RAVA & SISKA

RAVA & SISKA
R&S#25



Sampai diruang Dekan, Siska langsung disuruh duduk menghadap sang Dekan yang terhormat.


"Kamu tahu apa kesalahanmu?" Tanya Dekan dengan nada mengintrogasi.


"Maaf Pak, kalau boleh saya tahu, apa kesalahan yang sudah saya buat?" Tanya Siska dengan sangat sopan sekali.


"Kamu tidak tahu apa kesalahanmu?!!!!" Ucap Dekan yang terlihat naik pitam.


"Maaf Bapak, memang saya merasa tidak membuat kesalahan." Balas Siska menatap mata sang Dekan.


Brak!


Dekan menggebrak mejanya dengan kasar, terlihat sangat marah karena jawaban Siska yang tidak menjawab pertanyaannya sesuai yang ia inginkan.


"Berita sudah tersebar, bisa bisanya kau tidak mengakui kesalahan mu!" Bentak Dekan dengan nada yang sangat amat marah.


"Kamu sudah mencoreng nama baik kampus!" Marahnya lagi masih dengan nada membentak.


"Untuk berita itu, saya bisa menjelaskannya, saya..." Ucap Siska terpotong oleh bentakan dan gebrakan meja oleh Dekan.


"Kamu ingin mengelak!?" Marah Dekan langsung duduk kembali setelah menggebrak meja.


"Pak, maaf, saya bisa menjelaskannya, itu berita bukanlah berita sebenarnya, saya tidak seburuk itu." Ucap Siska dengan nada yang dibuat cepat, karena ia tidak ingin disela oleh Dekan.


"Saya tidak perduli dengan penjelasanmu, yang saya tahu kamu sudah mencoreng nama baik kampus!" Ucap Dosen menekankan kata katanya.


"Sebagai hukuman, beasiswa penuh yang kamu dapatkan dari kampus, akan saya hapus dan tarik kembali, untuk nama baik kampus, kamu juga harus membersihkannya." Ucap Dekan memberikan hukuman pada Siska. Ia tidak langsung mengeluarkan Siska dari kampus karena Siska adalah satu satunya mahasiswi yang pandai dan sangat brilian.


"Tapi..." Ujar Siska keberatan, ia tidak ingin beasiswanya dihapus karena masalah yang sebenarnya bukan kenyataan, dan hanya fitnah belaka.


Sementara diluar para mahasiswa yang berkumpul dan menguping sedari tadi mulai menyumpah dan menyetujui hukuman Dekan.


"Aduh si Rava sama Roni mana sih, nggak tahu apa yah ini udah urgent." Gumam Aqila yang masih setia didepan ruang Dekan menunggu kedatangan Rava, Roni juga menunggu Siska keluar dari ruangan.


Saat itu juga Rava baru tiba dikampus, ia langsung lari dan pergi keruang dekan.


Aqila yang melihat Rava datang langsung melambaikan tangannya, memanggil Rava.


"Gimana?" Tanya Rava pada Aqila.


"Didalem, tadi gw denger dekan nyabut beasiswanya." Ucap Aqila memberitahu Rava.


"Minggir!" Bentak Rava, semua mahasiswa yang berkerumun langsung memberikan jalan untuk Rava masuk kedalam ruang dekan.


Gubrak!


"Rava..." Ucap Siska langsung berdiri dengan tatapan kaget.


"Kamu bisa mengetuk pintu terlebih dahulu atau tidak." Tegur Dosen yang sedari tadi diam menyimak.


"Diem!" Bentak Rava, ia langsung berdiri disamping Siska.


"Are you ok?" Tanya Rava, ia tahu bahwa Siska sekarang merasa tidak tahu harus berbuat apa.


"Emmm." Jawab Siska mengangguk.


"Tadi anda mengira bahwa Siska mempunyai hubungan orang diluar nikah, apa kau punya bukti hah?!" Ucap Rava marah.


Dekan dan Dosen langsung terdiam mendengar pertanyaan Rava, mereka berdua memang tidak ada bukti tentang itu.


"Ada apa dengan Rava."


"Apa jangan jangan dia prianya."


"Masa iya, orang mereka aja nggak kelihatan deket."


"Tau, nyimak aja gw."


Ucap para mahasiswa didepan ruang Dekan.


Roni yang baru datang langsung mengahampri Aqila.


"Lama banget." Ucap Aqila.


"Maaf, mobilku nggak secepet mobil si Rava, makannya ketinggalan." Ucap Roni.


"Yasudah, kita tunggu saja mereka keluar, pasti Rava bisa nyelesaiin semuanya." Ucap Aqila.


***************************************


Like


Komen


Vote


Tambahkan favorite 💜


AUTHOR SAYANG KALIAN💕