
"Sakit rasanya melihat kamu bukan milikku lagi."
🌸 S T A Y 🌸
Aksa beranjak. Berjalan mendekat saat mengetahui siapa siswi itu. Langkah cowok itu yakin tapi seseorang itu tidak terganggu sama sekali. Mungkin karena headset yang dipakai nya. Aksa tersenyum menatap seseorang itu yang sedang menutup mata dengan rambut merah nya yang menyebar di beton. Aksa membaringkan tubuhnya dengan hati-hati. Kepalanya sejajar dengan kepala Adara dengan sudut kaki yang 180 derajat. Aksa memperhatikan wajah Adara dari samping. Hidung mancung dengan kulit putih pucat. Sekali-kali bibir Adara bergerak pelan tanpa suara. Lama memperhatikan, Aksa menggerakkan tangannya, mencabut headset Adara yang berada di sebelah kanan dan memasangkannya di telinga sebelah kiri, mengabaikan Adara yang sudah menatap nya dengan mata bulat cerah berwarna biru. Sebiru langit.
"Gue nggak tau kalau lo suka musik dari negeri ginseng." ujar Aksa, kepalanya bergerak menatap langit-langit gedung juga.
"Ngapain Kak Aksa di sini?" tanya Adara.
"Lagi malas di kelas. Teman gue pada ngaco kalau nggak ada guru." Aksa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Enak juga nih lagu. Musiknya adem." celetuk Aksa.
Adara menatap sebentar Aksa sebelum kembali meluruskan lehernya. "Stay." sahut Adara.
"Hah?" Aksa membalikkan lagi wajahnya menghadap Adara. Menatap cewek itu dengan bingung.
"Judul lagunya."
Aksa menggunakan 'Oh' tanpa suara. "Menetap?"
Adara mengangguk. "Ini satu-satunya lagu yang artinya gue suka."
"Kalau boleh tau, artinya tentang apa?" Aksa memiringkan tubuhnya, menyangga kepalanya dengan sebelah tangan hingga dia bisa melihat wajah Adara secara keseluruhan.
Adara masih menatap lurus. Bibirnya tersenyum tipis. "Seseorang yang disakiti tapi tidak mempermasalahkannya. Hanya menginginkan pasangannya untuk tetap tinggal di sisinya."
Aksa menatap dalam Adara. "Lagu bodoh." sahut Adara. Bola mata Adara bergerak menatap Aksa. Terkejut sekaligus bingung. "Untuk apa tinggal kalau untuk disakiti? Bukankah itu pekerjaan paling bodoh di dunia?"
Aksa menatap balik Adara. Tangannya mengelus rambut kemerahan Adara. Adara memilih diam dan kembali memandang ke atas.
"Kok lo bisa di sini," Aksa juga memperbaiki kembali posisi nya. Mereka berdua menatap langit-langit gedung. "Bolos?"
"Nggak. Kelasnya juga kosong."
Aksa mengangguk. Setelah itu tidak ada lagi di antara mereka percakapan. Diam. Menikmati musik yang masih mengalir lewat headset ponselnya Adara.
"Boleh lihat list lagu lo?" tanya Aksa. "Gue agak aneh gitu dengar lagu ini."
Adara mengangguk, memberikan ponselnya kepada Aksa. Cowok itu langsung menerimanya dan memilih lagu yang pas. "Oh. Gue suka yang satu ini."
Alunan petikan gitar terdengar. Aksa kembali menatap Adara yang juga memperhatikan nya. "Ini cocok amat sama suasana ini. Kita."
"Garis Terdepan?" ujar Adara menyebutkan judul lagu yang sedang mereka dengar.
"Ya." Aksa memgangguk kemudian bibirnya menyenandungkan lagu tersebut. "Ku mendambakanmu mendambakanku. Bila kau butuh telinga tuk mendengar, bahu tuk bersandar, raga tuk berlindung. Pasti kau temukan aku di garis terdepan. Walau hanya sebatas teman.
Aksa menyanyikan itu sambil menatap kedua mata Adara yang juga balik menatap nya. "Nah. Sesuai lagu itu. Kalau lo butuh telinga, bahu, bahkan raga gue untuk melindungi lo. Cari gue. Gue akan selalu ada buat lo. Lo jangan memendam nya sendiri dengan memilih mendengarkan lagu yang akan menambah kesakitan lo.
" Gue akan jadi pendengar yang baik, bahu gue terbuka lebar untuk lo bersandar. Jadi jangan ragu untuk melangkah ke arah gue."
***
Bel jam pelajaran berakhir berbunyi. Semua siswa yang berada di kelas XI IPA 3 itu mendesah lega. Akhirnya berakhir juga pembelajaran Biologi yang tegang ini.
"Oke, Anak-anak. Semua tugas hari ini kumpulkan minggu depan. Dan jangan lupa dengan kuis." ujar Bu Astrid-guru Biologi sebelum keluar kelas.
Adara memasukkan buku-buku dan alat tulis lain ke dalam Tas. Menarik resleting agar tas nya kembali tertutup dan mengesampingkan tali tas di bahu kemudian berdiri.
"Gue duluan, Lang." sahut Adara menepuk bahu Galang yang baru saja memasukkan bukunya ke dalam Tas.
" Lo pulang sama siapa?" tanya Galang. "Kalau nggak ada. Biar gue antar."
"Ada kok. Sama Kak Aksa." kata Adara tersenyum kikuk. "Kak Aksa ngajak gue nonton."
Galang mendongak, menatap Adara dengan tatapan menggoda. "Cieee.. Kayaknya pdkt kak kelas berhasil deh."
"Ishh.. Apaan sih. Ya udah gue pergi dulu. Bye!" Adara melambaikan tangannya kemudian berjalan keluar kelas.
Di luar, Adara melihat Aksa yang bersandar di dinding kelasnya dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana kotak-kotak maroon nya.
"Udah siap?" tanya cowok itu. Aksa berbalik dan menatap Adara.
Adara mengangguk. "Udah, Kak. Oh iya. Kita mau nonton apa?" tanya nya. Adara menyamakan langkah Aksa saat mereka berjalan ke parkiran.
"Nanti lo tau juga." Aksa mengangkat lengan nya kemudian meletakkan nya di pundak Adara dan menarik cewek itu untuk mempercepat langkahnya melintasi lapangan menuju parkiran.
Parkiran masih penuh dengan motor dan siswa yang nongkrong di atas motornya. Menunggu teman atau menunggu motor-motor menghilang agar mereka bisa keluar. Untung motor Aksa berada di barisan depan, jadi mereka tidak perlu menunggu. Aksa menaiki motornya kemudian membantu Adara naik juga.
Adara memegang bahu cowok itu, memperbaiki posisi duduk nya sebelum menepuk punggung Aksa.
"Oke."
Aksa kemudian melajukan motornya keluar dari parkiran menuju gerbang sekolah dengan kecepatan di bawah rata-rata hingga mereka menghilang di persimpangan depan sana.
"Widihh.. Pak Bos. Kayaknya Adara cepat move-on dari Pak Bos. Kemana-mana udah bawah gandengan." celetuk Alvin yang mendapatkan tatapan tajam dari Mario. Cowok itu tadinya memperhatikan Adara mulai dari keluar kelas hingga menghilang di gerbang dengan cowok yang Mario kenal bernama Aksa. Cowok yang cukup terkenal di sekolah mereka sebagai wakil ketua osis.
Perasaan Mario tidak nyaman dengan kedekatan mereka. Jujur saja, Mario masih peduli dengan Adara. Bagaimana bisa dia tidak peduli setelah dua tahun hubungannya dengan Adara?
Mario membuang nafas keras. Mereka berdiri di parkiran lain sekolah. Tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh dari parkiran yang Aksa tempati parkir motor.
"Adara emang cantik. Gue lihat-lihat tuh cewek juga baik. Emang nggak cocok untuk Pak Bos." celetuk Farrel yang sedang memainkan ponselnya. Apalagi kalau bukan bermain games online. "Adara terlalu baik untuk Pak bos."
"Maksud lo gue nggak baik gitu?" Mario menatap Farrel tidak suka. Merasa tersinggung dengan perkataan cowok itu.
"Gue nggak bilang Pak Bos nggak baik. Cuma Adara terlalu baik untuk Pak Bos. Mana ada cewek yang rela liat cowoknya sama cewek lain? Apalagi yang belain cewek lain di depan ceweknya. Gue cuma berpikir Adara cewek yang sabar." Farrel mengatakan itu masih dengan tatapan serius ke ponselnya.
Mario mengalihkan pandangan. Terdiam. Cowok itu sedikit terpengaruh dengan perkataan Farrel.
" Nggak gitu juga. Pak Bos cocok kok sama Adara." Bimas menyeletuk, membela Mario. "Cocok di tampang doang, sih." ujarnya lagi kemudian tertawa. "Bercanda, Pak Bos. Jangan baper."
Mario mendengus kemudian berdiri.
"Mau kemana, Bos?" Sahut Alvin.
"Mau jemput Vira. Gue udah janji antar dia pulang." ujar Mario kemudian melangkah pergi.
"Tunggu, Bos! Gue ikut. Gue juga mau jemput yayang Wilona." Teriak Alvin. Dia kemudian menepuk kedua bahu sahabatnya sebelum berlari kepada Mario yang sudah jauh.
Mereka sampai di kelas Vira, X IPS 1. Alvin berdiri di depan kelas saat melihat kelas Vira baru saja bubar. Lain dengan Mario yang bersandar di dinding kelas, menatap kelas XI IPA 3 yang jauh di sana. Kelas Adara. Mata cowok itu menerawang.
"Yayang Wilona!" seruh Alvin melambaikan tangannya bersamaan dengan Vira dan Wilona yang keluar dari kelas.
"Apaan sih pake teriak-teriak segala. Gue nggak budek ya." dengus Wilona. Tapi cewek dengan rok ketat beberapa senti di atas lutut itu mendekatkan diri kepada Alvin dan mengapit lengan nya. Bersandar pada cowok itu.
Vira memutar mata melihat mereka. Dia kemudian membalikkan tubuh kemudian tersenyum kepada Mario yang berjalan ke arah nya. "Kak Mario!"
Mario hanya tersenyum tipis. "Jadi pulang sama gue?" tanya nya saat Vira berada di depannya.
"Jadi dong." Vira mengangguk antusias.
"Eh iya. Sebelum pulang bagaimana kalau kita nge-Date? Double Date? Ada film baru di bioskop." celetuk Wilona yang berada di belakang mereka. "Kalian udah jadian, kan?"
Mario diam. Lain dengan Vira yang mengangguk antusias. Cewek itu kemudian menggenggam tangan Mario. "Ayo."
"Gue nggak bisa."
Semua pasang mata menatap Mario yang berujar datar.
"Kenapa? Ini kan nge-Date pertama kita. Kok Kak Mario nggak mau sih?" ujar Vira cemberut. "Kak Mario harus ikut!" paksa Vira, cewek itu menarik-narik seragam Mario.
"Gue nggak bisa, Vir. Gue mau cepet pulang."
"Nggak. Kak Mario harus ikut." ucap Vira bersikeras. Cewek itu kemudian membalikkan badan menghadap Wilona dan Alvin. "Ayo. Kami juga ikut."
"Gitu, dong. Pak Bos tuh lagi butuh refreshing supaya tuh muka bagus dipandang. Jangan cemberut aja." ujar Alvin memyengir. Cowok itu mengajak Wilona untuk pergi ke parkiran.
"Ayo, Kak." Vira mengapit lengan Mario. Memaksa cowok itu untuk mengikutinya.