S T A Y

S T A Y
Part 7. Bukan miliknya lagi.



Mario keluar dari ruang ganti, hari ini pada jam pelajaran ke tiga kelas cowok itu sedang olahraga. Mario melintas di koridor sunyi untuk ke lapangan di mana teman sekelasnya sudah berkumpul, cowok itu berjalan dengan wajah dinginnya.


Mario tiba di lapangan dan langsung mengambil barisan di belakang saat Randi-ketua kelasnya mengintruksikan untuk pemanasan.


"Lama amat di ruang ganti, Pak Bos." celetuk Alvin yang berada di samping Mario, cowok itu sedang menggerakkan tubuhnya sesuai yang diperagakan Raja.


Mario mendengus dan ikut mengangkat tangannya untuk peregangan. " Gue boker tadi."


"Pak Bos jorok." Farrel menjauh memasang ekspresi jijik.


"Kaya lo nggak pernah boker aja, Rel." dengus Bimas yang berada di depan Farrel.


"Boker gue mah spesial. Warna kuning-kuning sedappp." Farrel terkekeh.


"Gue lama-lama ennek temenan sama lo, Rel. Joroknya minta ditabok." kata Alvin mendelik.


Mario menggelengkan kepala. Seruan dari Pak Taufik-guru olahraga mereka membuat cowok-cowok itu menutup mulut rapat. Materi olahraga hari ini untuk kelas XI IPS 3 adalah lari stafet. Mario duduk di bawah pohon menunggu namanya disebut, sedangkan Alvin dan Bimas sudah bersiap-siap untuk berlari.


Mario memperhatikan mereka hingga peluit tanda permainan dimulai pun membuat mereka berlari dan seketika gelak tawa pecah di lapangan itu. Mario hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. Bagaimana tidak, bukannya serius, mereka malah saling dorong-mendorong, Alvin menarik seragam baju Bimas saat cowok itu baru saja ingin memberikan tongkat ke pemain lain. Dan Bimas yang tidak terima menampol kepala Alvin dengan tongkat stafet yang cowok itu pegang. Bukannya tongkat yang dipegang Alvin berada di tangan pemain berikutnya, tongkat itu malah melayang tinggi dan kembali meluncur jatuh hingga mengenai kepala cewek yang sedang melintas di lapangan itu.


Bunyi pekikan keras membuat semua mata yang melihatnya meringis, begitupun Alvin yang langsung menghampiri cewek yang sudah duduk di rumput dengan sebelah tangan memegang kepalanya.


"Gue minta maaf, Adara. Gue nggak tahu kenapa tuh tongkat di atas langit dan tau tau udah di kepala elo." Kata Alvin meminta maaf, Adara menatap cowok itu dengan tatapan sengit.


Keributan terdengar disekitar mereka yang melihat kejadian itu.


"Itu pasti sakit, kan?" Tanya Alvin hati-hati.


"Sakit lah." kata Adara sewot. " Lo masih mau liatin gue terus? Nggak berniat tolongin gue? Kepala gue pusing nih."


Alvin nyengir, cowok itu baru saja akan meriah lengan Adara saat Mario muncul dengan tatapan membunuh ke arahnya membuat Alvin menghentikan niat. Mario tanpa basa-basi langsung meraih Adara dan menggendongnya ala bride style kemudian melangkah melewati kerumunan itu.


Adara diam, wajah gadis itu terkejut dengan mata membulat sempurna, belum sadar sepenuhnya dengan apa yang terjadi. Tapi mendengar pekikan dan decakan sepanjang jalan yang mereka lewati membuat cewek itu menoleh dan kembali terkejut melihat keadaan koridor yang ramai dengan semua mata terarah ke mereka.


Dengan panik Adara menatap Mario. "Turunin gue!" pekik cewek itu, kedua tangan Adara memeluk kuat leher Mario berbanding terbalik dengan keinginannya.


Mario menatap Adara sekilas kemudian tetap melanjutkan langkahnya hingga sampai di depan pintu UKS. Alvin, Bimas dan Farrel yang sedari tadi mengikuti mereka berdua, membuka pintu.


Mario meletakkan Adara di ranjang UKS dengan hati-hati, cowok itu menundukkan wajah, ingin melihat keadaan Adara. Tangan kanan Mario terangkat untuk menyingkirkan rambut yang berada di dahi Adara, tatapan cowok itu mengeras saat melihat luka goresan dengan sedikit darah.


"Lo luka," geram Mario, cowok itu berbalik dan melayangkan tatapan membunuh kepada Alvin yang berdiri tidak jauh darinya.


Adara mengedipkan mata. "Gue nggak apa-apa." kata Adara kikuk kemudian berdiri dan akan melangkah pergi jika bentakan dari Mario tidak mengagetkan cewek itu.


Adara diam, membiarkan Mario yang melangkah keluar dengan terburu-buru dan kembali masuk beberapa menit kemudian dengan petugas UKS perempuan.


"Periksa dia, jidatnya terkena tongkat stafet." Petugas itu mengangguk, bergidik mendengar suara Mario yang dingin.


Adara masih diam, matanya memperhatikan Mario yang sedari tadi mengawasi petugas itu untuk membersihkan lukanya. Pandangan mereka bertemu dan dengan cepat Adara membuang pandangan. Cewek itu mengerutkan dahi, jelas sangat bingung dengan tingkah Mario yang seakan mempedulikannya.


"Biar gue yang pake in." Mario merampas plaster luka dari tangan petugas UKS. "Lo boleh keluar sekarang." Petugas itu mengangguk dan dengan cepat keluar dari ruangan.


"Kalian semua juga keluar." kata Mario tanpa melihat Alvin, Bimas, Dan Farrel yang masih berdiri diam dibelakang cowok itu dan bergegas keluar ruangan UKS sesaat mendengar perintah dari Mario.


Tinggal mereka berdua di dalam ruangan UKS, Adara masih tetap diam, tatapan cewek itu tidak lepas dari jendela yang dilapisi gorden hijau, mengabaikan Mario yang mulai membuka bungkus plaster.


"Kepala lo balik ke sini, gue mau pasangin plester." kata Mario pelan dengan tangan yang memegang pipi kanan Adara agar membuat cewek itu menghadapnya.


Mario masih memasang wajah dinginnya, tangannya kembali mengusap dahi Adara hingga luka itu terlihat, dengan perlahan dipasangkannya plaster pada luka Adara.


"Selesai." Sahut Mario, kedua mata cowok itu bergerak turun hingga bersitatap dengan mata biru cerah yang menatapnya dengan berkaca-kaca. Mario terdiam, tubuhnya berubah kaku.


"Terimakasih," kata Adara tulus dan bergerak duduk. "Gue mau balik ke kelas."


Mario tidak bergeming, membiarkan Adara memakai kembali kaus kaki dan sepatunya kemudian berdiri dan melangkahkan kaki.


"Adara!" Panggil Mario saat Adara sudah di ambang pintu.


"Ada apa?"


"Ada yang pengen gue omongin." Mario berbalik, menatap Adara yang juga melihat ke arahnya.


Adara diam cukup lama hingga bel istirahat berbunyi. "Sorry, kayaknya gue nggak bisa soalnya gue udah ditunggu di kantin." Adara berbalik.


Mario terkejut sendiri saat mendapati tangannya sudah memcengkram lengan Adara kuat. "G..gue mau minta maaf."


"Buat apa?"


"Buat yang waktu itu."


Adara menghela nafas. "Nggak apa-apa kok. Gue sudah bisa terima kalau memang lo nggak pernah cinta sama gue."


"Bukan begitu, Ra!" Sahut Mario.


"Lalu? Lo mau apa sekarang? Gue nggak ada waktu. Lo bukan siapa-siapa gue lagi. Gue nggak punya waktu sama lo." Kata Adara membuat Mario bergeming di tempatnya, dengan perlahan di lepasnya lengan Adara dan menurunkan tangannya yang mengepal untuk menahan dirinya, mulutnya seakan terkunci tidak bisa berbicara hingga bunyi blam pintu tertutup membuat cowok itu menghela nafas gusar.