S T A Y

S T A Y
Part 18. Ego



"Ternyata kepedulian itu tidak ada lagi. Sorot mata yang menatap datar itu memancarkan segalanya, bahwa aku bukan siapa-siapa lagi."


~~S t a y ~~


"Kenapa lagi Bos? Ngeri amat deh." Alvin bergidik menatap Mario yang duduk dengan sebotol minuman dingin di tangannya. Sudah sore tapi mereka berempat masih setia duduk di depan warung perempatan sekolah. Kemeja sekolah mereka sudah dilepas menyisahkan kaos putih polos yang membalut tubuh mereka.


"Nggak tau. Semenjak keluar dari UKS udah kayak gitu. Setan aja kalah dari dia. Ngeri. Gue aja yang tadi deketin hampir ditonjok." Bimas mengusap tengkuknya, bergidik sendiri mengingat kepalan tangan Mario yang hampir mendarat di pipinya.


"Bos mungkin masih peduli sama Adara." celetuk Alvin. Bimas mengangguk meng-iyakan. Dilihat dari sisi mana pun, perlakuan Mario tadi jelas menandakan bahwa cowok itu masih peduli. Tapi ego Mario tinggi, hingga cowok itu lebih memilih diam saja.


Deru motor mengalihkan perhatian dua orang itu. Mereka memperhatikan Farrel yang baru saja turun dari motor besar nya. Cowok itu baru saja mengantar adik sepupunya yang juga bersekolah di SMA Evano.


"Woi! Dari mana aja lo? Lama amat." teriak Bimas.


"Habis antarin Gea, tapi tadi singgah bentar di rumah." Farrel menjawab sambil menatap satu persatu teman-temannya yang sedang duduk di kursi. "Bos mana?" cowok itu mengerutkan dahi karena tidak melihat keberadaan Mario di antara mereka.


Alven menunjuk Mario yang sedang bersandar di pohon mangga yang tidak jauh dari warung tersebut. Laki-laki itu masih sama, terdiam dengan kepalan tangan.


"Kenapa dia?" Sahut Farrel.


"Nggak tau. Lagi dalam mode silent. Diomong nggak mau bicara. Lagi sakit gigi kayaknya." kata Alven becanda dibarengi kekehan.


Farrel terlihat ingin melangkah ke arah Mario tapi di cegah oleh Bimas.


"Jangan coba-coba. Lo nanti ditonjok. Lagi PMS tuh si Bos. Gue tadi hampir ditonjok sama dia."


"Bos kayak gitu setelah kejadian Adara di UKS tadi. Gue sih liat dia cemburu sama Aksa. Adara sangat dekat sama Aksa. Mungkin mereka pacaran." kata Alven. Farrel menatap Alven, mengerikan dahi, jelas tampak bingung.


"Maksud gue-"


Kalimat Alven belum selesai saat suara berat seseorang terdengar.


"Mereka nggak pacaran. Adara nggak bisa move on dari gue."


Mereka bertiga menatapĀ  Mario yang berjalan ke arah mereka kemudian berdiri di samping Farrel, menatap tajam Alven.


"Minggir." desisnya.


Alven bergeser sedikit menjauh. Tidak ingin mencari masalah dengan Mario yang temperamen.


"Silahkan, Bos." cengir cowok itu.


Mario melangkah kan kaki ke arah warung dan duduk di salah satu kursi kosong dan memesan minuman dingin untuk menghilangkan rasa hausnya yang mencekik lehernya.


"Adara yang nggak bisa move on atau bos sendiri?" Farrel duduk di samping Mario, juga memesan minuman yang sama dengan Mario. "Bos cemburu melihat Aksa yang perhatian sama Adara, kan?"


"Kalau gue nggak Move-on, gue nggak mungkin pacaran sama Vira." sahut Mario sewot.


Farrel hanya mengangguk. "Jadi bos nggak masalah lagi kalau Adara pacaran sama Aksa? Atau...." Farrel menatap ke arah Mario. "Sama gue."


Alven cepat-cepat berdiri di antara mereka. "Farrel cuma bercanda, Bos. Mana mungkin Farrel kayak gitu." Alven menahan lengan Mario yang sudah terangkat dengan tangan yang mengepal. Siap mendaratkannya di rahang Farrel.


Farrel hanya berkedip sebentar sebelum duduk di samping Mario yang juga telah duduk. "Lo nggak semudah itu Move-on. Gue tau kok rasanya kayak gimana putus dari pacar. Ego lo aja yang terlalu tinggi. Takut ketahuan gagal Move-on yang malah berakibat tidak baik dengan perasaan lo sendiri. Gue nggak mungkin nikung lo."


"Gue bilang gue udah Move-on. Gue sama Vira sekarang." Mario memalingkan wajah dari Farrel yang menatapnya intens setelah dia berkata seperti itu. "Adara bukan siapa-siapa gue lagi. Gue udah nggak punya perasaan apapun."


"Lalu kenapa Bos membantunya di kantin tadi? Di UKS juga kalau memang Bos udah nggak ada perasaan lagi." kata Bimas yang bergerak duduk di atas meja.


"Rasa kemanusiaan. Nggak mungkin kan gue diam aja liat dia seperti itu." katanya pelan. Tidak yakin sendiri dengan kalimatnya. "Tapi yang pasti gue sudah Move-on."


Alvin menatap Bimas dengan alis terangkat mendengar perkataan Bos mereka. Begitu pun Farrel yang hanya mengangguk terdiam. "Kalau begitu lo nggak apa-apa kalau Adara sama Aksa?"


Mario terdiam cukup lama sebelum menjawab pertanyaan Farrel. "Gue nggak apa-apa. Gue udah nggak punya perasaan apapun sama Adara."


****


Hari berikutnya. Adara berangkat sekolah bersama Aksa. Cowok itu setelah memarkirkan motor di parkiran sekolah tidak pernah melepas pandangannya sekalipun dadi Adara yang berjalan di depannya. Rambut kemerahan cewek itu bergerak bersamaan dengan langkah kakinya.


"Kak Aksa nggak usah sampai segini nya. Gue bisa kok ke kelas sendiri." sahut Adara saat Aksa berniat mengantar cewek itu sampai ke kelasnya. "Gue bisa sama Galang aja."


Aksa mengikuti arah pandang cewek itu. Beberapa langkah dari mereka, Galang baru saja memarkirkan motor besarnya dengan Cica baru saja turun dari motor cowok itu. Galang melemparkan tatapan ke arah Adara yang tersenyum ke arah nya. Cowok itu terlibat percakapan dengan Cica sebelum Galang berjalan menghampiri Adara.


"Ya udah. Gue ke kelas dulu. Kalau ada kejadian kayak kemarin lagi, langsung cari gue, ya?" Kata Aksa sambil memegang bahu cewek itu, menatapnya khawatir.


"Iya, kak. Nggak usah khawatir."


Aksa mengangguk, berbalik menatap Galang. "Gue titip Adara sampai waktu istirahat. Lo jangan pernah tinggalkan Adara sendiri. Gue nggak mau kejadian kayak kemarin terulang lagi. Luka Adara belum sembuh total. Kalau ada apa-apa, lo yang tanggung jawab selama Adara jauh dari gue." ucap cowok itu sambil menatap serius Galang.


" Tenang aja. Gue bisa kok jaga Adara. Percaya sama gue." Ujar Galang. Cowok itu bergeser berdiri di samping Adara, memeluk bahunya untuk membantunya berjalan.


" Terimakasih, kak." teriak Adara kepada Aksa. Cowok itu hanya mengangguk, menghela nafas saat dilihatnya Adara sudah berjalan jauh dengan bantuan Galang. Aksa sendiri berjalan ke arah kelasnya yang lumayan jauh dari kelas Adara.


"Gue seharusnya masuk kemarin." ucap Galang merasa bersalah. Cowok itu dengan hati-hati melangkahkan kaki, fokusnya sepenuhnya berapa pada cewek di dalam rangkulannya itu.


"Nggak apa-apa. Ini nggak masalah sama sekali. Lo kemarin nggak masuk pasti ada alasannya, kan?"


"Iya, Nyokap gue dapat serangan lagi. Seharian kemarin gue di rumah sakit." Adara menatap cowok itu. Cewek itu tahu bahwa Mama Galang sudah di rawat di rumah sakit selama sebulan, kecelakaan yang sama yang telah merenggut kedua orang tuanya ternyata juga menimpa Mama Galang hari itu juga. Adara tersenyum sedih, kembali teringat dengan kecelakaan itu dan kekacauan setelahnya yang menyebabkan hidupnya seperti sekarang.


Galang menyadari perubahan raut wajah Adara, dengan cepat cowok itu mengalihkan pembicaraan.


"Eh bukannya itu Azlan?" bidik Galang.


Adara mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Jauh di ujung koridor, berdiri Azlan di antara siswa-siswa yang melintas di koridor tersebut. Cowok itu menatap Adara datar, tatapan cowok itu menelusuri tubuh Adara dari ujung kaki sampai ujung kepala. Adara yakin dia melihat perubahan tatapan cowok itu yang mengeras saat melihat kaki dan lengannya yang di balut kain kasa. Cowok itu lalu berbalik dan berjalan menjauh kemudian hilang dari pandangan Adara.


Adara menghela nafas, berusaha tersenyum saat Galang kembali menuntun nya jalan memasuki kelasnya. Ternyata Azlan sudah tidak peduli.