S T A Y

S T A Y
Part 8. Azlan Aditya Evano



Adara berjalan di koridor untuk ke kantin setelah dari UKS, cewek itu sangat menyadari Mario yang berjalan di belakangnya beberapa meter. Setelah kejadian Adara digendong oleh Mario, mereka jadi pusat pembicaraan lagi, hanya butuh waktu singkat semua mata kembali menyorotinya.


Adara masuk ke dalan kantin, celangak-celunguk mencari Galang dan melihat cowok itu sedang duduk bersama Cica. Adara menghela nafas, tidak mungkin cewek itu ke sana dan mengganggu mereka, karena belakangan ini Galang banyak meluangkan waktu untuknya ketimbang bersama Cica-pacarnya sendiri.


Adara berjalan untuk memesan terlebih dahulu, cewek itu lupa kapan terakhir kali dia berdesak-desakkan seperti ini hanya untuk sepiring Batagor porsi sepuluh ribuan, karena Galang selalu menggantikan Adara melakukannya, atau Aksa dan beberapa cowok lain yang sedia memesankan untuknya makanan, termasuk cowok yang sudah bergabung dengan temannya di meja pinggir sana.


Setelah memesan, Adara duduk di meja kosong di tengah-tengah kantin, diminumnya dahulu minuman dingin rasa taro kesukaannya sebelum berlanjut ke batagor.


"Gue cari di kelas, eh ternyata udah duluan di kantin."


Adara mendongak menatap Aksa yang sudah duduk di depannya dengan sepiring Mie ayam dan segelas air mineral.


Adara menelan batagornya. "Maaf, kak. Gue dari UKS dan langsung ke kantin."


Aksa mengangguk, cowok itu kemudian mulai menyendok Mie ayamnya. "Lo nanti malam ke kafe, kan?" sahutnya sambil mengunyah.


"Iya, kak."


"Gue jemput. Lo siap-siap sekitar jam tujuh."


"Padahal nggak usah di jemput lo, kak. Gue bisa naik bus aja ke sana."


Aksa menggeleng, "nyokap gue kan udah kasih tahu, lo? Gue nggak mau dicoret dari kartu keluarga karena nggak jemput putri kesayangan mendadaknya," kata cowok itu sambil terkekeh.


Adara memutar mata. Setelah tahu Adara hanya tinggal sendiri Maudy mendadak khawatir, katanya tidak baik cewek tinggal sendirian, bahkan Maudy hampir saja menyuruh Adara tinggal di rumahnya jika saja cewek itu tidak menolak. Itulah mengapa, sekarang Adara jika kemana-mana selalu bersama Aksa, diantar jemput cowok itu hanya sekedar melaksanakan perintah ibu negara.


"Tante Maudy baik ya," Adara tersenyum tipis, ingatan tentang wanita hebat yang dahulu selalu di sampingnya membagi kebahagiaan dan kehangatannya, Mommy nya.


"Siapa dulu dong anaknya," celetuk Aksa nyengir.


"Apaan sih." Adara tertawa.


Adara memakan potongan batagor terakhirnya kemudian meminum minumannya hingga habis, cewek itu kembali menatap Aksa yang masih sibuk dengan makanannya.


Kantin yang tadinya ribut dengan suara-suara siswa yang berteriak untuk mendapatkan pesanannya atau sekedar mengobrol hal yang tidak penting tiba-tiba lenyap dan menjadi diam saat sesosok manusia masuk ke dalam kantin. Azlan Aditya Evano sedang berjalan masuk ke dalam kantin dengan aura dinginnya, mendekat ke satu meja dengan tangan mengepal dan wajah yang memerah menahan emosi. Sangat aneh mendapatkan cowok itu berada di kantin sekolah, karena biasanya Azlan hanya akan terlihat di roftoop sekolah atau di kelas Adira pada jam istirahat.


Tapi semuanya langsung mengerti mengapa cowok itu berada di sini saat melihat Azlan melayangkan pukulannya ke Mario yang dari tadi acuh tak acuh dengan sekitarannya. Jelas cowok itu kaget mendapatkan dirinya tersungkur di lantai.


"Berdiri lo brengsek!" desis Azlan emosi dan kembali memukuli Mario.


Mario berdiri dengan tenang walaupun sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah. "Apa?" tantang cowok itu dan ikut melayangkan pukulannya.


Kerumunan tercipta di sekitar mereka, sekedar melihat dan memberikan dukungan kepada mereka. Kedua cowok itu saling melayangkan pukulan, emosi di mata Azlan sangat terlihat, kepalan tangan cowok itu kuat.


"Dasar cupu, bisanya hanya cari tameng aja. Bilang saja kalau lo takut sama gue." sarkas Azlan tersenyum mengejek, tangan cowok itu mencengkram  kuat kedua tangan Mario yang juga mencengkram kera bajunya.


"Takut?" Mario terkekeh mengejek. "Siapa yang takut sama lo? Cupu? Lo nggak nyadar?" Mario menyentak tangannya dan mendorong Azlan dengan kasar. "Lo tuh yang cupu."


Azlan kembali ingin melayangkan pukulannya jika saja teriakan dari pintu kantin tidak menghentikannya. Cowok itu mendengus melihat Pak Gali yang sudah bergegas ke arah mereka. "Urusan kita belum selesai, ya."


"KALIAN BERDUA IKUT SAYA KE RUANG BK!!" teriak Pak Gali murka setelah menerobos kerumunan itu. "Dan kalian semua bubar, kembali ke kalas kalian udah mau bel."


Adara memperhatikan kejadian itu masih di tempatnya, tidak bergerak sedikitpun, tatapannya berubah khawatir saat melihat wajah kedua cowok itu yang babak belur.


"Mereka lagi," sahut Aksa membuat Adara mengalihkan pandangannya dari pintu kantin ke Aksa. " Seminggu yang lalu juga mereka berantem dan masuk BK."


Adara langsung berdiri.


"Mau kemana?"


"Balik ke kelas, kak. Terimakasih sudah temani gue makan." Adara tersenyum kaku, cewek itu kemudian berjalan sebelum berlari saat dirinya sudah berada di luar kantin.


***


Adara menghentikan langkahnya, cewek itu menatap Azlan dan Mario yang sedang dihukum di tengah lapangan dengan Bu Bara yang mengawasi mereka di depan ruang BK. Sudah hampir satu jam berlalu, mereka sedang dihukum berdiri hormat ke bendera. Sekarang jam 10. 40, Adara menghela nafas menatap pada matahari yang bersinar dengan teriknya.


Adara melihat Bu Bara yang mengibaskan tangannya kemudian masuk kembali ke ruang BK bersamaan dengan Azlan dan Mario yang bubar. Jam pelajaran sudah berganti, kelas Adara sedang Free, makanya cewek itu sudah berdiri kurang lebih tiga puluh menit di pinggir koridor dengan kedua tangan memegang botol air mineral.


Ada ketakutan di mata Adara saat melihat kedua cowok itu berjalan ke arahnya, tepatnya berjalan di koridor yang sama dengannya tanpa tahu keberadaan cewek itu. Adara meremas botolnya saat mereka semakin dekat.


Azlan mendongak dan langsung memberikan tatapan tajam kepada Adara. Adara melangkah membuat cowok itu berhenti. "K...kak Azlan," panggilnya pelan sambil menyodorkan botol, kepala cewek itu menunduk dalam.


Azlan bergeming, cowok itu hanya menatap Adara dalam. Adara menelan ludahnya saat tidak mendapatkan respon dari Azlan. "Ng..nggak mau, ya?" Adara berdiri tidak nyaman.


Tangan Azlan mengepal, wajah cowok itu masih dipenuhi dengan lebam-lebam dan sedikit darah di sudut bibir. "Lo nggak usah repot-repot. Gue nggak butuh orang seperti lo mengasihani gue."


Adara mendongakkan kepalanya, menarik kembali tangannya dengan perasaan yang tidak mengenakkan sama sekali di hatinya. Adara tidak ada maksud untuk mengasihani Azlan, dia murni ingin memberikan minuman ini kepada Kakaknya itu.


"Kalau cowok brengsek ini tidak mau, biar gue aja, gue haus nih." Mario yang menyaksikan mereka tidak jauh langsung berjalan dan merebut botol air yang di pegang Adara.


"Minggir lo, anak sial." desis Azlan mendorong kasar Adara dan melanjutkan langkahnya.