
Malam harinya, Rava dan Siska duduk bersama diruang tengah dengan TV yang terus menyala agar ruangan tersebut tidak terlalu sunyi, karena Rava yang sedang sibuk dengan laptopnya sedangkan Siska yang sibuk membaca buku yang sudah ia pilih dan dipilihkan oleh Rava tadi sore.
Ditengah tengah aktivitas masing masing, Rava membuka suaranya.
"Kenapa tadi tidak menyetujui usulan Aqila?" Tanya Rava.
"Ah tadi siang? aku hanya tidak ingin pergi keluar malam malam." Jawab Siska.
"Hmm kenapa? toh denganku, jika kau mau aku akan mengajakmu keluar malam hari, tentunya dengan pengawasanku." Ucap Rava.
"Untuk sekarang tidak, lain kali saja." Tolak Siska halus.
"Oh baiklah, aku paham, buku buku itu lebih menarik bagimu." Ucap Rava melihat Siska yang terus memegang bukunya.
"He he he, iya." Balas Siska tersenyum.
"Tentang apa itu?" Tanya Rava, ia menanyakan apa isi dair buku yang Siska baca sedari tadi.
"Ah ini tentang anak kuliah yang menikah karena dipaksa, namun perlahan mereka saling menyukai satu sama lain." Jawab Siska.
Rava yang mendengar jawaban dari Siska hanya mengangguk angguk, namun beberapa menit kemudian, ia menyadari sesuatu.
"Hei, bukankah itu kisahnya sama dengan kita." Ucap Rava yang menyadarinya.
"Masa?" Tanya Siska yang belum menyadarinya.
Sejenak Siska berpikir.
"Ah iya benar, namun disini sangat banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi, dari a hingga z, namun baiknya mereka dapat menyelesaikannya dengan mulus, dan dari masalah masalah iti, mereka lebih mencintai satu sama lain." Tutur Siska menjelaskan.
"Bagus juga, tapi aku tidak ingin kalau sampai pernikahan kita mendapati banyak masalah, jika ada akan ku musnahkan masalah itu dengan cepat." Ucap Rava.
"Semoga saja." Ucap Siska yang menyetujuinya, dalam hati juga ia berdoa agar apa yang dikatakan Rava benar adanya, ia juga tidak ingin ada masalah yang besar dalam rumah tangganya.
"Ya Allah, jangan sampai rumah tanggaku dipenuhi masalah yang berat, satu saja belum selesai, jangan ditambah lagi." Batin Siska yang berdoa, Rava yang mendengar langsung tersenyum sejenak dan kembali dalam wajah awalnya lagi.
"Amin." Ucap Rava mengaminkan doa Siska. Siska yang mendengar Rava mengaminkan doanya menjadi bingung. Padahal ia tidak mengucapkannya, tetapi membatinnya.
"Kenapa bisa tahu." Batin Siska bingung. Rava yang mendengar, rasanya ia ingin tertawa, namun ia tahan, karena ia masih ingin Siska tidak mengetahui kelebihannya.
"Amin, untuk apa?" Tanya Siska memastikan.
"Ya aku tahu, pasti kau berdoa dalam hati, aku juga begitu, jadi aku amin kan saja." Tutur Rava menjelaskan dengan dibumbui sedikit kebohongan.
"Oh, begitu." Ucap Siska mengangguk angguk mengerti.
Tiba tiba handphone Rava berdering, Rava segera mengambil handphone nya dan melihat siapa yang memanggilnya, tertera dilayar handphone nama "Balok"
Siska yang melihat langsung bertanya.
"Balok?" Tanya Siska.
"Haha, Audrey." Jawab Rava tertawa.
"Yasudah angkat saja." Suruh Siska. Rava langsung mengangkat panggilannya tanpa pergi menjauh dari Siska.
"Ya halo balok, apa ada?" Sapa Rava yang langsung bertanya kenapa Audery memanggilnya.
"Kangen ya lu." Lanjutnya menebak dengan nada menggoda sang adik.
"Enak aja lu? gw kangen sama lu? najis!"
"Nih, mama sama papa mau ngomong."
Lanjutnya.
"Halo Rava."
Ucap Allice.
"Iya ma, kenapa?" Tanya Rava.
"Gimana kabar kamu? baik kan? nggak ada apa apa kan disana?"
Tanya Allice.
"Rava baik baik aja ma, mama nggak perlu khawatir, lagian Rava kan udah gede, jadi bisa jaga diri baik baik, mama nggak perlu khawatir." Ucap Rava.
"Hei, siapa yang khawatir padamu, aku mengkhawatirkan orang orang yang ada disekitarmu, bisa mati berdiri mereka menghadapimu."
Balas Allice yang sangat mengerti kelakuan Rava yang bad.
Siska yang mendengar ucapan Allice, berusaha sebisa mungkin menahan tawanya agar tidak terdengar. Rava yang menyadari Siska menahan tawanya langsung meliriknya dan manruh satu jari telunjuknya didepan bibir Siska.
"Ish mama ih, nggak asik, orang Rava nggak gitu juga." Ucap Rava menyangkal.
"Iye iye percaya."
Balas Allice disebarang sana yang langsung berganti dengan suara Austin.
"Gimana, masalah apa yang sudah kau buat disana?"
Tanya Austin.
"Belum banyak si pa, masih yang wajar, belum yang warrr gimana gitu." Ucap Rava.
"Awas saja jika kau membuat masalah serius, apa lagi menghamili anak orang."
Ucap Austin yang langsung membuat Rava dan Siska bertatap tatapan.
"Eh enggak kali pa." Ucap Rava cepat.
"Ok, papa tutup." Ucap Austin
"Bay abangku terlaknat, muach."
Ucap Audrey dengan sentuhan akhirnya.
"Awas jangan pacaran mulu lu sama Mike." Ucap Rava yang langsung ditutup panggilannya oleh Audrey.
***************************************
Like
Komen
Vote
Tambahkan favorite 💜
AUTHOR SAYANG KALIAN💕