mario dan teman-temamnya. "Dia sudah sangat menderita. Mending lo semua keluar. Adara tidak membutuhkan orang-orang seperti kalian."


"Siapa yang lakuin ini?" Tanya Mario mengabaikan perkataan Aksa.


Aksa diam dan mendekat ke ranjang Adara. Mario meraih bahu cowok itu yang langsung ditepis oleh Aksa. "Jangan sentuh gue"


"GUE CUMA TANYA SIAPA YANG LAKUIN INI, *****! Lo mau cari gara-gara sama gue?" Mario membalikkan tubuh Aksa dan mencengkram kera kaos pria itu. "Cepat katakan. Siapa yang lakuin ini kepadanya?"


Aksa menyentak tangan Mario. "Adira, Puas lo?"


.


.


.


.


"Kak Azlan mau kemana sih?" Tanya Adira saat Azlan menyeretnya untuk mengikuti langkah lebar cowok itu. Cengkraman tangan cowok itu di tangannya terasa sakit. "Sakit, Kak! Lepas."


Azlan tidak mengindahkan. Cowok itu malah menarik Adira untuk lebih cepat. Cowok itu membawanya ke gudang sekolah.


Azlan menendang pintu gudang hingga terbuka dan menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga. Cowok itu menghempaskan Adira ke dalam gudang.


"Lo sebenarnya mau apa? Gue udah bilang jangan sentuh Adara lagi? Lo budek?" sentak cowok itu emosi. Azlan berjalan ke arah Adira yang sudah berwajah pias. "Lo didiamin malah ngelunjak!"


Azlan mencengkram dagu Adira membuat cewek itu mendongak. "Lo mau mati? Hah?"


Adira memegang tangan Azlan yang mencengkram dagunya. "S.....sa....sakit, kak."


"Gue bukan kakak lo, ******!" Azlan menghempaskan wajah Adira ke samping hingga cewek itu merasa pening.


"Lo kira lo bakalan lolos karena udah buat Adara menderita? Gue akan membuat perhitungan sama lo!" Azlan mendorong tubuh itu hingga jatuh ke lantai. "Lo seharusnya berada di bawah kaki gue! Sampah, cewek biadab. Anjing lo!"