S T A Y

S T A Y
Part 26. Rafael Margantara Evano



Adara berdiri kaku di belakang Azlan dan Adira. Mereka telah tiba di terminal kedatangan untuk menjemput Uncle Rafael yang baru saja tiba. Mata cewek itu memperhatikan sekitarnya yang ramai dengan orang - orang yang lalu lalang membawa koper dan bawaan mereka.


"Itu Uncle Rafael!" Pekikan Adira membuat fokus Adara kembali. Cewek itu menatap ke pintu kedatangan di mana seorang pria dengan setelah jas berwarna hitam berjalan dengan beberapa pengawal di belakangnya. Pria itu membuka kaca matanya dan tersenyum menyambut Adira yang sudah berlari ke arahnya. Dia merentangkan tangan menyambut Adira dan sekilas mencium puncak kepalanya.


"Hai Baby Girl, how are you?" Tanya Pria dengan wajah tampan itu.


Rafael Margantara Evano, adik Daniel Margantara Evano, Daddy Azlan dan Adara yang masih berusia 23 tahun. Pria tampan yang baru saja lulus dari universitas harvard sebagai mahasiswa terbaik di angkatannya. Garis wajahnya tegas dengan rahang yang kokoh, mata biru tajam dengan bulu mata yang tebal, bibir tebal yang merah alami dan jangan lupakan kumis tipis yang membuat wajah itu tampak tampan dan manis dalam satu waktu. Kulitnya yang putih pucat sangat mirip dengan Adara. Rafael memiliki wajah yang hampir mirip dengan Daniel, hanya saja Rafael terlihat lebih tampan dengan kumis tipisnya.


Adara tersenyum hangat melihat interaksi Rafael dengan Adira yang tampak sangat dekat. Tiba-tiba saja Rafael mengangkat wajahnya melihat Adara dan Azlan yang berdiri tidak jauh darinya. Pria itu melepas pelukannya pada Adira dan berjalan menghampiri mereka. "Hei... Bocah nakal! Don't want to say hello to your handsome uncle?"


Azlan mendengus mendengar itu. Dia mendekat dan dengan sopan mencium tangan Rafael. Adara hanya berdiri melihat itu semua. Rafael menyisir rambutnya kebelakang saat dia mendekat ke depan Adara dan berdiri di depan cewek itu yang menatapnya dengan rindu. "Tidak ada pelukan selamat datang untukku, sweetheart?"


Adara tersenyum kaku, matanya melirik Adira yang melototinya. "Se... Selamat datang, Uncle." Adara langsung menghambur ke pelukan Rafael yang juga memeluknya erat.


"I miss you so bad, sweetheart," ujar Rafael sambil mengecup lama puncak kepala Adara. "Why don't you call me again? I worry about you."


Adara melepaskan pelukannya. "I sorry, Uncle. Adara sibuk belakangan ini jadi nggak sempat telfon uncle."


Rafael mengecup kembali puncak kepala Adara sekilas sebelum berbalik ke arah Azlan dan Adira yang memperhatikan interaksi mereka sedari tadi. "Sebelum pulang kita makan terlebih dahulu. Saya tidak sempat makan di pesawat."


Rafael mengangguk kemudian menarik Adara untuk berjalan di sampingnya. "Kamu ikut di mobil saya?"


A


dara mengangguk. Dia masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam yang parkir di depan yang dibuka kan oleh pengawal Rafael, sedang pria itu masuk setelahnya.


.


.


.


.


Hari senin jam istirahat pertama, Mario dan teman-temannya sedang duduk di tangga yang menghubungkan kelas sepuluh Ips dan sebelas Ips. Mario duduk di tengah dengan kedua kakinya dia luruskan kedepan sedang kedua tangannya menahan beban tubuh cowok itu.


Di atas cowok itu ada Farrel yang duduk menyandar ke tembok sedang sibuk dengan games onlinenya, sedang Alvin dan Bimas berada di anak tangga bawah dengan sekali-kali menggoda adik kelas yang melintas di koridor depan mereka.


"Eh, Dedek Wulan. Mau kemana cantik-cantik gitu?" celetuk Bimas saat seorang adik kelas dengan rambut model Boop melintas di depan nya.


Wulan spontan menghentikan langkahnya dan menatap bingung ke kakak kelasnya yang terkenal seantoro sekolah itu, masalahnya tidak biasanya mereka nongkrong di tangga seperti ini.


Bimas berdiri dan mengakhiri Wulan yang kini menatapnya. Cowok itu dengan senyum manis mengeluarkan ponsel nya, "Adek Wulan minta wa nya dong?"


"Eh?"


Bimas mengangguk. "Hem.. Minta Wa adek Wulan. Boleh, kan?"


Wulan mengerutkan dahinya. "Boleh, kak. Tapi buat apa, ya?" Tanya Wulan dengan wajah polosnya mengambil ponsel Bimas dan mengetik nomornya di sana.


"Makasih." Bimas mengerling ke arah Wulan yang membuat cewek itu salah tingkah. "Mau silaturahmi ke hati Adek Wulan boleh, nggak?"


Mario, Alvin dan Farrel mendengus mendengar itu.


"Eh.. Tapi aku udah punya pacar, kak!"


Bimas tertawa canggung. "Rasanya gue mau nyanyi! Cinta apa kau tak bahagia? Sini dengan ku saja! Oh oh dia itu siapa aku ini lebih baik darinya."


Wulan tersenyum sopan. "Maaf, kak. Saya permisi, ya? Soalnya teman aku udah nungguin di kantin." setelah mengatakan itu, Wulan langsung berjalan pergi.


"Mamposs!"


"Ditolak sebelum gas dia."


Bimas mendengus mendengar Alvin yang sudah mengejek nya sambil tertawa. Cowok itu dengan kesal duduk di samping Alvin. "Nggak usah ngejek lo!"


"How you like that? ba da bim ba da bam bambang."


Bimas mendongak menatap Farrel juga mengejeknya. "Lo kira bapak lo bambang?" sungut cowok itu tidak terima. "Yang bener tuh bengbeng! Ba da bim ba da bam bengbeng!"


Alvin di samping cowok itu menjitak kepalanya. "Lo kira iklan? He.. Punya teman gini amat!"


"Blackpink menangis mendengar lo lo pada nyanyi!"


Mario memdengus mendengar pembahasan unfaidah teman-temannya, dia menatap ke seberang di mana kelas Ipa berada. Alis cowok itu terangkat melihat Adara yang berjalan keluar kelas membawa buku paket.


Dengan cepat, Mario berdiri dari duduknya. "Gue cabut!" sahut cowok itu kemudian berlari mengejar langkah Adara.


Mario sampai di samping cewek itu yang kesulitan membawa buku paket tebal itu. "Sini gue bantu." Mario langsung mengambil alih beberapa buku hingga Adara bawa hanya sebagian saja. Cewek itu terkejut mendapati Mario yang berjalan di sampingnya sambil tersenyum.


"Ke perpus atau ruang guru?" Tanyanya.


"Ke Perpus." Adara mengalihkan pandangannya ke depan. Sedang Mario memperhatikan wajah cewek itu.


"Lo sudah makan?"


Adara mengangguk. "Sudah, makan Burger yang lo kasih."


Mario mengangguk - anggukkan kepalanya. "Pake aku - kamu aja. Nggak cocok kamu pake lo - gue."


Adara menyergit. "Kemarin pake lo - gue, kamu nggak masalahin. Kenapa sekarang?"


Mario tersenyum memdengar Adara. "Mau lebih dekat aja."


Mereka masuk ke dalam perpustakaan dan berjalan menghampiri meja informasi. "Kak! Mau kembaliin buku bahasa indonesia."


Seorang cowok yang duduk di kursi mendongak menatap Adara. "Eh, Adara. Kembaliin di rak yang sesuai bisa, nggak? Udah semua ini kan?"


Adara mengangguk. "Bisa, kak!"


Cewek itu kemudian mengajak Mario ke rak - rak yang berisi buku. Mereka menghentikan langkahnya tepat di Rak dengan tulisan bahasa Indonesia. Adara membantu Mario menyusun bukunya setelah sebelumnya dia menyusun buku yang ada di tangannya. "Makasih ya udah bantuin." Adara tersenyum tulus menatap Mario. "Aku pamit ke kelas. Kamu kembali aja ke teman - teman kamu."


Mario menghentikan langkah Adara dengan memegang lengannya. "Tunggu ada yanh ingin aku bicarakan!"


Adara mengerutkan dahinya. "Apa?"


Mario menarik Adara mendekat kemudian menghimpitnya pada rak buku, sebelah tangan nya berada di samping kepala cewek itu. Ditatap nya Adara dalam hingga cewek itu merasa tidak nyaman. "Kamu mau ngapain?"


Mario menundukkan wajahnya hingga berjarak hanya beberapa senti dari wajah adara yang sudah memerah. "Balikan sama aku, ya?"