S T A Y

S T A Y
Part 10. Permulaan



🌸 S T A Y 🌸


Adara membersihkan meja no 12 saat Aksa masuk ke dalam kafe untuk menghampirinya. Hanya ada pelayan kafe yang sedang membersihkan dan pegawai kasir karena kafe telah tutup dua puluh menit yang lalu.


"Udah selesai?" ujar Aksa saat cowok itu tiba di samping Adara.


Adara mendongak menatap Aksa sebentar sebelum kembali sibuk dengan pekerjaannya. "Masih ada yang mau dikerjain, mungkin sebentar lagi."


Aksa mengangguk-angguk. "Ya udah. Gue tunggu di pantai, lo ke sana aja kalau udah selesai." Cowok itu langsung keluar setelah mendapatkan respon dari Adara.


Setelah yakin meja no 12 sudah bersih, cewek itu pindah ke meja no 13 kemudian membersihkannya, Adara menyemprotkan pengharum terlebih dahulu sebelum mengelap meja dengan cekatan.


"Hei, Anak baru!"


Adara tersentak saat seseorang menepuk kedua bahunya. Cewek itu berbalik dan mendelik ke Rosa yang nyengir ke arahnya. "Lo ngagetin aja, Ros."


Rosa terkikik, "Lo sih serius amat. Mau titip lagi, nih." sahutnya sambil menyodorkan amplop merah yang berisi surat kepada Adara. "Lo jangan bilang yah kalau itu dari gue."


Adara mengangguk. Kemarin Rosa-pegawai yang bertugas di kasir datang menghampiri nya sambil menyodorkan amplop berisi surat dengan senyum canggung.


"Gue perhatiin lo dekat sama, Aksa? Lo bisa kasih ini nggak? Tapi jangan bilang itu dari gue, ya?" Ujar cewek itu.


Adara menatap amplop merah yang berada di tangannya kemudian memasukkannya di saku celana jinsnya sebelum kembali pada pekerjaannya.


"Ok. Gue akan kasih nanti."


Rosa tersenyum senang. "Makasih, Ra. Lo baik, deh." Kemudian cewek itu berjalan keluar kafe untuk pulang.


Setelah yakin semua meja sudah bersih dan Kafe dalam keadaan bersih, Adara mengangguk dan tersenyum, berjalan ke rak dan menyimpan botol pengharum sebelum ke dalam ruang ganti.


Adara melepas celemeknya, membuka lemari loker khusus untuknya dan mengambil jaket kulit maroon kemudian memakai. Meraih tas dan kembali keluar untuk menghampiri Aksa yang sedang duduk di pasir pantai.


"Ayo pulang." ujar Adara sesaat tiba di samping cowok itu.


Aksa mendongak, diam lama memandang Adara sebelum kembali menatap hamparan laut. "Sebentar, udah nyaman duduk di sini."


Adara mengangguk saja, toh tidak ada juga yang menunggunya di rumah. Cewek itu kemudian duduk di samping Aksa hingga bahu keduanya bersentuhan.


"Lo udah makan?" tanya Aksa.


Adara terdiam, dia sudah makan tadi bermasa pegawai lain tapi makannya hanya sedikit, di saat pegawai lain mengambil makanan dengan senang, dia hanya mengambil sedikit karena masih merasa segan karena statusnya yang sebagai pegawai baru. Alhasil, dia merasa lapar sekarang, tapi tidak mungkin dia mengatakannya kepada Aksa.


"Udah, kok." ujarnya.


"Makan apa?" tanyanya sambil melirik Adara yang juga memandang laut di depannya. "Kirain belum. Mau ngajak lo makan bareng karena guenya belum makan."


"Gue bisa temani lo. Cuma lo yang makan tapi." ujar Adara.


"Nggak enak makan sendiri. Lo harus temani gue makan juga."


"Ya udah kalau lo maksa. Ayo pulang, gue nggak mau terlalu malam pulangnya."


Aksa mengangguk, cowok itu berdiri terlebih dahulu sebelum mengulurkan tangan kepada Adara yang langsung terimanya.


"Let'go!"


***


Aksa meminggirkan motornya di penjual kaki lima di tengah kota, daerah ini masih ramai walau jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat sedikit.


"Lo mau pesan apa?" tanya Aksa sesaat dia turun dari motor, berjalan mendekat ke kursi yang memang disediakan untuk pelanggan kemudian menarik kursi untuk Adara.


"Terserah, samain aja sama yang lo pesan." Kata Adara sambil duduk di plastik.


Aksa beranjak mendekat ke gerobak jagung bakar. "Bang, jagung bakarnya dua."


"Siap, bro!"


Aksa mengangguk dan berjalan duduk di samping Adara. "Lo suka jagung bakar, kan? Gue pesannya itu."


"Gue suka semuanya. Yang penting nggak pedas, gue nggak kuat makan pedas."


Aksa menatapnya. "Oh ya? Jadi lo suka sama gue juga dong. Gue manis ko, nggak ada pedas-pedas nya," canda Aksa tertawa.


"Iyya lah. Siapa juga yang nggak suka Kak Aksa, udah baik, ganteng lagi. Gue suka kok."


Aksa terdiam, menatap wajah Adara dari samping yang sedang memperhatikan jalanan. Merasa tidak ada respon dari Aksa, Adara berbalik dan bertemu pandang dengan mata hitam Aksa yang menatapnya dalam. "Kenapa, Kak?"


"Lo suka dalam konteks apa? Sebagai laki-laki atau teman?"


"Hah?" Adara mengerutkan dahi. "Gue suka Kak Aksa, gue udah anggap kak Aksa sebagai kakak gue. Udah lama nggak ada orang yang baik sama gue seperti kakak. Mungkin ada sih, tapi cuman Galang."


Aksa langsung memalingkan wajahnya.


"Emangnya kenapa, kak?"


"Nggak kenapa-napa, gue cuma bercanda ngajuin pertanyaan kayak gitu. Lo nya aja yang serius amat." sahut Aksa nyengir.


Pesanan mereka sudah datang, Aksa mengambil satu jagung bakar dan meniupnya pelan sebelum memberikannya kepada Adara. "Nih, makan."


Adara mengambil jagung tersebut dan mulai memakannya. Aksa tersenyum melihat itu kemudian dia juga mengambil jagung bakar yang tersisa satu di piring. "Lo nggak mau minum?"


"Gue mau es teh."


"Udah malam, nggak baik minum yang dingin-dingin." larang Aksa. "Teh anget aja."


Adara hanya mengangguk membiarkan Aksa memesankan apa yang cowok itu mau. Cukup lama mereka terdiam memakan jagung bakar hingga Aksa yang menghabiskannya duluan dan membuang jagung itu di tempat sampah yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.


"Lo nggak ada tugas sekolah gitu? Setiap malam di kafe, gue pikir lo nggak ada waktu ngurus tugas lo." sahut Aksa memperhatikan Adara yang masih mengigit jagungnya.


Adara menelan jagung gigitan terakhirnya sebelum menjawab pertanyaan Aksa, "Gue kerjain kok sepulang sekolah, atau kalau nggak sempat di sekolah pun jadi."


"Lo nggak capek hidup kayak gini, Ra?"


Adara berbalik menatap Aksa dalam. "Pertanyaan lo lambat, seharusnya dari dulu lo tanyakan itu."


Aksa berdehem. "Gue takut lo marah kalau gue bahas itu."


"Jadi sekarang lo nggak takut gue marah?" tanya Adara sedikit tersinggung.


"Bukan gitu maksud gue. Gue cuma penasaran aja, lo kok nggak ngeluh hidup kayak gini, lo nggak musuhin orang-orang yang bikin lo seperti ini padahal lo bisa lapor polisi aja."


"Lo nggak benci sama Adira walau lo tau tuh cewek udah rebut semua milik lo, keluarga dan kakak lo, padahal Adira cuma orang asing yang datang-datang langsung ngerebut semua."


Adara diam mencerna perkataan Aksa, cewek itu mendesah pasrah. "Buat apa marah? Ini semua takdir gue, Kak. Mungkin dari awal semua itu bukan milik gue,"


"Walaupun semua orang benci gue, gue nggak peduli. Walaupun sebesar apa mereka nyakitin gue, gue sama sekali nggak peduli."


Aksa memperhatikan wajah Adara yang menatap ke depan, cowok itu melihat sesuatu di wajah Adara saat cewek itu berkata, seperti menciptakan kebodohan yang sia-sia karena raut wajah Adara sudah mengungkapkan segalanya.


"Gue ngerti lo." ujar Aksa setelah mendengar Adara.


"Apa yang Kak Aksa ngertiin dari hidup gue?" kata Adara berbalik menatap Aksa yang menatap dirinya dalam.


"Gue tahu apa yang lo katakan tadi hanya omongan belaka. Lo tersiksakan sama hidup lo yang sekarang? Lo tidak mau dijauhi oleh orang-orang di dekat lo."


Adara tertawa hambar. "Lo sok tau."


"Gue benar kok, terlihat jelas di muka lo. Kalau lo nggak mau sendirian."


Adara menelan ludah, cewek itu langsung berdiri, tidak nyaman dengan topik pembahasan mereka. "Udah, nggak usah urusi hidup gue. Ayo, gue mau pulang sekarang, udah malam banget."


Aksa memperhatikan Adara yang berjalan menghampiri motornya yang terparkir di pinggir jalan, cowok itu menghela nafas berat sebelum berdiri dan membayar makanannya kemudian menghampiri Adara.


"Lo nggak perlu khawatir. Gue akan selalu ada di dekat lo kalau lo butuh gue. Gue nggak bakalan tinggalin lo," kata Aksa setelah Adara naik dibelakangnya dan memegang pinggang cowok itu dengan kedua tangannya. "Karena gue suka lo Adara."


***


Keesokan harinya di sekolah, Adara berjalan di koridor dengan wajah tertunduk dalam menghindari tatapan-tatapan dari siswa-siswi yang memperhatikannya.


Sindiran sudah biasa baginya, jadi Adara tidak ambil pusing lagi dengan apa yang dibicarakan orang-orang untuknya.


Adara berhenti berjalan saat mendengar keributan di belakangnya, cewek itu berbalik dan langsung menahan nafas saat melihat Mario dan teman-temannya berada tepat di belakangnya, memperhatikannya. Seperti biasa dimana ada Mario, di samping pria itu pasti ada Vira, bukan lagi dirinya.


Adara mundur satu langkah saat Mario lewat, cowok itu hanya meliriknya sebentar sebelum kembali melangkah.


"Selamat pagi, Cantik!" goda Bimas pada Adara, cowok itu mengedipkan matanya. "Wiusss.. matanya, Cewek. Cantik bener, mau jadi pacar bang Farrel, nggak? Kasian nih, teman gue jomloh nya kebangetan, mulai dari tahun gajah."


Farrel mendelik dan menendang kaki Bimas yang tertawa. "Apa lo bilang barusan?"


Bimas nyengir. "Santay woi. Gue cuma becanda doang, lo mah nggak asik. Gagal deh rencana gue."


"Rencana lo apa, Bam?" tanya Alvin yang sedari tadi diam memperhatikan tingkah laku sahabatnya.


"Buat sih Pak Bos cemburu." celetuk Bimas.


"Yeeee.. Lo cari mati, ya, Bam?"


"Iyya nih. Cari mati lo." sahut Farrel. "Mana ada Pak Bos cemburu, tuh laki udah ada gandengan kali, walaupun Vira nggak secantik Adara."


"Apa lo bilang?" delik Vira yang entah sejak kapan berdiri di belakang laki-laki itu, tentunya bersama Mario di samping cewek itu. "Nih anak sial lebih cantik dari gue?"


"Upss.. Sorry," Bimas tersenyum remeh, dari pertama kenal Vira, Bimas tidak terlalu suka sama cewek itu. "Emang kenyataan, kan? Adara lebih cantik dari lo. Makanya Pak bos nggak bisa move on."


Vira tidak terima dengan perkataan cowok itu, baru saja dia ingin menghampiri Bimas tapi Mario menghentikannya. "Lo salah besar, Bim. Siapa yang bilang gue tidak bisa Move On?" sahut Mario sambil memandang lekat Adara yang juga memperhatikannya.


"Gue udah Move On, kok. Gue sama Vira udah pacaran."


Bukan hanya Adara yang terbelalak kaget karena mendengar itu, Bimas, Farrel dan Alvin pun terkejut.


"Beneran, Pak Bos? Kok kami nggak tau, sih?" sahut Alvin.  "Pak Bos udah ngegas duluan."


Farrel menatap Adara lama, kemudian berpaling kepada Mario saat melihat cewek itu mati-matian menahan sesuatu dalam dirinya. "Jadi kalau gue pacaran sama Adara, Pas Bos nggak marah, kan?"