S T A Y

S T A Y
Part 6. Pdkt ala Aksa



Adara turun dari motor saat Aksa berhenti di depan Kafe Arion yang berada di pinggir pantai, aroma asin air laut langsung menerpa indra penciuman Adara membuat cewek itu menghirup dalam, suara deburan ombak yang terdengar jauh di belakang kafe membuat Adara merasakan ketenangan yang jarang dia rasakan.


Bukannya berjalan masuk ke pintu kafe saat Aksa mengajaknya, cewek itu meneruskan langkah dan berbelok di samping kafe, mengikuti jalan setapak hingga matanya melihat air laut yang disinari cahaya bulan.


Mulut Adara berdecak. "Sangat indah."


Adara melanjutkan langkah hingga berhenti di bibir pantai, matanya terus bergerak memandang laut lepas dalam kegelapan malam.


Deburan ombak dan angin darat yang berhembus membuat cewek itu menutup mata, rambut kemerahannya bergerak mengikuti arah angin membuat Adara ingin berlama-lama menikmati keadaan hening dalam ketenangan ini.


"Cantik, kan?"


Adara mengangguk, berbalik ke Aksa yang sudah berdiri di belakangnya dan tersenyum. "Kalau tahu tempat ini dari awal gue akan pilih kafe ini untuk bekerja."


Aksa terkekeh, tangan cowok itu meraih lengan Adara. "Mundur sedikit, kaki lo bisa basah kena ombak."


Adara menunduk, langkah kaki cewek itu kemudian mundur hingga berada di atas pasir yang kering. "Bisa di sini lebih lama, kan? Gue pengen di sini dulu."


"Bisa kok, lo di sini semalam juga nggak apa-apa."


Adara terkekeh, menggelengkan kepala dan menepuk bahu Aksa pelan. Aksa tersenyum geli, menatap intens Adara saat raut wajah cewek itu berubah bersamaan dengan keheningan yang tercipta.


Adara terdiam memikirkan Mario, entah mengapa wajah cowok itu berhasil masuk ke dalam pikirannya, bagaimana Mario yang memutuskannya dengan alasan yang menurutnya tidak masuk akal, wajah masam Mario saat mereka tidak sengaja berpapasan di koridor. Mario seakan melupakannya, seolah dirinya tidak pernah di kehidupan cowok itu. Hilang tanpa bekas digantikan sosok lain yang sempurna. Tidak seperti dirinya yang memalukan.


"Lo kenapa?" Tanya Aksa tidak tahan melihat mata Adara yang berkaca-kaca.


"Nggak apa-apa kok," Adara melirik Aksa dan tersenyum tipis.


Aksa terkekeh. " Cewek kalau ditanya, jawabnya selalu nggak apa-apa, ya? Padahal ada apa-apa. Lo kalau ada masalah cerita sama gue. Gue nggak keberatan kok. Gue lumayan dapat dipercaya, kok."


Adara menatap laut lepas, cewek itu terdiam cukup lama hingga Aksa mengajaknya beranjak untuk masuk ke kafe.


Kafe Arion adalah kafe dengan dua lantai terlihat cantik dari dalam maupun luar, interiornya yang terbuka dan sederhana seperti kafe pada umumnya, lampu-lampu hias yang bergantungan di langit-langit dan di pinggir kafe menambah kesan romatis serta tanaman hias yang menambah kecantikan dari kafe ini dengan lantai kayu berwarna cokelat gelap dengan corak bergaris.


"Lo tunggu di sini gue mau cari nyokap dulu." Kata Aksa dan berlalu meninggalkan Adara yang berdiri di depan kasir.


Adara memperhatikan kafe yang terlihat cukup ramai, ada beberapa pelayan yang sedang melayani, ada panggung kecil yang disediakan untuk band di pinggir kafe, Adara penasaran bagaimana dengan lantai atas kafe ini.


"Adara, ini nyokap gue." Aksa sudah berada di belakang cewek itu, Adara berbalik dan melihat wanita dewasa yang berdiri di samping Aksa sedang tersenyum hangat padanya.


"Selamat malam, Tante." Sapa Adara kikuk.


"Hai.. malam juga, Kamu lebih cantik aslinya daripada yang dikatakan Aksa." Sahut Maudy-Nyokap Aksa antusias kemudian merangkul Adara yang tersenyum malu-malu. "Aksa selalu cerita tentang kamu. Katanya ada cewek yang dia naksir tapi sudah ada yang punya."


"Mama!" Teriak Aksa, wajah cowok itu memerah.


Maudy terkekeh. "Kasian banget ya, nasib anak tante yang satu ini. Baru pertama kali suka cewek, eh tapi ceweknya udah ada yang punya."


Adara tertawa kecil, dia melirik Aksa yang tidak mau melihatnya. "Nggak kok, tante. Adara sudah putus sama pacar Adara."


Bukan hanya Aksa yang terkejut dan langsung memandangnya, Maudy pun juga. "Wahh.. jadi anak tante punya kesempatan dong?"


Aksa terdiam, terlihat sedang memikirkan sesuatu, tetapi binar di kedua mata cowok itu tidak bisa dia sembunyikan.


"Eh, tante belum perkenalkan diri, ya?" Sahut Maudy mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Adara. "Perkenalkan nama tante Maudy,"


"Adara, tante."


Maudy mengangguk. "Kita ke atas aja, ya? Ke ruangan tante. Kata Aksa, Adara pengen bekerja di kafe tante,kan?"


Adara mengangguk, dan malam itu Adara habiskan di ruang kerja Maudy untuk membicarakan perihal pekerjaan sedangkan Aksa pamit sebentar dan berjanji akan menjemput Adara kembali.


***


Dua hari berlalu sejak Adara bekerja di kafe milik nyokap Aksa, sudah dua hari juga Aksa mengantar-jemputnya sesuai permintaan Maudy saat mengetahui Adara tinggal sendirian. Aksa terlihat tidak keberatan sama sekali, begitupun Adara yang merasa nyaman dengan kehadiran cowok itu.


Seperti kemarin, Adara tidak lagi menunggu Bus sekolah di jalan depan kompleknya, gadis itu hanya menunggu di teras rumah dan saat deru motor mendekat dengan cepat Adara akan melangkah keluar pagar dan tersenyum kepada Aksa yang duduk di motor besarnya, tanpa menunggu cowok itu bicara lagi, Adara duduk di belakang Aksa, memegang pundak cowok itu agar tidak terjatuh.


Dua puluh menit berlalu, Adara sudah berada di sekolah, berjalan di koridor dengan Aksa di sampingnya.


"Sampai ketemu di kantin, Kak!" Kata Adara saat sampai di depan kelasnya.


Aksa mengangguk. "Jaga diri baik-baik. Kalau ada masalah, bilang ke gue!"


Adara tersenyum, cewek itu melambaikan tangannya saat Aksa berjalan menjauh.


"Cieee ada yang sudah move-on nieee.." celutuk seseorang di belakang Adara. "Mana Pj gue nih."


Galang merangkul Adara, membawa cewek itu masuk ke dalam kelas hingga sampai di bangku belakang tempat Galang dan Adara sekarang duduk.


"Bukan pacar, tapi calon pacar, kan?" Galang menaik-turunkan alisnya menggoda Adara.


Adara memutar mata. "Nggak, Kak Aksa sudah gue anggap kakak gue."


Galang tertawa keras, tangan kanan cowok itu mengacak gemas puncak kepala Adara hingga rambut cewek itu berantakan.


Sejak kejadian restoran itu, tidak ada lagi yang ingin bergaul dengan Adara, begitupun Sandra yang juga menjauhinya hingga memanggil Iffa-Teman sekelas mereka untuk duduk di bangku Adara, cara halus untuk mengusir Adara dari tempatnya duduk.


"Jadiin pacar aja napa, Dar. Gue juga lihat Aksa bukan cowok brengsek seperti mantan lo kemarin, cowok itu kelihatannya baik sama lo." Kata Galang sembari meletakkan tasnya di meja kemudian kembali merangkul Adara dan mengajak cewek itu keluar kelas.


"Jangan nilai orang dari luarnya aja." Adara menatap ke depan, seakan sudah menjadi kebiasaan mereka, setiap pagi sebelum bel berbunyi mereka pasti menyempatkan diri untuk belanja di kantin.


Mereka sampai di kantin yang cukup sunyi pagi ini, hanya ada beberapa siswi yang memperhatikan mereka saat Galang mengajak Adara untuk duduk dan langsung pergi memesan makanan seperti kemarin-kemarin.


Sembari menunggu Galang yang memesankan untuknya nasi goreng dan segelas teh hangat, Adara mengambil ponsel nya yang berada di saku kemeja, memasukkan password dan membuka aplikasi Instagram.


Hanya ada lima foto yang ada di profil Instagram Adara, tiga foto dirinya, satu foto bersama Galang dan Sandra, dan foto yang paling pinggir kiri atas adalah foto dirinya dan Mario yang dia posting tiga bulan lalu.


Adara tersenyum, hatinya menghangat melihat senyum Mario yang sangat lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putih cowok itu, lengan Mario berada di atas bahu Adara dengan bibir Adara di pipi Mario. Kedua nya terlihat sangat bahagia.


"Ehm. Ehm. Ada yang flashback nie sama mantan." Celetuk Galang yang sudah meletakkan pesanan Adara di atas meja, cowok itu kemudian duduk di samping Adara dan memperhatikan ponsel cewek itu.


Adara mematikan ponselnya. "Apaan sih, ngintip-ngintip, nggak boleh pamali."


Galang terkekeh. "Iya. Iya. Nih makan dulu keburu bel nanti."


Adara mengangguk dan mulai memakan makanannya sedangkan Galang mengeluarkan ponsel kemudian terlarut dalam permainan online nya.


"Galang!" panggil seorang cewek yang baru tiba di meja mereka.


Suara cewek itu sangat familiar untuk Galang, cowok itu tidak menggubris panggilan itu dan tetap fokus dengan permainannya.


"Lang, Ada Cica tuh," celetuk Adara dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


"Habisin dulu yang ada di mulut lo, baru bicara." Sahut Galang.


"Lang!" Panggil Cica kesal.


Galang masih diam.


"Ishh!" Cica menarik paksa ponsel cowok itu membuat Galang berdecak kesal.


"Lo apa-apaan, sih?" Kata Galang memandang tajam Cica.


"Aku manggil kamu dari tadi tapi kamu nggak dengar." Cica mengerucutkan bibirnya dengan imut, membuat Galang menghela nafas pelan.


"Mau ngapain ke sini?"


Cica tersenyum, cewek itu menarik kursi ke samping Galang dan duduk di sana. "Nanti malam jemput aku, ya? Udah lama aku nggak jalan sama kamu."


Galang diam saja, cowok itu menyeruput teh hangat yang juga dia pesan tadi. "Malas."


Adara menatap bingung Galang yang sedang memasang wajah datar, berbanding terbalik jika cowok itu berbicara kepadanya atau dengan Sandra.


Cica berdecak kesal, dia kemudian menarik tangan Galang dan menggenggamnya erat. "Mau, ya? Sekali ini aja. Ada film bangus di bioskop. Aku yang traktir deh kalau kamu nggak mau bayar."


"Pergi aja, Gal. Muka lo kayaknya lagi butuh refreshing supaya nggak sangar-sangar amat," celetuk Adara yang sudah menghabiskan nasi gorengnya.


Galang menatapnya datar. "Gue mau pergi asal lo juga mau pergi. Ajak Aksa aja sekalian. Kita double date."


"Gue nggak bisa kalau malam, ada urusan." Tolak Adara. "Lo aja deh, berdua. Cica kayaknya juga pengen hanya lo yang pergi."


"Gue nggak mau pergi kalau nggak ada lo." Sahut Galang bersikeras. "Balikin hp gue. Lo ke kelas aja deh. Bentar lagi mau bel." Cowok itu kemudian mengambil paksa ponselnya di tangan Cica yang sudah memasang wajah memelas.


"Adara lo juga pergi, ya?" Sahut cewek itu. "Kalau lo nggak mau sama Kak Aksa. Lo bisa manggil Kak Mario, deh. Diakan pacar lo."


"Lo kalau dibilang balik, ya balik. Nggak usah di sini ganggu." Sentak Galang saat melihat perubahan wajah Adara. "Lo mending pergi sekarang. Gue bakalan jemput lo nanti malam, deh. Sana lo."


Cica cemberut tapi melakukan apa yang dikatakan Galang, cewek itu mengecup singkat pipi Galang sebelum berjalan menjauh.


"Balik ke kelas, yuk! Gue nggak mau telat masuk pelajaran Pak Bayu." Kata Adara, memaksakan senyum kemudian beranjak juga dari sana yang disusul Galang.