
Wati yang melihat ada Rava mulai takut dibuatnya, namun ia berusaha menetralkan dirinya.
"Ada apa Bapak memanggil saya?" Tanya Wati duduk dihadapan Dekan.
"Apa benar kamu yang menyebarkan gosip tidak sedap tentang Siska, hingga nama baiknya tercoreng, bahkan nama baik kampus?" Tanya Dekan dengan wajah serius.
Wati yang mendapat pertanyaan begitu langsung gemetar ketakutan, namun ia berusaha untuk menutupinya, namun sayang mata elang Rava dapat menyadarinya.
"Tidak Pak, saya tidak melakukan itu, untuk apa saya melakukan hal seperti itu, itu bukan saya yang melakukannya." Ucap Wati menutupi kebenaran.
"Ngapain sih ku pake bohong segala, bukti aja udah didepan mata lu." Ucap Roni yang memegang kamera sedari tadi.
"Bukti? bukti apa? saya tidak melakukannya." Tanya Wati yang takut, namun tetap saja masih berusaha mengelak.
"Lihat ini." Ucap Dekan memberikan handphone Rava dan memutarkan videonya. Divedeo tersebut, tertera Wati yang sedang berusaha mempengaruhi para mahasiswa untuk mempercayai perkataannya.
"Masih bisa mengelak hah?!" Tanya Rava dengan nada tinggi.
"Aku tidak percaya ini, pasti ini editan." Elak Wati.
Brak!
Rava menggebrak meja dengan keras.
"Bukti didepan mata masih mau ngelak lu?!" Bentak Rava mengeluarkan pisau lipat berlogo BDG.
Wati yang melihat langsung kaget dan berkeringat dingin, Dekan yang tadi duduk kini berdiri menyingkir kebelakang Roni.
Roni sendiri sama dengan Wati yang kaget.
"Lu mau ngomong atau ini pisau masuk ke lambung lu." Ancam Rava memainkan pisaunya dengan lihainya. Roni yang merekam juga menatap ngeri Rava.
"I..iya gw yang bikin gosip itu." Ucap Wati mengakui, karena ia takut dengan tatapan mata Rava, juga pisau yang dimainkan oleh Rava.
"Kenapa?" Tanya Rava memajukan pisaunya, ia sebenarnya tidak berniat untuk menyakiti Wati, ia melakukan ini hanya untuk mengancam Wati dan agar Wati mengakui yang sebenarnya.
"Gw ngelakuin itu semua karena gw iri sama Siska, dia bisa dapet apa yang dia mau, bisa masuk kampus dengan beasiswa penuh, sedangkan gw harus kerja keras, gw udah usaha nyingkirin dia dari pesantren, tapi dia beruntung lagi karena bisa punya suami kayak elu, gw iri." Ucap Wati mengakui semuanya.
Rava mengkode Roni agar mematikan rekamannya. Roni yang mengerti langsung mematikannya.
"Lu tahu apa salah lu?" Tanya Rava mendekatkan pisaunya dipipi mulus Wati.
"Tau." Jawab Wati takut.
"Bagus kalau gitu, dan jangan pernah iri sama orang lain, mereka dapetin itu semua juga dari usaha mereka, dan untuk elu usaha lu belum cukup!" Ucap Rava menekan semua kata katanya. Ia langsung memasukkan kembali pisau lipatnya kedalam saku.
"Sekarang lu pergi, dan nantikan apa yang terjadi, jangan pernah lu ganggu Siska lagi." Ucap Rava.
Wati langsung pergi meninggalkan ruang Dekan dengan perasaan campur aduk.
Ia takut bahwa pengakuannya diketahui oleh semua orang.
"Mana." Rava meninta kameranya kembali.
"Nih." Jawab Roni memberikan kameranya.
"Permisi." Pamit Rava langsung keluar dari ruang Dekan disusul Roni dari belakang.
"Rav, gw mau tanya sama lu." Ucap Roni.
"Hmmm, kantin." Ucap Rava.
Sampai dikantin, Rava langsung mengedit video pengakuan Wati tadi dan mempublishnya diforum kampus, agar semua mahasiswa mengetahuinya.
"Tanya apa lu?" Tanya Rava menutup laptopnya.
Sebelum bertanya Roni melihat kanan dan kiri, memastikan kantin sedang sepi.
"Lu BDG?" Tanya Roni.
"King BDG." Jawab Rava.
"Hah?! sumpah lo? kaga ngibul kan lu?" Tanya Roni yang belum percaya.
Rava langsung mengeluarkan kembali pisau lipatnya dan menunjukkannya pada Roni.
"Ini asli?" Tanya Roni.
"Yang lu liat." Jawab Rava.
"Wah gila sih ini, sahabat gw King mafia terkenal tapi gw nggak nyadar." Ucap Roni takjub.
"Kalo lu mau jauhin gw silahkan." Ucap Rava memasukkan kembali pisaunya.
"Heh, kaga lah, gw masih mau temenan sama lu kali, lagian lu sebenernya baik banget." Ucap Roni.
"Baik? halu lu."
"Iyalah apa lagi."
"Bagus deh, biar tau rasa itu si Wati, iri mulu kerjaannya." Ucap Roni. "Pasti habis ini malu banget tuh orang." Lanjutnya
"Gw balik duluan." Pamit Rava.
"Lah cepet amat." Ucap Roni. "Oh gw tahu, bini lu dirumah kaga bisa jalan." Lanjut Roni mengejek.
"Tutup mulut lu atau...." Ucap Rava tersenyum devil.
"Ok, ok."
Rava langsung meninggalkan kantin dan kembali ke apartemennya.
Sementara disisi Wati, ia sedang duduk sendirian dikelasnya, ia terus mendengar cibiran dan cacian dari semua warga kampus. Rasanya ia sangat malu dan tidak tahu harus berbuat apa, disisi lain ia merasa bersalah juga merasa malu.
Aqila yang melihat Wati sendirian langsung menghampirinya.
"Wati." Panggilnya.
Wati yang mendengar langsung mendongak menghadap Aqila.
"Gw boleh duduk ya." Pinta Aqila langsung diangguki Wati.
"Gw tahu yang lu rasain sekarang, ini juga pernah dialami sama Siska waktu itu." Ucap Aqila.
"Tapi lu jangan khawatir, pasti ini nggak berlangsung lama kok." Lanjut Aqila menyemangati Wati.
"Gw udah salah sama Siska, gw juga malu." Ucap Wati.
"Lu nggak perlu ngerasa malu, semua orang pernah ngelakuin kesalahan, setiap masalah pasti ada hikmahnya." Ucap Aqila.
"Nggak usah lu pikirin, pasti Siska maafin elu, dia nggak pernah kok mikir macem macem tentang lu, pasti dia juga masih mau temenan sama lu." Lanjutnya.
"Emang iya?"
"Iya, percaya sama gw, gw juga mau kok temenan sama lu." Ucap Aqila.
"Makasih ya, Qila."
"Iya sama sama, mending kita ke kantin aja, pasti lu belum makan, biarin aja mereka nggak udah didengerin." Ucap Aqila langsung menggandeng tangan Wati menuju kantin.
Rava yang sudah sampai didepan apartemen langsung memarkirkan mobilnya ditempat biasanya.
Ia langsung masuk kekamar, melihat Siska yang sedang memandang layar handphone nya.
"Sudah datang, cepat sekali." Ucap Siska yang melihat Rava masuk.
"Iyalah, kan udah selesai main mainnya." Ucap Rava langsung duduk disamping Siska.
"Kamu ini sangat kejam, kasihan tahu Wati kamu gituin, maskipun dia salah, tapi nggak seharusnya digituin, biarin aja dia." Ucap Siska proses.
"Hust diamlah, sesekali tidak apa apa, jika tidak diberikan pelajaran, nanti dia nggak akan kapok." Ucap Rava langsung berbaring dan menaruh kepalanya dipaha Siska.
"Besok jangan lagi, aku merasa tidak enak dengannya." Ucap Siska.
"Kenapa harus tidak enak? biarkan dia rasakan dulu, bagaimana rasanya dipermalukan oleh khalayak, sekarang dia udah tahu rasanya, mungkin besok akan meminta maaf padamu." Ucap Rava sangat yakin.
"Yakin sekali kamu." Ucap Siska mengelus kepala Rava.
"Iyalah, siapa dulu, Ravaaa." Ucapnya sombong, Rava langsung meraih tangan Siska dan menciumnya.
"Masih sakit?" Tanya Rava.
"Sudah mendingan." Jawab Siska.
"Bagus, salepnya bekerja dengan cepat." Ucap Rava tersenyum senang.
"Jauhkan pikiran kotormu itu." Ucap Siska kesal, ia tahu betul apa yang ada dipikiran Rava sekarang.
"Heheh, tahu aja." Ucap Rava tertawa kecil.
***************************************
Like
Komen
Vote
Tambahkan favorite 💜
AUTHOR SAYANG KALIAN💕