S T A Y

S T A Y
Part 4. Putus



🌸 S T A Y 🌸


Adara turun dari bus sekolah. Gadis itu menatap sekitarannya sebelum berjalan menunduk memperhatikan langkahnya dengan headset tersumbat di telinga. Cewek itu berjalan cepat memasuki gerbang sekolah dan tersentak kaget saat seseorang meletakkan tangan di bahunya .


Adara mendongak, mendapati Galang yang menyengir ke arahnya. "Lo ngapain?"


Galang menghentikan gerakan tangan Adara yang ingin menarik headset nya lepas. "Jangan dicabut, lo pakai aja. Nikmati lagu yang lo dengar."


Walaupun bingung, Adara melakukan apa yang dikatakan Galang. Mereka berjalan bersama melewati koridor yang ramai dengan semua tatapan terarah ke arah mereka.


Tiba-tiba saja Galang menaikkan volume musik di ponsel Adara melalui kabel headset kemudian mengeratkan rangkulannya. Adara sekarang hanya bisa mendengar suara musik yang menghentak-hentak gendang telinganya.


Adara dan Galang memasuki kelas yang sudah ramai pagi ini, Adara melepas headset kemudian meletakkannya di atas meja beserta ponsel dan tasnya lalu bergerak untuk duduk di bangkunya. Adara kemudian  mendongak dan menyergit melihat tatapan teman sekelasnya.


Nino, salah satu teman sekelasnya menghampirinya.


"Gue datang ke restoran kemarin malam. Lo ngebunuh orang tua lo?" tanya Nino tanpa basa-basi kemudian duduk di meja Adara. "Sadis banget lo ya, cantik-cantik pembunuh," ujarnya pedas sambil tersenyum miring yang mengundang sorakan teman sekelasnya.


Adara bungkam dengan mata melebar. Menatap Nino kemudian ke teman sekelasnya.


"Iblis berwajah malaikat," Teriak teman sekelasnya.


"Kalau lo nggak tau yang sebenarnya, nggak usah nyolot deh." Galang menghampiri Nino kemudian menarik cowok itu turun dari meja Adara dan mendorong nya menjauh. "Lo cowok! Mulut tuh dikontrol."


Nino berdecih, menatap sekilas ke Adara kemudian Galang. "Cihh, lo ngapain belain dia? Adara mah cewek sial. Pembunuh!"


Galang maju selangkah dan meraih kerah baju cowok itu, ditatapnya tajam mata Farel yang juga balik menatapnya. "Jaga omongan lo."


"Lang, udah. Jangan dilanjutin, udah mau bel juga." Adara melerai, menarik kemeja Galang.


Galang melepas dengan kasar kemeja Nino lalu mendorongnya kasar cowok itu masih sambil menatapnya tajam. "Awas lo, ya!"


Galang kemudian berbalik memperhatikan seluruh teman sekelasnya. "Lo dengar semua! kalau ada yang macam-macam sama Adara dia berurusan sama gue."


"Lang, udah!" Adara menarik Galang kembali ke bangku nya. Galang mendengus, melemparkan tatapan memperingati kepada Nino yang masih berdiri di tempatnya sebelum berbalik kepada Adara. "Lo nggak apa-apa?"


Adara mengangguk.


Galang tersenyum, tangan cowok itu bergerak mengacak puncak rambut Adara. Kemudian mata cowok itu tidak sengaja melirik ke meja Adara. Wajah Galang langsung merah padam membaca tulisan-tulisan tidak senonoh yang ada di meja cewek itu.


Adara yang menyadarinya dengan cepat menggeser tasnya hingga sebagian dari tulisan itu tertutup. "Udah sana! Bel sudah bunyi tuh."


Galang menatap Adara dalam sebelum mendengus dan kembali ke bangkunya yang berada di belakang.


Adara menghela nafas, digesernya kembali tas nya hingga tulisan-tulisan itu terlihat. Adara menggigit bibir membaca satu persatu tulisan itu.


Cewek sial, mati aja lo sana!


Pembunuh! nggak seharusnya sekolah di sini!


Minggat deh lo sialan dari kelas gue!


Tempat lo nggak disini, tuh disana! Di jeruji besi!


Dan kata terakhir yang membuat cewek itu kembali mengingat kejadian kemarin malam.


Dasar cewek sial!


.


.


.


Jam istirahat berbunyi, Adara yang dahulu menyambut antusias waktu-waktu seperti itu sekarang malah terlihat tidak ada minat sama sekali. Cewek itu dengan malas memasukkan buku beserta pulpennya ke dalam laci dan tidak beranjak sama sekali dari kursinya, dia lebih memilih menatap keluar jendela kelas.


Kelasnya sedang sunyi, hanya dia sendiri. Galang yang berstatus ketua kelas sedang mendapat tugas dari Pak Ilham untuk mengembalikan buku paket ke ruang guru. Sandra entah kemana, Adara hanya melihat cewek itu tadi keluar kelas setelah menyapanya.


Entah mengapa Adara merasa bahwa Sandra juga menjauhinya.


Adara memghela nafas. Kejadian di restoran kemarin malam membuat hari Adara semakin mengerikan saja. Semuanya menjauh, dia dikucilkan. Teman sekelasnya pun menjauhinya.


Suara langkah kaki membuyarkan lamunan cewek itu. Adara membalikkan kepalanya dan mendapati Mario berjalan masuk ke dalam kelasnya.


"Ngapain ke sini?" Adara menyahut saat cowok itu duduk di bangku depannya.


Mario menatapnya intens, cowok itu hanya diam memperhatikan Adara.


Adara menunggu Mario membuka percakapan terlebih dahulu. Sekian menit terlewat, mereka hanya saling mendiamkan hingga perkataan Mario berikutnya membuat tubuh Adara melemas.


"Gue mau putus," sahut Mario.


Adara menutup mata mendengar perkataan Mario. Hatinya sakit mendengar itu. Kedua tangan cewek itu meremas rok sekolahnya, menahan diri untuk tidak menangis walaupun kedua matanya sudah berkaca-kaca. "Kenapa?" Cicitnya dengan suara serak.


Mario kembali diam.


Adara menghela nafas, hatinya terasa sakit sekarang. "Apa karena yang kemarin malam?" kalau kejadian itu alasan Mario memutuskan nya, Adara tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana.


"Bukan." Jawab Mario langsung.


"Lalu?"


"Gue hanya pengen."


Adara langsung membuka kedua matanya mendengar kalimat Mario. "Kamu kenapa sih?"


Mario kembali diam.


Adara menghela nafas, "Kalau aku bilang nggak mau, kamu pasti tetap putusin aku, kan?"


Mario mengangguk.


Adara membuang pandangannya kembali menatap jendela bersamaan dengan setetes air mata jatuh di pipinya. "Ya udah, sesuai permintaan lo. Kita putus. Mending sekarang lo keluar." Adara mengucapkan nya dengan suara datar dan dingin.


Mario terkejut, tidak menyangka dengan mudahnya cewek di depannya itu menyetujui permintaannya. Ada perasaan tidak suka di hatinya saat mendengar Adara mengganti gaya bicaranya dengan 'lo-gue', terasa kasar di telinga nya.


Mario meneguk ludah. "Lo nggak marah?"


Adara menghapus air matanya yang berhasil lolos di pipinya, dia sebenarnya ingin marah dan melemparkan cacian kepada Mario tapi dia lebih memilih diam tanpa ingin kembali melihat Mario.


"Lo boleh marah sama gue."


Adara menghela nafas, "untuk apa? Mending lo pergi gih. Gue mau sendiri."


Mario ingin membuka mulutnya untuk bicara lagi tapi urung saat melihat mata Adara terus mengeluarkan air mata. Cowok itu menghela nafas gusar kemudian berdiri, melihat Adara sekali lagi sebelum berjalan keluar kelas dengan perasaan tidak nyaman yang dia tidak tahu.


Adara berbalik melihat keadaan kelasnya yang kosong, dadanya terasa sesak sekarang. Cewek itu menyembunyikan wajahnya di tumpuan tangannya dan menangis dalam diam di sana.


Mario memutuskan ya. Bagaimana bisa cowok itu memperlakukan nya seperti ini? Seolah dia tidak pernah spesial untuk cowok itu. Mungkin selama ini Mario tidak serius berhubungan dengannya. Hanya menganggap Adara sebagai mainannya, layaknya cewek-cewek yang pernah berhubungan dengan Mario.


Hati Adara sakit.