S T A Y

S T A Y
Part 23. Savage Family



Seorang cowok berjaket hitam duduk di atas motor kebesarannya yang juga berwarna hitam. Dibawah kegelapan malam itu, dia menatap pada rumah sederhana yang cat nya tampak kusam. Sudah sekitar lima belas menit berada di sana mengintai rumah itu. Kresek makanan yang berisi sekotak burger dan minuman dari restoran tergantung di stang motor.


Azlan Aditya Evano melepas helm full face nya dan turun dari motor kebanggaannya. Dirogohnya saku jaket kulit nya, mata tajam itu menatap datar salep penghilang bekas luka di tangannya. Azlan dibalik sikap ketus dan dinginnya masih memiliki kepedulian kepada adiknya itu. Adara satu-satunya adiknya. Tidak ada yang lain.


Azlan memasukkan salep tersebut di dalam kresek bersama dengan kotak burger. Dia kemudian melangkah ke rumah sederhana, melewati pagar yang tampak berkarat dimakan waktu. Kakinya melangkah ke teras rumah. Ia kemudian menggantung kresek itu di gagang pintu dengan kertas note berwarna hijau yang menempel di sana.


Makan yang banyak. Obati luka kamu sampai sembuh. Bersabar sedikit lagi, setelah semuanya beres dan kembali aman, aku akan menjemputmu. Tunggu aku.


Dan terakhir jangan terluka lagi.


A.


Setelah itu Azlan kembali ke motornya dan menjalankan kembali ke rumah yang seperti bukan rumahnya lagi. Cowok itu melewati pagar mewah dan memarkirkan motornya di garasi. Azlan melepas helm dan jaketnya sebelum masuk ke dalam rumah.


Interior mewah berwarna putih dengan benda-benda mewah lainnya tidak asing lagi dipandangan cowok itu. Dia berjalan melintas lantai marmer ke tangga yang berada di tengah-tengah rumah yang melengkung ke lantai atas.


"Baru pulang kamu?" Suara seorang pria menghentikan langkah cowok itu.


Azlan berbalik dan menatap datar kepada seorang pria dewasa yang duduk di sofa dengan segelas kopi di tangannya. "Bukan urusan anda saya pulang atau tidak." Ujar cowok itu.


Pria itu, Manuel mengangkat sebelah kakinya dan menyilangkannya. Dia menyeringai kemudian menatap Azlan dengan tatapan meremehkan. "Urusan saya, karena saya disini menggantikan posisi Daniel sebagai Daddy kalian. Ah... Bagaimana kabar Adara? Saya kangen dengan anak manja itu."


Azlan mengepalkan tangannya. "Jangan sekali-kali Anda  menyentuh Adara."


Manuel terkekeh. Dia kemudian menyesap kopinya. "Hmmm.. Saya tidak akan pernah menyentuhnya selama kamu tidak mengingkari perjanjian kita." Pria itu meletakkan kembali gelas kopinya yang masih tersisa setengah. "Rafael akan ke indonesia minggu depan. Saya ingin Adara tinggal disini selama Rafael berada di indonesia. Saya tidak ingin rencana saya gagal hanya karena kehadiran serangga.


" Sabtu sore Adara sudah harus berada di sini." Titah Manuel mutlak. Azlan menahan dirinya agar tidak menghabisi iblis di depannya ini. Seseorang yang harus bertanggung jawab atas keluarganya adalah Manuel. Bukannya Adara, adiknya yang tidak memiliki kesalahan sama sekali. Azlan berjanji jika saja urusannya dengan keluarga Manuel sudah selesai begitupun masalah nya. Azlan akan membalas dendam dan menghancurkan semua orang-orang yang susah mengusik keluarganya.


Azlan kemudian membalikkan langkahnya menuju kamarnya. Dia harus menjauh agar emosinya tidak tersulit. Dia membuka kasar pintu kamar nya dan memandang dingin seorang gadis yang sedang terlelap di ranjangnya.


Dengan langkah yang menggema, Azlan mendekat ke tempat tidurnya dan langsung mengibaskan selimut terbuka, menarik tubuh itu untuk bangun dari tidur nya. "Keluar." Desis cowok itu tidak suka. "Gue sudah bilang sama lo. Gue nggak suka lo masuk ke kamar gue. Lo tuli?"


Adira yang terbangun secara paksa tersentak dengan bentakan cowok di depannya ini. Dia langsung tersenyum cerah saat melihat Azlan yang berdiri menjulang di depan nya. "Akhirnya Kak Azlan pulang juga."


Adira yang ingin memeluk cowok itu kembali dikejutkan karena Azlan yang menyentak kedua tangannya dengan kasar. "Keluar? Lo budek?"


Adira terdiam. "Kenapa sih, kak?"


"Gue bukan kakak lo. Keluar, nggak?" Azlan menatap Adira dengan tatapan benci yang sangat kental. Sikap yang dia akan tunjukan saat bersama Adira.


Adira berdiri dengan kesal. Cewek itu sudah terbiasa dengan sikap ketus Azlan. Tapi dia sudah sangat senyukai Azlan dari kecil. Dia sudah berada di tahap mencintai cowok itu walaupun dia tahu Azlan tidak menyukainya sama sekali. Juga cowok itu sudah memiliki kekasih. Tapi Adira tidak akan diam, dia akan memperjuangkan cinta terlarangnya kepada Azlan.


Dengan cepat Adira meraih wajah Azlan untuk dia kecup. Tapi Azlan langsung mendorong tubuh Adira hingga terlentang di tempat tidurnya. Cowok itu mengusap kasar bibirnya. "Jijik."


Azlan kemudian meraih tangan Adira dengan kasar dan menariknya keluar. Adira memberontak dengan menyentak tangannya yang mana usaha itu gagal karena Azlan berhasil mengeluarkan dirinya secara paksa dan menutup pintu tepat di depan batang hidungnya.


Azlan mengatur nafasnya yang memburu. Mencoba mengendalikan emosinya. "Keluarga Biadab." Ujar Azlan dengan suara memdesis tidak suka.


***


Adara keluar dari kelasnya menuju loker untuk menyimpan seragam putih maroonnya. Dia sudah berganti dengan pakaian olah raga. Dia melintas di koridor sunyi karena sekarang adalah jam pelajaran pertama.


Tiba di koridor dengan lemari kotak-kotak itu, Adara berhenti tepat di depan loker dengan namanya di papan pengenal. Adara Fredelia Ulani. Dibukanya lokernya dan menyergit mendapati sekotak Burger dengan segelas minuman di sana.


Adara menaruh seragam nya di samping kotak makanan itu dan mengambil kertas note berwarna Pink.


Makan mantan yang sebentar lagi jadi pacar. Gue tunggu di rooftop istirahat, oke?


Mantan tampan mu.


Bunyi fruit dari lapangan membuat cewek itu tersetak. Dimasukkannya note tersebut ke loker dan mengunci lokernya dengan tergesa. Adara kemudian berlari kelapangan indoor untuk mengikuti pelajaran olahraga hari ini. Cewek itu menundukkan kepada meminta maaf karena menjadi yang terakhir masuk ke lapangan indoor.


Adara berdiri paling belakang dengan Galang di samping kanannya dan Sandra yang berdiri beberapa langkah di depannya. Sandra sedang mengobrol dengan Kinan sambil tertawa-tawa.


Adara yang melihat itu menghela nafas. Sejak kejadian Sandra menjauhinya, cewek itu seperti tidak mengenal Adara lagi.


"Bapak hari ini ada rapat dengan guru olahraga lain di sekolah lain. Jadi saya akan menghadirkan ketua basket untuk melatih kalian. Kebetulan dia sedang jam kosong." Perkataan Pak Taufik bersamaan dengan suara langkah yang memasuki lapangan indoor.


Mario di sana berjalan masuk dengan bola basket di tangannya. Baju basket yang dia kenakan membuat semua orang dapat melihat otot-otot sempurna pada lengan atasnya. Di belakang cowok itu seperti biasa ada Bimas, Farrel dan Alvin yang mengikutinya. Mereka berdiri di samping Pak Taufik yang mengangguk melihat mereka. "Dari sini, saya pindahkan tanggung jawab kepada Mario untuk mengajarkan kalian bermain Basket. Bapak pamit dulu."


Setelah mengatakan terimasih kepada Pak Taufik dan membiarkan guru itu keluar. Mario menepuk keras bola basketnya untuk meminta perhatian. "Oke. Disini gue sebagai guru kalian. Walaupun kita seangkatan, gue minta keseriusannya. Gue paling nggak suka kalau dalam suasana serius ada yang main-main." Mario melemparkan bola ke arah Farrel yang dengan sigap menangkapnya. "Gue akan bagi kalian dalam empat kelompok yang masing-masing dipegang oleh teman-teman gue."


Adara yang berdiri paling belakang mencuri pandang ke Mario yang menatap satu persatu ke teman kelasnya.


"Vin, bagi kelompok mereka."


Alvin mengangguk dan mulai membagi mereka. Adara berada di kelompok 1 dan Galang di kelompok 2 sedangkan Sandra berada di kelompok 3.


Adara menatap teman kelompoknya, dia satu kelompok dengan Kinan. Adara menunduk saat mendapatkan tatapan tajam dari Kinan.


"Kak! Boleh pindah kelompok, Nggak?" Tiba-tiba saja Kinan menyeruh sambil mengangkat tangannya.


Mario yang sedang berbicara bersama Bimas dan Farrel menoleh dan mengerutkan dahi. "Kenapa?"


"Gue mau pindah. Kelompok ini sudah sial karena Adara."


Adara menggigit bibirnya saat melihat Mario menatapnya sekilas. "Lo pikir ini sekolah nenek moyang lo? Seenaknya saja. Kalau lo nggak mau di kelompok itu. Sana, keluar lapangan."


Kinan mendengus mendengar itu. Dia menatap sinis Adara sebelum melongos pasrah.


"Kalian sudah tau kan dasar-dasar permainan Bola basket? Gue kasih tanding langsung aja gimana?" Ucap Mario.


"Bisa, Kak."


"Oke. Tanding langsung. Kelompok yang menang salah satu anggotanya gue ajak jalan minggu ini." Mendengar itu mereka semua berseruh semangat.


Tidak tunggu lama masing-masing kelompok sudah berada di lapangan saling berhadapan. Karena lapangan indoor ini terdiri dari dua lapangan basket, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk pertandingan. Di lapangan A yang diawasi oleh Mario dan Farrel, kelompok 1 sedang melawan kelompok 3. Sedang kelompol lainnya di lapangan lainnya diawasi oleh Bimas dan Varel.


"Walaupun ini cuma permainan biasa, gue harap kalian mainnya sportif, oke?" Mario mengangkat fluitnya dan menaruhnya di antara mulut. Bunyi fluit dan bola yang melayang ke atas menjadi awal permainan itu.


Adara berdiri gusar di lapangan karena kelompoknya seperti tidak ingin memberikan Adara bola. Dia hanya berjalan mondar mandir di lapangan tanpa seseorang pun yang menghiraukannya. Teman-temannya berkoar-koar meminta bola, Adara hanya menatap mereka sambil meremas celananya.


Rambut merah cewek itu yang di kepang bergoyang mengikuti langkah Adara.


"Semua pemain harus menyentuh bola! Kalau ada pemain yang tidak menyentuh bola, kelompok itu dianggap gagal." Seruan Mario membuat anggota kelompok 1 gelagapan mencari keberadaan Adara. Kinan yang sedang memegang bola melihat Adara yang berdiri di pinggir lapangan.


" Anak sial! Cetak poin sana!" Dilemparnya bola tersebut. Adara sontak terkejut oleh teriakan itu, dia berusaha meraih bola tersebut tapi pemain lawan telah merebutnya kembali dengan mendorong tubuh cewek itu. Adara hanya sempat menyentuhnya.


Adara kembali menerima bola saat diakhir permainan, cewek itu berlari mencetak poin untuk kelompoknya. Dia berseruh senang saat bola berhasil melewati ring lawan. Dia berbalik dan senyumnya langsung memudar saat teman kelompoknya hanya memandangnya. Tidak ada sorakan seperti temannya yang lain saat mencetak poin.


Bunyi Fluit menyadarkan Adara dari kesedihannya. Permainan usai dimenangkan oleh kelompok Adara. "Lo jago!"


Adara yang berdiri diam di tengah lapangan medongak menatap Mario yang menepuk kepalanya.


"Lain kali main sama gue."


Setelah mengatakan itu, Mario meminta mereka semua untuk berkumpul. "Seperti janji gue. Satu anggota kelompok satu akan gue ajak jalan malam minggu. Gue pilih Adara."