S T A Y

S T A Y
Part 14. Double Date



"Rasa kepedulian itu masih ada walaupun aku sudah berusaha menghilangkan nya dengan cara membencimu."


🌸 S T A Y 🌸


"Kita mau nonton apa?" tanya Rahel. Mereka sedang mengantri untuk membeli tiket yang antriannya cukup panjang.


Adara tidak menjawab. Bukan dia tidak mau, tapi dia sedikit segan dengan Azlan yang sedari tadi mengabaikannya. Cowok itu hanya berbicara dengan Rahel.


"Itu tuh film yang buming baru-baru ini. Kayaknya seru deh." Aksa yang menjawab karena Azlan dan Adara hanya diam.


"Oke." Rahel menyebutkan judul film yang mereka ingin tonton kepada petugas tapi ternyata jadwal pada jam tersebut sudah full. "Yaaa... Sudah full. Hanya film horor yang nggak. Itupun juga hampir Full." Jawab Rahel sambil mengerucutkan bibir. "Jadi kita mau nonton apa?"


"Pulang aja." Itu Azlan yang menyahut. Membuat Adara merasa tidak enak. Karena cewek itu yakin, Azlan tidak nyaman berada di dekatnya.


"Nggak. Pokoknya hari ini gue mau nonton. Gue pesan tiket Anabelle aja deh." sahut Rahel.


"Tidak. Adara.." Azlan mengatupkan bibirnya rapat. Dia bisa melihat mata Adara membulat. "Pokoknya jangan."


Adara tersenyum tipis. Sedikit merasa senang karena Azlan menyebut namanya.


Tanpa memperdulikan protesan Azlan. Rahel kembali berbalik untuk memesan empat tiket.


"Let's Go!" pekik Rahel semangat kemudian menarik lengan Adara untuk berjalan duluan, Azlan dan Aksa berpandangan sebelum mengikuti langkah cewek-cewek itu.


Mereka duduk di kursi bioskop. Adara duduk diapit kursi Aksa dan Azlan. Sedangkan Rahel duduk di samping kanan Azlan. Popcorn sudah berada di tengah-tengah lengan Adara dan Aksa. Saat Film sudah dimulai, tidak ada dari mereka yang berbicara hingga adegan demi adegan horor mulai terlihat. Adara mulai bergetar. Rasa takut mulai dia rasakan saat dengungan sound dari Film terdengar mencekam. Tatapan cewek itu melebar menatap layar besar di depannya. Jantungnya juga berdetak sangat keras saat adegan horor mulai terlihat. Tanpa Adara sadari, tangannya meraba-raba lengan kursi hingga dia memegang tangan Aksa untuk menghilangkan takut yang dia rasakan. Di layar lebar sedang memunculkan Setan berwujud boneka berkepang itu dengan suara keras yang memenuhi Bioskop membuat teriakkan-teriakkan ketakutan terdengar. Adara terkejut bukan main, tanpa berpikir cewek itu menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher cowok di sebelah kanannya. Mencengkaram lengan cowok itu dengan nafas memburu. Sedang teriakan terdengar keras di bioskop.


"A... Aku takut, kak. Boneka nya menyeramkan." bisik Adara dengan suara bergetar sambil menenggelamkan wajahnya lebih jauh hingga hidung nya menyentuh kursi cowok itu. Dirasanya tubuh cowok itu menengang tapi Adara tidak memedulikannya. Yang dia pikirkan hanyalah bagaimana dia bisa keluar dari sini. Dari dulu Adara membenci film horor. Baginya menonton film seperti itu adalah hal yang tidak baik, hanya membuat dirinya takut sendiri kepada makhluk gaib.


Dipertengahan film. Tubuh Adara bergetar hebat. Dia menghirup nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri nya sendiri. Dia masih dalam posisi itu, tidak beranjak sama sekali.


"Adara. Lo nggak apa-apa?" sahut suara dari arah samping kirinya. Aksa mengulurkan tangan menyentuh bahu Adara dan sedikit terkejut merasakan tubuh Adara bergetar hebat.


"Hei! Lo nggak apa-apa, kan? Tubuh Lo bergetar."


Aksa kemudian memandang Azlan yang tidak bergerak sedikitpun. Wajah cowok itu mengeras. Menahan sesuatu pada dirinya saat merasakan getaran tubuh Adara di sampingnya, juga tangan lembut yang menncengkram kuat lengannya.


"A..a..ku ng..ngak a..pa-apa." ujar Adara dengan suara yang terdengar lemas.


Aksa sedikit khawatir mendengar suara Adara. Cowok itu bergeser untuk mendekat kepada Adara. "Ayo keluar, gue agak khawatir sama lo."


"Adara kenapa?" tanya Rahel sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat keadaan Adara yang kacau.


"Nggak tau." Aksa memegang tangan Adara.


Adara menguatkan cengkramannya mendengar teriakan lagi. Nafas nya masih memburu.


Trauma nya kembali.


Teriakan, bunyi benda keras yang bertabrakkan, ledakan, tangisan. Adara menggeleng. Jangan sekarang. Adara tersedak dengan tangis nya saat teriakkan-teriakan dalam bioskop berubah dengan suara teriakan Daddy nya.


"Adara!" suara Daddy nya terdengar. "Kamu harus keluar dari sini sayang. Cepatlah. Kamu harus berlari menjauh."


"Ta..tapi, Dad." Adara menggeleng. "Adara nggak bakalan tinggalin Daddy sama Mommy disini."


"Tidak. Adara lari dulu, ya. Nanti Daddy sama Mommy di belakang Adara."


Adara menggelengkan kepalanya keras.


"Adara! Lo nggak apa-apa?" Suara Aksa terdengar berdengung di telinganya.


"Adara! Hei, sadarlah. Ayo keluar dari bioskop." Adara masih mendengar suara Aksa dan merasakan tubuhnya di tarik dan masuk ke dalam pelukan cowok itu. Mata cewek itu masih tertutup.


"Gue harus bawa Adara keluar dari sini. Dia kayaknya ketakutan." ujar Aksa kepada Rehel dan Azlan. Tanpa menunggu reaksi mereka, Aksa membawa Adara keluar dari bioskop dan mendudukkan cewek itu di sofa tunggu bioskop.


Azlan masih menahan nafas nya. Dia masih bisa merasakan tubuh Adara yang memeluknya, berlindung padanya. Tangan Azlan bergerak perlahan menuju lehernya, mengusapnya di sana. Seakan-akan dia masih bisa merasakan kehadiran Adara. Adiknya.


"Lo udah nggak apa-apa? Wajah Lo masih pucat." kata Aksa khawatir sambil menyeka peluh yang memenuhi dahi Adara.


"gue butuh air, kak." pinda Adara serak. Dia masih tidak mau membuka matanya.


"Oke. Gue akan beliin lo. Tapi lo harus menyakinkan gue dulu kalau lo baik-baik saja. Gue nggak bisa ninggalin lo dalam keadaan seperti ini." kata Aksa khawatir.


"Gue yang nemenin dia. Lo pergi aja beli air." Aksa berbalik dan melihat Azlan yang berdiri dengan pandangan datar.


Aksa agak ragu meninggalkan Adara disini bersama Azlan. Pasalnya ini adalah Azlan. Kakak laki-laki Adara yang membenci cewek itu. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Daripada Adara kenapa-kenapa mending dia minta tolong kepada Azlan. "Oke. Gue nitip Adara sebentar. Kalau sampai Adara kenapa-napa gue nggak segan-segan mukul Lo."


Azlan hanya memandang datar. Tidak ada ekspresi di wajah cowok itu. Aksa berdiri. "Gue pergi beli minum. Kalau ada apa-apa langsung telfon gue." kata Aksa kepada Adara.


Aksa pergi. Azlan masih diam berdiri. Cowok itu menatap Adara yang memejamkan mata rapat. Bibir cewek itu masih bergetar. Azlan tahu bahwa Adara tidak suka nonton film horor. Tapi dia tidak menyangka Adara akan seperti ini.


Setetes air mata mengalir di pipi Adara. Cewek itu mencengkram dadanya yang terasa sesak. Bayangan-bayangan orang tuanya tidak mau hilang. "Daddy..." Sahutnya dengan bibir bergetar.


Tiba-tiba saja Adara tidak sadarkan diri. Tubuh cewek itu limbung ke sofa.


***


Adara terbangun dengan kebingungan dan rasa pening di kepala. Pandangannya sedikit mengabur. Dia bisa melihat langit-langit kamarnya saat pandangannya mulai fokus. Kemudian rentetan kejadian tadi masuk ke dalam pikirannya. Bagaimana Aksa yang memperdulikannya. Hanya sampai disitu ingatan nya. Dia tidak ingat lagi mengapa dia bisa sampai di rumahnya.


Adara terduduk dan menatap keluar jendela. Ternyata sudah malam. Cewek itu menghela nafas sebelum turun dari tempat tidurnya. Adara berjalan masuk ke dalam dapur dan melihat di atas meja makan ada kotak makanan.


Adara melangkah mendekat ke meja makan, dia mengambil secarik kertas yang berada di atas kotak itu.


Makan yang banyak agar besok lo sehat di sekolah.


From \= A.


Adara tersenyum. "Pake inisial segala. Kak Aksa. Kak Aksa." Adara kemudian membuka kotak itu. Dua Burger berukuran jumbo lagi. Adara menutup kotak itu lagi karena merasa belum lapar.


"Jam berapa sekarang?" Sahutnya kepada dirinya. Dia harus pergi bekerja. Tapi saat dia melihat jarum pendek pada Jam dinding yang terpasang di ruang tamunya. Adara mendesak pasrah. Pukul 10.20. Kafe sudah tutup pada jam ini. Jadi tidak ada pilihan Adara selain tidur kembali.


Rasanya Adara baru tidur sebentar saat sinar matahari menusuk-musik matanya. Dia terbangun karena sinar matahari menyusup lewat gorden menyilaukan matanya. Adara bangun dan bersiap-siap ke sekolah. Dia sudah merasa sehat.


Jam 7 pagi Adara menunggu di teras rumah seperti biasa. Saat motor sport berwarna hitam mendekat, dengan cepat Adara berjalan keluar pagarnya.


"Selamat pagi Kak Aksa." sapanya senang.


Aksa tersenyum simpul. "Lo udah nggak apa-apa?"


Adara mengangguk. Aksa baru saja ingin mengeluarkan suara saat Adara mendahului nya.


"Makasih sudah ngantar gue pulang kemarin. Pasti ngerepotkan banget bawa orang tidak sadarkan diri. Oh iya, Burgernya juga makasih. Lumayan untuk sarapan pagi ini."


Aksa diam mendengar ucapan Adara. Bukan dia yang dimaksud cewek ini. Saat dia kembali membeli air mineral kemarin, Adara sudah tidak ada di sana.


Cowok itu membiarkan Adara naik di belakang nya.


Satu nama terlintas dipikirannya. Azlan. Cowok itu masih peduli.