
Saat beberapa lama berjalan, Rava dan Siska sudah sampai didepan sebuah pesantren yang tidak terlalu besar juga tidak kecil.
Saat Rava juga Siska telah sampai, Siska langsung ditanya oleh Ustadz yang tadi menjaga gerbang.
"Dari mana saja? lama sekali." Ucap Ustadz yang tadi menjaga gerbang pesantren tadi.
"Saya....."
Namun, tiba tiba datang satu santriwati bernama Wati, bersama dua orang kyai, yang entah secara kebetulan lewat atau memang sudah disengaja.
"Siska dari mana saja kamu?" Tanya salah satu kyai (A)
"Sama cowok lagi, dan penampilan kamu kenapa begini?" Tanya kyai satunya lagi (B)
Siska menunduk tidak berani menatap mata kedua kyai tersebut, Rava yang hendak menjelaskan langsung dihentikan ucapannya oleh santriwati yang datang bersama dua kyai tadi.
"Sa..." Ucap Rava langsung terpotong.
"Nikahkan saja Pak, mereka pasti sudah berbuat senonoh, apa lagi ini Siska penampilannya sudah bisa terlihat, Pak." Ucap Wati, seakan mempunyai kebencian terhadap Siska.
"Pak, kami tidak melakukan apapun, dia Rava rekan saya dikampus, dia tadi menolong saya dari preman yang ingin melecehkan saya." Ucap Siska berusaha menjelaskan.
"Iya, saya tadi hanya menolongnya." Imbuh Rava juga berusaha menjelaskan.
"Halah jangan percaya Pak, kalau memang iya mereka hanya kebetulan bertemu pasti tidak akan begini penampilannya, tadi Siska bilang dia kenal dengan dia, pasti mereka sudah berjanji untuk ketemuan." Ucap Wati seolah olah menghasut kedua kyai tersebut.
"Hmmmm, nih anak kayaknya nggak suka benget sama Siska." Batin Rava menatap datar santriwati yang bernama Wati.
"Pak kyai, tolong percaya saya, saya tidak melakukan apapun, dia juga tidak melukan hal yang tidak baik pada saya." Ucap Siska berusaha membujuk, namun sayang usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil.
Kedua kyai malah menyeret Rava dan Siska masuk kedalam pesantren dan menikahkan mereka secara paksa.
"Pak, saya tidak melakukan apapun, kenapa saya dipaksa seperti ini, ini pernikahan bukan permainan!" Ucap Rava yang sudah emosi, ia tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi padanya.
"Tidak usah mengelak lagi, saya sudah melihat semuanya." Ucap Kyai A
"Kamu sudah menodai seorang gadis, dan sekarang kamu mengelak, apa kamu tidak memikirkan bagaimana masa depannya nanti hah?!" Marah Kyai B pada Rava.
"Pak, tapi dia tidak bersalah, dia benar benar tidak memiliki niat apapun, dia menolong saaya dari preman preman tadi." Ucap Siska.
"Halah kalian tidak usah mengelak lagi, sudah tertangkap basah masih saja mengelak." Ucap Wati terus saja memojokkan Siska dan Rava, juga menghasut para Kyai.
Tiba tiba datang Kyai yang membawa Siska kedalam pesantren, Siska yang melihat langsung berlutut dan terus menjelaskan.
"Pak kyai, tolong jangan nikahkan saya, saya sama sekali tidak melukan apapun, bahkan dia yang menolong saya tadi." Ucap Siska berlutut.
"Sudah Pak kyai, nikahkan saja mereka, saya yang akan menjadi wali Siska." Ucap Kyai yang sudah Siska anggap sebagai Ayahnya sendiri.
"Pak Kyai..." Ucap Siska meneteskan air matanya.
"Pak, saya masih punya orang tua, saya beritahu mereka dulu." Ucap Rava merogoh kantongnya mencari handphone nya, namun ia tak menemukannya.
"Oh shit! ketinggalan." Umpat Rava dalam hati.
"Tidak perlu, lagian kamu ini seorang laki laki." Ucap Wati memojokkan Rava.
Siska dan Rava yang sudah merasa tidak berdaya dan tak tahu harus berbuat apa lagi, mereka hanya bisa menurut, jadilah Rava dan Siska dinikahkan secara paksa.
"Silahkan Siska kamu ikuti suamimu, kemana dia pergi kamu harus ikut dan mematuhi semua ucapan suamimu." Ucap Kyai memberikan pesan pada Siska.
"Iya Pak kyai, terima kasih sudah merawat saya seperti putri anda sendiri." Ucap Siska masih berderai air mata.
"Kami permisi." Pamit Rava.
"Jagalah Siska." Ucap Wati yang terus menghasut sedari tadi.
"Tidak usah kau suruh juga akan ku jaga dia." Jawab Rava dengan tatapan tajam dan tidak suka padanya, karena ia sudah merasa bahwa ia membenci Siska, sampai ia ingin mengusir Siska dengan cara kotor seperti ini.
"Puas lu sekarang, awas aja lu." Batin Rava menatap tajam Wati dengan tatapan kebencian khasnya.
"Ayo, Siska." Ucap Rava langsung membawa Siska meninggalkan pesantren. Siska hanya menurut dan terus mengusap air matanya yang terus mengalir tanpa henti.
Wati yang melihat Siska dibawa pergi oleh Rava langsung menunjukkan senyum senangnya, seolah olah ia sangat bersyukur jika Siska pergi dari pesantren.
"Berhasil." Batin Wati senang.
***************************************
Like
Komen
Vote
Tambahkan favorite 💜
AUTHOR SAYANG KALIAN💕