S T A Y

S T A Y
Part 21. Sumber Masalah.



Perkataan Mario kemarin malam nyatanya bukan candaan belaka. Pagi ini saat Adara baru saja melewati gerbang sekolah, Mario sudah berdiri di parkiran motor. Cowok itu sedang menunggunya dengan memakai Jaket kulit berwarna hitam pemberian Adara dulu saat anniv pertama mereka. Adara diam saja melihat Mario yang berjalan ke arah nya, tidak lupa dengan senyuman yang selalu membuat hari Adara cerah. Dulu.


"Hai mantan yang sebentar lagi akan jadi pacar." sahut Mario sambik menyengir.


Adara mengerutkan dahi, menatap lekat Mario yang tidak berhenti tersenyum. "Lo kenapa ada disini?"


Mario terkekeh. "Apa lo lupa? Gue juga sekolah di sini sayang."


Adara berdehem mendengar panggilan Mario. "Maksud gue kenapa lo disini? Bicara sama gue? Lo nggak takut digosipin yang nggak-nggak?"


"Bagus dong. Gue dapat banyak pahala biar bisa ganti dosa gue yang banyak. Apalagi sama lo."


Adara menatap Mario. Sikap Mario yang dulu kembali lagi. Humoris dan sangat cerewet. Tidak lagi dingin dan banyak diam.


"Ayo, gue antar ke kelas. Bentar lagi bel bunyi." ujar Mario kemudian meraih tangan Adara tetapi cewek itu menarik kembali tangannya.


Mario melirik Adara, cowok itu tertegun. "Kenapa?"


Adara mengedipkan bahu. "Nggak enak diliat sama yang lain. Lo udah punya pacar. Gue bisa dianggap perusak hubungan orang nanti. Mending lo ke kelas sana. Gue bisa sendiri ke kelas gue."


Mario diam.


Adara melangkah melewati cowok itu yang hanya menatap Adara menjauh hingga menghilang dari pandangan nya.


"Maaf banget, Ra."


***


Galang dan Cica tampak berbicara serius di depan kelas saat Adara berjalan mendekat. Mereka berbalik bersamaan saat mendemgar langkah kaki. Ekspresi Cica saat itu juga terlihat marah bercampur kecewa saat melihat Adara. Lain dengan Galang yang terlihat datar seperti biasa.


"Selamat pagi!" Adara melambaikan tangannya ke Cica tapi tidak dengan gadis itu. Cica terlihat sangat marah saat melihat Adara.


Galang hanya mengangguk.


"Nggak usah sok akrab lo." Cica berdiri di depan Adara sambil bersidekap. "Dasar cewek murahan. Cowoknya dimana-mana ada! Bahkan cowok gue lo embat juga? Dasar nggak tau mau."


"Maksud lo?" Adara menatap bingung.


"Cica!" Galang mendesis marah. Cowok itu menarik Cica menjauh dari Adara. "Jaga omongan lo."


Cica terus menatap Adara, tidak melepas pandangan bengisnya. Cewek itu terlihat berbeda. Cica yang terlihat manja sekarang berubah. "Lo belain dia, Lang?" ucap Cica.


"Dia sahabat gue." sahut Galang dengan tenang.


"TAPI LO PACAR GUE, LANG!" teriak Cica akhirnya, cewek itu meneteskan air mata. Siswa-siswi di sekitar mereka tampak berbisik-bisik. "Gue nggak mau lo lebih peduli sama dia dari pada gue! Gue itu pacar lo. Dia bukan siapa-siapa!"


Galang menatap tajam Cica. "Kembali ke kelas lo."


Cica mendengus, dia kemudian menatap Adara. "Gue peringatkan sama lo. Jauh-jauh dari pacar gue. Emang Mario dan Kak Aksa belum cukup untuk lo? Sampai-sampai Galang juga lo mau embet? DASAR MURAHAN."


Plakkk...


Semua orang yang melihat kejadian itu melongo mendengar suara tamparan. Adara berusaha mengatur nafas nya yang memburu karena mendengar perkataan Cica. Terlihat Cica yang memegang pipi kanannya yang memerah.


" Lo berani nampar gue?" desis Cica kemudian maju ke arah Adara dan menampar balik cewek itu.


"CICA!"


Plakkk....


"Dasar murahan!"


"Jauh-jauh dari cowok gue."


"Perusak hubungan orang lo!"


Galang menarik Cica melewati kerumunan meninggalkan Adara yang diam mematung. Cewek itu menatap ke arah Galang yang tampak berbicara di ujung koridor. Suara cowok itu terdengar marah.


Adara melepas genggaman tangan Galang. Cewek itu meletakkan tasnya di meja kemudian duduk.


"Sakit, ya?" Adara menatap Galang yang sedang memegang pipinya. Cowok itu menatap luka lebam di pipi Adara dengan pandangan datar, lain dengan jari nya yang mengelus lembut. "Ini perlu diobatin. Ayo ke UKS."


Adara menepis tangan Galang. "Nggak usah. Orang-orang bisa salah paham nanti."


Galang menghela nafas. Cowok itu kemudian menyusul Adara untuk duduk. "Maafin gue. Cica marah karena semalam gue nggak jemput dia."


"Terus?"


"Dia kira gue lagi sama lo."


Adara mengangguk.


"Gue ambilin salep ya di UKS? Pipi lo merah. Gue nggak enak liat nya." Galang menatap Adara dengan pandangan bersalah.


"Nggak usah. Ini cuma sakit sedikit kok." Adara menyentuh Pipinya pelan. Sakit. Tapi cewek itu menahan ringisan. Dia tidak ingin membuat Galang khawatir.


"Tapi tetap aja sakit, kan."


"Nggak. Mending lo jangan dekat-dekat gue dulu. Gue nggak mau digosipin karena ngerusak hubungan lo."


"Bukan salah lo. Cica aja yang kekanakan."


"Gue tau bukan salah gue. Tapi bisa kan, Lang, untuk sementara waktu lo jauh-jauh  dari gue. Tatapan anak-anak sudah sangat buruk sama gue."


Galang menghela nafas, cowok itu menatap Adara sekali sebelum pamit dan berjalan ke bangku paling belakang untuk duduk. Adara menghela nafas nya keras. Belakangan ini masalah datang satu persatu untuk dirinya.


***


Bel istirahat pertama berbunyi. Siswa di kelas Adara berbondong-bondong keluar kelas untuk ke kantin. Adara dengan santai memasukkan peralatan tulis nya ke dalam tas. Saat Adara berdiri ingin ke kantin, Galang juga berdiri dan melangkah mendekat.


"Ke kantin, Ra?" Ujar cowok itu.


Adara mengangguk. Dia berjalan keluar kelas dengan Galang yang berjalan di belakangnya. Saat Adara baru saja masuk ke dalam kantin yang tadinya ramai menjadi senyap seketika, tatapan-tatapan menghakimi dilemparkan padanya.


" Kenapa berhenti? Lo lapar kan?" Ujar Galang berisik dengan tubuh yang mendekat ke Adara.


Adara meneguk salivanya. Cewek itu berbalik. "Nggak jadi deh. Gue mau sendiri, Lang. Lo jangan ngikutin gue." Setelah mengatakan itu, Adara langsung berlari menjauhi kantin mengabaikan Galang yang berteriak memanggilnya.


Adara menuju Rooftop sekolah. Cewek itu menghela nafas dan melanjutkan langkahnya sampai berada di pinggir bangunan dan duduk tanpa takut akan jatuh. Semilar angin menyapu wajah dan rambutnya.


"Terasa lebih baik disini." bisiknya. Dari atas, Adara bisa melihat hampir seluruh bagian sekolah. Lapangan Basket, lapangan Futsal dan lapangan upacara outdoor. Menatap satu persatu siswa-siswi yang lalu lalang di koridor atau pun yang berjalan di lapangan.


Tatapan Adara terhenti di salah satu Siswa yang tampak mencolok dari yang lainnya. Cowok itu berjalan ke arah kafe sekolah yang berada di bagian depan. Seorang gadis juga tampak mengekori cowok itu kemanapun. Azlan dan Adira.


"Gue sumber masalah, ya?" Adara berucap lirih. "Pertama keluarga gue hancur gara-gara gue, hubungan gue sama Mario, sekarang sahabat-sahabat gue. Besok apa lagi, Ra? Lo merusak segalanya. Lo cuma pembawa masalah. Nggak ada yang suka sama lo."


Adara lalu menatap ke arah langit yang berawan. "Mommy..."


"Daddy...."


Setetes air mata jatuh dari wajah cantik itu. "Adara mau ikut sama Mommy dan Daddy. Kenapa ninggalin Adara sendiri? Apa Mom dan Dad benci Adara juga karena pembawa masalah, ya?"


Adara menghapus air matanya. "Gue pembawa masalah. Nggak ada yang mau dekat sama gue lagi."


"Lo bukan masalah." Adara tersentak saat mendengar suara dari arah belakangnya. Mario berdiri di belakang Adara, menatap cewek itu dengan pandangan lain. "Disini lo bukan masalahnya."


Mario berjalan mendekat kemudian duduk di samping Adara. "Hanya pandangan mereka aja yang bermasalah. Mereka hanya melihat diri lo sekilas, tidak menatap lamat-lamat. Coba kalau mereka melihat lo kayak gue liat lo, nggak mungkin mereka bilang lo sumber masalah."


Mario menatap Adara, tangan cowok itu terulur menghapus jejak air mata di wajah Adara. Tangan cowok itu kemudian menangkup wajah Adara. "Kalau mereka liat apa yang gue liat di diri lo. Sebagai cahaya. Gue liat lo sebagai cahaya. Bukan sumber masalah."


Mario menarik Adara masuk ke dalam pelukan nya. "Lo tidak bersalah. Jangan anggap diri lo sebagai sumber masalah. Anggap diri lo cahaya. Yang menerangi sisi gelap." Mario mengelus punggung Adara pelan.


"Sisi gelap gue." Ucap Mario terakhir sebelum mengeratkan pelukan nya. Membiarkan Adara menangis dalam diam.