
🌸 S T A Y 🌸
Adara menghela nafas, mencoba untuk menghentikan hatinya yang terasa berdenyut setiap kali mendapatkan perlakukan seperti itu oleh Mario. Sudah dua minggu cowok itu memperlakukan Adara seperti itu. Jika Adara bertanya mengapa, Mario selalu menjawabnya 'karena lo pacar gue' dengan suara ketus.
"Minggir lo anak sial."
Baru juga Adara ingin menghentikan denyutan itu, cewek itu kembali mendengar suara familiar yang sering dia dengar. Sosok Azlan Aditya Evano berdiri di belakangnya dengan memandangnya datar.
Kakak kandungnya berdiri menjulang dengan seorang cewek di samping cowok itu.
Adara menatap Azlan dengan tatapan rindu yang tidak bisa dia sembunyikan. Adara merindukan sosok kakak dengan sikap posesif dan protektifnya.
Azlan memiliki sikap protektif lebih parah dari Galang. Jika sikap protektif Galang akan muncul saat melihat Adara atau Sandra melukai dirinya sendiri dengan sengaja, lain dengan Azlan yang tidak segan-segan memukuli siapa saja yang mencoba melukai seseorang yang disayanginya.
Adara rindu dengan sikap posesif dan protektif Azlan padanya, rindu bibir cerewet cowok itu yang sangat kontras dengan wajah garangnya.
"Lo nggak dengar perkataan kakak gue? Minggir lo! Dasar anak pembawa sial." Sahut cewek di samping Azlan yang Adara kenali sebagai salah satu sepupunya yang baru saja kembali dari luar negeri satu bulan yang lalu. "Pantas aja lo diusir dari rumah. Gue juga nggak sudih punya sepupu sial kayak lo. Gara-gara lo ya Om Daniel dengan Tante Arien meninggal."
Adara mengepalkan tangannya, mencoba untuk menahan dirinya saat nama kedua orang tuanya disebut-sebut oleh cewek yang sekarang menyandang nama Evano, menggantikan posisinya. Adara yang seharusnya memakai nama itu, bukan cewek yang datang-datang langsung merebut apa yang semua dia punya. Keluarga, kakak yang menyayanginya hingga namanya pun diambil oleh cewek ini. Nama Ulani yang sedang Adara pakai di belakang namanya adalah nama belakang neneknya yang meninggal dua tahun lalu.
Bahkan nama cewek itu hampir mirip dengannya, Adira Fredelia Evano.
Adara membiarkan mereka berdua melewatinya, dia sempat bertatapan dengan Azlan yang masih menatapnya dengan tatapan datar. Cowok itu telah berubah, dan Adara menyesali perubahan itu karena dirinya lah. Mereka semua, keluarga Evano menuduhnya atas kejadian yang menimpa kedua orang tuanya.
Bisik-bisik disekitarnya membuat Adara tersadar, dia menatap siswa-siswi yang berada di koridor sedang memperhatikannya terang-terangan.
"Kasihan banget ya jadi kak Adara. Udah dibuang oleh keluarganya. Kakak dan sepupunya malah membencinya. Kak Mario juga kayaknya nggak suka lagi deh sama Kak Adara," celetuk siswi yang berada tidak jauh dari Adara hingga cewek itu dapat mendengarnya.
"Ngapain kasihan? Lo nggak dengar apa yang dikatakan Kak Adira? Kak Adara yang membunuh kedua orang tuanya. Kok gue jadi ngeri ya?"
Adara tidak memperdulikan perkataan-perkataan mereka, cewek itu kembali melanjutkan langkahnya berjalan menuju kelasnya. Sebentar lagi jam pelajaran akan segera di mulai.
.
.
.
Adara menyandarkan tubuhnya di beton pagar menunggu bus yang akan membawanya pulang. Bel pulang sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Adara memilih keluar dari kelasnya diawal waktu demi menghindari pertanyaan-pertanyaan teman sekelasnya yang telah mendengar tentang dirinya.
Adara menghela nafas, ia kembali tranding topik di sekolah. Ia tidak lagi dikenal sebagai cewek manis yang baik hati, sekarang mereka menggosipkannya sebagai anak sial pembunuh orang tuanya.
Deru motor bersahutan keluar dari gerbang sekolah, Adara mengangkat pandangannya melihat sekumpulan motor melintas di depannya. Mario berada paling depan mengendarai motor sport merahnya dengan Vira yang duduk di belakang cowok itu, memeluk dan menyandarkan kepalanya di bahu Mario.
Adara menundukkan kepalanya saat matanya bersitatap dengan Mario yang menatapnya dingin. Ia meremas roknya, menggigit bibir bawahnya sambil memperhatikan sepatunya. Deru motor berhenti di persimpangan yang tidak jauh dari sekolah, Adara tahu Mario dan teman-temannya tidak langsung pulang. Mereka biasanya nongkrong di warung dipersimpangan jalan. Sebagian besar cowok dari sekolahnya juga berhenti di warung itu, memarkir motor mereka secara rapi.
Adara menghela nafas. Ia berjalan ke persimpangan jalan tersebut, memilih menunggu angkot daripada bus sekolah yang tidak muncul-muncul sedari tadi. Dia berdiri diantara siswa-siswi yang juga menunggu jemputan mereka.
Adara berusaha dengan keras untuk tidak melirik ke seberang jalan dengan kehebohan di sana, Adara memfokuskan pikirannya pada alunan musik yang keluar dari headset di telinganya.
Mario menatap Adara, cowok itu memicingkan mata saat melihat motor yang dikenalnya berhenti di depan cewek itu.
"Gue ke sana dulu," tanpa pikir dua kali, ia beranjak dari duduk nya kemudian menaiki motornya.
"Mau kemana, Bos?" tanya cowok yang duduk diatas motor di samping motor Mario.
Vira juga terlihat berdiri dan menghampiri cowok itu, "Mau kemana, kak?"
Tapi Mario tidak memperdulikannya, cowok itu kemudian menjalankan motornya dan pergi dari sana.
Adara menatap bingung cowok yang tersenyum di depannya.
"Pulang sendiri, Ra?" tanya Aksa diatas motornya.
"Iya, kak. Lagi nunggu angkot," jawabnya.
"Sama gue aja, rumah kita kan searah," kata cowok itu.
Adara tersenyum. "Boleh, kak? Takutnya repotin."
"Nggak, apanya yang repotin. Rumah lo gue lewatin juga. Ayo."
Adara mengangguk. Hanya Aksa yang tahu di mana Adara tinggal sekarang, cowok itu tidak sengaja melihatnya yang akan memasuki rumah saat ia lewat di daerahnya sehabis pulang sekolah dan tentunya Adara terkejut, karena selama dia tinggal di rumah itu tidak ada satupun warga sekolahnya yang mengetahui, dia menyembunyikannya dari orang-orang, termasuk Gilang dan Sandra sahabatnya, alasannya karena dia malu.
Baru saja dia ingin naik ke motor Aksa saat sebuah tangan menyentaknya mundur.
"Dia pulang sama gue," kata Mario dengan rahang mengeras, cengkraman cowok itu di pergelangan tangan Adara menguat hingga cewek itu meringis.
Aksa menatap Mario kemudian Adara. "Lo nggak lihat dia lagi kesakitan?" sahut cowok itu saat melihat Adara yang berusaha melepaskan cengkraman Mario. "Lo nggak usah kasar sama dia."
"Bukan urusan lo. Ayo pulang," Mario menarik Adara menjauh ke motornya.
Adara memperhatikan Mario saat cowok itu melepas cengkramannya kemudian naik ke motor dan langsung memakai helm tanpa mau melirik Adara sama sekali. Cewek itu menggigit bibir, merasa takut melihat wajah mengeras Mario.
"Naik ******, ngapain lo masih berdiri?" sentak Mario emosi dan menatap tajam Adara.
"I..iya," dengan kaki gemetar, Adara naik ke motor Mario.