
Warung persimpangan depan sekolah Evano pagi ini sedang ramainya dengan para siswa Evano yang menyempatkan mampir sebelum ke sekolah. Masih tiga puluh menit bel pelajaran sekolah berbunyi.
Mario dan teman-temannya duduk di depan warung sambil meminum minuman penambah energi yang disediakan warung tersebut.
Alvin yang baru saja dari belakang warung duduk di antara Bimas dan Mario. Cowok itu memperlihatkan kepalangan tangannya pada semua siswa yang berada di sana.
"Guysss... Gue bawa hadiah nih." Ujarnya semangat sambil menaikkan kepalan tangannya. "Ini bukan sulap bukan sihir. Hanya Alvin Margantara yang bisa!"
Bimas di samping cowok itu menggerutu karena merasa terganggu dengan teman satunya itu. "Bisa diam, nggak? Pagi gue yang cerah hancur karena sikap lo!"
"Ih.. Apaan sih, Mas Bimas. Adek Alvin nggak bicara dengan Mas Bimas tau..." Sahut Alvin sambil menggeser duduknya hingga tubuhnya dan tubuh Mario menempel.
Mario memutar matanya malas. Memilih tidak peduli dengan Alvin yang pagi ini dalam mode gilanya lagi.
"Apa tuh di tangan lo?" Tanya Farrel yang duduk di atas motornya yang tidak jauh dari mereka.
Alvin tersenyum lebar. "Tebak, dong. Tebak. Ayo tebak."
Bimas berdecak. "Kasih langsung liat aja. Ribet banget hidup lo."
Alvin mendengus tapi memilih mengikuti perkataan Bimas. Cowok itu membuka kepalan tangannya. "TADA!"
Mario, Bimas dan Farrel melongo menatap telapak tangan Alvin yang sedang memperlihatkan sesuatu. Bukan hanya mereka, mungkin semua yang berada di warung itu.
Alvin dengan bangga memperkenalkan makhluk berwarna hijau itu. "Perkenalkan... Teman baru gue yang bisa sulap! Si Udin!"
Cowok itu menyergit sakit saat mendapatkan jitakan dari Mario. "Si Udin kakek lo! Itu Jangkrik mah!"
Alvin yang mengelus kepalanya langsung menggerakkan jari meyangkal. "Ettsss... Pak Bos ku yang terhormat. Ini bukan Jangkrik! Ini mah hewan legendaris upin ipin. Bisa sulap, Pak Bos."
Bimas mengambil alih serangga itu. "Ini namanya belalang sentadu. Gitu aja nggak tau. Mana ada hewan legendaris upin ipin! Bocah lo!"
"Nggak percaya lo?" Alvin merebut kembali belalang itu dan mengelus kepalanya dengan sayang. "Mulai sekarang kamu tinggal sama abang di rumah. Nanti abang beliin kandang. Rumbut yang banyak juga. Sama nanti abang cariin teman. Biar Si udin nggak kesepian seperti hidup teman-teman abang."
Mario menatap jijik Alvin. "Jauh-jauh lo! Lo bukan teman gue!"
Alvin mendengus. Tapi detik berikutnya kembali ceriah. "Ah... Si Udin mau buat pertunjukan depan lo lo pada!" Ucapnya semangat. "Mentadak Mentadu macam mana Farrel tidur?"
Farrel yang mendengar namanya disebut melirik ke arah Alvin yang sedang fokus memperhatikan belalang kesayangan mendadaknya.
"Uwaaa... Benar! Si Udin pintar!" Mereka bergidik menatap Alvin yang tertawa sambil berbicara kepada Si Udin--- Belalang itu. "Iyya. Farrel kalau tidur bikin danau mana aromanya mirip nafas naga lagi!"
Farrel melemparkan gelas plastik yang sudah kosong ke arah Alvin yang langsung menghindar. Cowok itu tertawa-tawa masih sambil memperhatikan Si Udin. Padahal hewan itu hanya diam di telapak tangannya.
" Mentadak mentadu macam mana Bimas tidur?"
" Mati aja lo, Vin!"
"Ckckckck... Si Udin saranin nih sama lo. Cari pacar sana! Biar ada yang temenin tidur! Jangan cuma meluk guling lo!"
Alvin mendongak menatap Mario yang sudah menatapnya tajam. Cowok itu menyengir kemudian kembali berfokus ke Udin. "Mentadak mentadu bagaimana Pak Bos tidur?"
"Cari mati lo!"
"Bubar.. Bubar..."
"Balik sekolah sekarang. Udah mau bel!"
"Lah.. Lah...lah.. Kok gue ditinggal." Teriak Alvin memprotes saat serentak semua teman-temannya menaiki motor satu persatu dan tancap gas untuk masuk ke lorong sekolah.
"Dek, Titip Si Udin. Pulang nanti gue jemput!" Kata Alvin ke anak pemilik warung yang berusia enam tahun itu sambil menyerahkan hewan peliharaannya. Cowok itu kemudian berlari ke motornya untuk menyusul.
.
.
.
.
.
Jam istirahat pertama, Adara memilih untuk ke taman sekolah depan untuk memakan Burger yang dia dapatkan dari lokernya pagi ini. Cewek itu berjalan melewati pasang mata yang memperhatikannya. Dia meninggalkan Galang di kelas yang ingin mengajaknya ke kantin.
"Adara!"
Cewek itu berbalik saat memdengar namanya dipanggil. Aksa berlari di koridor sekolah untuk menghampirinya.
"Mau ke taman depan, kak."
"Nggak ke kantin?" Tanya Aksa yang mulai mensejajarkan langkahnya dengan Adara menuju taman depan.
"Nggak. Gue udah dapat Burger!" Ujar cewek itu sambil memperlihatkan kotak makanan di tangannya.
Aksa menatap penasaran kotak tersebut. "Dari siapa?" Tanyanya.
"Dari Mario."
Aksa mengerutkan dahi mendengar Adara. "Tumben Mario baik sama lo."
Adara juga bingung. Kenapa sikap cowok itu belakangan ini sangat baik dan membuat Adara bingung. Sikap cowok itu sebelas dua belas dengan Mario yang dulu bersama Adara. "Nggak tahu. Cuma belakangan ini Mario emang baik ke gue."
Mereka duduk di gazebo taman. Dari taman ini, mereka bisa melihat suasana luar sekolah yang ramai dilewati oleh kendaraan-kendaraan dan warung-warung dan kafe di seberang jalan.
Adara membuka kotak makanannya dan mengeluarkan Burger dan segelas minumam soda. "Kak Aksa mau?" Tawanya.
"Lo makan aja. Itu cuma satu."
"Satu tapi besar. Kak Aksa pasti laparkan? Kantin lumayan jauh dari sini. Gue bisa makan di sisi ini, Kak Aksa di sisi lainnya."
Aksa mengangguk. Cowok itu memperkatikan Adara yang memakan burgernya dengan lahap sebelum mendekatkan burger tersebut ke mulutnya. "Makan, Kak."
Aksa menggigit kecil Burger yang disuapi Adara. Perasaan cowok itu menghangat melihat Adara yang menyuapinya dan kembali memakan Burgernya.
Hanya beberapa gigitan burger itu langsung habis. Adara yang sedang meminum minumannya tidak lepaa dari pengamatan Aksa. Cowok itu menyadari bahwa cewek yang sedang duduk di sampingnya ini sangat cantik dan baik.
Ia menerima minuman yang diberikan Adara. "Habiskan, Kak."
Aksa menghabiskan minuman tersebut masih sambil memperhatikan Adara.
Mario menatap dua orang yang tampak mesra di gazebo taman depan. Kepalan tangannya menguat. Dia tidak terima Adara membagi apa yang dia berikan kepada orang lain. Apalagi itu Aksa, cowok yang sudah sangat lama Mario tidak suka.
"Ayo, Kak."
Mario berbalik melihat Vira yang sudah menariknya untuk ke kantin. Sebelum beranjak dari sana, Mario kembali mengalihkan tatapan ke Gazebo tersebut dan melihat Adara tertawa lepas dengan Aksa.
.
.
.
.
.
Sabtu malam saat Adara baru saja ingin keluar untuk pergi bekerja, gadis itu dikejutkan oleh kehadiran Azlan yang berdiri di depan rumahnya dengan kedua tangan berada di saku. Tatapan cowok itu masih saja tajam dan datar.
"K.... Kak Azlan?" Ujar Adara tidak percaya.
"Beresin barang-barang lo. Ikut gue pulang ke rumah." Kata Azlan dengan intonasi suara yang datar dan rendah.
Adara menyergit bingung. "Kak Azlan ngajak Adara pulang ke rumah?"
Azlan berdecak. "Lo nggak dengar gue ngomong apa?" Cowok itu menajamkan sorot matanya. "Jangan sampai gue ngulangin perkataan gue."
Adara meremas tas nya. "Tapi kan aku sudah diusir, kak."
Azlan mendengus. "Lo emang di usir. Uncle Rafael datang ke indonesia minggu ini. Lo harus berada di rumah agar dia nggak curiga. Sana lo siap-siap. Gue tunggu 10 menit di mobil."
Setelah mengatakan itu, Azlan langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan pagar rumah Adara.
Adara terdiam memikirkan perkataan Azlan barusan. Cewek itu menggigit bibirnya saat perasaan perih karena terbuang kembali dia rasakan. Dengan lesuh, Adara berbalik masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambil beberapa pakaiannya.
Adara duduk di mobil Azlan dengan perasaan tidak nyaman sama sekali. Dulu, dia sangat menyukai satu mobil dengan Kakaknya itu tapi sekarang rasanya dia sangat ingin cepat-cepat keluar. Keheningan mencekam membuat cewek itu ciut dan hanya bisa mencengkram tali tasnya saat Azlan mengendarai mobilnya dengan normal.
Gerbang mewah yang terbuka otomatis itu membuat Adara menelan ludah gugup. Setelah dua bulan lebih, dia kembali menapakkan kakinya di rumah mewah ini.
"Jangan bersikap semau-mau lo di sini. Ini bukan rumah lo lagi. Jangan buat gue mau balikin lo ke gubuk itu."
Setelah mengatakan itu, Azlan membanting pintu mobil dan keluar menghampiri Aunty Nina dan Uncle Manuel yang berdiri di teras. Adara bisa melihat Adira yang keluar rumah langsung bergelayut manja di tangan Azlan.
Adara kembali melihat kenyataan pahit. Mereka tampak seperti keluarga berbahagia. Sebelum keluar dari mobil, Adara memantapkan hatinya terlebih dahulu agar semuanya lebih mudah dia hadapi.