
Esok harinya, Rava mengantar Siska menuju ke kelasnya, sesampainya Rava langsung berpamitan untuk pergi ke kelasnya sendiri.
"Masuklah, nanti pulang aku tunggu dikantin." Ucap Rava berpesan pada Siska.
"Iya, hati hati." Ucap Siska.
"Dah." Rava melambaikan tangannya lalu pergi dari kelas Siska.
Siska langsung berjalan menuju bangkunya, Aqila yang sudah menunggu Siska, langsung saja mulai menanyakan sebab ia tak berangkat kemarin, juga memberi tahukan tentang Wati.
"Pagi pagi udah uwu uwuan aja lu." Cibir Aqila.
"Heheh, kenapa? kan kamu juga ada Roni, makannya buruan nikah." Ucap Siska.
"Yeeeee, dikata nikah sama pangeran kodok kali ah." Ucap Aqila.
"Oh ya, kemarin kenapa lu kaga berangkat? segala nitip absen lagi." Tanya Aqila.
"Hehe, maaf ya, kecapean jadi nggak berangkat dulu, ya mulanya mau berangkat, tapi nggak dibolehin sama Rava, yaudah dirumah." Jelas Siska.
"Kecapean? habis ngapain lu?" Tanya Aqila penuh selidik. Siska yang mulanya santai kini menjadi ragu dan malu untuk menjawab. Aqila yang menyadari Siska malu dan ragu untuk menjawab langsung saja menyimpulkan.
"Wah gw tahu nih, biasa pasangan baru mah gini." Ucap Aqila.
"Qila, apaan sih, malu tahu nggak, didenger mahasiswa lain nanti." Ucap Siska menyenggol lengan Aqila.
"Iye, iye, kaga dah kaga, gw mah polos orangnya, jadi nggak tahu apa apa." Ucap Aqila menggoda Siska.
"Qilaaaaa." Geram Siska mencubit lengan Aqila.
"Aws, aws iya iya, kaga dah kaga." Pasrah Aqila yang sudah kena cubitan maut dari Siska. Siska yang mendengar Aqila merintih langsung melepaskan cubitannya.
"Makannya jangan macem macem itu mulutnya." Peringat Siska melepaskan cubitannya.
"Yayaya yayya."
"Eh Sis, lu tahu?" Tanya Aqila.
"Tahu apa?"
"Itu kemarin diforum kampus, masa lu nggak buka sih, orang itu juga kerjaan si Rava." Ucap Aqila.
"Wati? iya aku tahu, aku udah liat, Rava juga udah jelasin semuanya kemarin." Ucap Siska.
"Gw kasih tahu, nanti dia bakal minta maaf sama lu, lu mau maafin?" Tanya Aqila.
"Iya lah, aku maafin, dia juga kan temenku, aku juga mau minta maaf, karena Rava kemarin dia jadi malu, kasihan tahu." Tutur Siska.
"Nah ini yang namanya my prend, selalu memaafkan, juga tidak lupa meminta maaf." Ucap Aqila merangkul bahu Siska.
"Iya dong, kita kan sebagai manusia, jadi sudah sewajarnya maaf memaafkan." Ucap Siska.
Tak lama datang Wati menghampiri Siska dan Aqila.
"Nah itu tuh orangnya." Ucap Aqila melepas rangkulannya.
Sedangkan Siska hanya mengangguk menanggapi Aqila.
"Siska, gw mau ngomong sama lu." Ucap Wati.
"Iya, ngomong aja." Ucap Siska.
"Gw kesana dulu deh." Ucap Aqila yang bermaksud membiarkan Siska dan Wati mengobrol empat mata. Aqila bergabung dengan mahasiwa lain dibelakang.
"Sini duduk." Ucap Siska setelah Aqila pergi. Wati langsung saja duduk disamping Siska.
"Mau ngomong apa? ngomong aja." Ucap Siska.
"Emmm, anu itu." Ucap Wati terlihat ragu.
"Aku minta maaf soal kemarin ya, karena Rava kamu jadi malu." Ucap Siska membuka jalan agar Wati dapat mengutarankan apa yang ingin ia ucapkan.
"Eh enggak Siska, seharusnya gw yang minta maaf, karena gw, lu jadi dipermaluin, gw juga punya banyak salah sama lu, gw udah ngehasut abah buat nikahin lu, jadi lu terpaksa harus nikah sama Rava, dan gw juga malah nyebarin gosip tentang lu, padahal gw tahu kalau lu udah nikah." Tutur Wati menunduk malu.
"Gw bener bener nyesel, maafin gw." Lanjutnya menitikkan air matanya.
"Wati, kamu nggak salah, keadaan aja yang salah, aku nggak papa kok, udah ya jangan dipikirin lagi, yang lalu biar berlalu." Ucap Siska menyeka air mata Wati.
"Makasih Siska." Ucap Wati langsung memeluk Siska, Siska langsung membalas pelukan Wati.
"Udah ya, jangan nangis." Ucap Siska menepuk punggung Wati.
"Lu masih mau kan temenan sama gw?" Tanya Wati ragu sembari melepaskan pelukannya.
"Iya, selama ini aku juga masih nganggap kamu teman kok." Ucap Siska.
"Gw juga kali." Ucap Aqila muncul dari belakang Siska dan Wati.
"Iya, kita bertiga." Ucap Siska.
"Yeah." Senang Aqila.
Wati yang merasa lega langsung tersenyum, sudah tidak ada lagi dendam dan rasa iri dihatinya.
"Wati, kamu ikut ke kantin?" Tanya Siska yang bermaksud mengajak.
"Engga dulu deh, gw harus cepet balik soalnya, lagian nanti lu pada dikantin sama pasangan masing masing, nah gw masih jomblo." Ucap Wati.
"Hahah, yaudah kita duluan, awas nanti dijalan ketemu cogan." Ucap Aqila.
"Amin." Ucap Wati meng amin kan.
"Yah dikata ngedoain."
"Ucapan adalah doa, wlek." Ejek Wati. "Gw duluan, bye." Lanjutnya langsung pergi dari kelas.
Siska dan Aqila langsung menuju ke kantin, dikantin ternyata Rava dan Roni sudah menunggu mereka.
"Lah lama amat tadi." Ucap Roni.
"Iya, ngobrol dulu sama Wati." Jawab Aqila.
"Wati?" Tanya Roni.
"Iya, sekarang udah baik dia, udah jadi temen kita lagi." Jawab Aqila duduk disamping Roni.
"Nggak papa kan?" Tanya Siska pada Rava.
"Iya lah, ngapain nggak boleh." Jawab Rava tersenyum.
"Yaudah, kita duluan." Pamit Rava pada Roni dan Aqila.
"Tiati." Ucap Roni dan Aqila kompak.
Dimobil.
"Rava.." Panggil Siska.
"Hemm, kenapa?"
"Aku pengen ke pantai." Ucap Siska.
"Sekarang?"
"Iya, sekarang aja, yaa." Pinta Siska dengan puppy eyes nya.
Rava yang tidak tega langsung menyetujuinya dan langsung mengarahkan mobilnya kearah pantai.
"Iya, nih sekarang nih ke pantai." Ucap Rava.
"Yeah, makasiiiii." Ucap senang Siska.
"Random sekali kamu ini." Ucap Rava.
"Nggak tahu, pengen ke pantai aja."
"Iya juga, setelah semua masalah emang enaknya kita main main, urusan Wati udah kelar." Ucap Rava.
"Harus disyukuri."
Sampai dipantai, Siska bermain dengan senangnya, bagai anak kacil yang dibelikan mainan baru. Rava yang menemani Siska juga merasa sangat bahagia.
Saat hari mulai petang, Rava mengajak Siska untuk kembali ke apartemen.
"Udah mulai gelap nih, balik yuk, nanti kemaleman sampai di apartemen nya." Ajak Rava.
"Yahhh." Ucap Siska tak senang.
"Besok besok kita bisa main lagi kesini, bisa juga ke pantai yang lain, yang lebih indah dari ini." Ucap Rava.
"Janji." Ucap Siska.
"Iya Sayangku, janji." Ucap Rava tersenyum.
"Yaudah ayok, pulang." Ucap Siska langsung meraih tangan Rava dan menggandengnya.
Sampai didepan apartemen, ternyata Siska sudah tertidur dimobil, jadi Rava membopongnya sampai kekamar, karena ia juga tak tega membangunkan Siska.
Rava membersihkan kaki dan menggantikan pakaian Siska dengan baju tidur yang biasa Siska kenakan.
Setelahnya, ia langsung menyusul Siska pergi kealam mimpi.
***************************************
Like
Komen
Vote
Tambahkan favorite 💜
AUTHOR SAYANG KALIAN💕