S T A Y

S T A Y
Part 17. Cemburu



🌸S T A Y 🌸


Mereka diam. Sudah sepuluh menit mereka di ruang UKS tanpa ada satupun dari mereka berbicara. Sekali-kali melirik satu sama lain atau mencari hal yang bisa membuat mereka sibuk sendiri. Mario merutuki Alvin dan Bimas yang belum juga kembali dari membeli obat. Padahal Apotik jaraknya dekat dari sekolah, Pas seberang sana.


"Nggak kembali ke kelas?" tanya Adara akhirnya memecah keheningan. Cewek itu tersenyum canggung saat Mario mengangkat pandangan ke arahnya.


"Nanti." jawab Mario singkat.


Adara mengangguk. Mereka kembali diam. Adara menatap ke pintu UKS yang tertutup, berharap seseorang masuk untuk memecahkan situasi yang tidak mengenakan ini. Satu ruangan sama mantan membuat jantung Adara deg-degan.


Dan sepertinya doa Adara terkabul. Seseorang menyentak pintu terbuka dengan kasar. Seorang cowok dengan wajah khawatir langsung menghampiri Adara dan menyorot tubuh cewek itu dengan tatapan tajam. Terdengar bunyi gigi bergemutuk saat tatapannya jatuh ke lengan dan kaki Adara yang terluka.


"Kak Aksa." panggil Adara pelan.


Aksa memindahkan tatapannya ke Adara. "Kenapa bisa jadi seperti ini?" tanya nya sambil berjalan mendekat dan duduk di sisi lain Adara.


Cowok itu tanpa permisi langsung memegang lengan Adara. "Ini sudah diobati, kan?" tanya nya lagi dengan sorot mata khawatir.


"Iya, Kak. Sudah diobati ibu Indah tadi." jawab Adara pelan. Matanya mencuri pandang ke arah Mario yang bergeming menatap lengan Adara yang dipegang Aksa.


"Ini kenapa masih melepu?" tanya Aksa sambil menatap Adara. Aksa khawatir. Saat dia masih di ruang Osis mencatat hasil rapat dengan Azlan yang mengawasinya, ada anggota Osis yang melapor kepada Azlan bahwa Adira membuat ulah.


Aksa tidak ambil pusing mendengar itu tapi saat nama Adara disebut-sebut sebegai korban, tanpa pikir dua kali Aksa langsung berlari ke UKS dan meninggalkan pekerjaannya.


Dia tidak peduli.


Sekarang yang dia pikirkan hanyalah keadaan Adara.


"Kak Aksa nggak usah khawatir. Gue baik-baik saja kok." kata Adara ingin menenangkan Aksa yang masih terengah-engah.


Pintu kembali terbuka. Farrel, Alvin dan Bimas masuk. Ketiga cowok itu melangkah mendekat ke arah Mario yang duduk canggung di samping Adara.


"Ini salepnya." sahut Alvin sambil memberikan kresek berwarna putih yang berisi obat kepada Mario.


Sebelum Mario menerimanya, Aksa lebih dulu mengambil obat itu.


"Balik sini." suruh cowok itu kepada Adara yang menatap tangan Mario yang masih terulur.


Mario berdehem. Kedua tangannya mengepal kuat dengan kedua mata tajamnya menyorot kepada dua orang di depannya dengan dada yang berdetak kencang. Perasaan tidak suka melihat cowok lain memegang lengan Adara membuat nafas cowok itu terengah-engah menahan emosinya. Dia tidak boleh meledak sekarang. Ada Adara. Dan mengingat status nya yang sekarang bukan siapa-siapa.


"Kenapa bisa jadi gini sih?" cerocos Aksa saat menyentuh luka di kaki Adara. "Gue aja yang cowok ngeri liatnya. Bisa berbekas ini."


"Gue nggak apa-apa kok." kata Adara lagi. Cewek itu meringis saat Aksa memoleskan salep di luka Adara.


Mario memperhatikan interaksi mereka berdua. Bagaimana Aksa merawat luka Adara membuatnya merasa aneh. Seharusnya dia yang ada di sana. Dia akan merawat luka Adara suka cita. Mario mati-matian menahan rasa tidak suka yang muncul di hatinya karena Adara disentuh cowok lain.


Cowok itu berdiri dengan kasar. "Gue keluar dulu." ucapnya tanpa melihat Adara.


Adara menghela nafas. Dia menatap pintu yang tertutup beberapa detik. Sepertinya Mario bener-bener sudah tidak peduli padanya. Padahal dia sudah sedikit berharap saat Mario menyelamatkan nya tadi. Hatinya masih berharap Mario merasa peduli dengannya.


Tapi apa boleh buat? Sekarang mereka hanya sebatas mantan.


***


Bel pulang berbunyi. Adara keluar dari kelas dengan kaki pincang sebelah. Dia tersenyum tipis ke Aksa yang menunggunya di depan kelas sambil bersandar di dinding dengan kedua tangan di dalam saku.


"Ayo pulang." sahutnya menyamput Adara.


Adara mengangguk. Dia berjalan pelan ke arah Aksa yang setia menunggunya selama sepuluh menit. Cowok itu merangkul Adara dan membantunya untuk berjalan ke parkiran. "Pelan-pelan aja jalannya. Untuk sementara kamu tinggal di rumah. Nyokap gue tahu kalau lo luka. Dia khawatir. Gue jadi korban lagi kalau lo nggak mau ikut sama gue."


"Nggak usah. Gue udah baik-baik aja kok. Tanya aja ke tante Maudy."


"Nyokap maksa. Lo harus ikut gue. Kalau gue pulang nggak bawa lo, bisa-bisa gue nggak diizinin masuk rumah." sahut Aksa kemudian terkekeh. "Nyokap gue keterlaluan banget kan? Gue kan anak kandungnya, masa dibiarkan tidur duluan karena tidak bawa calon mantunya."


Adara mendongak mendengar perkataan Aksa. Dia mengerutkan dahi.


"Bercanda. Sellow.." Aksa tertawa. "Mukanya serius amat."


Adara mendengus dan memukul pelan lengan Aksa membuat tawa cowok itu semakin keras. Adara juga tertawa. "Kak Aksa ih."


Mereka sampai di parkiran. Aksa melepas rangkulannya untuk memakai jaket kulit dan memakai helm sebelum naik ke motornya. "Ayo."


Adara mengerutkan dahinya. Memikirkan cara untuk naik ke boncengan motor. Dia agak kesusahan karena luka di kakinya yang sudah dibaluti perban.


"Kalau mau bantuan bilang aja. Nggak usah diam." Aksa mengulurkan tangannya. Adara tersenyum lagi. Dia memegang dengan kuat lengan Aksa kemudian dengan hati-hari naik.


"Oke!"


Aksa melirik sebentar Adara lewat kaca spion. "Pegangan. Gue mau ngebut."


"Gue lagi sakit. Lo mau bikin gue mati?" delik Adara sambil memukul helm cowok itu.


"Makanya pegangan." celetuk Aksa sambil meraih kedua tangan Adara dan melingkarkannya ke pinggang nya. "Kayak gini."


Adara mendengus tapi bibirnya tidak bisa menahan lengkungan yang tercipta karena sosok cowok di depannya ini. Aksa tersenyum dari balik helm full face nya. Rasa senang dia rasakan saat melihat wajah Adara yang memerah.


"Pegangan yang kuat." sekali lagi Aksa berucap kemudian menarik gas hingga motor mulai berjalan ke arah gerbang sekolah.


"Kak! Singgah di rumah sebentar. Gue mau ambil baju." ucap Adara.


Aksa hanya mengangguk. Motor hitam itu keluar dari persimpangan sekolah yang ramai. Adara sempat melihat Mario dan teman-temannya duduk di depan warung. Mario tidak bereaksi apapun saat mereka saling tatap. Adara tersenyum tipis. Senyum kecewa. Mario benar-benar sudah melupakan nya.